Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertangkap Basah
Noah membaringkan Ninda di atas tempat tidur. Sentuhannya membuat napas Ninda tersengal, tubuhnya menegang lalu perlahan melemas. dia memejamkan mata, larut dalam sensasi yang membuat pikirannya berantakan.
Desahan kecil lolos dari bibir Ninda. Ia tak lagi mampu menyembunyikan reaksi tubuhnya.
Noah menunduk, mencium bibirnya perlahan. Tangan Ninda meraih dada Noah, merasakan kehangatan dan kekuatan di baliknya. Dengan ragu yang manis, Ninda membuka kancing kemeja Noah satu per satu.
Tatapan mereka bertemu hangat, intens.
“Apa kamu akan membiarkanku seperti ini?” bisik Noah, suaranya rendah.
Ninda tersenyum tipis, menggoda.
“Mungkin.”
Noah terkekeh pelan.
“Kamu memang berbahaya.”
Noah kembali mendekat, namun Ninda sempat menepis tangannya, membuat Noah tersenyum semakin lebar.
“Aku tidak akan menyerah,” ucap Noah, kali ini lebih lembut.
“Uncle… pelan-pelan,” bisik Ninda, suaranya nyaris tak terdengar.
Noah menuruti, menyusuri setiap gerak dengan sabar, seolah ingin memastikan Ninda tetap merasa aman di dekatnya. Waktu terasa melambat, dunia di luar kamar seakan lenyap.
Hingga tiba-tiba
Kreek…
Pintu berderit.
“Noah, apa kamu,”
Deborah terdiam, matanya membelalak.
Noah tersentak dan segera bangkit. Ninda refleks menarik selimut, menutup tubuhnya, wajahnya memerah menahan malu.
“Maaf,” ucap Deborah tergagap. “Merry, Tonny, dan istrinya sudah di bawah. Mereka ke arah kamarmu.”
Ia menarik napas cepat.
“Cepat berpakaian. Aku akan menghalangi mereka.”
Pintu tertutup kembali.
Deborah melangkah cepat menyusuri lorong dan menemui Tonny serta Merry.
“Aku melihat mobil Noah. Dia di kamarnya?” tanya Tonny.
Deborah tersenyum kaku.
“Tidak. Dia keluar sebentar.”
Dia segera mengarahkan mereka menjauh.
Di dalam kamar, suasana berubah tegang. Ninda menarik napas panjang.
“Hentikan,” katanya pelan.
Noah menatapnya, ragu dan gelisah. Namun emosi yang terlanjur memuncak membuatnya sulit mundur. Ia mengunci pintu, lalu kembali mendekat kali ini lebih berhati-hati.
“Uncle…,” bisik Ninda, tubuhnya gemetar antara cemas dan perasaan yang sulit dijelaskan.
“Tenang,” ucap Noah lembut, mengecup keningnya. “Aku di sini.”
Kata-kata itu menenangkan. Perlahan, ketegangan di bahu Ninda mengendur. Ia menutup mata, memilih percaya.
Beberapa saat kemudian, mereka terbaring berdampingan, napas masih tersisa cepat. Ninda menatap langit-langit, pipinya hangat.
Setelah semuanya reda, mereka berpakaian dalam diam.
Saat turun ke lantai bawah, langkah Ninda terlihat ragu. Noah menggenggam tangannya erat, memberi kekuatan.
“Apa pun yang terjadi,” kata Noah sambil mencium kening Ninda,
“aku akan selalu di sisimu.”
Ninda mengangguk pelan gugup, namun merasa tidak sendirian.
------------
Noah masih saja menggoda Ninda. Sesekali ia mencium pipi gadis itu dan memeluknya dari samping.
“Uncle, hentikan!” ucap Ninda sambil melotot kecil, lalu melangkah mendahului Noah.
“Tadi kamu nggak segalak ini,” kata Noah masih dengan nada menggoda, mempercepat langkah agar sejajar dengan Ninda.
Tiba-tiba Noah menarik tangan Ninda dan mendekapnya. Ninda menghela napas panjang, rasa kesalnya semakin terasa.
“Uncle !” serunya sambil menatap Noah tajam.
Namun Noah justru semakin mendekat dan mencium bibir Ninda.
Spontan Ninda mendorongnya pelan.
“Nanti ada yang lihat,” katanya, wajahnya kini terlihat benar-benar kesal.
“Abis tadi kamu buru-buru banget, sih,” celetuk Noah bercanda, membuat Ninda melotot untuk kesekian kalinya.
“Kamu tuh ya, genit banget, sih,” omel Ninda.
Ninda sudah kehabisan akal menghadapi Noah yang sikapnya terasa kekanak-kanakan.
“Aku begini juga gara-gara kamu,” balas Noah santai.
“Kok gara-gara aku?” Ninda kaget mendengar ucapannya.
“Ya iya. Siapa suruh kamu cantik banget, terus wanginya bikin nggak tahan,” ujar Noah tanpa rasa bersalah.
Ninda mencubit pinggang Noah dengan gemas. Seketika Noah meringis menahan sakit.
Kesempatan itu dimanfaatkan Ninda untuk berlari kecil menuruni tangga, menjaga jarak dari Noah. Rasa cemas menyelinap di dadanya dia takut ada orang lain yang melihat kebersamaan mereka.