NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Agung

Kembalinya Sang Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Action
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Devourer

Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.

Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.

Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.

"Aku adalah ... Qin Xiang."

Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#2: Mengusir Para Pengacau

Setelah kesadaran agung itu menyatu sepenuhnya, Qin Xiang duduk bersila di tengah gubuknya yang sunyi. Dunia di matanya kini telah berubah. Ia tidak lagi melihat dinding kayu yang lapuk atau debu yang beterbangan, melainkan aliran energi tipis yang merayap di udara. Tatapannya kini sudah tidak seperti remaja ingusan seumurnya; pandangannya tenang, dalam, dan membawa aura otoritas layaknya seseorang yang telah melintasi ribuan tahun penderitaan dan kejayaan.

“Tubuh ini... sedikit cacat, namun memiliki satu keunggulan yang langka,” gumam Qin Xiang setelah menghabiskan waktu berjam-jam mengulik setiap inci meridiannya.

Ia sampai pada satu kesimpulan yang pahit sekaligus menarik. Jaringan meridian dalam tubuh ini begitu rapuh dan tipis, bagaikan helaian rambut yang bisa putus kapan saja. Namun, yang mengejutkan adalah Dantian—pusat penyimpanan energinya. Ukurannya dua kali lipat lebih besar dari manusia normal.

Ini adalah paradoks yang kejam. Kondisi tubuhnya saat ini bagaikan mencoba mengisi sebuah danau raksasa hanya dengan menggunakan selang air kecil yang hampir buntu. Bisa dilakukan, tapi tidak ada yang tahu kapan danau itu akan penuh. Bagi orang lain, ini adalah kutukan yang membuat kultivasi menjadi ribuan kali lebih lambat.

“Jika aku tetap mengikuti metode konvensional dunia ini, setidaknya butuh setahun lagi hanya untuk menembus ranah Pemurnian Qi tahap kedua,” sebuah senyum pahit terhias di wajahnya yang pucat.

Namun, Qin Xiang bukanlah kultivator biasa. Ia adalah Kaisar yang pernah memegang hukum alam di telapak tangannya. Senyum pahit itu perlahan berubah menjadi seringai dingin. Ia tahu cara memaksa "selang air" itu menjadi saluran air bah. Qin Xiang mulai memejamkan mata, mengatur napasnya dengan pola yang ritmis dan kuno.

"Teknik Pernapasan Langit dan Bumi!"

Seketika, atmosfer di dalam gubuk itu bergetar hebat. Pori-pori tubuh Qin Xiang terbuka lebar, menghisap energi langit dan bumi dengan rakus bagaikan penyedot debu yang tak pernah kenyang. Energi yang biasanya sulit diserap, kini dipaksa masuk, dikompresi, dan dimurnikan berkali-kali lipat sebelum dialirkan ke dalam Dantiannya yang luas.

...

Tanpa terasa, kegelapan malam telah sirna, digantikan oleh semburat cahaya keemasan yang menembus celah-celah atap gubuk. Qin Xiang membuka matanya. Tidak ada lagi rasa lelah. Alih-alih, sepasang matanya berkilat tajam. Ia segera bergegas ke halaman luar untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku, melakukan gerakan-gerakan latihan fisik yang perlu untuk menempa tubuh barunya agar bisa mengimbangi jiwanya yang perkasa.

“SAMPAH! KE SINI KAU!”

Sebuah teriakan melengking merusak ketenangan pagi itu. Trio pengacau yang kemarin dipukul mundur oleh Hu Xia kini kembali, dan kali ini mereka tidak sendirian. Di belakang Xiao Jing, puluhan murid sekte luar mengekor dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Berita bahwa Qin Xiang akan dihajar untuk ke-100 kalinya telah tersebar luas, dan mereka tidak ingin melewatkan tontonan gratis tersebut.

Qin Xiang berhenti bergerak. Ia berdiri tegak, membalikkan badan dengan perlahan. “Xiao Jing, apa lagi yang ingin kau lakukan?” suaranya terdengar datar, namun matanya menyipit tipis, menunjukkan kilatan amarah yang tenang namun mematikan.

