Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02
.
Anin meninggalkan rumah Zaskia setelah merasa lebih baik. Namun, ia tidak langsung pulang ke rumah. Wanita itu mengemudikan mobilnya menuju sebuah gedung perkantoran di pusat kota, tempat pengacara ternama yang selama ini menjadi konsultannya dalam urusan hukum. Haryo Wibowo.
Sepanjang perjalanan hatinya bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang yang mengirimi dia foto-foto Radit dan selingkuhannya? Siapa juga yang mengirimi dia pesan tentang keberadaan Radit di rumah sakit? Apakah teman, atau lawan? Tidak ada nama pengirim foto. Anin mencoba menghubungi nomor pengirim pesan, tapi nomor itu sudah tidak aktif.
*
Sesampainya di kantor firma milik Haryo Wibowo, Anindya langsung dipersilakan masuk, karena seluruh kantor tersebut tahu, Anin adalah klien Pak Haryo. Anin duduk di hadapan Pak Haryo bahkan tanpa menunggu dipersilakan.
“Bu Anin?” Pak Haryo tampak terkejut dengan kedatangan Anindya. “Apa yang membawa Anda ke sini? Kenapa tidak memanggil saya jika ada yang penting?”
“Saya ingin mengajukan gugatan perceraian dengan suami saya, Raditya," jawab Anin tanpa basa-basi. "Dia sudah berselingkuh di belakang saya. Saya ingin dia keluar dari rumah tanpa membawa harta sepeser pun. Apakah bisa?”
Pak Haryo mendengarkan dengan seksama, tangannya mencatat beberapa poin penting di buku catatannya.
“Sebelumnya, Bu. Apakah Ibu dan Pak Radit memiliki perjanjian pranikah yang mengatur soal pembagian harta jika terjadi perceraian?” tanya pengacara Haryo setelah Anin selesai bicara.
Anindya menggelengkan kepala perlahan. Senyum pahit terukir di bibirnya. “Tidak ada, Pak. Dulu kami menikah dalam keadaan miskin, tidak punya apa-apa. Saya terlalu mempercayainya, saya tidak pernah berpikir akan ada hari seperti ini. Bagi saya, cinta dan kepercayaan itu sudah cukup. Siapa sangka dia akan melakukan hal sekejam ini?"
Pengacara itu menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan.
“Kalau begitu, maafkan saya, Bu. Saya harus jujur. Tanpa perjanjian pranikah, secara hukum semua aset yang diperoleh selama menikah otomatis menjadi harta bersama. Artinya, harus dibagi dua sama rata. Ibu tidak bisa begitu saja menyingkirkannya tanpa memberi apa-apa, sekalipun dialah pihak yang berselingkuh. Terlebih di mata publik dan hukum, Pak Raditya juga dianggap turut andil membangun bisnis itu.”
“Lalu tidak ada jalan lain sama sekali, Pak?” tanya Anindya, matanya menyipit penuh tekad.
“Ada satu jalan, tapi ini langkah yang cukup berat dan berisiko,” jawab Pak Haryo. “Jika Ibu benar-benar tidak ingin dia menikmati hasil kerja keras Ibu, satu-satunya cara adalah dengan mengalihkan semua aset atas nama pribadi Ibu, atau… “
"Apa?" Anin menatap wajah pengacara Haryo dengan tidak sabar.
Pengacara Haryo memajukan badan hingga posisi wajahnya berada di atas meja hingga dua bola mata mereka saling bertatapan. "Anda membuat perusahaan dan aset-aset tersebut dalam kondisi bangkrut sebelum proses pembagian harta dimulai. Namun, ini butuh strategi yang matang dan waktu yang tepat.”
Mata Anindya terbelalak, mulutnya sedikit terbuka. Membuat perusahaan sendiri dalam kondisi bangkrut? Otaknya mulai berputar memikirkan setiap kemungkinan yang disampaikan pengacara itu. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk menjawab, nada dering ponselnya berbunyi nyaring di ruangan yang hening itu.
Anin mengambil ponsel dari tasnya, dan nama yang tertera di layar membuat jantungnya berdenyut nyeri. Raditya.
Dengan mata yang menyala menahan amarah, ia mengangkat panggilan itu.
“Halo?”
“Sayang? Kamu di mana? Ini sudah sore, kenapa belum pulang?” suara Raditya terdengar lembut dan penuh perhatian dari seberang telepon. “Aku sudah masak makanan kesukaanmu, sudah aku siapkan semuanya di meja makan. Kamu pasti capek seharian kerja, kan?”
Anindya merasa dadanya begitu sesak saat ingatannya melayang jauh ke masa lalu. Selama lima belas tahun ini, Radit tidak pernah ada gelagat mencurigakan. Radit suami yang sempurna. Selalu peka, menyiapkan apa pun yang ia butuhkan tanpa diminta. menjadi sandaran di saat lelah, dan mendukung setiap keputusannya. Hingga Anindya merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.
