NovelToon NovelToon
Tuan Muda Harta Langit

Tuan Muda Harta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:95.9k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuan Muda Harta Langit

Melihat sosok yang baru datang itu… Gao Rui tidak menunjukkan banyak reaksi. Namun berbeda dengan yang lain.

Begitu matanya menangkap keberadaan Gao Rui di dekat meja Fang Yi… Ji Un langsung mempercepat langkahnya.

“Tuan mu...”

Ji Un hampir saja berseru, namun kalimatnya terpotong karena ia kini sudah cukup dekat untuk melihat situasi di meja itu dengan jelas. Namun… jelas. Ia belum sepenuhnya menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Di sisi lain… Lan Suya, Bai Kai, dan Rou Xi yang berjalan di belakangnya… sudah memahami. Tatapan mereka sekilas menyapu meja itu.

Fang Yi yang berdiri dengan tangan masih terangkat setengah. Gao Rui yang berdiri tenang di depannya. Dan suasana… yang jelas tidak wajar.

“…Ada ancaman,” batin Bai Kai singkat.

Rou Xi sedikit menyipitkan mata. Sedangkan Lan Suya… tidak mengatakan apa pun. Namun langkahnya… sedikit melambat.

Ia memilih diam. Bukan karena tidak peduli. Namun karena ia ingin melihat… sejauh mana situasi ini berkembang dan apa yang terjadi.

Ji Un akhirnya tiba di meja itu. Wajahnya langsung berubah ramah, seolah tidak melihat ketegangan yang barusan terjadi.

“Haha, Tuan Yi!” sapanya hangat.

Fang Yi yang tadi dipenuhi amarah… seketika berubah. Wajahnya langsung dipenuhi senyum.

“Tuan Un!” balasnya cepat.

Ia bahkan segera menurunkan tangannya dan menyambut dengan sikap penuh hormat. Teman-temannya di meja itu pun ikut berdiri. Satu per satu mereka memberi salam. Jelas… mereka tahu siapa Ji Un.

Percakapan singkat pun terjadi. Beberapa kata basa-basi. Beberapa tawa kecil. Seolah tidak ada apa-apa sebelumnya.

Ji Un kemudian sedikit menoleh ke belakang.

“Ah, benar…” katanya.

Ia memberi isyarat hormat ringan.

“Izinkan aku memperkenalkan… ini adalah Nyonya Lan Suya, pemilik Harta Langit.”

Kalimat itu jatuh dengan tenang. Namun efeknya… langsung terasa.

Beberapa orang di meja itu membelalak. Nama itu… bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng. Namun sebelum Ji Un sempat melanjutkan...

“…Eh, tapi mengapa tuan mu-....”

“Ah!”

Fang Yi tiba-tiba memotong. Gerakannya cepat, seolah tidak ingin memberi ruang bagi pertanyaan itu berkembang. Ia langsung melangkah maju setengah langkah. Kedua tangannya disatukan memberi hormat.

“Jadi… ini benar-benar Nyonya Lan Suya.”

Nada suaranya berubah. Penuh kekaguman. Penuh rasa hormat… yang berlebihan.

“Saya sudah sering mendengar dari Tuan Un,” lanjutnya, “tentang kebaikan dan kedermawanan Anda.”

Ia sedikit menunduk.

“Melihat langsung hari ini… benar-benar kehormatan bagi saya.”

Ji Un sedikit terdiam. Ia bahkan belum selesai berbicara sebelumnya. Namun Fang Yi… sudah mengambil alih arah pembicaraan. Dan jelas… ia sedang menjilat.

Lan Suya hanya menatapnya sekilas. Tidak ada perubahan di wajahnya. Tenang dan dingin.

Fang Yi kemudian tersenyum tipis. Seolah baru teringat sesuatu. Ia menoleh… ke arah Gao Rui. Tatapannya berubah sedikit. Namun hanya sekejap.

Lalu ia kembali menatap Lan Suya dan Ji Un.

“Namun…” katanya pelan. “Ada satu hal yang cukup mengganggu saya tadi.”

Nada suaranya dibuat seolah-olah penuh kepedulian.

