Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Say goodbye
Oke, Ivy menunjuk ke arah bangunan 3 lantai di depan mereka.
"Itu."
Mesin motor dimatikan, kelam itu tak bisa ditepis, tak bisa di usir, Ivy bahkan bisa merasakannya kala ia memutuskan turun dan tak sengaja mendaratkan pandangannya ke arah Panji.
Ia merasakan aura badai dari sampingnya, dimana Panji telah ikut turun dan berada di sisi. Terbakar, rahangnya mengeras dengan sorot mata yang sulit dijabarkan selain dari amarah yang tertahan dari Panji.
Sebuah bangunan kost-kostan macam rusun ini berdiri di lahan yang cukup padat penduduk dengan cat telor asin yang sudah agak pudar dan mengelupas di beberapa bagiannya, diantara pemukiman warga yang tidak sepi tidak pula ramai.
Kondisi kost-an itu cukup sepi siang ini untuk ukuran berpenghuni penuh, tapi mungkin para penghuninya belum kembali semuanya.
Ivy sudah mengintip-intip dari pagarnya bersama Panji. Lain Ivy yang membungkuk ke arah celah pagar, lain Panji yang berjinjit langsung dari atas pagar.
Dapat Ivy lihat dua pasang sepatu perempuan dan lelaki di depan pintu kost-an nomor 3 dari 4 deret bangunan berpagar putih setinggi 2 meter di depannya itu, tepatnya di lantai 1 yang ia yakini itu sepatu Mayra.
"Itu sepatu Mayra," kini Ivy berbisik dan menunjuk ke arah yang dituju bersama sebuah motor milik Zein tepat di depan kamarnya.
Panji mencoba mencari cara membuka pagar yang rupanya tak dikunci, hanya tinggal ia buka saja slotnya dengan mudah dan Voalahhh pagar terbuka, menampakan halaman kostan sempit yang diisi oleh jemuran terbatas.
Gantungan baju nampak penuh tentu saja milik para penghuni kost-kostan ini. Ivy sedikit mencebik enggan masuk, "gue ngga cukup tau ini kost-kostan model apa, kostan ayam kah yang jelas gue ngga mau masuk...jadi, Lo aja...gue tunggu."
Panji mengangguk paham, "oke thanks." Ia bersiap masuk, tapi Ivy mencengkram lengan jaket Panji, "janji jangan bikin onar, Lo cukup tau atau----" Ivy merotasi bola matanya, sebenarnya ia tak peduli, tapi disini ia akan kena imbasnya juga jika Panji membuat onar.
Tak menjawab Ivy, Panji hanya memandangnya dengan sorot mata yang dipenuhi kilat marah dan tak nyaman, sadar akan hal itu dan tak mau jadi pelampiasan, Ivy melepaskan cengkeramannya, "eh tapi terserah Lo deh....yang penting gue ngga mau terlibat. Sikat dikit sah-sah aja kayanya." Seolah tau apa yang terjadi di dalam sana, padahal siapa tau jika Mayra dan Zein sedang kerkom, who knows.
Panji masuk ke dalam sementara Ivy memilih berada di luar pagar bersama motor Panji.
Sepeninggal Panji, semuanya hening, hanya lalu lalang kendaraan yang melintas, bersama dengan perasaan tak enak Ivy. Ia memainkan kedua kakinya, menendang-nendang debu, kerikil atau sampah-sampah kecil yang ada di jalan beraspal itu.
Terlalu hening untuk sebuah penggerebekan, ia memilih bersandar di jok motor. Hingga selang waktu 20 menit kemudian, Ivy dapat mendengar keributan yang terjadi dari dalam kost-an, bukan-bukan hanya dirinya saja....melainkan kini Ivy yang penasaran mendekat dapat melihat para penghuni kost yang ada disana keluar dari kamarnya menyaksikan peristiwa chaos siang itu.
"Keluar Lo bang sat!" bentakan Panji geram.
Bugh!
Bugh!
Aaaaaa! Jeritan Mayra membahana.
"Panjiii pergi looo!"