Xiao Jing terkekeh jahat. Ia melangkah maju dengan angkuh, merasa berada di atas angin. “Hoh? Kau menjadi berani sekarang? Apa karena pelukan Senior Hu Xia kemarin telah menumbuhkan nyali di tubuh sampahmu?” Ia tertawa sinis, diikuti oleh tawa antek-anteknya. “Sayang sekali, dewi pelindungmu itu sedang pergi menjalankan misi sekte yang sangat jauh. Kali ini, tidak ada yang akan menyelamatkanmu, tikus kecil!”

Alih-alih gemetar ketakutan seperti biasanya, sebuah senyum sinis justru tersungging di sudut bibir Qin Xiang. Ia menatap Xiao Jing layaknya seorang kaisar yang sedang melihat badut yang mencoba melucu. Perubahan ekspresi ini membuat Xiao Jing sedikit sangsi, namun kesombongannya mengalahkan instingnya.

“Oh?” Xiao Jing mengerutkan kening, menyadari sesuatu. “Auramu terasa sedikit berbeda. Rupanya setelah dua tahun menjadi limbah, kau akhirnya berhasil merangkak masuk ke ranah Pemurnian Qi tingkat kedua? Tak heran kau begitu sombong hari ini!”

Xiao Jing meludah ke tanah, matanya berkilat penuh penghinaan. “Tapi hanya dengan kemampuan sekecil itu? Kau tetaplah semut di bawah kakiku!”

“Apa kau ingin mencobanya?” tantang Qin Xiang dengan suara rendah yang menggetarkan udara di sekitar mereka.

“Mati kau!” raung Xiao Jing, merasa terhina oleh tantangan itu. Ia menerjang maju, mengepalkan tinjunya yang diselimuti sedikit energi Qi kehijauan.

Qin Xiang tidak bergerak mundur setapak pun. Ia tidak menggunakan teknik pedang, tidak juga menggunakan mantra rumit. Ia hanya memusatkan seluruh energi yang ia serap semalaman ke dalam kepalan tangannya. Saat Xiao Jing sudah berada di jarak serang, Qin Xiang melayangkan tinjunya dengan kekuatan mentah yang murni.

Tidak ada trik. Tidak ada basa-basi. Hanya kecepatan dan kekuatan absolut.

BAMMM!

Suara dentuman keras menggema, diikuti oleh bunyi tulang yang berderak. Xiao Jing bahkan tidak sempat menyadari apa yang terjadi. Tinju Qin Xiang mendarat telak tepat di tengah wajah sombongnya. Daya ledak dari pukulan itu begitu besar hingga tubuh Xiao Jing terpelanting jauh, meluncur bermeter-meter di atas tanah dan menghantam kerumunan penonton yang tidak sempat menghindar.

Keheningan mati seketika menyelimuti halaman itu. Para murid sekte luar ternganga, seolah-olah baru saja melihat matahari terbit dari barat. Terutama kedua sahabat dekat Xiao Jing; mereka berdiri mematung dengan wajah pucat pasi.

“Bos!”

Keduanya segera berlari mendekati Xiao Jing yang tergeletak tak berdaya. Namun, saat mereka membalikkan tubuh bos mereka, nyali mereka runtuh seketika. Xiao Jing yang biasanya bertingkah layaknya predator puncak, kini pingsan dengan hidung yang remuk dan wajah yang membiru. Pukulan itu begitu berat hingga menghancurkan kesadaran seorang kultivator tahap kedua dalam satu serangan saja.

“Apa-apaan ini... Bagaimana mungkin si sampah ini bisa melakukannya?” bisik salah seorang penonton dengan suara bergetar.

“Apa kalian berdua juga ingin merasakan hal yang sama?”