“Demi menjaga nama baik Harta Langit…”

Ia berhenti sejenak. Lalu menunjuk Gao Rui dengan ringan.

“…ada seorang bocah yang berani mengaku sebagai pemilik Harta Langit.”

Beberapa orang di meja itu menahan napas. Sindiran itu… terlalu jelas.

Fang Yi melanjutkan, dengan nada seolah-olah ia adalah pihak yang benar.

“Saya bahkan sempat berpikir…” katanya perlahan, “…untuk menamparnya, agar ia tidak sembarang berbicara dan merusak nama besar Harta Langit.”

Ia menunduk sedikit. Seolah menunjukkan kesetiaannya.

“Semua ini… demi kehormatan Harta Langit dan Nyonya.”

Kalimat itu selesai dan suasana… hening.

Satu detik.

Dua detik.

Tidak ada yang langsung berbicara.

Namun.... sesuatu bergerak. Langkah ringan. Satu… dua… tiga langkah ke depan. Lan Suya.

Tanpa berkata apa pun. Tanpa perubahan ekspresi. Ia mendekat ke arah Fang Yi.

Fang Yi sedikit terkejut. Namun belum sempat ia bereaksi...

Plakkkkk!!

Suara tamparan keras menggema di seluruh ruangan. Begitu cepat. Begitu kuat. Kepala Fang Yi langsung terlempar ke samping. Beberapa giginya… bahkan terlepas dan terbang keluar bersama darah.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung mundur...

Brak!

Fang Yi menabrak meja di belakangnya hingga bergeser keras. Beberapa mangkuk dan cangkir jatuh ke lantai, pecah berserakan.

Seluruh ruangan… membeku. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bersuara. Bahkan napas pun… seolah tertahan.

Lan Suya menurunkan tangannya perlahan. Ekspresinya… tetap sama. Tenang. Seolah baru saja melakukan sesuatu yang biasa.

Tanpa melirik Fang Yi yang terjatuh… ia melangkah.

Satu langkah.

Dua langkah.

Mendekati Gao Rui.

Jarak mereka kini hanya beberapa langkah. Tatapan Lan Suya… berubah. Bukan dingin lagi. Namun lembut. Ia sedikit menunduk.

“Rui’er,” ucapnya pelan. “Apakah kau baik-baik saja?”

Gao Rui sedikit mengangkat bahunya. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, seolah semua yang terjadi barusan bukan sesuatu yang besar baginya.

“Aku baik-baik saja, bibi,” jawabnya santai.

Satu kata itu… “bibi.” Namun justru kata sederhana itulah yang membuat suasana berubah drastis.

Fang Yi yang masih setengah berlutut sambil memegangi pipinya yang berdarah… langsung membeku. Matanya membelalak lebar. Begitu juga dengan teman-temannya di meja itu.

“B-bibi…?” gumam salah satu dari mereka dengan suara gemetar.

Tatapan mereka berpindah dari Gao Rui… ke Lan Suya… lalu kembali lagi ke Gao Rui. Kata itu bukan sekadar sapaan biasa. Itu adalah pengakuan hubungan. Dan jika bocah itu memanggil Lan Suya, pemilik Harta Langit sebagai “bibi”… Maka identitasnya…

Seketika keringat dingin mengalir di punggung Fang Yi.

“Jangan-jangan…” pikirnya panik. “Apa yang dia katakan tadi… benar?”

“Dia… benar-benar…”

Belum sempat pikirannya selesai, langkah Lan Suya kembali berhenti. Ia menoleh perlahan… menatap Fang Yi. Tatapan itu dingin. Tajam. Menekan.

“Gao Rui…” ucapnya tenang, namun jelas terdengar oleh semua orang di ruangan itu, “…memang benar pemilik Harta Langit.”

Kalimat itu jatuh seperti petir di siang bolong. Sunyi. Benar-benar sunyi.

Ji Un yang berdiri di samping bahkan ikut terdiam. Matanya sedikit melebar, kini akhirnya memahami keseluruhan situasi yang tadi sempat ia lewatkan.

Sedangkan Fang Yi… tubuhnya mulai gemetar.

Lan Suya melanjutkan, suaranya tetap datar.

