Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 14
“Kalian yakin tidak masalah jika kami pergi?”
Amelia menanyakan sekali lagi untuk memastikan bahwa orangtua Caelan benar-benar tidak masalah jika ia dan Caelan pergi berbelanja, dan harus menjaga si kecil Emi sampai mereka kembali.
“Pergilah dengan tenang, Sayang. Kami bisa mengurus Emi selama kalian pergi,” ujar Ana menenangkan.
“Asalkan kalian tidak pergi terlalu lama.” Simon menambahkan. “Kami hanya bisa bertahan beberapa jam.”
“Kami akan kembali secepatnya,” kata Caelan.
“Tapi-“
“Tidak apa, Amelia. Berikan waktu Emi bersama kakek dan neneknya,” ujar Caelan sambil memutar tubuh Amelia dan mendorong pelan menuju pintu.
Amelia masih enggan beranjak pergi. Matanya menatap Emi yang begitu nyaman di gendongan Simon.
“Jangan khawatir, orangtuaku tidak akan menculik Emi dan membawanya pergi,” bisik Caelan yang membuat Amelia memelototi pria itu. Mengabaikan pelototan marah Amelia, Caelan melanjutkan, “Kalaupun mereka menculik Emi, kau bisa menyanderaku lalu tukarkan dengan Emi.”
Amelia menghadiahi Caelan dengan tinju di bahu pria itu.
“Kami pergi dulu, dan akan kembali secepatnya. Hubungi kami jika ada masalah,” kata Amelia sebelum melangkah enggan menuju mobil.
Amelia memandang Caelan saat pria itu membukakan kursi penumpang.
“Aku yang menyetir,” ujar Caelan seraya mendorong Amelia pelan masuk ke mobil.
Amelia mengikuti arahan Caelan, duduk manis di kursi penumpang dan memasang sabuk pengaman. Ia melambai pada tiga orang yang berdiri di serambi, kemudian memerhatikan dengan saksama ketika Caelan mulai memundurkan mobil dan masuk ke jalan aspal.
“Kenapa melihatku seperti itu? Kau tidak yakin aku bisa mengemudikan mobil ini?”
Amelia hanya tersenyum. Ia sama sekali tidak meragukan kemampuan Caelan menyetir. Hanya saja, selama ini selalu Amelia yang menyetir, entah saat menjemput dan mengantar Caelan ke stasiun, maupun ketika mereka pergi berbelanja.
“Tenang saja, aku bukan pengemudi yang buruk,” ujar Caelan menenangkan.
Caelan terlihat lihai membawa mobil keluarga itu. Melajukannya dengan kecepatan sedang dalam lalu lintas sore hari yang cukup padat.
“Jujur saja, aku menyetir bukan karena mau. Aku lebih senang saat kau yang membawa mobil sehingga aku bisa bersantai. Tapi tadi ada ayahku, dia akan memelototiku jika sampai membiarkanmu yang menyetir.” Caelan menjelaskan.
Amelia tertawa, kemudian bertanya, “Kau takut pada ayahmu?”
“Anak mana yang tidak?” Caelan balas bertanya. “Sebenarnya, lebih ke segan daripada takut. Ayahku adalah panutanku, aku ingin selalu terlihat baik di depannya.”
“Bagaimana dengan ibumu?”
“Mama cinta pertamaku,” jawab Caelan tanpa berpikir panjang.
“Mereka juga terlihat sangat menyayangimu,” sahut Amelia.
“Dan mereka juga akan sangat menyayangi Emi, dan juga dirimu.”
“Aku?” Amelia menatap Caelan.
“Ya, kau Amelia. Mereka akan dengan mudah menyayangimu, karena kau memang begitu mudah dicintai.”
Amelia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. “Terima kasih sudah berkata seperti itu.”
“Kau tahu, aku serius,” ujar Caelan.
“Soal?”
“Ingin makan masakanmu setiap hari,” jawab Caelan. Mata pria itu terfokus pada jalan, tapi nada bicaranya serius.
“Kau ingin aku jadi koki pribadimu?”
Amelia setengah bercanda sehingga Caelan menoleh dan menatapnya dengan sebal. Namun, melihat Amelia tertawa, pria itu pun menyunggingkan senyum.
Caelan kemudian membelokkan mobil masuk ke parkiran sebuah kafe.
“Bukannya kita mau belanja?” Amelia kebingungan.
“Nanti, kita perlu bicara dulu.”
Caelan mematikan mesin mobil, turun, lalu melangkah ke pintu Amelia dan membukanya. Karena Amelia tidak kunjung bergerak, Caelan membuka sabuk pengaman dan mengajaknya turun.
Mereka masuk ke kafe, Caelan memesan iced caramel latte untuk Amelia, dan es kopi untuk diri sendiri.
