NovelToon NovelToon
Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:62.9k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!

Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Sebenarnya Kemuning kurang nyaman tidur di ruang istirahat di kantor peternakan. Karena dia tahu tempat itu dahulu sering digunakan oleh Aditya dan Lavanya. Walau semua barang sudah diganti dengan yang baru, kamar di cat ulang, dan dekorasi diubah, tetap saja ingatan buruk itu terus membayanginya.

“Apa tempatnya benar-benar nyaman dan aman?” tanya Kemuning dengan suara lembut.

“Walau rumah itu dibangun tahun delapan puluhan, tetapi tetap terawat dan jauh dari kata serem. Aku yakin kamu akan suka dengan rumah itu,” jawab Arkatama. 

“Rumah tua, ya?” gumam Kemuning.

“Bagaimana jika sekarang kita ke sana untuk melihat rumahnya?” ajak Arkatama.

Kemuning pun setuju. Siapa tahu rumah itu cocok dengannya. 

Rumah itu berada di pinggir kota, alamnya sangat asri, dan hanya ada rumah-rumah warga. Tidak ada bangunan kantor, apalagi pabrik.

“Ini rumahnya. Jika kamu suka, nanti aku hubungi pemiliknya,” ujar Arkatama sambil membuka pintu pagar.

Pemilik rumah itu memberikan kunci rumah kepada Arkatama. Mereka mempercayakan transaksi jual beli kepadanya. Karena pemilik rumah tinggal di luar pulau.

Kemuning menatap rumah sederhana itu dengan mata berbinar. Model bangunannya mirip dengan rumah kakek dan neneknya, dahulu. 

Lalu, Arkatama mengajak Kemuning berkeliling untuk melihat keadaan di dalamnya. Secara keseluruhan, rumah itu sangat layak huni.

“Setiap dua minggu sekali ada orang yang suka membersihkan rumah ini. Jadi, rumah selalu dalam keadaan bersih,” kata Arkatama.

“Aku suka rumah ini,” balas Kemuning. Menurutnya rumah itu sangat cocok untuk jadi tempat tinggalnya.

Arkatama tersenyum lebar. Lalu, dia menghubungi sang pemilik rumah.

***

Kehidupan Aditya berubah drastis dalam waktu yang sangat singkat. Hanya beberapa bulan saja sudah menghancurkan segalanya.

Rumah yang dulu ramai kini terasa lengang dan sepi. Suara televisi yang biasanya menemani Bu Ratih setiap harinya, kini mati. Yang tersisa hanya sisa-sisa ambisi yang perlahan berubah menjadi keputusasaan.

Aditya duduk di ruang tamu dengan tubuh lunglai. Kemeja yang dikenakannya kusut, wajahnya tidak lagi terawat. Di tangannya ada beberapa lembar kertas salinan putusan pengadilan yang terasa seperti vonis kehidupan.

“Harta kekayaan itu semuanya jatuh ke tangan Kemuning. Sementara aku tidak mendapatkan apa-apa,” gumam Aditya lirih, matanya membaca ulang kalimat yang sama.

Tangan pria itu bergetar. Bukan karena dingin, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya mulai retak. Ia mengacak rambutnya sendiri, napasnya tidak teratur.

“Enggak mungkin! Ini enggak mungkin!” pekik Aditya suaranya meninggi, namun putus asa.

Dari dalam kamar, Bu Ratih keluar dengan langkah cepat. Wajahnya pucat, matanya sembab.

“Kenapa kamu masih saha duduk di situ?” tanyanya kesal. “Sana cari cara untuk mendapatkan harta itu lagu, Aditya! Jangan cuma berteriak dan bersedih!”

“Cara apa lagi yang bisa aku lakukan, Bu?” balas Aditya, suaranya mulai terdengar putus asa. “Semua harta sudah jadi milik Kemuning. Dia punya bukti kuat dan kita kalah.”

“Kalah karena kamu bodoh!” bentak Bu Ratih tanpa ampun. “Harusnya dari awal kamu lebih hati-hati! Jangan sampai ketahuan!”

Kalimat itu menusuk, tetapi Aditya bahkan tidak punya tenaga untuk membalas. Ia hanya tertawa kecil, yang terdengar pahit dan nyaris gila.

“Hati-hati?” ulang Aditya pelan. “Aku sudah hati-hati, Bu. Empat tahun aku sembunyikan semuanya dan selama empat tahun aku bohongi dia!”

Aditya menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.

“Tapi ternyata, dia lebih kuat dari yang aku kira,” lanjut pria itu.

