Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Kecurigaan yang Membakar
Hujan di luar kaca jendela taksi ini seolah tak ada habisnya, persis seperti air mata tak kasatmata yang terus mengalir membanjiri rongga dadaku. Aku duduk meringkuk di sudut jok belakang, memeluk tasku erat-erat, membiarkan udara dingin dari AC mobil menusuk sisa-sisa kehangatan yang pernah kuterima dari pria itu.
Lampu jalanan yang kuning temaram berkelebat dengan cepat, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang melintasi wajahku. Setiap kali bayangan itu lewat, aku kembali teringat pada foto usang di klinik aborsi tadi. Wajah Ghazali yang tertawa lepas. Tangannya yang besar dan kokoh memeluk perut buncit Maia Anindita dengan penuh pemujaan.
Tujuh tahun yang lalu.
Angka itu berdengung di telingaku bagaikan suara lebah yang terperangkap di dalam kaleng baja. Tujuh tahun yang lalu, aku hanyalah seorang mahasiswi kedokteran yang sedang berjuang menghafal anatomi saraf manusia. Tujuh tahun yang lalu, suamiku sedang membangun sebuah istana cinta bersama wanita yang kini mencoba membunuhku.
Taksi berhenti di depan sebuah gang gelap di kawasan Tanjung Priok. Aku menyerahkan selembar uang pecahan seratus ribu kepada sopir tanpa menunggu kembalian, lalu melangkah keluar menembus gerimis sisa badai.
Aku menyeret langkahku menuju safe house (rumah aman) berupa gudang logistik yang disiapkan oleh Komisaris Herman. Kakiku yang telanjang dan dipenuhi plester luka terasa kebas. Aku menekan kode akses di balik kotak meteran listrik. Pintu rolling door berderit pelan dan terbuka.
Komisaris Herman, yang sedang memeriksa magazin pistol revolver-nya di atas meja stainless steel, langsung tersentak berdiri.
"Dokter Keana? Mengapa kau kembali sendirian?" raut wajah perwira polisi veteran itu berubah tegang. Matanya memindai ke arah pintu yang terbuka di belakangku. "Di mana Ghazali? Kalian pergi ke klinik aborsi itu, bukan?"
Aku berjalan gontai, mengabaikan pertanyaannya. Tanganku mengepal kuat hingga buku-buku jariku memutih pucat, sebuah refleks otomatis untuk menahan rasa sesak yang menekan organ vitalku. Aku merosot duduk di atas kursi lipat, menopang dahiku dengan kedua telapak tangan.
"Keana, jawab aku. Apakah Maia mengirim algojonya lagi ke sana?" Herman melangkah maju, nada suaranya dipenuhi urgensi.
"Tidak ada algojo, Komisaris," suaraku keluar dengan nada parau yang terdengar hampa. Aku mengangkat wajahku yang basah oleh air hujan. "Kami menemukan rahasianya. Balita panti asuhan yang dijadikan tikus percobaan untuk racun kakek Ghazali itu... anak itu bukan anak yatim piatu biasa."
Herman mengerutkan dahi, duduk perlahan di seberang meja. "Lalu siapa anak itu?"
"Namanya Gala Anindita," aku menelan ludah, rasanya seperti menelan pecahan kaca yang diolesi cuka. "Dia adalah anak kandung Maia... dan Ghazali."
Herman terbelalak. Punggungnya yang tegap mendadak kaku. "Anak Ghazali?! Tapi intelijen kami tidak pernah menemukan catatan pernikahan atau kelahiran anak dari Maia!"
"Karena Maia menyembunyikan kehamilannya di klinik aborsi ilegal itu selama sembilan bulan, demi menghindari kemurkaan Nyonya Ratna," aku menatap nanar ke arah meja stainless steel yang memantulkan bayanganku sendiri. "Nyonya Ratna memaksa Maia untuk menyingkirkan anak itu. Dan wanita iblis itu... dia memilih karirnya. Dia menyuntikkan sianida ke dalam pembuluh darah putranya sendiri."
Sebagai seorang dokter forensik, aku tahu persis bagaimana mekanisme mematikan dari racun tersebut. Injeksi Kalsium Sianida intra-vena menyebabkan asfiksia histotoksik; racun itu mengikat enzim sitokrom oksidase di dalam sel, membuat jaringan tubuh tidak bisa menggunakan oksigen meskipun darah korban berlimpah oksigen. Balita malang itu pasti meregang nyawa dalam hitungan menit, dengan wajah yang membiru dan kejang otot yang brutal.