“Jadi… kau meragukan itu.”

Satu langkah kecil ia maju.

“…dan bahkan berani menghinanya.”

Setiap kata terasa seperti tekanan berat yang menghantam dada Fang Yi. Wajahnya langsung pucat pasi. Bibirnya bergetar. Seluruh keberanian dan kesombongan yang tadi ia tunjukkan… hancur tanpa sisa.

Ia benar-benar tidak menyangka. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya… bahwa bocah yang ia anggap penipu itu… adalah orang yang tidak boleh ia sentuh sama sekali.

“A-aku…” suaranya tercekat. “A-aku tidak tahu…”

Namun kata-katanya terasa kosong. Penyesalan datang terlambat. Dengan gerakan panik, Fang Yi langsung menjatuhkan dirinya sepenuhnya ke lantai.

Buk!

Kedua lututnya menghantam keras. Bahkan ia tidak peduli rasa sakitnya. Ia menunduk dalam-dalam, hampir menyentuhkan dahinya ke lantai.

“Tuan muda! Ampuni saya!” serunya dengan suara gemetar.

Sekarang sasarannya bukan lagi Lan Suya. Melainkan Gao Rui.

“Saya benar-benar tidak tahu identitas Anda! Saya pantas mati! Saya bodoh! Saya telah lancang!”

Kepalanya berulang kali dibenturkan ke lantai.

Buk! Buk! Buk!

Darah mulai menetes dari dahinya, bercampur dengan debu lantai. Teman-temannya di meja itu ikut panik. Satu per satu… mereka juga ikut berlutut. Tidak ada lagi tawa. Tidak ada lagi kesombongan. Yang tersisa… hanya ketakutan.

Sementara itu… Gao Rui hanya berdiri di sana. Diam. Matanya menatap Fang Yi yang bersujud di depannya. Ekspresinya… tetap tenang. Seolah-olah semua ini… memang sudah seharusnya terjadi.

1
adek Darma
kok up ny cmn keseringan 1eps truss thorrr
budiman_tulungagung
masih satu mawar 🌹
Armoire
Aduh duh duh duh duh... Author nya paling pinter bikin readers mati penasaran... Lagi seru2 nya malah "To be continued" 😭😭😭😭
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Rui emang numero uno 🔥🌽
Nanik S
Naga Baja... apakah akan mengubah Kerjasama Patriak Shoi dan Harta Langit terus berlanjut
Nanik S
Gao Rui... membuat kejutan gak main main....Bahkan tidak sebanding dg Emas dan Permata ..Baru Naga Baja
Arie Chaniago70
kapan Thor Gao rui ini melanglana buana seperti gurunya,,,masak main dikandang aja nggak paten,,,jadi kurang Greg ceritanya
Eka Haslinda
hadiah pertama.. hadiah kedua.. ketiga.. owalaahhhh buanyak.. gak payu lagi hadiah rumah dagang Naga Emas 🤣🤣🤣
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
tariii
ayo, Rui.. kamu mau kasih hadiah apa? yg pasti harus lebih wowwww dari si cincaooooo itu yaaa...😂😂
will
klo ada pil anti miskin..mau donk gao rui 🤭👍
Heri Victor Purba
maen kali ceritanya bah.. bikin dag dig dug ser.. jalan ceritanya macam jalan kelok 44 .. gas thor
y@y@
⭐👍🏾🌟👍🏾⭐
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe...hadiah yg melebihi hadiah orang lain🤣👍👍
Zainal Arifin
joooooooosssss 😍😍🤭
indrawanto djiwanto
hadiah pertama berarti ada hadiah lanjutan. hadiah kedua pil utk membantu kultivasi, hadiah ketiga pil kecantikan.
Jeffie Firmansyah: Bisa jadi pil kecantikan tuk istrinya
total 1 replies
Maz Shell
lagi update terbaru
sam
Jagoan turun tangan
Arie Chaniago70
🙂🙂🙂🙂🙂👍👍👍👍💪💪💪💪🍩🍩🍩🍩☕☕☕🌹🌹🌹
y@y@
👍🏿💥👍🏼💥👍🏿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!