NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Maaf

​"'Maaf, jangan ganggu saya.' Empat kata yang kau ketikkan dari seberang sana, mengakhiri semua ilusi yang kubangun. Layar ponsel yang menyala redup itu menjadi saksi bisu bagaimana kau mengeksekusi sisa-sisa harapanku tanpa ampun. Kau tak butuh malaikat penyelamat, Rendi. Kau hanya butuh ruang hampa tanpa diriku." (Buku Harian Keyla, Halaman 112)

​Hari-hari setelah selesainya Ujian Kelulusan Sekolah terasa seperti berjalan melintasi lorong waktu yang melambat. Beban akademis memang telah terangkat sepenuhnya dari pundak kami. Tidak ada lagi buku tebal yang harus dibaca hingga larut malam, tidak ada lagi rumus kimia yang membuat kepala berdenyut. Siswa-siswi kelas dua belas diliburkan selama beberapa minggu sambil menunggu hari pengumuman kelulusan dan acara perpisahan resmi.

​Bagi sebagian besar temanku, masa ini adalah surga. Namun bagiku, libur panjang ini adalah sebuah neraka baru yang jauh lebih menyiksa.

​Libur berarti tidak ada lagi kelas XII-IPA 1. Tidak ada lagi alasan bagiku untuk duduk di depannya. Tidak ada lagi rutinitas mencuri pandang ke arah bahu tegapnya yang kelelahan. Rendi telah menghilang seutuhnya dari jarak pandangku, tertelan oleh kerasnya jalanan ibu kota dan tuntutan pekerjaan kasarnya.

​Aku menghabiskan tiga hari pertama liburanku dengan mengurung diri di dalam kamar. Pecahan celengan porselen berbentuk angsa itu sudah kubersihkan, namun kekosongan yang ditinggalkannya berpindah dan bersarang tepat di tengah dadaku.

​Pikiranku tak pernah bisa tenang. Apakah ia menggunakan uang tujuh juta rupiah itu? Apakah ia menyerahkannya pada pihak panti asuhan untuk melunasi tunggakan Nanda? Ataukah harga dirinya yang setinggi langit itu menang, dan ia justru membuang uang itu atau menyumbangkannya ke tempat lain, membiarkan adiknya terancam diusir?

​Rasa cemas itu menggerogoti kewarasanku setiap malam. Aku tidak peduli jika ia membenciku karena mengira akulah pelakunya, aku hanya butuh kepastian bahwa Nanda aman. Aku butuh kepastian bahwa pengorbananku menelanjangi harga dirinya hari itu tidak berakhir sia-sia.

​Di hari keempat, aku tak tahan lagi. Rasa gelisah yang membakar dadaku membuatku mengambil sebuah keputusan nekat.

​Aku membuka laci meja belajarku bagian paling bawah, membongkar tumpukan buku catatan lama. Aku mencari sebuah buku agenda kecil bersampul hitam milik Siska yang sempat dipinjamkan padaku berbulan-bulan yang lalu saat aku absen sakit. Di halaman belakang buku itu, Siska—yang menjabat sebagai sekretaris kelas—pernah mencatat seluruh nomor telepon siswa kelas XII-IPA 1 untuk keperluan administrasi database wali kelas.

​Tanganku gemetar saat membalik halaman demi halaman. Mataku menyisir deretan nama yang ditulis dengan huruf tegak bersambung milik Siska.

​Reza Aditya...

Riko Pratama...

Rendi Ardiansyah...

​Napas di kerongkonganku tercekat. Deretan angka dua belas digit tertera di sebelah namanya. Itulah nomor ponselnya. Ponsel batangan model lama dengan layar monokrom dan keypad pudar yang kulihat ia gunakan di koridor saat ia memohon pada pihak panti asuhan waktu itu.

​Aku buru-buru menyalin nomor itu ke selembar kertas kecil. Otakku bekerja dengan cepat. Aku tidak mungkin mengiriminya pesan menggunakan nomor asliku. Jika aku melakukannya, itu sama saja dengan menggali kuburanku sendiri. Rendi akan memblokir nomorku detik itu juga dan memakiku dengan kata-kata kasarnya.

​Siang itu, dengan meminjam sepeda motor bebek milik salah satu asisten rumah tangga di rumahku, aku menyelinap keluar. Aku melaju menuju sebuah konter pulsa kecil yang jaraknya cukup jauh dari kompleks perumahanku. Aku membeli sebuah kartu SIM perdana sekali pakai seharga lima belas ribu rupiah.

