Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
PLAK!
Suara tamparan keras bergema di aula bawah tanah yang sunyi. Kepala Lin Ruoxue tersentak ke samping dengan kasar, membuat rambutnya yang berantakan menutupi separuh wajahnya yang pucat. Rasa panas menjalar di pipi kirinya, kontras dengan hawa dingin yang masih tersisa di meridiannya.
Mata Lin Ruoxue terbuka lebar seketika. Kesadarannya kembali seperti ditarik paksa dari dasar sumur yang gelap. Hal pertama yang ia rasakan adalah bau anyir darah yang menyengat dan lantai batu yang keras di bawah tubuhnya. Hal kedua yang ia sadari adalah kehadiran sosok yang berdiri di atasnya, menatapnya dengan tatapan yang lebih dingin dari es mana pun yang pernah ia pelajari.
"Bangun. Kita tidak punya waktu untuk drama pingsanmu," suara Jiang Xuan terdengar datar, tanpa sedikit pun nada simpati.
Lin Ruoxue mencoba bangkit, namun ia merasakan perih yang membakar di bahu kirinya. Ia menunduk dan melihat balutan kain kotor yang diikat sangat ketat, begitu kasar hingga nyaris menghentikan sirkulasi darahnya. Namun, pendarahannya memang berhenti.
Ingatannya kembali dengan cepat. Pertempuran, kelelawar, tiga senior bajingan, dan... Jiang Xuan.
Seketika, Lin Ruoxue merasakan ada sesuatu yang asing di dalam jiwanya. Sebuah benang hitam tak kasat mata yang seolah mengikat inti kesadarannya, tersambung langsung kepada pemuda di depannya. Matanya membelalak. Ia meraba dahinya, dan meskipun ia tidak bisa melihatnya, ia merasakan denyut energi merah gelap di sana.
"Kau... apa yang kau lakukan pada jiwaku?!" Lin Ruoxue menggeram. Amarah murni meledak di matanya.
Tanpa menunggu jawaban, ia memaksakan sisa Qi elemen es di dalam meridiannya untuk melonjak. Ia tidak peduli jika tubuhnya hancur; ia ingin menghancurkan wajah Jiang Xuan. Kristal es tipis mulai terbentuk di ujung jemarinya saat ia menerjang maju, berniat menusuk leher Jiang Xuan dengan tangan kosongnya.
Jiang Xuan bahkan tidak berkedip. Ia hanya berdiri diam dengan tangan bersedekap.
"Berlutut," perintah Jiang Xuan pelan.
BZZZT!
Segel Teratai Hitam di dahi Lin Ruoxue menyala terang. Rasa sakit yang luar biasa tajam, seolah ribuan jarum es ditusukkan langsung ke pusat otaknya, meledak seketika. Seluruh kekuatannya menghilang dalam sekejap.
"AAARGH!"
Lin Ruoxue menjerit tertahan. Tubuhnya ambruk kembali ke lantai, kedua lututnya menghantam batu dengan bunyi keras. Ia mencengkeram kepalanya, meronta-ronta di tanah sementara rasa sakit itu mengoyak kewarasannya. Seluruh aliran Qi es miliknya berbalik menyerang dirinya sendiri setiap kali ia mencoba melawan perintah tersebut.
"Dengar," Jiang Xuan berjongkok di depan gadis yang sedang meringkuk kesakitan itu. Ia mencengkeram dagu Lin Ruoxue, memaksa gadis itu menatap matanya yang gelap. "Aku sudah mengatakannya: pilihanmu tidak relevan. Kau menolak tawaranku, jadi aku mengambilnya secara paksa. Mulai detik ini, jiwamu adalah milikku. Setiap tarikan napasmu, setiap tetes darahmu, adalah propertiku. Jika aku memerintahkanmu untuk mati, kau akan mati tanpa sempat mengedipkan mata."
"B-bajingan..." Lin Ruoxue mendesis di sela giginya yang gemeretak. Kebencian di matanya begitu pekat hingga seolah bisa membunuh jika pandangan bisa melukai.
"Simpan kebencianmu untuk monster di luar sana," Jiang Xuan melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga kepala Ruoxue terayun. "Setiap kali kau mencoba menyerangku atau menolak perintahku, rasa sakit ini akan meningkat sepuluh kali lipat. Kau ingin hidup, bukan? Maka patuhlah."
Jiang Xuan bangkit berdiri, sama sekali tidak memedulikan tatapan membunuh dari "pelayannya". Ia berbalik dan berjalan menuju tiga mayat murid senior yang tergeletak tidak jauh dari sana.
Dengan gerakan yang sangat efisien dan terbiasa, Jiang Xuan mulai menjarah. Ia merogoh kantong jubah mayat-mayat itu, menarik keluar tiga 'Kantong Penyimpanan' berukuran kecil. Ia membukanya satu per satu, membuang barang-barang sampah seperti pakaian dalam cadangan dan jimat keberuntungan murahan ke lantai.
"Tujuh puluh batu roh tingkat rendah... beberapa botol pil pemulihan Qi tahap awal... lumayan," gumam Jiang Xuan, memasukkan kantong-kantong itu ke dalam jubahnya sendiri.
Ia kemudian melihat sebilah pedang baja milik murid bertubuh gempal yang tergeletak di dekatnya. Pedang itu terbuat dari besi meteorik tingkat rendah, jauh lebih baik daripada pedang patah berkarat milik Lin Ruoxue. Jiang Xuan memungut pedang itu, lalu dengan gerakan acuh tak acuh, ia menendangnya ke arah Lin Ruoxue.
CLANG!
Pedang itu berputar di lantai dan berhenti tepat di depan lutut Lin Ruoxue.