Herman mengusap wajahnya dengan kasar. Kengerian dari informasi ini terlalu berat bahkan untuk seorang polisi pembunuhan senior sepertinya. "Ya Tuhan... Maia membunuh darah dagingnya sendiri. Pantas saja Nyonya Ratna berani mengancamnya dengan percaya diri. Mereka saling menyandera dengan rahasia pembunuhan. Lalu, bagaimana reaksi Ghazali?"
Pertanyaan Herman adalah pemicu bom waktu di kepalaku.
"Dia hancur," bisikku getir, meremas kain kemeja flanelku tepat di atas letak jantungku. "Dia berlutut di atas lantai kotor klinik itu dan meraung seperti binatang yang kehilangan anaknya. Dia menangis, Komisaris. Pria yang rela membakar tangannya dengan asam murni tanpa menjerit itu, menangis meraung-raung untuk masa lalunya."
Aku memejamkan mata. Rasa cemburu yang kotor dan menjijikkan ini kembali menggerogoti nuraniku. "Aku berdiri di sana, dan aku menyadari satu hal... aku tidak pernah berada di dalam cerita itu. Aku hanyalah seorang dokter forensik yang dipaksa masuk ke dalam kehidupan mereka untuk membedah mayat keluarganya. Wasiat kakeknya menjadikanku kunci, dan Ghazali menggunakan kunci itu dengan sangat sempurna."
"Keana, kau tidak boleh berpikir seperti itu," tegur Herman dengan nada kebapakan yang lembut. "Kau melihat sendiri bagaimana Ghazali melindungimu. Dia mengorbankan karier jaksanya demi keselamatanmu."
"Apakah dia benar-benar melindungiku, Komisaris?" aku menatap Herman dengan pandangan tajam yang diliputi kecurigaan. Benih keraguan yang ditanamkan Nyonya Ratna di ruang interogasi Bareskrim kini tumbuh subur, menyebar ke seluruh rongga dadaku seperti kanker ganas.
"Ibu Ghazali berkata padaku bahwa seorang Mahendra tidak akan ragu memotong satu jarinya sendiri untuk menyelamatkan kepalanya," ucapku, napasku mulai memburu seiring dengan teori-teori gila yang merajut diri di kepalaku. "Ghazali adalah master manipulator di ruang sidang. Bagaimana jika dia sebenarnya sudah tahu tentang keberadaan anak itu sejak lama? Bagaimana jika seluruh sandiwara perceraian, dan pengorbanannya di bunker itu, hanyalah skenario besar untuk memberinya status 'korban' yang sah di mata publik, sehingga dia bisa membalaskan dendam kematian putranya melalui tanganku?!"
Herman terdiam, menatapku dengan sorot mata pedih. "Itu adalah trauma yang sedang berbicara, Dokter. Trauma karena kau terlalu sering diabaikan."
BRAAAK!
Suara dentuman logam yang luar biasa keras dari arah rolling door membuatku dan Herman terlonjak.
Pintu baja itu didorong paksa ke atas dengan suara decitan yang memekakkan telinga. Angin malam yang membawa rintik hujan menderu masuk ke dalam safe house tersebut.
Di ambang pintu, di bawah cahaya temaram lampu jalanan yang menyelinap masuk, berdirilah Ghazali Mahendra.
Kemeja hitamnya basah kuyup melekat pada tubuhnya. Air hujan menetes dari ujung rambutnya, jatuh melewati wajahnya yang pucat pasi dan sekeras pualam. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar. Tangan kirinya mencengkeram erat tepi rolling door, sementara tangan kanannya yang masih terbalut perban dibiarkan menggantung tak berdaya. Matanya yang gelap, yang biasanya memancarkan kedinginan, kini merah menyala oleh perpaduan antara duka, amarah, dan keputusasaan yang absolut.
"Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?!" Herman refleks mencabut senjatanya, namun segera menurunkannya kembali saat menyadari siapa yang datang.
"Lencana," Ghazali menjawab dengan suara serak, melangkah tertatih masuk ke dalam ruangan. Tatapan matanya langsung mengunci posisiku, mengabaikan keberadaan Komisaris Herman seutuhnya. "Lencana Kejaksaan tingkat V yang kuberikan padanya memiliki cip pelacak RFID mikroskopis. Aku melacaknya dari ponsel cadanganku."
Ghazali terus melangkah mendekatiku, meninggalkan jejak air hujan di lantai beton. Saat jarak kami hanya tersisa satu meter, ia berhenti.
"Mengapa kau pergi?" tanya Ghazali, suaranya pecah, sebuah parauan yang menembus langsung ke relung jiwaku. "Mengapa kau meninggalkanku sendirian di tempat laknat itu, Keana?"
