Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.
Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.
Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.
Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.
Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.
"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."
Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.
Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?
Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: RAHASIA DI BALIK TOPENG
Hari demi hari berlalu, namun bayang-bayang bahaya tidak pernah benar-benar pergi. Justru sebaliknya, setiap kali Mo Fei berhasil mengalahkan satu kelompok penjahat, informasi yang didapatkannya justru semakin mengerikan dan mengarah ke sebuah kebenaran yang sangat gelap.
Kini mereka menyadari bahwa musuh yang mereka hadapi bukanlah sekelompok perampok atau pembunuh bayaran biasa. Mereka adalah bagian dari sebuah organisasi raksasa yang sangat tersembunyi, terorganisir, dan ditakuti oleh seluruh dunia persilatan selama ratusan tahun.
Nama organisasi itu adalah ISTANA KEMATIAN.
Orang-orang di sana tidak pernah menunjukkan wajah asli mereka kepada siapapun, kecuali sesama anggota tingkat tinggi. Mereka selalu menutupi wajah mereka dengan berbagai jenis topeng—ada yang berbentuk wajah iblis menyeramkan, ada yang berbentuk topeng tersenyum manis namun menipu, dan ada juga yang berbentuk wajah datar tanpa ekspresi.
Di sebuah ruangan rahasia yang gelap di penginapan mereka, Mo Fei dan Lian Er sedang duduk berhadapan dengan sebuah meja kayu tua yang penuh dengan gulungan-gulungan kertas kuno, peta-peta tua, dan catatan-catatan sejarah yang sudah berdebu.
"Mo Fei, lihat ini cepat!" seru Lian Er dengan suara bersemangat namun tetap rendah agar tidak terdengar oleh orang lain. Gadis itu sedang memegang sebuah naskah kuno yang tebal dan rapuh. "Aku baru saja menemukan catatan penting ini dari perpustakaan panitia tadi. Baca ini!"
Mo Fei segera mengambil naskah itu dan membacanya dengan teliti dan cepat. Matanya bergerak membaca baris demi baris tulisan kuno itu.
'Dahulu kala, ada sebuah tempat suci bernama Lembah Naga Tidur. Di sana tersimpan sebuah kekuatan tertinggi bernama 'Seribu Jarum Emas'. Konon, pemilik kekuatan ini mampu mengubah takdir dunia. Namun, ratusan tahun lalu, lembah itu diserang dan hancur oleh kekuatan gelap yang menginginkan rahasia abadi.'
Mo Fei menghela napas panjang. Ia sudah tahu kisah itu, tapi membacanya tertulis di atas kertas membuatnya terasa lebih nyata dan menyakitkan.
"Tapi lihat simbol di sini!" tunjuk Lian Er pada sebuah gambar aneh di sudut halaman. "Simbol ini... bukankah sama persis dengan tato yang aku lihat di dada salah satu pembunuh yang menyerang kita semalam? Simbol ular yang memakan ekornya sendiri!"
Mo Fei menatap simbol itu lekat-lekat. Jantungnya berdegup kencang.
"Benar... Ini lambang 'Kultus Naga Gelap'," bisik Mo Fei pelan. "Jadi mereka masih ada sampai sekarang. Mereka yang membakar lembahku. Mereka yang membunuh keluarga dan saudaraku."
Tiba-tiba...
SYUUUUUT!!!
Dari arah jendela yang terbuka, meluncurlah sebuah benda kecil dengan kecepatan tinggi! Benda itu menancap dengan kuat tepat di tengah meja kayu di antara mereka berdua!
TRANG!
Mo Fei dan Lian Er kaget dan langsung waspada!
Itu bukan senjata membunuh. Itu adalah sebuah gulungan kertas kecil yang diikat erat pada sebuah jarum besi hitam!
"Pesan rahasia?!" seru Lian Er.
Mo Fei dengan hati-hati mengambil gulungan kertas itu dan membukanya perlahan. Tulisan di sana ditulis dengan tinta merah darah, tajam dan dingin.
Isi pesannya berbunyi:
'Kepada Mo Fei, Pemilik Ilmu Jarum Emas.
Jika kau benar-benar ingin tahu kebenaran tentang apa yang terjadi di Lembah Naga Tidur...
Jika kau benar-benar ingin tahu nasib gurumu yang kau cari-cari itu masih hidup atau sudah mati...
Datanglah sendirian malam ini ke Kuil Terbengkalai di pinggiran utara kota.
Tempat itu sunyi dan tidak ada orang yang berani mendekat. Sempurna untuk pembicaraan serius.
SYARATNYA SATU: JANGAN BAWA SIAPA PUN. JANGAN BAWA GADIS ITU. JANGAN COBA-COBA MENGAJUK TEMAN.