"Lo Laki kan?!" Hantam Panji lagi.
Beberapanya sudah melerai, beberapanya sudah menahan Panji, "bang tahan bang!!"
Benar....Ivy melotot melihat dari celah badan orang-orang yang sudah mengerubungi, bahkan tak sedikit kini warga yang melihat ribut-ribut itu berlarian ke arah kostan, "weyy ada orang ribut orang ribut!"
"Pak, ini ada orang ribut..." teriakan mereka riuh.
Mayra dengan tampilan sedikit berantakan memakai kaos yang bukan miliknya, kenapa bisa tau bukan miliknya karena itu nampak cukup kebesaran di badannya hingga menutupi celana pendek yang dipakai, tulang selang kanya pun sampai terlihat dengan beberapa noda merah yang memenuhi lehernya, Ivy cukup syok dan tak menyangka jika temannya seliar itu...
Sementara, Zein lelaki itu benar-benar digusur telan jang bulat, Panji membabiii buta dengan mendobrak pintu mendorong Zein dan menginjak kepalanya setelah sempat menghantamnya dengan beberapa bogeman.
"Pasangan kumpul ke bo. Ngga ada yang negor atau grebek?! Dibiarkan begitu saja?! Mana RT dan pemilik kostan?!"
Ivy mundur perlahan dari tempatnya, melihat semua peristiwa yang kini berputar di kepala dan penglihatan, semuanya nampak sulit dicerna, ia juga tau jika urusan ini akan panjang. Sementara dirinya....
Ivy membalikan badannya menjauh dari sana dan....bergegas berlari, "Mayra..." gelengnya, merasa jijik sendiri.
Lalu Panji, wajahnya yang keruh dan begitu murka, amukannya itu sungguh membuatnya takut, benar...itu kesempatannya untuk lari, tak lagi memiliki urusan dengan lelaki tentara itu, lupakan traktiran salon tadi. Sebaiknya ia bergegas pergi, berharap tak bertemu kembali.
Zein....ia ingat dengan kemesuman Zein padanya tadi di kampus. Seketika Ivy merinding sendiri...
Ivy tak ingin terlibat.
Sesegera mungkin Ivy memesan ojol agar bergegas pergi dari sana setelah cukup menjauh.
Ivy sudah pulang, sepanjang perjalanan menuju rumah ia tak henti-hentinya memikirkan hal barusan yang ia alami. Hubungan rumit Mayra, entah bagaimana sekarang nasib mereka yang tadi kepalang digrebek massa, dan Panji?
"Makasih pak."
"Sama-sama."
Ivy menggeser pagar dengan roda-roda kecil di bawahnya, melihat mobil City car berkapasitas sedikit milik bang Arsen, itu tandanya sang kakak sudah pulang. Ah iya, sampai lupa...jam prakteknya hari ini di sesi pagi hanya sampai jam pukul dua siang untuk kemudian nanti sesi malam ia bertugas kembali di jam 5 sore. Yap! Bang Arsen adalah dokter spesialis kulit.
Ia berjalan lebih dalam, setelah menghela nafas, membuang jauh-jauh kesialan hari ini tepat di gerbang.
Ia masuk ke dalam rumah menemukan bang Arsen dengan pakaian casual tapi masih tampak rapi, "baru balik, dek?"
Ivy mengangguk menjatuhkan badannya di sofa ruang tengah, "minta uang dong."
Arsen yang mengunyah perkedel kentang di ruang makan terkekeh, "dihhh, balik-balik minta uang mana suntuk banget mukanya."
"Uang jajanku menipis beli buku, bang. Aku pengen cat kuku...mumpung lagi haid. Ayo dong abang dokter..."
Arsen tertawa kecil, "pake pacar cina atau henna aja, biar awet bisa dipake kalau ngga haid juga."
Ivy cemberut meniup helaian rambut yang jatuh di depan wajahnya, fyuhhhh!
"Pelit..."
"Mandi, uang--uang mulu..." Kini jiwir Arsen di hidung Ivy yang sudah bersiap untuk pergi kembali ke rumah sakit.