Aku berdiri dari kursiku, membalas tatapannya dengan perisai es yang kubangun dengan susah payah. "Karena kau tidak membutuhkanku di sana, Mas. Kau sedang berada di dalam pusara keluargamu. Masa lalumu sedang berduka, dan aku tidak punya hak untuk mencampuri air mata yang kau jatuhkan untuk darah daging wanita lain."
Rahang Ghazali mengeras. Ia melangkah maju, memangkas sisa jarak di antara kami, dan mencengkeram kedua bahuku dengan tangan kirinya yang dingin.
"Wanita lain?!" bentaknya, baritonnya menggelegar menyakitkan di telingaku. "Anakku dibunuh oleh wanita iblis itu, Keana! Darah dagingku disuntik mati sebagai bahan eksperimen untuk meracuni Kakekku sendiri! Dan kau menyebut duka ini sebagai urusan wanita lain?!"
"Ya! Karena selama tujuh tahun kau menyembunyikan kebahagiaan itu dariku, dari dunia, dan dari dirimu sendiri!" aku balas berteriak, menepis tangan kirinya dengan kasar. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah, merusak seluruh wajah datarku. "Kau mencintainya! Koh Bong di Glodok benar, bukan? Kalian adalah raja dan ratu kegelapan yang sempurna! Kalian memiliki seorang anak! Lalu, posisiku di sini sebagai apa, Ghazali?! Sebagai bidak catur yang kebetulan ahli membedah mayat untuk membantumu membalas dendam?!"
Ghazali tersentak mundur seolah aku baru saja menikamkan scalpel tepat ke jantungnya. Keterkejutan di wajahnya begitu murni, begitu telanjang.
"Kau..." Ghazali menelan ludah dengan susah payah, suaranya bergetar hebat. "Kau pikir aku memanfaatkanku? Kau curiga bahwa aku merencanakan semua ini dari awal?!"
"Ibumu bilang padaku di ruang interogasi," isakku, memeluk diriku sendiri yang menggigil kedinginan. "Dia bilang kau sengaja menghancurkan tanganmu dengan Asam Hidrofluorik agar kau mendapatkan simpati publik! Agar kau bisa menggunakan rasa bersalahku untuk mengikatku padamu, sampai dendammu pada Maia terbalas tuntas!"
"Dan kau mempercayainya?!" raung Ghazali, amarah murni meledak dari dadanya. Ia menendang kursi lipat di dekatnya hingga terlempar menabrak dinding. "Kau mempercayai wanita sosiopat yang membunuh darah dagingnya sendiri, daripada mempercayai suami yang hampir mati kehabisan darah di depan matamu sendiri?!"
"Bagaimana aku bisa yakin, Mas?!" balasku histeris, menatap lurus ke dalam matanya yang merah. "Kau adalah pria yang selama berbulan-bulan menghinaku di setiap sarapan pagi! Kau menolak menyentuhku, kau bilang aku berbau mayat yang menjijikkan! Lalu tiba-tiba, saat kau terjepit kasus pembunuhan Kakek, kau berubah menjadi malaikat pelindungku! Semua manuver ini terlalu kebetulan, Ghazali! Otak logisku tidak bisa mencerna inkonsistensi karaktermu!"
Ghazali memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya naik turun dengan ritme yang menyiksa. Ia menundukkan kepalanya, mengacak-acak rambutnya yang basah dengan tangan kirinya. Saat ia kembali mengangkat wajahnya, aku melihat ada sesuatu yang patah di dalam sorot matanya. Sesuatu yang tak akan pernah bisa diperbaiki lagi.
"Kau benar-benar tidak mengenalku," bisik Ghazali, sebuah gumaman yang lebih menyakitkan daripada teriakannya. "Bahkan setelah kita tidur di bawah satu selimut, setelah kita hampir mati di ruangan gas itu... kau masih melihatku sebagai monster yang sama dengan ibuku."
Ia melangkah perlahan ke arah meja stainless steel. Dari saku kemejanya yang basah, ia mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam yang sudah lecek terkena air hujan. Ia melempar map itu ke hadapanku.
"Buka," perintahnya dingin.
Aku menatap map itu dengan ragu, lalu perlahan membukanya dengan tangan yang gemetar.
Di dalamnya, terdapat sebuah dokumen resmi berlogo Pengadilan Negeri. Itu bukan surat cerai. Itu adalah Akta Penetapan Ahli Waris dan Hibah Wasiat.