Bu Ratih mendengus kesal, lalu berbalik. Ia tidak ingin mendengar itu. Baginya, semua ini hanya kegagalan yang memalukan.

Sementara itu, di tempat lain Lavanya berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Tangannya sibuk memasukkan pakaian ke dalam lemari. Di atas meja, sebuah tas berisi uang tergeletak terbuka. Nominal yang tersisa tidak sebanyak dulu, tetapi cukup untuk memulai hidup baru lagi. Dia sudah terlalu malu tinggal di desa setelah kejadian itu.

Ponsel milij Lavanya bergetar pelan, memecah kesunyian di kamar itu. Nama Aditya menyala di layar, berkedip-kedip seperti memohon untuk segera diangkat. 

Lavanya hanya melirik sekilas, tatapannya datar. Jempolnya bergerak ringan, menekan layar, dan dalam satu detik, panggilan itu terputus begitu saja. Ia menghela napas pendek, lalu menyandarkan tubuhnya dengan santai, seolah tidak ada apa-apa yang baru saja terjadi. 

“Maaf, Mas, aku enggak mau tenggelam bareng kamu.”

gumamnya lirih, bukan dengan rasa bersalah, melainkan seperti seseorang yang baru saja menutup sebuah pintu yang tak ingin lagi ia buka. Bibirnya melengkung tipis. 

Setelah itu, ia kembali pada aktivitasnya, tenang, tanpa kegelisahan. Tidak ada air mata yang jatuh, tidak ada keraguan yang tersisa. Di dalam dirinya hanya ada satu hal, yaitu keinginan untuk menyelamatkan diri, apa pun caranya.

Beberapa menit berlalu, namun ketenangan itu kembali terusik ketika ponsel Lavanya berdering lagi. Nama di layar masih sama, Aditya. 

Lavanya mendengus pelan, rasa jengkel tipis melintas di wajahnya. Ia memandang layar itu beberapa detik lebih lama kali ini, seolah menimbang sesuatu yang sebenarnya sudah ia putuskan sejak awal. Pada akhirnya, ia mengangkat panggilan itu dengan gerakan malas. 

“Apa, Mas?” suaranya terdengar datar, dingin, jauh dari nada manja yang dulu selalu ia gunakan untuk meluluhkan pria itu.

“Lavanya, kamu di mana?” tanya Aditya terdengar panik di seberang sana. “Aku ke rumah kamu, tapi kamu enggak ada—”

“Aku lagi pergi, Mas,” potong Lavanya singkat.

“Pergi ke mana? Aku butuh kamu, Lavanya,” ucap Aditya melemah. “Kita harus bicara. Kita hadapi ini bareng-bareng—”

“Hadapi apa?” potong Lavanya lagi, nada suaranya berubah dingin. “Mas pikir aku mau ikut susah?”

Aditya terdiam sejenak, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

“La-Lavanya, kamu bercanda, kan?”

Lavanya tertawa kecil. “Aku dari awal enggak pernah bercanda, Mas. Aku cuma … realistis.”

“Jadi selama ini semua yang kamu bilang dan semua yang kamu lakukan ....”

“Ya, aku suka sama Mas,” potong Lavanya cepat. “Tapi, aku lebih suka hidup enak.”

Kalimat itu begitu ringan diucapkan. Tak ada beban dan tanpa rasa penyesalan. Tentu saja itu menghancurkan sesuatu di dalam diri Aditya.

“Kamu tega banget Lavanya!” geram Aditya.

“Tega?” ulang Lavanya, sedikit meninggi. “Mas lupa? Mas juga tega sama istri sendiri.”

Aditya terdiam lagi. Dia tidak bisa membantah.

“Sekarang Mas rasain sendiri,” lanjut Lavanya. “Gimana rasanya ditinggal.”

“Lavanya, tolong … jangan pergi!” kata Aditya hampir memohon. “Aku cuma punya kamu sekarang.”

“Justru itu, Mas, makanya aku pergi.”

Klik.

Sambungan terputus, menyisakan keheningan yang tiba-tiba terasa begitu luas di sisi Aditya. Ia masih memegang ponsel di telinganya, seolah berharap suara itu akan kembali. Namun yang ada hanya kehampaan. 

Waktu berjalan tanpa Aditya sadari. Tubuhnya kaku, pikirannya kosong, sampai akhirnya kekuatan di tangannya menghilang. Ponsel itu terlepas, jatuh ke lantai dengan bunyi pelan.

