Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.
Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: MATAHARI BARU DAN KEMBALINYA KERAJAAN
Bola energi di tangan Chen Si terus membesar, warnanya berubah dari merah menjadi putih menyilaukan, lalu menjadi biru langit yang murni. Energi yang ditariknya begitu besar hingga awan ungu di langit tersedot masuk ke dalam serangannya!
"TERIMALAH INI!!"
Chen Si melepaskan serangan pamungkasnya.
"HUKUMAN MATAHARI: PELURU SUCI!!"
Sinar biru muda itu menembus tubuh Guru Agung Racun tanpa hambatan! Tidak ada ledakan keras, hanya cahaya murni yang menyelimuti monster itu.
"Tidak... Tidak mungkin! Ini cahaya... cahaya suci...!"
Tubuh monster itu mulai bergetar hebat. Bagian-bagian tubuhnya yang sudah berubah menjadi daging dan racun mulai mengeras, lalu hancur menjadi debu putih halus! Energi jahat yang selama ini ia serap selama ratusan tahun hancur lebur dalam sekejap!
"AKU TIDAK MAU MATI!! AKU ADALAH DEWA!!" jeritnya terakhir kali sebelum seluruh tubuhnya lenyap tak bersisa, bersih dari muka bumi.
Bugh...
Hening.
Hanya angin malam yang bertiup kencang di puncak menara yang sudah hancur separuh.
Chen Si berdiri tegak di tengah puing-puing, napasnya sedikit memburu namun matanya kembali normal. Mode Naga perlahan memudar, kembali menjadi pemuda biasa yang gagah dan tampan.
Pertarungan terakhir... selesai sudah.
Keluarga yang Utuh
Chen Si berjalan turun dengan langkah mantap. Di lobi utama, Ayah, Ibu, dan Wu Ye sudah menunggunya dengan wajah penuh haru.
"Anakku..." Ibu Chen Si berlari memeluknya erat-erat, kali ini dengan kekuatan yang sudah jauh lebih baik berkat obat penyembuh yang diberikan Wu Ye. "Kamu benar-benar menyelamatkan kita semua."
Ayah Chen Si menepuk bahu anaknya dengan bangga yang tak terhingga. "Aku tidak pernah ragu padamu. Darah Raja Alkemis memang mengalir deras di tubuhmu. Kamu lebih hebat dari aku, lebih hebat dari kakek buyutmu."
Wu Ye tersenyum lebar, air matanya menetes. "Hahaha! Akhirnya... keadilan ditegakkan. Sekte Ular Hitam sudah lenyap dari dunia ini!"
Mereka berempat berpelukan, mengakhiri penderitaan bertahun-tahun. Malam itu, mereka tidak langsung pergi. Mereka membersihkan sisa-sisa musuh yang masih hidup, membebaskan tawanan lain, dan mengambil semua catatan jahat musuh untuk dihancurkan.
Membangun Kembali Kejayaan
Satu tahun kemudian.
Di lokasi yang dulu bernama Lembah Mayat, kini berdiri sebuah kota baru yang megah dan bersih.
Bukan lagi reruntuhan berhantu, tapi Kota Naga Suci, pusat ilmu pengobatan dan bela diri terbesar di dunia.
Bangunan-bangunannya berwarna emas dan putih, dipenuhi taman-taman indah dan sungai-sungai air suci. Ribuan murid dari berbagai penjuru dunia datang belajar di sana, bukan untuk berperang, tapi untuk mempelajari cara menyembuhkan dan melindungi.
Dan di singgasana tertinggi, tidak duduk seorang Raja yang kejam, melainkan Chen Si, pemimpin klan Chen yang baru.
Di sebelahnya duduk Ayahnya yang kini menjadi Penasihat Agung, Ibu yang memimpin divisi pengobatan wanita, dan Wu Ye yang menjadi Guru Besar tertua yang paling dihormati.
Chen Si kini sudah menikah dengan wanita yang dicintainya (atau masih mencari jodoh yang setara, sesuai keinginan), dan hidup bahagia bersama keluarga besarnya.
Kekuatannya terus bertambah, namun hatinya tetap rendah hati dan baik. Ia dikenal sebagai Raja Alkemis Terkuat Sepanjang Masa, pelindung dunia yang tidak membiarkan kejahatan tumbuh lagi.
Suatu hari, di taman istana.
Chen Si duduk santai meminum teh sambil melihat matahari terbenam.
"Kakek Wu," panggilnya.
"Ada apa, Tuan Muda?"
"Apakah ini akhir dari segalanya?"
Wu Ye tertawa bijak. "Tidak, Nak. Ini bukan akhir. Ini baru permulaan. Dunia ini luas, masih banyak rahasia yang tersembunyi, masih banyak tempat yang belum terjamah. Dan kau... kau memiliki waktu dan kekuatan untuk menjelajahi semuanya."
Chen Si tersenyum, menatap langit yang biru cerah.
"Ya. Benar juga. Ayo... Kita berangkat lagi. Kali ini bukan untuk berperang, tapi untuk berpetualang!"
Dan kisah petualangan Chen Si, sang pewaris Darah Naga, akan terus berlanjut... menjadi legenda yang diceritakan turun-temurun selama ribuan tahun!