"Pedang patahmu itu sampah. Pakai ini," perintah Jiang Xuan tanpa menoleh. "Kau adalah perintis jalanku sekarang. Aku tidak ingin pedangku patah saat aku menyuruhmu membuka jalan."
Lin Ruoxue menatap pedang itu, lalu menatap punggung Jiang Xuan. Ia perlahan merangkak bangun, kepalanya masih berdenyut sisa rasa sakit dari segel tadi. Dengan tangan gemetar, ia menggenggam hulu pedang baja tersebut. Tidak ada rasa terima kasih di hatinya. Yang ada hanyalah tekad dingin untuk bertahan hidup sampai ia bisa menemukan cara untuk merobek tenggorokan Jiang Xuan.
Sementara itu, Jiang Xuan berjalan menuju sudut aula yang gelap.
"Keluar dari sana, bola bulu rakus," desis Jiang Xuan.
Di dalam tengkorak besar milik Siluman Kelelawar Tanah yang tergeletak di pojok, terdengar suara gesekan. Sepasang kaki pendek berwarna putih menendang-nendang udara, sebelum akhirnya sebuah gumpalan bulat berhasil melepaskan diri dari lubang mata tengkorak tersebut.
"Kyuu! Kyuu-kyuu!"
Baozi melompat keluar dengan wajah yang kotor oleh debu dan sisa-sisa sumsum monster yang sudah kering. Makhluk itu terlihat sangat jengkel karena ditinggalkan di dalam tengkorak. Namun, alih-alih merajuk, Baozi tiba-tiba terbatuk-batuk hebat. Perut bulatnya naik turun dengan aneh.
"Apa lagi sekarang? Kau tersedak tulang?" Jiang Xuan menjambak bulu di tengkuk Baozi dengan kasar, mengangkatnya sejajar dengan wajahnya.
HOEK!
Baozi memuntahkan sebuah benda keras dari mulutnya langsung ke telapak tangan Jiang Xuan. Benda itu tertutup lendir dan darah hitam yang berbau busuk.
Jiang Xuan mengernyitkan dahi, namun saat ia mengusap lendir itu menggunakan ujung jubah mayat di dekatnya, matanya menyipit tajam. Benda itu adalah sebuah plakat batu giok kuno berwarna hijau lumut yang telah retak di satu sisi. Di permukaannya terukir garis-garis rumit yang menyerupai labirin.
"Plakat giok?" Jiang Xuan bergumam.
Ia segera mengaktifkan Mata Roda Langitnya.
Bzzzt.
Cincin emas di pupil kirinya berputar lambat. Seketika, ia melihat sebuah Benang Takdir berwarna emas redup memancar dari plakat giok tersebut. Benang itu tidak setebal milik Baozi, tetapi cukup stabil untuk menunjukkan bahwa benda ini memiliki nilai sejarah dan kegunaan yang besar di dalam reruntuhan ini.
"Peta Reruntuhan Kuno..." Jiang Xuan mengenali pola formasinya. "Benda ini pasti milik salah satu penjelajah ribuan tahun lalu yang mati di tumpukan tengkorak itu."
Ia menatap Baozi yang kini sedang menjilat-jilat cakarnya dengan wajah bangga, seolah sedang menagih pujian.
"Jadi, hidungmu memang berguna untuk mencari sampah berharga," Jiang Xuan mendengus, menyimpan plakat giok itu ke dalam saku rahasianya. "Bagus. Aku tidak akan merebusmu... untuk saat ini."
"Kyuu~!" Baozi bersorak riang dan langsung melompat kembali ke dalam kerah jubah Jiang Xuan, mencari kehangatan di dadanya.
Jiang Xuan berbalik, menatap Lin Ruoxue yang kini sudah berdiri tegak meskipun tubuhnya masih sedikit terhuyung. Gadis itu memegang pedang baja baru dengan cengkeraman yang sangat kuat, matanya tidak pernah lepas dari Jiang Xuan.
"Dengar, Pelayan," ucap Jiang Xuan, suaranya kembali ke otoritas yang dingin. "Peta ini menunjukkan bahwa aula ini terhubung dengan koridor tengah menuju Area Makam Sayap Barat. Di sana ada banyak jebakan dan siluman tingkat tinggi. Kau akan berjalan sepuluh langkah di depanku. Jika ada anak panah, kau tangkis. Jika ada siluman, kau bunuh. Jangan mencoba melarikan diri, atau aku akan membuat jiwamu terbakar dari dalam."
Lin Ruoxue tidak menjawab. Ia hanya memberikan tatapan dingin yang dipenuhi kebencian murni. Namun, kakinya bergerak. Di bawah paksaan Kontrak Jiwa, ia melangkah maju melewati Jiang Xuan, berjalan menuju lorong gelap yang menuju ke kedalaman reruntuhan.
Jiang Xuan mengikuti di belakang dengan langkah santai, tangannya tersembunyi di balik lengan baju, siap untuk menggoreskan Void Calligraphy kapan saja. Ia tidak melihat Lin Ruoxue sebagai wanita, apalagi rekan. Di matanya, gadis itu hanyalah tameng daging berkualitas tinggi yang akan ia gunakan sampai hancur untuk mencapai tujuannya.
Mereka berdua, bersama seekor bola bulu rakus di dalam jubah, melangkah keluar dari aula bawah tanah, kembali masuk ke dalam kabut hitam reruntuhan yang dipenuhi oleh jeritan kematian murid-murid luar lainnya yang sedang dibantai di kejauhan. Takdir sejarah yang telah melenceng kini mulai menuliskan babaknya yang paling berdarah.
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