NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23.

Viola membeku. Kata-kata Javi barusan menggema di telinganya seperti sesuatu yang tidak mungkin nyata.

“Om… apa maksud Om bilang mencintaiku?” bisiknya lirih.

Nada suaranya bergetar, seolah takut pada jawaban apa pun yang akan keluar. “Om tahu, kan… aku ini keponakan Tante Liora. Tidak mungkin Om mempunyai perasaan seperti itu padaku.”

Ia menelan ludah, kemudian menambahkan dengan suara hampir tak terdengar, “Lagipula, aku bukan tipe perempuan yang Om sukai…”

Namun Javi hanya tersenyum kecil, senyum yang hangat namun penuh keyakinan.

“Sejak kapan Om pernah bilang kamu bukan tipe Om?” balasnya santai tetapi mantap.

Ia mendekat sedikit, membuat Viola refleks menahan napas.

“Kalau Om tidak menyukaimu,” lanjutnya, “tak mungkin Om mencium kamu. Dan tak mungkin kamu membalas ciumanku.”

Nada suaranya menggoda, namun tatapannya tulus.

Wajah Viola langsung memerah, dan ia buru-buru mengalihkan pandangan, malu sekaligus bingung.

Pelan-pelan, Javi mengangkat dagu Viola dengan sentuhan lembut, memaksanya untuk bertemu mata. Tatapannya dalam dan penuh rasa.

“Viola,” ucapnya pelan, “aku mencintaimu. Dengan sungguh-sungguh.”

Ia meraih tangan Viola dan menempelkannya ke dadanya.

“Dengar… rasakan sendiri.”

Viola membeku, tak mampu berkata-kata.

Di balik telapak tangannya, ia merasakan degup jantung Javi yang ritmenya cepat dan kuat.

“Deg… deg… deg…”

Detak yang menyuarakan ketulusan.

Tanpa sadar, Viola memeluk Javi.

Pelukan itu spontan, tanpa logika, hanya perasaan yang mendesak di dadanya.

Javi membalas pelukan itu dengan kehangatan yang membuat dunia seolah berhenti.

Setelah beberapa saat, Viola melepaskan pelukannya dan berkata lirih, “Setelah ini… aku akan pulang, Om.”

Javi tersenyum dan mengusap kepalanya lembut.

“Kita pulang bersama,” katanya. “Om ingin mengenalkanmu pada orang tua Om.”

Viola terhenyak. “O-Om… aku gugup.”

“Tidak apa-apa. Ada Om di sini.”

Ia meraih tangan Viola erat. “Lagi pula, ayah Om dan kakekmu adalah sahabat. Mereka pasti senang bertemu kamu.”

Viola akhirnya mengangguk pelan. “Baik, Om…”

Malam itu juga, mereka terbang menuju Italia.

Perjalanan panjang terasa hangat karena Javi tak pernah melepaskan tangan Viola. Ia sesekali menatap gadis itu dengan senyum lembut, membuat Viola semakin gelisah sekaligus bahagia.

Sesampainya di kediaman keluarga Bram Alexander, keduanya disambut dengan kehangatan rumah besar yang elegan. Javi langsung memanggil:

“Pa, Ma… Javi pulang.”

Ia tetap menggenggam tangan Viola, seolah tak ingin ada jarak di antara mereka.

Bram, ayahnya, menatap ke arah Viola dengan rasa penasaran.

“Siapa gadis yang bersamamu, Javi?”

Javi tersenyum, bangga.

“Dia Viola Wiliam Anderlecht. Cucu dari Om Heron, putri dari Albert.”

Riana, ibunya, langsung tersenyum lebar.

“Kamu cucu Tuan Heron?” tanyanya lembut.

“Iya, Tante,” jawab Viola sopan dan gugup.

Riana menggeleng sambil menggenggam bahu Viola.

“Jangan panggil Tante… panggil Mama dan Papa saja, ya Sayang.”

Viola terkejut, namun hatinya hangat.

“Iya, Ma… Pa…”

Sejak itu malam berubah menjadi penuh kehangatan.

Riana mengajak Viola makan bersama, menyuapi makanan favorit keluarga, menanyai hal-hal kecil tentangnya.

Bram sesekali melirik Javi dengan tatapan yang mengatakan, “Akhirnya kamu menemukan seseorang.”

Dan Javi… lelaki itu tak berhenti mencuri pandang ke arah Viola, membuat hatinya berdebar tak menentu.

Keluarga itu menerima Viola seolah ia memang telah menjadi bagian dari mereka sejak lama.

Sementara itu…

Di Kediaman Keluarga Heron Wiliam Anderlecht

Waktu berjalan dan banyak hal berubah.

