Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah ventilasi kelas dua belas bahasa di SMA Tunas Bangsa. Debu-debu halus tampak menari dalam pendar cahaya yang jatuh di atas meja kayu milik Arga Baskara. Laki-laki itu duduk diam dengan pandangan yang tertuju ke luar jendela, menatap lapangan basket yang masih basah sisa hujan semalam. Aroma tanah yang lembap masih tercium samar, membangkitkan kembali serpihan ingatan tentang kejadian di halte bus kemarin sore.
Arga mengembuskan napas panjang. Ia bisa merasakan dadanya masih terasa sedikit sesak. Keberadaan Nala Anindita yang hanya berjarak beberapa baris kursi darinya terasa seperti medan magnet yang kuat sekaligus menyakitkan. Bagi Nala, ia hanyalah seorang teman sekelas yang kebetulan searah saat pulang sekolah. Bagi Arga, Nala adalah seluruh dunia yang pernah ia miliki delapan tahun silam.
"Kamu sedang memikirkan soal penggaris yang patah atau soal perasaan yang patah, Ga?" tanya Dimas Pratama sembari mendaratkan tas punggungnya ke meja di samping Arga.
Arga tidak menoleh. Ia sudah terbiasa dengan celetukan Dimas yang tidak pernah mengenal waktu. "Bukan keduanya. Aku hanya sedang malas bicara."
Dimas terkekeh pelan. Ia mengeluarkan buku paket sejarah dari tasnya, lalu menyikut lengan Arga. "Lihat ke arah depan. Nala sedang memperhatikanmu sejak tadi. Sepertinya pesonamu yang misterius itu mulai bekerja."
Mendengar nama itu disebut, jantung Arga berdegup sedikit lebih kencang. Ia mencoba bersikap tenang dan perlahan memutar kepalanya. Benar saja, di baris kedua, Nala sedang duduk menyamping sambil menopang dagu dengan tangan kirinya. Tatapan gadis itu lurus tertuju pada Arga, tajam dan penuh selidik. Di sebelahnya, Rara Kinanti tampak sedang sibuk mengoleskan pelembap bibir, namun sesekali melirik ke arah yang sama.
Arga segera membuang muka, berpura-pura mencari sesuatu di dalam tasnya. Namun, suara langkah sepatu yang mendekat membuatnya membeku. Langkah itu ringan namun berirama pasti, jenis langkah yang sangat Arga kenali meski tanpa melihat pelakunya.
"Arga," suara lembut itu memanggil.
Arga mendongak. Nala sudah berdiri tepat di depan mejanya. Gadis itu mengenakan bando berwarna biru langit yang membuat wajah cerianya semakin menonjol. Namun, kali ini ekspresinya tidak seceria biasanya. Ada gurat kebingungan yang nyata di dahi Nala.
"Iya, Nala? Ada apa?" tanya Arga. Ia berusaha keras menjaga suaranya agar tidak terdengar bergetar.
Nala tidak langsung menjawab. Ia sedikit membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Arga. Jarak yang tiba-tiba terkikis itu membuat Arga bisa mencium aroma samar sabun bayi yang selalu menjadi ciri khas Nala sejak kecil. Arga menahan napas, merasa seolah oksigen di sekitarnya mendadak menghilang.
"Aneh sekali," gumam Nala. Matanya memicing, menelusuri setiap inci garis wajah Arga mulai dari alis, hidung, hingga garis rahangnya.
"Apa yang aneh?" tanya Arga lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih rendah.
Nala menegakkan tubuhnya kembali, namun pandangannya tidak lepas dari Arga. "Wajahmu. Sejak kemarin di halte bus, aku merasa ada sesuatu yang tidak asing. Aku merasa pernah melihat wajahmu di suatu tempat yang sangat jauh dari sini."
Dimas yang berada di samping mereka langsung menghentikan aktivitasnya. Ia melirik Arga dengan tatapan yang seolah berkata bahwa inilah saatnya untuk bicara jujur. Namun, Arga justru mengepalkan tangannya di bawah meja, menyembunyikan buku-buku jarinya yang memutih.
"Mungkin kita pernah berpapasan di pasar swalayan atau di jalan," sahut Arga pendek. Ia mencoba memberikan alasan yang paling rasional agar Nala tidak bertanya lebih jauh.
Nala menggeleng dengan cepat. Rambut kuncir kudanya ikut bergoyang mengikuti gerakannya. "Bukan. Bukan pertemuan sekilas seperti itu. Rasanya lebih dalam. Seperti aku pernah mengenalmu dengan sangat baik, tapi aku benar-benar tidak bisa mengingat kapan dan di mana."