​Sesampainya di rumah, aku mengunci pintu kamar rapat-rapat. Aku mematikan ponsel cerdasku, mengeluarkan kartu SIM utamaku, dan memasukkan kartu SIM baru yang baru saja kubeli.

​Layar ponsel menyala, menampilkan sinyal operator yang penuh. Aku membuka menu pesan singkat (SMS). Aku mengetikkan nomor Rendi di kolom tujuan. Tanganku bergetar sangat hebat hingga ponselku nyaris tergelincir dari genggamanku. Keringat dingin membasahi pelipis dan telapak tanganku.

​Aku mulai mengetik pesan.

​Halo, Rendi. Ini dari komite.

​Tidak, itu terlalu kaku dan mudah ditebak sebagai kebohongan. Rendi sangat cerdas, ia pasti tahu komite sekolah tidak akan menggunakan nomor prabayar biasa untuk menghubunginya. Aku menghapus kalimat itu.

​Aku mengetik lagi.

​Tolong gunakan uang itu untuk Nanda. Jangan gengsi.

​Terlalu menghakimi. Aku menghapusnya lagi.

​Hampir setengah jam aku bergelut dengan keypad ponselku, mengetik dan menghapus puluhan kalimat. Aku hanya ingin memastikan ia menggunakan dana itu untuk adiknya, sekaligus memberikan sedikit dorongan semangat agar ia tidak merasa dirinya sendirian di dunia ini.

​Akhirnya, dengan sisa-sisa air mata yang menggenang di pelupuk, aku mengetikkan sebuah pesan yang paling jujur, namun tetap menyembunyikan identitasku.

​Tolong, jangan biarkan harga dirimu mengorbankan masa depan Nanda. Uang itu adalah hakmu untuk bernapas sejenak. Fokuslah pada ujianmu dan bahagiakan adikmu. Dunia ini tidak sekejam yang kau kira. Semoga harimu lebih baik.

Dari: Seseorang yang percaya padamu.

​Kutatap deretan kalimat itu cukup lama. Kalimat itu tidak menuntut balasan. Kalimat itu tidak mengandung pengakuan cinta yang merendahkan. Itu murni sebuah permohonan dari seorang manusia kepada manusia lainnya.

​Aku memejamkan mataku, menarik napas panjang yang terdengar gemetar di udara kamarku yang sunyi, lalu menekan tombol Kirim.

​Pesan Terkirim.

​Ponselku berbunyi pelan menandakan laporan pengiriman sukses. Nomor itu aktif. Pesan itu telah masuk ke dalam ponsel bututnya.

​Seketika, seluruh tenaga di tubuhku seolah terkuras habis. Aku menjatuhkan ponsel itu ke atas kasur dan merosot duduk di lantai. Rasa panik, cemas, dan harap-harap cemas bercampur aduk mengaduk-aduk isi perutku.

​Bagaimana reaksinya saat membaca pesan itu? Apakah ia sedang mengangkut beras saat ponselnya bergetar? Ataukah ia sedang menghitung kembalian uang parkir? Apakah ia akan marah? Ataukah... untuk sekali ini saja, ia akan merasa bersyukur karena ada seseorang di luar sana yang memikirkan adiknya?

​Satu jam berlalu. Dua jam. Tiga jam.

​Layar ponselku tak kunjung menyala. Tidak ada balasan.

​Mungkin itu adalah hal yang baik. Pesan itu memang tidak menuntut balasan. Ia mungkin hanya membacanya dan mengabaikannya, namun setidaknya kata-kataku telah sampai padanya. Kesunyiannya adalah jawaban yang paling bisa kuterima.

​Malam harinya, notifikasi dari grup chat sahabat-sahabatku—yang masuk setelah aku mengembalikan kartu SIM utamaku sejenak untuk mengecek kabar—berbunyi riuh. Bella mengajak kami semua berkumpul di sebuah kafe live music yang cukup elit di kawasan Kemang keesokan malamnya, untuk merayakan kebebasan kami sebelum disibukkan oleh pendaftaran universitas. Siska dan Lidya sudah menyetujui. Indra pun dikabarkan akan ikut bergabung membawa beberapa teman futsalnya.

​Aku tidak bisa menolak. Jika aku terus-terusan menolak ajakan mereka, Siska akan kembali menceramahiku dengan kata-katanya yang beracun, dan Lidya akan semakin marah padaku.

​Maka, pada malam berikutnya, aku memaksakan diri berdandan rapi. Mengenakan blouse berwarna peach pastel dan celana kulot krem, aku berangkat menuju kafe tersebut. Di dalam tas selempang kecilku, aku membawa ponsel asliku, dan sebuah ponsel bekas milik ibuku yang diam-diam kuisi dengan kartu SIM perdana kemarin, berjaga-jaga jika ada balasan yang masuk saat aku sedang di luar rumah.