Perlahan, Aditya terduduk. Bahunya merosot, napasnya berat, seolah udara di sekelilingnya tiba-tiba menipis. Rasa sesak menjalar di dadanya, bukan hanya karena keadaan yang menimpanya, tetapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam mulai muncul ke permukaan.

Kenangan bersama Kemuning hadir tanpa diundang. Istri yang lembut, tenang, penuh ketulusan yang dulu ia anggap biasa saja.

Aditya teringat kembali bagaimana wanita itu selalu menyambutnya pulang dengan senyum hangat, bagaimana suaranya yang pelan memanggil “Mas ...” dengan penuh harap, bagaimana ia menunggu tanpa pernah mengeluh, tanpa pernah menuntut. Semua kesabaran dan ketulusan wanita yang dulu ia abaikan begitu saja.

Kedua tangan Aditya menutup wajahnya, jari-jarinya bergetar. 

“Kenapa aku sebodoh ini?!” Tangis Aditya pecah, nyaris tak terdengar. Penyesalan itu datang terlambat, menghantamnya tanpa ampun. Ia teringat setiap momen kecil yang dulu ia remehkan, makanan yang selalu tersedia, perhatian yang tak pernah putus, cinta yang begitu tulus tanpa syarat. Kini, semuanya hilang.

Air mata Aditya jatuh satu demi satu, lalu semakin deras. Bukan karena harta yang lenyap, bukan pula karena Lavanya yang pergi, tetapi karena akhirnya ia mengerti, apa yang benar-benar ia kehilangan selama ini. Sesuatu yang tak bisa digantikan oleh siapa pun.

“Kemuning ...!” bisik Aditya lirih. 

Nama itu terasa berat, dipenuhi rasa bersalah yang menyesakkan. Tak ada kesempatan kedua. Semua sudah selesai. Wanita yang dulu ia anggap lemah itu kini benar-benar pergi dan tidak akan pernah kembali.

1
EkaYulianti
apa kamar itu pernah dipake bt selingkuh aditya & lavanya ?
🌸Santi Suki🌸: iya 🤭
total 1 replies
EkaYulianti
kok bisa bu ratih jual mobil? apa kemuning terlewatkan gak mengamankan BPKB mobil?
🌸Santi Suki🌸: mobil kan atas nama Aditya. Bu Kemuning jual juga atas suruhan Aditya, buat bayar pengacara
total 1 replies
Nar Sih
miris benar nasib mu radit ,dulu bsngga dgn harta kemuning
Diana Dwiari
w o w.....
Uba Muhammad Al-varo
menunggu Aditya beraksi, apa dia mau ngehajar Lavanya sampai babak belur atau malah kepincut lagi, jadi nggak sabar menunggu up-nya kembali 🙏❤️💪💪💪
Aditya hp/ bunda Lia
Kemuning .. 👍👍👍
Aditya hp/ bunda Lia
LV pasti si Lavanya
Ita rahmawati
tuh Adit wanita yg kmu cintai sampe kamu rela mengkhianati kemuning wanita yg sudah memberikan segalanya utkmu ternyata aslinya tuh udh terbukti dn kmu liat sendirikan kamu ditinggalin saat GK punya apa2 dan dia malah milih jd LC kyk gtu 😏😏
rasain kmu Aditya 🤣
mimief
WKWKWK..lu ninggalin istri Soleha lu buat pel4cvr kaya dia🤣🤣
Ita rahmawati
apa aja gpp fit asal halal dn kmu berubah
Aidil Kenzie Zie
dari jalang berkedok pelakor akhirnya kembali ke jalang 🤣🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
lah si lavanya
Nanik Arifin
tuh kan akhirnya jd rendah pekerjaan & hidupnya, dlu suka ngeremehin & menganggap rendah orang sih... makanya hormati orang lain, biar pekerjaan & hidup kita berharga bagi orang lain
Kasih Bonda
next Thor semangat
Ummee
benar dugaan ku, memang lavanya...
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus
Yuningsih Nining
sukuri penting halal jg paling nggak masih bs nghidupi km sendiri, mngkn masih bnyk orang² keliling nyari kerjaan
Lianty Itha Olivia
akhirnya hidupnya LV malah dijlnan kotor yg penuh dg abu2
ken darsihk
Woouuw pasti Aditya terkejut sangat terkejut , tak di sangka mereka bertemu lagi
ken darsihk
Aq kira Kemuning berhijab
ken darsihk
Hukum tabur tuai ada nyata nya Aditya , dan saat ini lo sedang mengalami
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!