NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Pertemuan di Pasar Lama

Pukul 06.45. Pasar Baru masih sepi ketika Aditya tiba. Hanya beberapa pedagang yang mulai membuka lapak, menggelar kain, dan menata barang dagangan. Bau rempah dan kopi tubruk bercampur dengan udara pagi yang lembap.

Toko Sumber Wangi berdiri di sudut pertigaan—sebuah toko emas tua dengan papan nama yang catnya mulai mengelupas. Ini pasti salah satu dari tiga toko yang dirampok Klan Malam.

Aditya melihat Dina sudah menunggu. Inspektur itu duduk di bangku depan toko, dua cangkir kopi di tangannya. Seragam polisinya sudah diganti dengan jaket kulit cokelat dan celana jeans—menyamar.

"Kau datang lebih awal," katanya, menyodorkan satu cangkir.

"Kau lebih awal lagi." Aditya menerima kopi itu dan duduk di sampingnya. "Apa kau tidak tidur?"

"Tidur? Setelah lihat orang menghilang dan meledakkan basement?" Dina tertawa kecil—tawa yang lebih terdengar seperti keluhan. "Aku semalaman membaca ulang laporan kasus lama. Ternyata banyak yang aneh."

"Seperti apa?"

"Pencurian tanpa jejak. Saksi yang melihat bayangan hitam. Mayat dengan luka yang tidak cocok senjata apa pun. Semua ditutup dengan alasan 'kurang bukti'." Dina menyesap kopinya. "Dan semua ditangani oleh atasan yang sama."

Aditya menatap matanya. All-Seeing Eye terpicu.

Nama: Dina Anggraini. Status Emosi: Frustasi 72%, Antusias 65%, Kelelahan 88%. Informasi tambahan: Semalam menemukan pola korupsi di Satreskrim—14 kasus aneh ditutup oleh Kompol Bramasta dalam 4 tahun terakhir.

"Kompol Bramasta," Aditya menyebut nama itu.

Dina tersedak kopinya. "Dari mana kau—ah, sudahlah. Sistemmu lagi?"

Aditya mengangguk. "Itu atasanmu?"

"Dia Kepala Satreskrim. Dan ya, dia yang selalu menutup kasus-kasus ini. Tapi aku butuh bukti. Nama saja tidak cukup untuk menjerat seorang Kompol."

Aditya membuka panel misinya.

Misi: Identifikasi Pengkhianat di Kepolisian.

Progres: 50%.

Dibutuhkan: Bukti transfer, rekaman komunikasi, atau pengakuan.

"Kita butuh bukti transfer," kata Aditya. "Kalau dia melindungi Klan Malam, pasti ada uang yang berpindah."

"Itu tidak akan mudah. Rekening pribadi seorang perwira tidak bisa diakses sembarangan."

"Siapa bilang kita harus mengakses rekeningnya?" Aditya menyeringai. "Kita bisa membuatnya panik dan melakukan kesalahan."

Dina menatapnya dengan alis terangkat. "Kau punya rencana?"

"Katakan saja ke Kompol Bramasta bahwa kau menangkap Jaka Sembung. Dan Jaka... mulai bicara."

"Mempermainkan atasan sendiri? Itu bisa menghancurkan karierku."

"Atau menyelamatkan jiwamu." Aditya menatap Dina serius. "Orang-orang ini—Kartel Lotus, kultivator—mereka tidak segan membunuh polisi. Atasanmu mungkin hanya korup, tapi orang di belakangnya jauh lebih berbahaya."

Dina menunduk. Jemarinya memainkan bibir cangkir kopi yang mulai dingin.

"Aku bergabung di kepolisian karena ingin menegakkan keadilan," bisiknya. "Ternyata institusi yang kupercaya busuk dari dalam."

"Justru karena itu," Aditya menjawab, "kau harus membersihkannya. Dari dalam."

Dina mengangkat wajahnya. Kelelahan di matanya berganti dengan sesuatu yang lain—tekad.

"Baiklah. Akan kulakukan. Tapi kau harus menjanjikan satu hal."

"Apa?"

"Kalau semua ini selesai... jelaskan padaku siapa dirimu sebenarnya. Dan apa sebenarnya yang terjadi di kota ini."

Aditya tersenyum tipis. "Janji."

Mereka bersulang dengan cangkir kopi—sebuah kesepakatan tanpa dokumen, tanpa saksi, hanya dua orang yang memutuskan untuk melawan sistem.

---

Pukul 09.00. Aditya kembali ke Pradipa Tower. Kali ini ia tidak masuk lewat lobi utama, melainkan lewat pintu samping khusus staf—kebiasaan lamanya sebagai cleaning service belum sepenuhnya hilang.

Di koridor lantai 47, ia berhenti di depan ruang rahasia tempat ia menemukan liontin. Dindingnya sudah normal kembali. Pola marmernya sejajar sempurna, seolah tidak ada yang pernah terjadi di sini.

Tapi Aditya tahu lebih baik sekarang.

Ia menyentuh liontin di dadanya. Benda itu masih hangat, batu merahnya berdenyut pelan mengikuti detak jantung.

Liontin ini dicuri dari Villa Keluarga Pradipa tiga tahun lalu. Tapi kenapa berakhir di ruang rahasia di dalam gedung ini? Siapa yang menyembunyikannya? Dan kenapa?

DING!

Notifikasi: Folder "Sejarah Keluarga Pradipa" telah ditambahkan ke database Anda oleh Kapten Maya. File termasuk: Silsilah, catatan bisnis era kolonial, legenda keluarga, dan rekaman wawancara kakek Wijaya tahun 1998.

Aditya membuka folder itu. Matanya langsung tertuju pada satu file:

"Legenda Matahari Ketujuh—Warisan Leluhur Pradipa."

Ia mulai membaca.

"...Konon, leluhur kami adalah keturunan dari tujuh kesatria yang mengabdi kepada Dewa Matahari. Setiap kesatria mewarisi satu pecahan kekuatan sang dewa. Lambang keluarga kami—matahari dengan tujuh sinar—adalah pengingat akan asal-usul itu. Pusaka keluarga, Liontin Surya, diyakini sebagai kunci untuk menyatukan kembali ketujuh pecahan itu..."

Aditya berhenti membaca. Tangannya gemetar.

Tujuh sinar. Tujuh kesatria. Liontin sebagai kunci.

Lalu bayangan dari mimpi saat sistem pertama kali teraktivasi muncul kembali: sesosok pria bermahkota matahari, ditusuk dari belakang oleh tujuh bayangan gelap.

"Tujuh bayangan," bisiknya. "Bukan tujuh kesatria. Tapi tujuh pengkhianat."

Liontin di dadanya tiba-tiba berdenyut lebih keras. Seolah-olah membenarkan.

Aditya menelan ludah. Jika liontin ini memang pusaka keluarga Pradipa, maka sekarang ia tahu kenapa sistem memilihnya. Bukan kebetulan ia bekerja di gedung ini. Bukan kebetulan ia menemukan ruang rahasia itu.

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!