Putra Liora dan John Dirgantara kini sudah berusia lima tahun. Wajahnya tampan seperti John, namun kelakuan, gaya bicara, dan ekspresinya benar-benar seperti Liora versi kecil.

“Ibu…” panggil Dirgantara.

Liora sedang memeriksa berkas dari asistennya ketika menoleh.

“Iya, Sayang?”

“Aku mau Ibu ajari banyak hal. Aku mau jadi kuat dan pintar seperti Ibu.”

Liora tersenyum lembut dan mengusap kepala putranya. “Tentu, Sayang.”

Tak lama kemudian, John masuk ke kamar.

“Sayang?” sapanya.

“Ada apa?” tanya Liora.

Dirgantara langsung mendekati ayahnya dengan semangat meledak-ledak.

“Ayah , aku mau belajar membaca dan menulis! Aku mau sekolah sebentar lagi!”

John terkekeh dan menggendongnya.

“Baiklah. Sini kita coba.”

Namun yang mengejutkan, Dirgantara belajar sangat cepat.

Beberapa menit saja sudah bisa mengikuti, membaca beberapa kata, bahkan meniru cara ayahnya memegang pensil untuk menulis huruf-huruf baru.

Liora mengamati keduanya dengan mata berkaca bangga.

“Anak ibu sudah pintar ya… membaca, menulis, dan berhitung juga.”

Dirgantara mengangguk bangga.

“Iya, Bu. Apa aku pintar karena mewarisi dari Kakek?”

Liora tertawa.

“Tentu. Kamu mewarisi dari Kakek, Ayah, dan Ibu.”

Dirgantara menatap ibunya dalam-dalam.

“Ibu janji kan… nanti kalau aku sudah sepuluh tahun, Ibu ajari bela diri dan menembak?”

Liora tersenyum.

“Iya, nanti kalau sudah cukup umur.”

John mengangguk setuju sambil memeluk istri dan anaknya.

Hari itu penuh kehangatan.

Saat makan malam, seluruh keluarga sudah berkumpul: Heron, Viora, Viera, Victor, Albert, dan Sean.

Dirgantara langsung berlari memeluk kakeknya.

“Kakek!”

Heron mencubit pipi cucunya.

“Kamu sudah belajar apa saja hari ini?”

“Banyak, Kek! Tapi aku cepat bisa!” ucapnya bangga.

Heron tertawa.

“Tentu. Kamu itu pintar, seperti kami semua.”

Tak lama kemudian, suara bel berbunyi.

“Ting tong…”

Semua mata menoleh ketika Viola muncul.

“Boys! Kakak pulang!” panggilnya riang.

Dirgantara langsung memeluknya erat, rindu setelah dua minggu tak bertemu.

Namun perhatian keluarga langsung tertuju pada sosok lelaki tinggi di belakang Viola.

Javi.

Dan ia menggenggam tangan Viola erat.

Liora terkejut.

“Javi? Sedang apa kamu di sini? Dan kenapa bersama Viola?”

Javi maju, menatap semua orang dengan ketegasan yang menandai keseriusannya.

“Aku datang untuk meminta restu,” ucapnya.

Semua terkejut, beberapa bahkan refleks berteriak, “APA?!”

Namun Javi tetap tenang.

“Aku mencintai Viola Wiliam Anderlecht.”

Albert menatap putrinya.

“Viola…?”

Viola menunduk, suaranya pelan tapi jelas.

“Aku mencintai Om Javi, Pa…”

Albert terdiam, mendekat, lalu bertanya lembut, “Sejak kapan?”

“Sejak aku masih mahasiswa… sejak Om Javi jadi dosenku.”

Viola menunduk, takut akan reaksi ayahnya.

Namun Albert malah menariknya ke dalam pelukan hangat.

“pa… maaf kalau papa tidak merestui—”

“Siapa bilang Papa tidak merestui?” potong Albert.

Viola terperanjat.

“papa dan Mama merestui hubungan kalian,” lanjut Albert. “Keluarga kita dan keluarga Om Bram sudah lama bersahabat.”

Ia melirik Javi sebentar, lalu menambahkan:

“Dulu Om Bram bahkan ingin menjodohkan Tante Liora dengan Javi, tapi Javi mengalah karena John mencintainya. Dan kini… wanita yang ia cintai adalah kamu.”

Air mata Viola jatuh, bukan karena takut, melainkan bahagia.

Albert menatap Javi.

“Aku titip putriku padamu kak .”

Javi menunduk hormat.

“Terima kasih, Albert. Saya akan menjaga dan mencintainya dengan tulus.”

Suasana malam itu dipenuhi kehangatan, harapan, dan awal baru bagi keluarga besar Wiliam Anderlecht.

Dan di tengah semua itu…

kisah baru untuk Viola dan Javi mulai ditulis.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!