​Suasana kafe Kemang itu sangat meriah. Lampu-lampu kuning gantung menciptakan suasana cozy dan mahal. Suara alunan musik jazz dari band lokal di panggung kecil memenuhi ruangan, berpadu dengan tawa riang para pengunjung.

​Meja kami berada di area outdoor lantai dua, menghadap pemandangan lampu-lampu kota Jakarta. Bella sedang tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon Doni, teman Indra. Lidya asyik menyantap steak daging sapi berukuran besar dengan lahap. Siska duduk dengan postur anggun, menyesap mocktail-nya sambil sesekali menimpali obrolan dengan senyum manis yang memikat.

​Indra duduk tepat di sebelahku. Laki-laki itu memperlakukanku layaknya porselen rapuh yang harus dijaga. Ia yang memesankan makananku, ia yang menuangkan air minum ke gelasku, dan ia selalu memastikan aku nyaman di tengah kebisingan itu.

​"Steaknya enak, Key? Kalau kurang matang, biar aku panggilin waiter-nya minta dibakar lagi," tawar Indra dengan suaranya yang lembut, mencondongkan tubuhnya sedikit agar suaranya tak kalah oleh musik.

​Aku menggeleng pelan, memaksakan seutas senyum di bibirku yang terasa kaku. "Udah pas kok, Ndra. Enak banget. Makasih ya."

​"Syukurlah kalau kamu suka," Indra tersenyum lega, memperlihatkan lesung pipinya. "Aku seneng banget akhirnya kamu mau keluar rumah lagi. Muka kamu udah kelihatan lebih seger malam ini."

​Siska yang duduk di seberang kami menatap interaksi itu dengan mata berbinar-binar. Ia menyandarkan dagunya di tangannya. "Indra ini emang selalu bikin orang di sekitarnya merasa spesial ya, Key? Nggak salah deh kalau banyak yang antre pengen ada di posisimu sekarang."

​Kata-kata Siska lagi-lagi mengandung sugesti yang memaksa. Aku hanya menunduk, mengaduk-aduk saus mushroom di piringku.

​Secara fisik, aku memang berada di kafe mewah ini. Aku dikelilingi oleh makanan enak, musik yang indah, dan laki-laki yang sangat menyayangiku. Duniaku terasa sangat terang benderang. Namun, seluruh sel di otakku tidak berada di sini.

​Pikiranku terus-menerus kembali pada sebuah ponsel usang yang disembunyikan di dasar tas selempangku. Aku menahan diri setengah mati untuk tidak membuka tas itu setiap lima menit sekali.

​Di luar kafe, gerimis mulai turun membasahi kaca pembatas area outdoor. Suhu udara perlahan mendingin.

​Apakah ia sedang kehujanan sekarang? tanyaku dalam hati, mataku menerawang menatap rintik hujan yang menempel di kaca. Apakah ia sudah makan? Apakah ia memakai jaket parasutnya yang tipis itu?

​"Keyla? Kamu ngelamun lagi?"

​Teguran halus Siska membuyarkan lamunanku. Aku tersentak pelan. Siska menatapku dengan mata yang sedikit menyipit. Senyum malaikatnya hilang sejenak, tergantikan oleh sorot mata tajam yang menyelidik.

​"Kamu dari tadi gelisah banget, Key. Tanganmu bolak-balik pegang tali tas. Ada apa? Kamu lagi nungguin pesan dari seseorang?" tembak Siska to the point, suaranya mengalun pelan namun penuh kecurigaan yang mematikan.

​Bella dan Lidya langsung menoleh ke arahku. Indra juga ikut menghentikan suapannya.

​"Nggak, Sis. Nggak nungguin siapa-siapa kok. Tadi Mama bilang mau nitip beliin martabak pas pulang, jadi aku ngecek handphone takutnya Mama nambah pesenan," dustaku dengan suara bergetar, jantungku berpacu sangat cepat. Berbohong di depan Siska adalah hal yang paling sulit di dunia.

​Siska tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan bahwa ia tidak percaya sepenuhnya pada alasanku. "Oh... kirain kamu masih nungguin hantu masa lalu."

​Tepat saat kalimat mematikan itu keluar dari mulut Siska, sebuah getaran halus terasa dari dalam tas selempang yang kupangku di atas pahaku.

​Bzzzt. Bzzzt.

​Tubuhku menegang kaku layaknya disengat aliran listrik bertegangan tinggi. Napasku tercekat seketika di kerongkongan.

