Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5
Langkah Arumi terasa berat, seolah sepatu tuanya terbuat dari timah. Hujan yang turun bukan lagi sekadar air, melainkan jarum-jarum dingin yang menusuk hingga ke pori-pori.
Di kepalanya, suara tawa istri Reza dan nada dingin pria itu berputar seperti kaset rusak, menghancurkan sisa-sisa harga diri yang sempat ia bangun.
Ia berhenti di depan sebuah toko kain besar, menatap pantulan dirinya di kaca yang gelap. Rambutnya lepek, wajahnya pucat, dan matanya merah bukan hanya karena rembesan air hujan, melainkan karena amarah yang mulai mengkristal.
Orang-orang berlalu-lalang dengan payung mahal tanpa menoleh sedikit pun padanya. Di tengah keramaian kota, ia merasa seperti bayangan yang tak terlihat.
"Ibu..."
Suara kecil itu memutus lamunannya. Arumi tersentak, menyadari Kirana masih menunggunya di rumah Bu RT. Ia segera menyapu wajahnya dengan kasar, memastikan tidak ada sisa air mata yang tertinggal sebelum melangkah menjemput dunianya yang tersisa.
Sesampainya di rumah Bu RT, Arumi mendapati Kirana duduk di teras sambil memeluk tas sekolahnya yang kusam. Namun, pemandangan itu terusik oleh kehadiran Mbak Sari yang sedang asyik mengobrol sambil mengipasi wajahnya.
"Nah, ini dia orangnya!" seru Mbak Sari begitu melihat Arumi yang basah kuyup. "Habis dari mana kamu, Rum? Katanya menjahit kemeja untuk orang kaya? Kok malah mirip tikus got begini?"
Bu RT menatap Arumi dengan pandangan kasihan yang terasa mencekik. "Arumi, tadi ada orang mencarimu ke kontrakan. Katanya dari kantor apa gitu... mereka bilang jangan pernah datang lagi ke sana. Ada apa?"
Arumi tidak menjawab. Ia hanya meraih tangan Kirana yang dingin. "Ayo, Nak, kita pulang."
"Pulang? Ke mana?" Mbak Sari berdiri, matanya berkilat jahat. "Pemilik kontrakanmu tadi menghubungiku, Rum. Katanya dia tidak mau menyewakan tempatnya untuk wanita yang reputasinya buruk. Dia sudah dengar gosip kamu mengganggu suami orang. Kamu diusir, Arumi! Barang-barangmu sudah ada di depan teras!"
Dunia seolah berhenti berputar. Arumi tidak membalas makian itu. Ia hanya menarik Kirana pergi, mengabaikan teriakan Mbak Sari yang memekakkan telinga.
Setibanya di depan kontrakan, pemandangan yang menyambutnya jauh lebih buruk dari bayangannya. Pintu kayu itu telah digembok. Di depannya, tumpukan barang miliknya berserakan di tanah yang becek.
Mesin jahit tuanya hanya tertutup plastik tipis yang mulai bocor. Pakaian-pakaian Kirana tercampur dengan lumpur.
Arumi jatuh terduduk. Ia memeluk mesin jahit itu, satu-satunya alat yang memberinya harapan untuk makan. Bahunya berguncang hebat di bawah guyuran hujan.
"Ibu jangan nangis... Kirana nggak apa-apa kok kalau tidur di luar," ucap bocah lima tahun itu sambil mengusap pipi ibunya dengan tangan mungil yang gemetar karena kedinginan.
Arumi terdiam. Ia menatap wajah polos Kirana, lalu menatap mesin jahitnya yang basah. Kesedihan yang sedari tadi meluap mendadak surut, digantikan oleh kekosongan yang sangat dingin. Ia berdiri perlahan, menghapus air mata untuk terakhir kalinya hari itu.
Arumi tidak menuju rumah saudara yang ia tahu hanya akan menutup pintu. Ia melangkah menuju area pasar grosir tekstil yang sudah mulai sepi. Tujuannya adalah sebuah gudang tua milik Pak Salim, seorang lelaki tua yang pernah ia bantu jahitkan pakaiannya tanpa bayaran.
Pak Salim menerima mereka dengan iba. Ia menunjukkan sebuah pojok gudang yang berdebu, penuh dengan tumpukan karung goni dan bau kain apek. Bagi orang lain, ini adalah gudang sampah. Bagi Arumi, ini adalah markas pertahanannya.
Malam itu, setelah Kirana tertidur di atas tumpukan karung, Arumi menyalakan lampu minyak yang temaram. Ia membentangkan potongan kain sisa pemberian Reza yang sempat ia selamatkan, sutra dan brokat mahal yang kini terasa seperti sisa-sisa pengkhianatan.
Arumi mengambil guntingnya. Dengan gerakan yang presisi dan penuh tekanan, ia memotong kain-kain itu. Ia tidak lagi menjahit kemeja pria.