Mataku memindai deretan kalimat legal yang tercetak di atas kertas tebal tersebut. Jantungku seakan berhenti berdetak saat aku membaca paragraf ketiga.
“...Dengan ini, saya, Ghazali Mahendra, melepaskan seluruh hak waris dan aset kepemilikan atas Yayasan Mahendra Group, beserta seluruh deposito di Bank Swiss, untuk dihibahkan sepenuhnya kepada Yayasan Panti Asuhan Anak dan Rumah Sakit Forensik Nasional, di bawah pengawasan independen Dokter Keana Elvaretta.”
Dokumen itu telah ditandatangani dan dilegalisasi oleh notaris sejak dua minggu yang lalu. Jauh sebelum insiden di bunker bawah tanah. Jauh sebelum aku mengetahui tentang anak rahasianya.
"Aku membuang seluruh harta berdarah keluargaku, Keana," Ghazali berbicara dengan nada datar yang sarat akan luka. "Kakek menjanjikan triliunan rupiah jika aku menikahimu, tapi aku menyerahkan semuanya ke tanganmu agar kau bisa mendirikan pusat forensik independen yang kau impikan. Aku memastikan bahwa jika suatu saat aku mati di tangan ibuku atau Maia, kau tidak akan pernah lagi dipandang rendah oleh siapa pun."
Kertas dokumen itu terlepas dari tanganku, melayang jatuh ke lantai beton. Lututku kehilangan seluruh tenaganya. Realita menghantamku dengan brutalitas yang menghancurkan.
"Mas..." bisikku, air mata penyesalan membanjiri wajahku. Kecurigaan yang membakarku ternyata hanyalah ilusi beracun yang ditanamkan oleh ibunya. Dan aku, dengan bodohnya, membiarkan racun itu bekerja. "Maafkan aku... aku tidak tahu..."
"Tentu saja kau tidak tahu," Ghazali mundur selangkah menjauhiku, matanya yang tadi membara kini meredup, menyisakan kekosongan yang membeku. "Karena di matamu, aku akan selalu menjadi pria yang memiliki 'alamat cinta yang salah'. Kau terlalu sibuk melindungi dirimu dari bau formalinmu sendiri, hingga kau tidak bisa membedakan mana racun yang asli dan mana pria yang bersedia meminum racun itu untukmu."
Ghazali membalikkan badannya, melangkah gontai menuju pintu rolling door yang masih setengah terbuka.
"Ghazali, kumohon, jangan pergi!" isakku, mencoba melangkah mengejarnya, namun kakiku yang terluka membuatku terjatuh berlutut di lantai.
"Sidang pembuktian akan dimulai lusa," ucap Ghazali tanpa menoleh ke belakang, siluet tubuhnya menyatu dengan tirai hujan yang kelabu. "Fokuslah pada hasil spektrometri massa dan kuku Bi Inah itu. Jangan biarkan Maia lolos. Selesaikan pembedahanmu, Dokter. Setelah itu... kau tidak perlu lagi mengkhawatirkan sandiwaraku."
Pria itu melangkah pergi, menghilang ditelan kegelapan malam Tanjung Priok.
Aku duduk bersimpuh di atas lantai beton yang dingin, menangis tersedu-sedu meratapi kebodohanku sendiri. Di ruang interogasi Bareskrim, Nyonya Ratna tidak menusukku dengan pisau, ia hanya menanamkan sebuah benih. Benih kesalahpahaman. Dan aku sendiri yang telah menyiraminya dengan rasa cemburu yang kotor, hingga ia tumbuh dan mencabik-cabik satu-satunya hati yang tulus mencintaiku di dunia ini.
Herman, yang sejak tadi terdiam menyaksikan kehancuran rumah tangga kami, melangkah mendekat dan memungut dokumen akta hibah tersebut.
"Terkadang, Dokter Keana," gumam perwira tua itu dengan nada yang sangat pedih, "luka yang paling dalam bukanlah luka yang dibuat oleh musuh kita. Melainkan luka yang kita sayatkan sendiri pada orang yang memegang perisai untuk melindungi kita."
Malam ini, di dalam safe house yang sunyi, di antara sisa-sisa hujan dan dokumen pengorbanan suamiku, aku menyadari satu hal yang mengerikan. Pisau bedahku mungkin sangat tajam dalam mengungkap pembunuhan orang mati, tapi ia benar-benar tumpul saat harus membedah ketulusan orang yang masih hidup.
Dan untuk pertama kalinya, aku takut. Aku takut bahwa saat semua konspirasi ini selesai, aku tidak akan pernah lagi menemukan jalan kembali ke dalam pelukan sang Jaksa.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