Suara Qin Xiang memecah keheningan. Ia melangkah maju dengan tenang, namun setiap hentakan kakinya terasa seperti beban gunung bagi kedua pengikut Xiao Jing. Ia tersenyum mengejek, sebuah tatapan yang jelas menunjukkan bahwa ia telah menyimpan dendam ini terlalu lama. Meskipun ia baru saja menghancurkan Xiao Jing, ada rasa haus akan keadilan di dalam dadanya yang menuntut lebih. Ia ingin memastikan bahwa tulang-tulang pengganggu ini tidak akan pernah berani berdiri tegak lagi di hadapannya.

Glup...

Kedua pemuda itu menelan ludah secara bersamaan. Bulu kuduk mereka berdiri. Saat ini, sosok di hadapan mereka bukan lagi Qin Xiang si pengecut, melainkan iblis yang baru saja bangkit dari tidur panjangnya. Pikiran mereka hanya menyisakan satu kata: Lari.

“Lari! Bawa Bos pergi dari sini!”

Keduanya segera merangkul tubuh pingsan Xiao Jing dengan terburu-buru, layaknya sepasang pencuri yang ketahuan mencuri kambing tetangga. Sembari menjauh, salah satu dari mereka mencoba berteriak sok berani, “Qin Xiang! Kau akan menyesal! Kami tidak akan melupakan penghinaan hari ini!”

Meskipun berteriak mengancam, faktanya mereka melarikan diri dengan kaki yang lemas, menyerupai tikus yang menyadari kehadiran sang kucing pemangsa di kegelapan malam.

“Hah...” Qin Xiang menghela napas panjang dan menggelengkan kepala. Ia melihat ke sekeliling, pada kerumunan murid yang masih mematung tidak percaya. Kejadian seperti ini—penindasan, balas dendam, dan pelarian—adalah hal yang terlalu biasa di kehidupan sebelumnya. Namun, ia tidak berniat menjadi orang baik yang pemaaf.

Ia menyeringai, menunjukkan taringnya kepada mereka yang masih berdiri menonton. Dengan nada yang mengandung ancaman murni, ia berkata, “Apa kalian semua juga menunggu giliran untuk kupukuli?”

Wush—!

Dalam sekejap, halaman itu bersih. Semuanya saling sikut untuk lari terbirit-birit dari sana, takut menjadi korban berikutnya dari "kekuatan tersembunyi" Qin Xiang.

Hanya dalam hitungan jam, berita tentang kekalahan memalukan Xiao Jing menyebar luas seperti api yang ditiup badai di asrama murid sekte luar. Nama Qin Xiang tiba-tiba menjadi sorotan dan bahan perbincangan di setiap sudut kedai dan paviliun latihan. Sebagian murid memujinya, namun lebih banyak yang meragukan kebenarannya. Tuduhan-tuduhan mulai bermunculan; ada yang bilang Xiao Jing sedang sakit, atau Qin Xiang menggunakan trik kotor dan racun terlarang untuk menang.

Namun, bagi Qin Xiang, semua omong kosong itu tidak ada gunanya. Ia berdiri di depan gubuknya, menatap tangannya sendiri yang masih bergetar sedikit karena energi Qi yang meluap.

“Ini baru permulaan,” bisiknya pada angin. “Dunia ini terlalu kecil untuk menampung kemurkaanku.”

Ia tahu, dengan hilangnya Hu Xia untuk sementara, musuh yang lebih kuat dari sekadar Xiao Jing akan segera datang mencari gara-gara. Namun kali ini, ia tidak akan bersembunyi. Sang Kaisar telah kembali, dan setiap langkahnya akan menggetarkan fondasi dunia ini.

Bersambung!

1
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹
budiman_tulungagung
sepuluh mawar 🌹
budiman_tulungagung: oke.. masama brother
total 2 replies
budiman_tulungagung
lima mawar 🌹
Nanik S
Awal yang bagus
Devourer Is Back: Thanks udah mampir🙏🏻
total 1 replies
T28J
saya kasih like dan hadiah 👍
Devourer Is Back: Thanks ya🙏
total 1 replies
Devourer Is Back
Janji deh, sampai tamat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!