Amelia dan Caelan duduk berhadapan. Di tengah meja ada gelas minuman masing-masing yang belum tersentuh. Belum ada yang memulai obrolan. Amelia menunggu, sementara Caelan sepertinya tengah merangkai kalimat terbaik dalam kepala sehingga Amelia tidak mendesak.
Caelan menarik napas dalam dan mengembuskan perlahan sebelum mulai bicara. “Jujur saja, aku merasa ini bukan cara terbaik untuk mengatakannya. Biasanya, dibutuhkan suasana romantis, makan malam romantis mungkin, bunga, musik, dan hal-hal semacam itu. Namun, aku tidak bisa menyiapkan semua itu. Aku tidak melakukannya dengan benar, ya?”
Amelia menggeleng pelan.
“Tapi aku harus mengatakannya sekarang, lebih cepat dikatakan lebih baik.”
Amelia menunggu dengan antisipasi. Dadanya berdegup kencang, antusias terhadap apa yang akan Caelan katakan.
“Aku peduli padamu, Amelia. Menyayangimu dan tidak ingin berpisah darimu. Aku tidak pandai merangkai kata-kata indah, tapi aku jujur dengan perasaanku. Aku ingin bersamamu setiap hari. Aku ingin pulang setiap hari dan menemukanmu di rumah menungguku bersama Emi. Aku ingin melangkah bersama dan membangun masa depan bersamamu. Ayo, kita menikah.”
Amelia mengerjap beberapa kali, masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. “Me-menikah?”
“Iya, menikah. Kau tidak mau? Atau aku terlalu cepat?”
Amelia tidak tahu harus memberikan jawaban apa. Ia tidak menyangka Caelan akan melamarnya. Baru sehari sebelumnya pria itu menyatakan perasaan, hari ini sudah mengajak Amelia menikah. Bukannya tidak senang, tapi Amelia belum siap.
Amelia buru-buru mengambil gelasnya dan meneguk minuman manis itu. Ia masih tidak bisa memberikan jawaban pada Caelan, karena masih terkejut dengan lamaran pria itu.
Satu tahun terakhir memang penuh kejutan bagi Amelia. Kembalinya Olivia dalam kondisi hamil, kelahiran Emi, meninggalnya Olivia, lalu masuknya Caelan ke dalam kehidupan Amelia. Hanya saja, kejutan yang paling tidak Amelia sangka adalah mendapat lamaran dari Caelan.
“Amelia?” Caelan kembali membuka suara. “Aku pasti membuatmu terkejut karena begitu tiba-tiba mengatakannya. Selain itu, aku tidak melakukannya dengan benar.”
Amelia hanya menatap Caelan tanpa bersuara.
“Begini, kau bisa memikirkannya dulu. Tidak perlu langsung menjawabku. Pertimbangkan dengan baik, dan beri jawaban padaku ketika kau sudah siap.”
Amelia mengangguk menyetujui saran Caelan. Karena untuk saat ini dia benar-benar belum bisa memberikan jawaban. Lamaran Caelan begitu tiba-tiba, dan Amelia belum siap memberikan jawaban. Meskipun Amelia mengakui memiliki perasaan pada Caelan, tapi banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Jawaban “Ya” tidak bisa keluar begitu saja dari mulutnya.
Setelah lamaran di kafe situasi antara Amelia dan Caelan canggung. Mereka lanjut berkendara ke supermarket untuk berbelanja dalam diam. Saat tiba di supermarket pun mereka berpisah, Caelan mengambil benda-benda yang diperlukan sesuai daftar dari Amelia. Sementara Amelia sibuk memilih buah, sayuran, ikan, dan daging.
Caelan membayar belajaan di kasir setelah Amelia memastikan semua barang sudah dibeli. Lalu mereka kembali ke rumah tanpa banyak bicara.
Ketika sampai di rumah, Amelia tetap tidak banyak bicara. Ia menyibukkan diri membuat makan malam setelah memaksa Ana dan Simon tinggal untuk makan malam sebelum pergi. Sedangkan Caelan mengurusi Emi, mengajak gadis kecil itu mandi, makan, lalu menidurkannya.
Makan malam berlalu dengan tenang. Amelia mengobrol ringan dengan orangtua Caelan mengenai Emi dan kegiatan mereka sehari-hari. Ana dan Simon juga menceritakan pengalaman mereka saat mengasuh Caelan dan Henry, memberi Amelia banyak pengetahuan baru.
Suasana terasa normal saat Ana dan Simon masih ada. Amelia sebisa mungkin menghindari interaksi dengan Caelan sampai pria itu pamit untuk mengantar Ana dan Simon ke hotel.
Saat Caelan berpamitan, pria itu tidak berjanji untuk datang lagi keesokan harinya. Hal itu membuat Amelia kecewa juga khawatir kalau Caelan tidak akan datang lagi untuk menemuinya karena ia belum memberikan jawaban atas lamaran pria itu.