NovelToon NovelToon
My Husband Brondong

My Husband Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.

​Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11 - MHB

Suasana di dalam mobil sedan putih milik Maya terasa begitu padat, seolah oksigen di sana berebut ruang dengan ego yang sama-sama tinggi. Perjalanan dari hotel menuju apartemen yang biasanya hanya memakan waktu lima belas menit, kini terasa seperti perjalanan lintas provinsi yang tak kunjung usai.

​Maya mencengkeram kemudi dengan kaku. Pikirannya berlarian ke mana-mana. Di satu sisi, ia merasa lega karena Adrian pria yang selalu membuatnya merasa kecil akhirnya bungkam. Namun di sisi lain, ia merasa otoritasnya sebagai "kakak" dan "senior" baru saja dikudeta oleh pemuda yang kini duduk santai di sampingnya, sedang asyik memandangi lampu-lampu jalanan Jakarta.

​"Kenapa kamu datang, Arka?" suara Maya memecah keheningan, dingin dan menuntut.

​Arka tidak langsung menjawab. Ia hanya mengubah posisi duduknya, menyandarkan kepala pada jok mobil dengan gerakan yang sangat rileks. "Kan tadi sudah kubilang, Kak. Kuncimu tertinggal."

​"Jangan bohong," Maya mengerem mendadak saat lampu merah menyala, membuat tubuh mereka sedikit terdorong ke depan. "Kamu tahu persis aku punya kunci cadangan di tas kerja. Kamu datang bukan karena kunci. Kamu datang karena mau pamer, kan? Kamu mau bikin keributan di acaraku?"

​Arka menghela napas pendek. Ia memutar tubuhnya menghadap Maya, menatap profil samping wajah istrinya yang tampak tegang. "Pamer apa? Pamer kalau aku cuma 'adik tingkat' yang menumpang tinggal? Kalau aku mau bikin keributan, aku sudah teriak di depan semua orang kalau aku suamimu, Maya."

​Maya terdiam. Napasnya memburu. Ia memarkirkan mobilnya di area parkir apartemen dengan gerakan yang agak kasar. Ia mematikan mesin, namun tidak segera keluar.

​"Kamu membuat posisiku sulit, Arka. Sekarang orang-orang kantor akan bertanya-tanya siapa pria 'dekat' yang bersamaku tadi. Kamu tahu betapa kerasnya aku menjaga citra profesional ini?"

​"Citra profesional atau tembok pelindung?" Arka membalas dengan nada yang tak lagi bercanda. "Aku di sana tadi, Maya. Aku berdiri di belakang pilar selama lima menit sebelum menghampirimu. Aku dengar semua yang pria itu katakan padamu. Dia meremehkanmu, dia menghinamu karena kamu sendiri, dan kamu... kamu cuma diam dengan bahasa formalmu yang kaku itu."

​Maya menoleh, matanya berkaca-kaca karena kombinasi rasa marah dan malu. "Itu urusanku! Aku bisa menghadapinya sendiri!"

​"Nggak, kamu nggak bisa," suara Arka melembut namun tetap tegas. "Kamu terlalu sibuk menjaga martabat sampai kamu lupa kalau kamu punya harga diri yang harus dibela. Aku datang bukan untuk jadi pahlawan kesiangan. Aku cuma ingin melindungi harga diri perempuan yang menyandang nama keluargaku. Meskipun cuma di atas kertas."

​Keheningan kembali menyelimuti mereka. Maya membuang muka ke arah jendela. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya. Selama ini, ia selalu menganggap Arka sebagai gangguan, sebagai bocah yang hanya tahu cara bersenang-senang. Namun malam ini, bocah itu justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di depannya saat ia dipojokkan.

​"Kita perlu kesepakatan baru," ucap Maya setelah beberapa saat, suaranya kini lebih rendah.

​"Lagi? Sebelas aturan kemarin belum cukup?"

​"Ini serius. Arka, tolong... jangan ikut campur urusan kantorku lagi. Jangan datang mendadak, jangan mencari tahu dengan siapa aku bicara. Aku butuh ruang itu tetap bersih dari kehidupan pribadiku."

​Arka mengangguk perlahan. "Oke. Aku nggak akan ikut campur urusan kantormu. Aku nggak akan datang tanpa undangan. Tapi ada syaratnya."

​Maya menaikkan alisnya. "Syarat apa?"