​Itu bukan ponsel asliku. Ponsel asliku kuletakkan di atas meja makan sejak tadi. Getaran itu berasal dari ponsel bekas yang berisi nomor perdanaku.

​Ada pesan masuk.

​Mataku melebar, darahku berdesir kencang, memompa adrenalin ke seluruh nadiku. Rasa panik, takut, dan harap-harap cemas meledak menjadi satu di dalam dadaku, membuatku nyaris mual.

​Apakah itu dia? Apakah ia membalasnya? Apa yang ia katakan? Siska yang menyadari perubahan drastis pada wajahku, langsung mengerutkan kening. "Key? Kamu pucat banget. Ada apa di tasmu?"

​"A-aku... permisi ke toilet sebentar ya," potongku cepat, suaraku terdengar parau dan nyaring karena panik.

​Tanpa menunggu persetujuan mereka, aku bangkit berdiri dengan kasar hingga kakiku nyaris tersandung kaki kursi. Aku menyambar tas selempangku, mengabaikan tatapan bingung Indra dan raut curiga Siska. Aku setengah berlari meninggalkan meja, menerobos kerumunan pengunjung kafe, mencari tanda penunjuk arah toilet.

​Sesampainya di lorong sempit menuju toilet yang cukup sepi dan redup, aku menyandarkan punggungku ke dinding dingin. Napasku terengah-engah hebat seolah aku baru saja dikejar kawanan anjing liar.

​Tangan kananku yang gemetar luar biasa perlahan membuka ritsleting tas. Aku merogoh ke dasar tas, merasakan permukaan ponsel bekas itu. Aku menariknya keluar.

​Layar ponsel itu masih menyala redup, menampilkan sebuah ikon amplop pesan masuk di bagian atas layar.

​1 Pesan Baru dari: +62812xxxx...

​Itu nomor Rendi. Ia membalasnya. Setelah lebih dari dua puluh empat jam, ia membalasnya.

​Jantungku berdegup sangat keras hingga terasa menyakitkan tulang rusukku. Aku menelan ludah yang terasa seperti menelan kerikil tajam. Kutekan tombol Buka dengan ibu jariku yang basah oleh keringat dingin.

​Layar ponsel berkedip, memproses perintahku. Dan kemudian, deretan huruf hitam berlatar putih itu terpampang dengan sangat jelas di depan retinaku.

​Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada kalimat panjang lebar yang menjelaskan bahwa Nanda sudah aman. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak tentang uang tujuh juta rupiah.

​Hanya ada satu kalimat pendek. Sangat pendek.

​"Maaf, jangan ganggu saya."

​Empat kata.

​Hanya empat kata yang disusun secara sederhana, tanpa tanda seru, tanpa emosi yang meluap-luap. Namun, empat kata itulah yang menjadi algojo paling sempurna yang pernah diciptakan untuk memenggal leher kewarasanku.

​Ponsel di tanganku terlepas.

​Prak! Ponsel itu jatuh menghantam lantai ubin lorong toilet. Baterainya terlepas, layarnya mati seketika.

​Kakiku kehilangan seluruh tulangnya. Tubuhku merosot perlahan menyusuri dinding, hingga akhirnya aku jatuh terduduk di atas lantai yang dingin dan kotor.

​Aku menatap kosong ke arah ponsel yang hancur di depanku. Udara di sekitarku seolah ditarik keluar secara paksa. Dadaku sesak, sangat sesak hingga aku membuka mulutku namun tak ada udara yang bisa masuk.

​Maaf, jangan ganggu saya.

​Empat kata itu bergema di dalam kepalaku layaknya lonceng gereja yang menandakan sebuah kematian. Rendi tahu. Entah bagaimana caranya ia tahu, mungkin dari gaya bahasaku, atau mungkin dari keputusasaan yang tersirat di dalam pesan itu. Ia tahu bahwa pengirim pesan itu adalah aku.

​Dan balasannya bukanlah sebuah penerimaan, melainkan sebuah penolakan absolut yang paling dingin dan paling kejam yang pernah kuterima.

​Ia tidak membentakku. Ia tidak merendahkanku seperti saat di perpustakaan. Ia hanya mengucapkan kata 'maaf', sebuah kata formal yang digunakan untuk mengusir seorang pengemis asing yang tak diinginkan kehadirannya di depan pagar rumah. Baginya, cintaku, ketulusanku, dan uang tujuh juta yang mengorbankan seluruh tabunganku itu... hanyalah sebuah 'gangguan'.

​Sebuah parasit yang mengusik ketenangannya.