Ia mengambil sisa-sisa kain perca dari tong sampah di depan gudang Pak Salim, memadukannya dengan sutra mahal tadi dengan teknik yang rumit.
Tangannya bergerak lincah. Setiap tusukan jarum ke kain terasa seperti sedang menjahit luka di hatinya sendiri. Ia tidak bicara. Ia hanya terus bekerja sampai jemarinya sedikit kaku karena udara malam yang dingin.
Tiga minggu berlalu. Arumi jarang keluar dari gudang kecuali untuk urusan yang sangat mendesak. Pak Salim, yang terkesan dengan kegigihan Arumi, mulai membawakannya potongan kain sisa dari toko-toko besar di pasar.
"Mereka bilang ini sampah, Rum," kata Pak Salim suatu sore.
Arumi menatap tumpukan perca itu. Di matanya, itu bukan sampah. Itu adalah amunisi.
Ia menciptakan sebuah rompi unik dengan teknik patchwork sutra yang sangat artistik dan sebuah gaun kecil yang tampak sangat mewah meski terbuat dari potongan sisa. Keindahan karya itu lahir dari ketelitian yang lahir atas dasar rasa sakit.
"Pak Salim," panggil Arumi. Suaranya kini terdengar lebih rendah dan berwibawa. "Tolong bawa ini ke butik Laksmi di pusat kota. Jangan sebut namaku. Katakan saja ini dari seorang pengrajin yang sedang mencari mitra."
Beberapa hari kemudian, Pak Salim kembali dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan keterkejutan. Ia meletakkan tumpukan uang di atas meja kayu lapuk di depan Arumi.
"Arumi... mereka menyukainya! Pemilik butik itu bertanya siapa yang menjahit ini. Dia bilang, jahitan ini punya 'jiwa' yang kuat. Dia memesan sepuluh lagi dengan desain yang berbeda," ujar Pak Salim bersemangat.
Arumi menatap uang itu. Tidak ada binar bahagia di matanya. Ia hanya menghitung jumlahnya, menyisihkan sebagian untuk Pak Salim sebagai uang sewa dan biaya bahan, lalu menyimpan sisanya ke dalam kotak besi kecil yang tersembunyi.
"Baru sepuluh, Pak?" tanya Arumi datar. "Katakan pada mereka, minggu depan saya akan kirimkan dua puluh dengan kualitas yang lebih tinggi."
Malam itu, Arumi berdiri di depan jendela kecil gudang yang menghadap ke arah gemerlap pusat kota. Di kejauhan, lampu-lampu gedung tinggi PT. Tekstil Sejahtera milik Reza tampak bersinar terang.
Ia mengambil buku saku kecilnya. Ia melihat nama-nama yang tercatat di sana. Dengan tenang, ia menggarisbawahi nama Reza dengan tinta merah.
Kirana terbangun sebentar, melihat ibunya yang masih berdiri di depan meja jahit. "Ibu belum tidur?"
"Sebentar lagi, Sayang. Ibu sedang menyiapkan masa depan kita," jawab Arumi tanpa menoleh.
Ia kembali duduk, memasukkan benang ke dalam lubang jarum dengan sekali percobaan. Gerakannya kini lebih cepat, lebih taktis, dan tanpa keraguan. Arumi tahu, uang dari butik Laksmi hanyalah batu loncatan kecil.
Ia mulai merancang sebuah strategi untuk mendekati pemasok kain yang selama ini menjadi rekanan eksklusif Reza.
Ia tahu kain sisa yang ia olah adalah bukti bahwa efisiensi pabrik Reza sedang menurun, sebuah rahasia industri yang ia pelajari dari dokumen yang tak sengaja ia lihat saat di kantor pria itu.
Lampu minyak di gudang itu tertiup angin, membuat bayangan Arumi di dinding tampak besar dan tajam. Ia tidak lagi butuh pengakuan dari Mbak Sari atau cinta palsu dari Reza. Ia hanya butuh jarum, benang, dan waktu.
Di kegelapan gudang itu, Arumi terus menjahit. Setiap tarikan benang adalah langkah maju menuju kehancuran orang-orang yang pernah membuangnya. Ia bukan lagi Arumi yang mengemis pinjaman, ia adalah badai yang sedang tenang sebelum menerjang.
"Nikmatilah cahaya gedungmu, Reza," gumamnya pelan sambil memotong benang dengan sekali sentakan tajam. "Karena aku sedang menjahit kegelapan yang akan menyelimutinya."
Arumi meletakkan guntingnya dengan suara denting logam yang nyaring.
Ia tidak butuh monolog panjang untuk meyakinkan dirinya sendiri. Tindakannya malam itu, dengan tumpukan pesanan yang mulai menggunung, sudah cukup menjadi jawaban bagi dunia yang pernah meludahi wajahnya.
...----------------...
To Be Continue ....
semoga kuat dan sabar Arumi