NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Sentuh Ibuku

Bab 5 – Jangan Sentuh Ibuku

“Ibu…”

Suara Alya bergetar hebat, seolah seluruh tenaga dalam tubuhnya tersedot keluar seketika. Wajahnya yang tadi memerah karena marah, kini berubah pucat pasi seperti mayat hidup. Matanya membelalak, memancarkan ketakutan yang luar biasa.

Dengan tangan yang gemetar parah, ia meraih lengan kokoh Kael, mencengkeram kain kemeja hitam pria itu sekuat tenaga seolah itulah satu-satunya penyelamat di dunia ini.

“Mereka tahu alamat rumah ibuku? Mereka sudah pergi ke sana? Jawab aku, Kael! Jawab sekarang juga!” teriaknya histeris. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata, siap tumpah kapan saja.

Kael menunduk menatap tangan kecil yang mencengkeram bajunya dengan erat. Lalu, ia perlahan mengangkat dagu Alya, memaksa gadis itu menatap matanya yang tajam dan gelap.

“Tenang.”

“Jangan suruh aku tenang!” Alya langsung menepis tangan pria itu dengan kasar, emosinya meledak. “Ini semua salahmu! Semuanya gara-gara kamu! Kalau aku nggak ketemu kamu, hidup aku dan ibuku pasti baik-baik saja!”

Suaranya melengking memecah keheningan kamar. Ia melepaskan segala kekesalan, ketakutan, dan amarahnya lewat teriakan itu.

Kael hanya diam menerima kemarahan gadis itu tanpa ekspresi sedikit pun. Wajahnya tetap datar, dingin, dan tak tergoyahkan.

“Benar.”

Jawaban singkat dan sederhana itu justru membuat Alya semakin terpukul dan marah. Pria itu mengakui semuanya begitu saja.

“Kalau sampai terjadi apa-apa pada ibuku, aku akan membencimu sampai mati! Aku nggak akan pernah memaafkan kamu selamanya!” ancam Alya dengan suara pecah.

Kael melangkah maju satu langkah, membuat jarak mereka kembali dekat. Aura mengerikan mulai terpancar dari tubuh tingginya.

“Kalau sampai terjadi apa-apa pada ibumu… aku akan membunuh mereka semua. Satu per satu. Tanpa ampun.”

Nada suaranya terdengar sangat datar, bahkan terdengar santai, namun kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu dingin hingga membuat udara di sekitar mereka terasa membeku.

Alya mundur perlahan, jantungnya berdegup kencang bukan main.

Ia sadar saat ini… Pria ini tidak sedang mengancam.

Ia sedang berjanji.

“Aku mau pulang sekarang!” Alya berusaha berjalan melewati Kael, tapi tangan pria itu dengan sigap menahan bahunya. “Lepas! Aku harus pulang! Aku harus lihat keadaan ibuku!”

“Tidak.”

“Apa?!” Alya mendongak memicingkan mata, tak percaya dengan penolakan itu. “Kamu dengar nggak sih?! Ibuku dalam bahaya!”

“Keluar dari mansion sekarang sama saja kau menyerahkan dirimu sendiri secara cuma-cuma pada mereka. Mereka sedang menunggumu keluar.”

“Aku nggak peduli!”

“Kau akan peduli saat peluru menembus dadamu dan kau mati sia-sia sebelum sempat melihat ibumu.”

Kalimat itu tepat mengenai sasaran. Alya terdiam, napasnya memburu cepat, dadanya naik turun menahan tangis dan amarah yang bercampur menjadi satu. Ia tahu Kael benar, tapi egonya menolak untuk mengakuinya.

Kael tidak membuang waktu. Ia segera mengambil ponsel dari saku celananya dan menekan satu nomor cepat. Panggilan tersambung dalam hitungan detik.

“Riko.” Suara Kael berubah total menjadi serius dan komando. “Kirim dua tim terbaik langsung ke alamat rumah ibu Alya. Lindungi wanita itu dengan harga berapa pun. Jika situasi memburuk, bawa dia ke safe house paling aman.”

Ia berhenti sejenak, matanya menyapu wajah Alya yang penuh ketakutan.

“Dan dengar baik-baik… Kalau ada satu orang pun dari pihak musuh yang berani mendekat atau menyentuh rambutnya saja…” Suara Kael merendah, penuh dengan ancaman maut. “Tembak mati.”

Alya yang mendengarnya langsung menutup mulutnya dengan tangan. Ia menatap Kael dengan tatapan ngeri.