​"Argh..." erangan tertahan keluar dari kerongkonganku yang serasa disayat belati berkarat.

​Tangisku pecah sejadi-jadinya. Aku memeluk kedua lututku, membenamkan wajahku di sana. Bahuku berguncang hebat, diguncang oleh isak tangis yang begitu memilukan. Aku tak memedulikan jika ada pengunjung kafe lain yang lewat dan melihatku menangis tersedu-sedu di lantai lorong toilet. Aku tak peduli jika riasan wajahku luntur dan seragamku kotor.

​Semuanya telah hancur lebur tanpa sisa.

​"Di lorong yang remang ini, aku menangis meraung meratapi kebodohanku sendiri. Empat kata darimu adalah jurang pemisah yang kau gali dengan sengaja, memutus jembatan terakhir yang susah payah kubangun dengan air mata dan darahku sendiri." (Buku Harian Keyla, Halaman 115)

​Aku telah memberikan segalanya. Aku menelan penghinaannya, aku merelakan persahabatanku retak, aku menolak laki-laki yang sempurna demi mencintainya dalam diam. Namun pada akhirnya, di matanya, aku tetaplah sebuah noda kotor yang mengganggu hidupnya.

​"Keyla?!"

​Suara panik itu terdengar dari ujung lorong.

​Langkah kaki tergesa-gesa mendekat. Lidya, Bella, dan Siska berlari menghampiriku yang sedang meringkuk menyedihkan di lantai. Di belakang mereka, Indra menyusul dengan raut wajah yang memucat pasi.

​"Ya ampun, Key! Lo kenapa?!" jerit Bella histeris, langsung berlutut di sampingku dan berusaha menarik tubuhku. "Ada yang nyakitin lo?! Lo jatuh?!"

​Lidya berlutut di sisi lainku, memeluk bahuku erat-erat. "Keyla, lo denger gue kan? Napas, Key, napas!" perintah Lidya dengan panik saat melihatku tersedak oleh isakanku sendiri.

​Indra berdiri mematung di belakang mereka. Matanya menatap ponsel jadul yang hancur di lantai dengan kening berkerut dalam. Laki-laki cerdas itu langsung menyadari bahwa benda usang itulah penyebab kehancuranku, benda yang sama sekali tak pernah ia lihat aku gunakan sebelumnya.

​Siska melangkah maju perlahan. Senyum malaikatnya telah lenyap, digantikan oleh raut wajah keprihatinan yang begitu sempurna. Namun di saat ia membungkuk dan tangannya menyentuh lenganku, aku bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari sentuhannya.

​"Kamu menghubunginya, kan?" bisik Siska sangat pelan, langsung menebak tepat sasaran. Bisikan itu hanya bisa didengar olehku di tengah riuhnya kepanikan Bella dan Lidya. "Kamu menghubunginya secara diam-diam, dan dia membuangmu lagi."

​Aku tak sanggup menjawab. Aku hanya bisa menangis semakin histeris, meremas kemeja Lidya dengan kuat hingga buku-buku jariku memutih.

​Siska mengangkat wajahnya, menatap Indra, Lidya, dan Bella dengan pandangan sendu. "Rendi menyakitinya lagi," ucap Siska pelan, namun efeknya bagai bom yang dijatuhkan di tengah lorong itu. "Laki-laki itu terus-menerus meneror mental Keyla."

​"Brengsek!" umpat Lidya murka. "Gue beneran bakal bunuh tuh cowok kalau ketemu besok!"

​Indra tak mengucapkan apa-apa, namun rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Matanya memancarkan amarah yang luar biasa besar untuk laki-laki yang telah menghancurkan senyum perempuan yang ia cintai.

​Aku menggeleng lemah di pelukan Lidya. "Bukan... bukan dia yang neror aku, Lid... Aku yang ganggu dia..." rintihku putus asa. "Dia cuma minta... jangan ganggu dia lagi..."

​Aku memejamkan mata, membiarkan diriku diseret menjauh dari lorong itu oleh sahabat-sahabatku dan Indra. Indra memapahku menuju mobilnya, meninggalkan kafe dan seluruh kemeriahannya di belakang.

​Malam itu, di dalam mobil Indra yang melaju membelah hujan ibu kota, aku akhirnya mengibarkan bendera putih. Aku menyerah. Tak ada lagi yang bisa kuperjuangkan dari seseorang yang tak mengizinkanku untuk masuk.

​Empat kata itu adalah nisan dari cinta pertamaku. Rendi telah menguburnya dalam-dalam, dan aku harus belajar hidup dengan hantu dari perasaan ini seumur hidupku.

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!