"Ihhhh abangggg!" rengeknya, "tanganmu bekas perkedel, minyak paukkk!"
Arsen tertawa, telah meraih kunci mobilnya lagi namun Ivy langsung bangkit dan menyusul, "abangggg, jangan pelit begitu dong. Bangggg!" ia sudah meraih lengan kakaknya dan menggelayutinya, "Vy, elah.." ia tertawa dengan manjanya sang adik. Bahkan tak tanggung-tanggung, Ivy benar-benar bergelantungan di lengan kakaknya.
"Duhhh, apa sih? Ivy, abangnya mau praktek itu..." mendengar keributan dari luar, mama keluar dari kamarnya dan benar....ia menemukan bungsunya sudah pulang, begitu jika ia dihadapkan pada sang putra sulung, maka manjanya Ivy akan keluar.
"Bagi duit dulu..."
"Lah emang uang bulanan dari papa?" tanya Arsen.
"Ma, emang papa ngga kasih Ivy uang jajan?" tanya Arsen kini yang mulai keberatan dengan gelayutan Ivy.
"Kasih kok. Masa udah habis?"
Ivy menggeleng, "dipake beli buku, ngerjain tugas seabrek, menipis ...Ivy mau cat kuku, mau maskeran rambut ke salon, ma..."
"Ini aku belum punya bini loh Vy, tapi udah mesti biayain uang salon .." Arsen tertawa, "ampun. Makanya cepet lulus wisuda, terus kerja."
"Ya makanya, sekarang minta papa, mama sama abang dulu. Bulan ini papa udah kasih jajan, mama udah, tinggal Abang...ntar kalo udah merit sama kak Retha aku sungkan buat minta."
Mama menggeleng geli.
"Bisa banget kamu..."
"Buruan, ngga akan aku lepasin kalo belum kasih jajan. Mau aku gelendotin sampe rumah sakit." Ivy benar-benar memeluk Arsen erat sambil menggeleng.
Sosok senja yang baru saja pulang dan masuk melihat kedua anaknya itu, "apa-apaan ini?"
"Pa liat pa, anak papa nih...masa minta jajan sama aku..."
"Minta lagi? Lah uang jajan kiriman papa abis?"
"Pengen ngerasain uang gaji dokter kulit, aku mau pake perawatan ke salon. Uang papa khusus buat jajan aku, dari mama juga buat kebutuhan kampus. Nah dari Abang nih yang belum bulan ini...buru bang..."
Arsen masih tertawa-tawa, "duhh, ampunnnn punya adek satu aja bikin pusing."
Mau tak mau Arsen merogoh ponselnya, mengetik sesuatu dan denting terdengar bersamaan dengan papa yang sudah melengos masuk ke dalam.
"Tuh udah. Awas aku udah telat, ada janji temu pasien..."
"Abang yang terbaik," Ivy mengecup pipi sang kakak, "bau asem, mandi sana!" Arsen mengelap pipinya yang memancing tawa renyah Ivy, "jangan dihapus, siapa tau jadi kenang-kenangan tuh dicium artis!"
"Najis." tawa Arsen berlalu ke depan, sementara Ivy, yang sudah berhasil merampok kakaknya itu kini memeriksa ponsel, senyumnya mengembang saat sejumlah nominal masuk ke rekening tapi itu tak lama sebab diantara notifikasi m bankingnya, ada dua notifikasi lain.
**3 Panggilan tak terjawab**
\+*628537501648*
**3 pesan belum dibaca**
\+*628537501648*
*Lo dimana*?
*Vy, urusan gue udah selesai. Sorry lama, Lo dimana*?
*Gue masih punya janji sama Lo, buat traktir ke salon*.
Ivy menekan tombol----
***Hapus***...
.
.
.
.
sampe bawah, bang Nji g nongol 😢
alibi aja nyari sarapan, jauh bener lu nyari sarapan doank, sarapan mata ya nji 🤣🤣🤣🤣🤣
gua berdoa semoga para koruptor dan di hukum mati