“Kamu… kamu selalu menyelesaikan semua masalah dengan kekerasan dan peluru?” tanyanya terbata.

“Kalau ancamannya adalah peluru dan nyawa, maka jawabannya juga harus sama,” jawab Kael santai sambil mematikan sambungan telepon. Ia menatap Alya lembut, sedikit berbeda dari sebelumnya. “Ibumu akan aman. Percayalah padaku.”

“Aku nggak percaya kamu!” tolak Alya cepat. “Mulutmu penuh dengan pembunuhan dan darah! Bagaimana aku bisa percaya padamu?!”

“Kau tidak perlu percaya kata-kataku. Cukup lihat nanti hasilnya.”

Alya menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih, berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tidak jatuh. Hatinya benar-benar kalut.

Kael berjalan pelan menuju meja kecil di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah gelas bening, menuangkan air putih dingin dari teko, lalu berjalan kembali menghampiri Alya sambil mengulurkan gelas itu.

“Minum dulu. Tenangkan dirimu.”

Alya menatap gelas itu, lalu menatap wajah Kael. Dengan penuh emosi, ia mengibaskan tangan pria itu hingga gelas itu terlepas dan jatuh membentur lantai keramik.

PRANG!!!

Suara pecahan kaca terdengar nyaring. Air tumpah membasahi lantai, bercampur dengan serpihan kaca yang bertebaran.

“Aku nggak butuh apa pun darimu! Aku nggak butuh air! Aku cuma mau ibuku selamat!” teriak Alya putus asa.

Kael menatap pecahan kaca dan genangan air di lantai itu selama beberapa detik. Tidak ada kemarahan di wajahnya, tidak ada teriakan. Ia hanya menatapnya datar, lalu kembali menatap wajah Alya yang merah padam.

“Baiklah.”

Alih-alih memarahi Alya atau menyuruh pelayan membersihkannya, Kael justru berjongkok. Ia mengambil tisu dari saku, lalu mulai membersihkan pecahan kaca dan mengelap air yang tumpah itu sendiri dengan tangan telanjangnya.

Alya tertegun melihatnya. Mulutnya terbuka sedikit, tak menyangka akan melihat pemandangan ini.

Pria paling berbahaya, pemimpin organisasi kriminal yang ditakuti seluruh kota… sedang berjongkok membersihkan kekacauan yang dibuat oleh gadis yang baru saja membentaknya.

“Kenapa… kenapa kamu lakukan itu?” tanya Alya pelan, suaranya bergetar. “Kamu bisa suruh orang lain kan?”

Kael tetap sibuk membersihkan lantai sambil menjawab santai, “Karena kau sedang marah.”

“Jadi?”

“Kalau aku yang marah, biasanya orang yang ada di depanku yang mati. Tapi kalau kau yang marah… cukup gelas ini yang jadi korbannya. Tidak apa-apa.”

Alya nyaris tersedak mendengar jawaban itu. Pria ini benar-benar di luar nalar. Bahkan di situasi seberat ini, dia masih bisa mengeluarkan kalimat yang terdengar menyebalkan tapi entah kenapa sedikit membuat hatinya sedikit tenang.

Setelah selesai membersihkan, Kael berdiri dan membuang tisu itu ke tempat sampah. Ia kembali berdiri di hadapan Alya.

Tiba-tiba, ponsel di saku Kael bergetar lagi. Kali ini bukan panggilan suara, tapi pesan masuk. Kael segera membukanya, dan dalam sekejap, wajah yang tadi sedikit lunak kembali berubah menjadi sedingin es. Rahangnya mengeras, otot wajahnya menegang menahan amarah yang luar biasa.

“Ada apa?!” tanya Alya cemas, jantungnya kembali berpacu cepat melihat perubahan ekspresi pria itu. “Kael, bicara! Apa yang terjadi?!”

Kael menyimpan ponselnya kembali ke saku dengan gerakan kasar. Ia menatap Alya dengan mata yang menyala-nyala.

“Mereka… orang-orang itu sudah sampai di rumah ibumu.”

Darah di seluruh tubuh Alya seakan berhenti mengalir. Wajahnya kembali pucat, kakinya terasa lemas seolah tulang-tulangnya dicabut.

“Apa?!” pekiknya nyaris tak bersuara. “Terus… terus ibuku gimana?!”

“Tapi timku sudah sampai di sana lebih dulu,” potong Kael cepat, memberi kabar sedikit lega.

Alya merasa sekuat tenaganya langsung hilang. Ia hampir roboh jatuh ke lantai kalau saja Kael tidak sigap menangkap kedua lengannya.