Rara yang sejak tadi mengamati dari jauh akhirnya ikut mendekat. Ia berdiri di samping Nala dan menyentuh bahu sahabatnya itu. "Nala, kamu mungkin hanya sedang lelah. Bukankah semalam kamu bilang begadang untuk mengerjakan laporan ekonomi?"
"Aku serius, Ra," ujar Nala dengan nada sedikit bersikeras. Ia kembali menatap Arga dengan mata cokelatnya yang jernih. "Arga, apa kita pernah tinggal di kota yang sama sebelum ini? Maksudku, sebelum aku pindah ke sini?"
Hening sejenak menyergap sudut kelas itu. Arga bisa merasakan tenggorokannya mendadak kering. Bayangan tentang sebuah taman kecil dengan ayunan tua dan janji untuk selalu bersama seolah berputar di depan matanya. Ia ingin sekali berteriak bahwa dialah anak laki-laki yang menangis saat Nala pergi delapan tahun lalu. Ia ingin mengatakan bahwa dia masih menyimpan foto kecil mereka di dalam dompetnya.
Namun, Arga melihat bagaimana Nala menatapnya sekarang. Tatapan itu penuh rasa ingin tahu, namun kosong dari rasa rindu. Baginya, Nala yang sekarang adalah orang yang baru, seseorang yang telah menghapus masa lalu demi masa depan yang lebih tertata. Mengingatkan Nala hanya akan membebani gadis itu dengan utang masa kecil yang mungkin tidak lagi bermakna baginya.
"Tidak, Nala. Aku lahir dan besar di kota ini. Mungkin wajahmu memang mirip dengan seseorang yang kamu kenal di tempat lama," jawab Arga dengan suara yang terdengar begitu tenang, padahal hatinya terasa seperti sedang diiris sembilu.
Nala terdiam. Ia tampak mencari-cari kebohongan di mata Arga, namun laki-laki itu sudah ahli dalam menyembunyikan emosinya di balik wajah datar yang dingin. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Nala akhirnya menghela napas panjang.
"Mungkin kamu benar. Mungkin aku hanya dejavu," ujar Nala dengan nada suara yang perlahan melandai, menyimpan sedikit kekecewaan yang tidak ia mengerti sendiri.
Tania Larasati yang duduk tepat di depan Arga sejak tadi hanya terdiam kaku. Ia membelakangi mereka, namun telinganya menangkap setiap getaran suara Arga. Sebagai seseorang yang selama ini memperhatikan Arga secara diam-diam, ia tahu bahwa Arga sedang berbohong. Ia bisa melihat bagaimana bahu Arga yang biasanya tegap kini tampak sedikit merosot karena beban yang ia pikul sendiri.
"Ayo, Nala. Pak Guru sebentar lagi masuk," ajak Rara sambil menarik lembut tangan sahabatnya.
Nala mengangguk pelan. Sebelum berbalik, ia memberikan satu senyum tipis kepada Arga. "Maaf ya, Arga. Aku jadi bertanya yang aneh-aneh. Mungkin benar kata Rara, aku cuma butuh tidur lebih banyak."
Arga hanya membalas dengan anggukan kecil. Ia memperhatikan punggung Nala yang menjauh hingga gadis itu kembali ke bangkunya. Ketika Nala sudah tidak lagi melihat ke arahnya, Arga memejamkan mata rapat-rapat.
"Kenapa kamu tidak mengaku saja, Ga? Itu kesempatan bagus," bisik Dimas dengan nada tidak habis pikir.
Arga membuka matanya, menatap lurus ke arah papan tulis yang masih bersih. "Biarkan saja seperti ini, Dim. Biarkan dia mengenal Arga yang sekarang, bukan Arga yang dari masa lalu. Aku tidak ingin dia merasa terpaksa berteman denganku hanya karena sebuah memori yang sudah ia lupakan."
Dimas hanya bisa menggelengkan kepala, menyadari betapa keras kepalanya sahabatnya itu dalam hal menjaga luka lama. Sementara itu, di baris depan, Nala masih sesekali mencuri pandang ke arah belakang. Ia memegang dadanya yang berdegup dengan irama yang tidak biasa. Ada sesuatu yang tertinggal di sana, sebuah nama yang nyaris terucap namun tertahan di ujung lidah, terkubur di bawah lapisan waktu yang belum sanggup ia tembus.