Namun sekarang, kata-kata manis itu terasa seperti racun. Di balik semua kebaikan itu, ternyata pria yang berdiri di sampingnya selama ini telah menyembunyikan rahasia besar yang menghancurkan segalanya.
“Aku akan pulang sebentar lagi,” jawab Anindya. Suaranya datar, tidak ada nada hangat seperti biasanya.
Di seberang telepon, Raditya mengerutkan kening. Ada sesuatu yang berbeda dari suara istrinya. “Sayang? Kamu baik-baik saja? Suaramu terdengar aneh. Kamu ada di mana biar aku jemput?”
“Aku baik saja. Sampai jumpa di rumah.”
Tanpa menunggu jawaban lagi, Anindya langsung menutup telepon. Itu bukan kebiasaannya. Biasanya ia akan mengakhiri percakapan dengan kata-kata manis atau ucapan sayang.
Di seberang sana, Raditya yang masih memegang ponselnya di ujung sana merasa ada sesuatu yang tidak beres, namun ia tidak tahu apa.
Anindya mengembalikan ponselnya ke dalam tas, lalu menatap kembali Bapak Arga. Perkataan terakhir dari pengacara berputar-putar dalam otaknya. BANGKRUT. Jika tak ada jalan lain, maka jalan itu yang akan dia tempuh.
.“Saya mengerti penjelasan Bapak," Ucap anin kembali menghadap pengacara . Terima kasih atas waktunya. Saya akan berpikir dulu dan akan menghubungi Bapak lagi dalam waktu dekat.”
“Baik, Bu. Saya tunggu kabar dari Ibu kapan saja. Dan jika Ibu butuh bantuan apapun soal hukum, jangan ragu untuk menghubungi saya."
Anin mengangguk lalu berdiri dari duduknya. "Radit… jika aku bisa membuat perusahaan itu berjaya, hanya untuk membuatnya bangkrut adalah hal kecil!" gumamnya dalam hati.
Setelah Anindya keluar dari ruangan dan langkah kakinya menjauh, seorang pria dengan jas hitam dan kacamata hitam bertengger di atas hidungnya yang mancung keluar dari pintu sekat di sebelah ruangan, lalu duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Anin.
Pak Haryo berdiri sebentar dan menundukkan kepala dengan hormat. “Ternyata Anda benar, Bu Anin pasti datang. Anda tenang saja, saya pasti akan membantu Bu Anin semampu saya.”
*
Anindya mematikan mesin mobil begitu ia sampai di depan rumah besar yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya bersama Radit. Ia diam sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu melangkah masuk.
Begitu ia membuka pintu utama, matanya langsung menangkap pemandangan di ruang tengah. Raditya sedang berdiri membelakanginya, sedang berbicara melalui ponselnya dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik.
“…tenang saja, semua aman. Dia tidak curiga apa-apa. Besok aku akan kirimkan uangnya seperti biasa…”
Begitu mendengar suara sol sepatu mendekat, Raditya buru-buru mematikan ponselnya dan menyimpannya ke dalam saku celana dengan gerakan tergesa-gesa, lalu menoleh, dan senyum lebar langsung terukir di bibirnya seolah tidak ada apa-apa.
“Sayang! Kamu sudah pulang?” Radit berjalan cepat menyongsong kedatangan istrinya. “Ayo, makan dulu. Masakannya sudah aku hangatkan lagi.”
Anindya hanya menatapnya diam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, segala sesuatu yang dulu terlihat biasa saja, kini terlihat sangat mencurigakan. Cara Raditya menyimpan ponsel dengan tergesa-gesa, senyum yang dulu terlihat tulus kini terasa seperti topeng, tatapan matanya yang dulu penuh kasih sayang kini terlihat menyembunyikan kebohongan.
Semua gerak-geriknya, setiap kata yang keluar dari mulutnya, bahkan cara ia berjalan, semuanya kini terlihat seperti akting yang sedang dimainkan oleh seorang aktor ulung.
“Kenapa dulu mataku buta?” batinnya seraya berjalan pelan mendekati Radit.
Matanya menatap lurus ke dalam mata suaminya. Di dalam hatinya, ia berkata, “Kamu pikir kamu sudah sangat pandai menyembunyikan semuanya? Tunggu saja. Sekarang giliranku yang bermain. Dan aku akan pastikan, permainan ini akan berakhir dengan kekalahan total untukmu!”
Orng lain aja tau spa yg lbih pntr,tp dia msih bs songong tnpa tau kl dia ga bsa apa2 tnpa anin.....
heraaaannn....sbnrnya pas pmbgian otak,dia kbgian ga sihhhh?????🤣🤣🤣