“Ibuku… ibuku selamat kan? Dia nggak apa-apa kan?” tanya Alya berulang-ulang, matanya memandang Kael penuh harap.

“Untuk saat ini… dia masih aman.”

Itu cukup bagi Alya. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh juga, membasahi pipinya. Ia tak sanggup lagi menahan beban di dadanya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis tersedu-sedu.

Kael menatapnya cukup lama, mata gelap itu menyimpan banyak emosi yang sulit diartikan. Perlahan, ia melangkah mendekat.

Tanpa berkata apa-apa, Kael menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Ia memeluk Alya dengan erat, memberikan rasa aman yang aneh.

Tubuh Alya menegang kaku. Ia terkejut dengan sentuhan itu.

“Aku… aku nggak butuh dipeluk,” gumamnya pelan di dada bidang pria itu, meskipun kedua tangannya justru secara refleks mencengkeram baju Kael, tidak mendorong pergi.

“Tapi kau membutuhkannya,” bisik Kael rendah tepat di atas kepala gadis itu. Suaranya berat dan menenangkan.

Alya membenamkan wajahnya di dada Kael. Ia membenci kenyataan ini. Ia membenci pria di depannya ini. Tapi entah kenapa, di dalam pelukan pria paling berbahaya di dunia ini… hatinya yang tadinya bergemuruh kacau, perlahan menjadi sedikit lebih tenang.

Aroma maskulin yang khas dari tubuh Kael seakan membius indranya.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Alya akhirnya sadar kembali, ia mendorong dada Kael pelan untuk melepaskan diri.

“Aku tetap benci kamu,” ucapnya lirih, matanya masih basah oleh air mata.

Kael menatap manik mata cokelat itu, lalu mengusap sisa air mata di pipi Alya dengan ibu jarinya dengan sangat lembut.

“Aku tahu.”

“Dan setelah semua masalah ini selesai… aku akan pergi. Aku akan bawa ibu pergi jauh dari kamu,” kata Alya tegas, berusaha menguatkan hatinya.

Tatapan Kael seketika berubah menjadi gelap dan pekat. Ada aura posesif yang sangat kuat terpancar dari matanya.

“Tidak.”

“Apa maksudmu tidak?! Aku bukan tahananmu! Kamu nggak berhak menahan aku!” sergah Alya cepat.

“Kau benar… kau bukan tahananku.”

“Bagus kalau kau sadar.”

“Karena kau adalah obsesiku.”

Jantung Alya seakan berhenti berdetak selama satu detik penuh. Ia menatap Kael tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Apa?”

Kael menyentuh dagu Alya, mengangkatnya agar gadis itu terus menatap matanya. Tidak ada jalan untuk berkelit.

“Sejak malam itu… sejak kau menabrak mobilku dan marah-marah padaku… aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Setiap detik, setiap menit, wajahmu terus ada di kepalaku.”

Suara Kael terdengar serak dan dalam, penuh dengan perasaan yang selama ini ia pendam.

“Kael, ini gila… kita tidak mungkin…” Alya gemetar, badannya dingin.

“Mungkin memang gila,” potong Kael pelan. “Tapi aku tidak peduli.”

“Lepaskan aku…”

“Belum.”

Kael perlahan mulai menundukkan wajahnya. Wajah mereka kini berjarak hanya beberapa sentimeter saja. Alya bisa merasakan hangatnya napas pria itu yang menyapu wajahnya.

Jantung Alya berdegup kencang bukan main, berdebar jauh lebih kencang daripada saat mendengar suara tembakan tadi.

Bibir Kael semakin dekat… semakin dekat… nyaris menyentuh bibir Alya—

BRAAKK!!!

Pintu kamar terbuka lebar dengan keras secara tiba-tiba!

Suara itu membuat Alya tersentak hebat dan langsung mendorong tubuh Kael menjauh. Keduanya menoleh tajam ke arah pintu.

Riko berdiri di sana dengan napas terengah-engah dan wajah yang sangat tegang. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Terlihat jelas ada masalah besar yang terjadi.

“Tuan! Kita punya masalah sangat besar!”

Kael menatap anak buahnya dengan tatapan membunuh karena telah mengganggu momen itu, tapi nada suaranya tetap dingin dan berwibawa.

“Apa lagi?!”

Riko menelan ludah dengan susah payah, seolah berat untuk mengucapkan kalimat selanjutnya.

“Ibu Alya… Tuan… Ibu Alya berhasil diculik oleh mereka."

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!