Jika kau berani melanggar atau jika kau tidak datang... Maka gadis cantik di sebelahmu itu... dan semua orang yang dekat denganmu... yang akan menjadi korbannya.
Kami tunggu. Jangan membuat kami menunggu terlalu lama.'
Tanda tangan di bawahnya hanya sebuah gambar topeng putih sederhana.
Wajah Mo Fei berubah menjadi gelap gulita. Tangannya yang memegang kertas itu mengepal kuat hingga kertas itu hancur remuk di tangannya.
"Mereka... mereka tahu segalanya tentangku," bisik Mo Fei dengan suara rendah dan penuh tekanan. "Mereka tahu tentang guruku. Mereka tahu tentang Lembah. Dan mereka bahkan berani mengancam nyawamu, Putri. Dasar pengecut yang tidak punya nyali!"
"Mo Fei..." Lian Er memandang pria di depannya dengan wajah penuh kekhawatiran dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tahu betapa pentingnya hal ini bagi Mo Fei. "Kau... kau mau pergi ke sana kan? Tapi itu pasti jebakan! Itu pasti sarang mereka! Mereka memancingmu keluar supaya kau sendirian dan tidak ada yang bisa menolong! Jangan pergi Mo Fei! Aku mohon!"
Mo Fei menoleh perlahan menatap wajah gadis itu. Matanya terlihat sangat dalam, menyimpan rasa sakit, rasa penasaran, dan rasa tekad yang membara.
"Aku tahu itu jebakan, Putri. Aku sangat menyadarinya," jawab Mo Fei dengan suara tenang namun tegas. "Tapi aku tidak punya pilihan lain. Ini menyangkut masa laluku. Ini menyangkut orang yang membesarkanku. Jika Kakek masih hidup... aku harus menyelamatkannya. Jika dia sudah tiada... aku harus membalaskan dendamnya."
Ia lalu berdiri dan berjalan mendekati jendela, menatap langit malam yang mulai gelap dan mendung.
"Dan biarkan mereka datang. Biarkan mereka mengira aku sudah masuk perangkap mereka. Tapi mereka lupa satu hal... Bahwa di dalam sarang harimau sekalipun... selama harimau itu adalah aku, maka justru merekalah yang akan menjadi mangsanya."
Malam itu juga, tepat saat jam menunjukkan pukul dua belas malam, waktu yang paling gelap dan sunyi.
Mo Fei berjalan sendirian menuju tempat yang disebut dalam pesan itu. Jalanan menuju ke sana sangat sepi, gelap, dan penuh dengan semak belukar yang tinggi. Suasana di sana terasa sangat pengap dan bau tanah basah bercampur bau bangkai yang menyengat.
Di kejauhan, terlihat sebuah bangunan tua yang sudah sangat lama tidak dihuni. Itulah Kuil Terbengkalai. Atapnya banyak yang bolong, dindingnya retak, dan patung-patung dewa di sana sudah hancur kepalanya.
Mo Fei berdiri tegak di depan pintu gerbang besar yang sudah rusak itu. Ia tidak takut sedikitpun. Justru jantungnya berdegup kencang karena siap menghadapi kebenaran yang mungkin akan mengubah seluruh hidupnya selamanya.
"Aku sudah di sini. Keluar kalian!" seru Mo Fei lantang. Suaranya bergema memecah keheningan malam. "Jangan bersembunyi seperti tikus! Tunjukkan wajah kalian jika kalian berani!"
HEHEHEHE... HAHAHAHA!
Tawa menyeramkan terdengar bergema dari segala arah—dari atas atap, dari balik pilar, dari balik bayang-bayang pohon!
Tiba-tiba... WUSSSSS!!!
Puluhan sosok bayangan hitam melompat turun dan mendarat dengan sempurna, mengepung Mo Fei rapat-rapat membentuk lingkaran maut yang sempit!
Di tengah mereka, berdiri seorang pria tinggi besar mengenakan jubah ungu tua dan topeng wajah iblis yang sangat mengerikan. Dia adalah pemimpinnya.
"Selamat datang, Mo Fei... Kami sudah menunggumu dengan sabar sekali," ucap pria itu dengan suara berat dan garau yang terdengar seperti datang dari dalam kubur. "Sekarang... serahkanlah teknikmu dan matamu. Mungkin kami akan membiarkanmu mati dengan cepat dan tidak sakit."
Mo Fei melihat sekeliling, melihat puluhan musuh yang siap membunuhnya, lalu ia justru tersenyum lebar.
"Dasar kurang ajar. Kalian pikir dengan jumlah sebanyak ini kalian bisa menang? Baiklah... Hari ini akan kuperlihatkan pada kalian... apa artinya berhadapan dengan Seribu Jarum Emas!"