​Arka melepas sabuk pengamannya, lalu sedikit condong ke arah Maya. Jarak mereka begitu dekat hingga Maya bisa merasakan sisa aroma parfum maskulin yang tadi ia puji dalam hati. Arka menatap tepat ke dalam mata Maya—sebuah tatapan yang membuat Maya merasa seolah-olah Arka bisa membaca seluruh rasa takut dan keraguannya.

​"Berhenti memandangku sebelah mata, Maya," ucap Arka. Tidak ada slang, tidak ada nada bercanda. Hanya ada kejujuran yang murni.

"Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil yang nggak tahu apa-apa. Berhenti membandingkan aku dengan standar pria-pria 'mapan' versimu itu."

​Arka menjeda sejenak, genggaman tangannya pada sandaran kursi mengerat.

​"Aku mungkin belum punya jabatan mentereng sekarang. Aku mungkin masih harus berkutat dengan skripsi dan ujian. Tapi aku tahu cara menghargai perempuan jauh lebih baik dari mantanmu yang sukses itu. Aku tahu kapan harus diam, dan aku tahu kapan harus berdiri di depanmu untuk melindungimu."

​Maya terpaku. Ia merasa seluruh argumen yang sudah ia susun di kepalanya runtuh seketika. Di dalam mobil yang remang-remang itu, ia menyadari bahwa selama ini ia yang sebenarnya bertingkah kekanak-kanakan dengan terus menghakimi Arka hanya dari usia. Ia terlalu takut mengakui bahwa Arka, dengan segala kepolosannya, memiliki kedewasaan emosional yang jauh melampaui pria mana pun yang pernah ia temui.

​"Deal?" tanya Arka, suaranya kembali melembut.

​Maya menelan ludah, mencoba menguasai dirinya kembali. "Deal. Jangan langgar janji ini."

​"Aku nggak pernah langgar janji pada orang yang aku sayang," Arka berucap pelan, hampir seperti bisikan, sebelum ia membuka pintu mobil dan keluar.

​Maya duduk diam di kursi kemudi selama beberapa menit. Jantungnya berdetak liar. Kalimat terakhir Arka menggantung di udara seperti gema yang tak mau hilang. Orang yang aku sayang?

​Ia menyentuh pipinya yang terasa panas. Selama bertahun-tahun, Maya merasa ia sudah tahu segalanya tentang hidup—tentang karier, tentang kedewasaan, tentang bagaimana seharusnya sebuah hubungan berjalan. Namun malam ini, seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun baru saja memberinya pelajaran paling berharga: bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada jabatan, melainkan pada keberanian untuk menghargai dan melindungi tanpa perlu merasa lebih tinggi.

​Maya keluar dari mobil, melangkah menuju lift di mana Arka sudah menunggunya sambil menahan pintu lift agar tetap terbuka. Saat mereka berdiri bersisian di dalam lift yang bergerak naik, Maya tidak lagi merasa canggung.

Bersambung.....

1
Teh Fufah
keren bingits bukan lumayan keren mayaaaa
Ari Atik
ingat maya egoisnu akan membuat pecahnya bahtera samudra rumah tanggamu.😡
Teh Fufah
karena aku senang, aku kasih mvote nya hari ini buat maya 😍 arkaaaa
Naelong: makasi kak udah mampir😍🙏
total 1 replies
Teh Fufah
klw dah cemburu kayak gini mah otw unboxing hihi
Teh Fufah
otw bucin loe may...
Ari Atik
yap betul sekali.....

karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......

rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
Teh Fufah
hadeh..... maya oh arka
Teh Fufah
senengnya hati ku
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
Ari Atik
mulai memahami satu sama lain....

good...😊
Ari Atik
arkanya gk jadi memperkenalkn diri,di kantornya maya kah?

memperjelas status pernikahan mereka...
Naelong: jadi tapi bukan sekarang ya😍
total 1 replies
Ari Atik
ya.. betul sekali langkah arka..
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
Ari Atik
kan...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡

lanjut thor....😊
Naelong: makasi udah mampir kak😍
total 1 replies
Ari Atik
muak dg egonya maya.....
Ari Atik
maya ...
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....

ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
Ari Atik
akting,sekaligus memanfaatkn keadaan....🤭😊😊
Ari Atik
ya sakitlah jadi arka....
suami yg tk di akui..😡
Ari Atik
sampai kapan maya bisa mempertahankn egonya....?
Naelong
makasi udah mampir kak🙏
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu, nggak pake lama... Semangat
Teh Fufah
mari kita berpetualang dengan kisah cinta ny sang berondong
Naelong: makasi udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!