"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Janji di Bawah Pohon Tua: Kita Akan Bersama Selamanya
Malam itu, langit tampak begitu bersih. Tidak ada satu pun awan yang menghalangi pandangan. Ribuan bintang berkelap-kelip bagai butiran berlian yang ditaburkan di atas hamparan kain beludru hitam, dan bulan purnama bersinar terang benderang, membasahi bumi dengan cahaya peraknya yang dingin namun memukau.
Di bawah sebuah pohon beringin tua yang dahannya menjulang tinggi dan akarnya menjalar luas, seolah menjadi saksi bisu perjalanan waktu, duduklah dua insan yang saling mencinta. Mereka duduk bersandar pada batang pohon yang besar dan kokoh itu, tangan mereka saling menggenggam erat, jari-jemarinya saling mengunci.
Suasana sangat hening, hanya terdengar suara desiran angin yang memainkan daun-daun, menciptakan melodi alam yang menenangkan.
Li Yao menatap wajah Ling Qingyu yang diterangi cahaya bulan. Wajah itu terlihat begitu sempurna, begitu damai, hingga membuat Li Yao sering kali merasa ini semua hanyalah mimpi indah yang suatu saat akan hilang begitu saja saat ia terbangun.
"Qingyu..." panggil Li Yao pelan, memecahkan keheningan.
"Ya, Yao?" jawab wanita itu lembut, menoleh dan menatap mata kekasihnya dengan senyum tipis yang manis.
"Kadang aku takut..." ucap Li Yao jujur, suaranya terdengar ragu namun dalam. "Aku takut suatu hari nanti, saat kau sembuh total, atau saat orang-orang dari tempat asalmu datang menjemputmu... kau akan pergi dan meninggalkanku sendirian lagi di sini."
Genggaman tangan Li Yao mengerat sedikit, seolah takut jika ia melepaskan sedikit saja, wanita itu akan terbang hilang dibawa angin.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku nanti jika tidak ada suaramu, tidak ada tawamu, dan tidak ada sentuhan tanganmu. Dunia akan kembali menjadi gelap dan sepi seperti dulu. Bahkan mungkin lebih gelap, karena aku pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki cahaya."
Ling Qingyu terdiam mendengar keresahan itu. Ia bisa merasakan getaran ketidakamanan yang mengalir dari tangan pemuda itu. Ia tidak langsung menjawab, melainkan perlahan memindahkan posisinya, hingga kini ia duduk berlutut tepat di hadapan Li Yao, menatapnya sejajar.
Dengan kedua tangannya, ia memegang wajah Li Yao, memaksanya untuk fokus hanya padanya.
"Li Yao, lihatlah ke mataku," perintahnya lembut namun tegas. "Dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan. Jangan pernah sekalipun meragukan perasaanku padamu."
Ia menarik napas panjang, lalu mengucapkan setiap kata dengan penekanan yang kuat.
"Aku tidak pergi ke mana-mana. Tempatku ada di sini, tepat di sampingmu. Bukan di istana megah, bukan di puncak sekte suci, tapi di sini, di samping pemuda desa yang hatinya hangat seperti matahari."
"Tapi... masa depan itu tidak pasti, Qingyu. Dunia ini luas dan kejam," kata Li Yao, matanya mulai berkaca-kaca.
"Maka kita buat janji," potong Ling Qingyu cepat. Matanya memancarkan keteguhan yang luar biasa. Ia menunjuk ke arah pohon beringin tua itu. "Pohon ini sudah berdiri ratusan tahun. Ia melihat pergantian musim, badai, dan kemarau. Tapi ia tetap berdiri kokoh."
Ling Qingyu mengangkat tangan kanannya, jari telunjuk dan tengahnya menyatu diangkat ke atas, sebagai tanda sumpah.
"Aku, Ling Qingyu, bersumpah di hadapan langit, bumi, dan pohon tua ini... Bahwa cintaku padamu adalah cinta abadi. Apapun yang terjadi, walau langit runtuh dan bumi terbelah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kita akan bersama, hari ini, besok, sampai kita menjadi kakek nenek, dan bahkan sampai napas terakhir kami berhembus."
Suara wanita itu bergetar menahan haru. "Kita akan bersama selamanya, Yao. Tidak ada yang bisa memisahkan kita."
Hati Li Yao serasa meleleh mendengar sumpah itu. Air mata yang tertahan akhirnya jatuh membasahi pipi, tapi kali ini adalah air mata kebahagiaan yang luar biasa.
Ia segera mengangkat tangannya sendiri, mengulurkan jari kelingkingnya yang kasar dan kapalan itu.
"Aku juga bersumpah, Qingyu!" seru Li Yao dengan suara tegas namun penuh emosi. "Aku akan menjagamu, mencintaimu, dan menghargaimu melebihi nyawaku sendiri. Aku tidak peduli siapa yang datang, sekuat apa pun musuh yang menghadang, selama aku masih bernapas, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh sehelai rambut pun dari kepalamu!"
Jep!
Jari kelingking mereka saling mengait erat. Sebuah ikrar sederhana namun memiliki kekuatan lebih besar daripada kontrak emas manapun.
"Janji?" tanya Ling Qingyu, matanya juga basah.
"Janji!" jawab Li Yao mantap.
Dengan perasaan yang meluap-luap, Li Yao menarik Ling Qingyu ke dalam pelukannya. Mereka duduk berpelukan lama di bawah naungan pohon tua itu, menikmati kehangatan tubuh satu sama lain di tengah dinginnya malam.
"Selamanya..." bisik Ling Qingyu di dada kekasihnya.
"Selamanya..." ulang Li Yao, mencium rambut harum wanita itu.
Mereka tidak tahu bahwa takdir memiliki rencana kejam yang sedang menunggu di depan mata. Mereka tidak tahu bahwa "selamanya" yang mereka ucapkan ternyata hanya memiliki waktu yang sangat singkat. Namun untuk malam ini, di bawah bulan purnama itu, mereka percaya dengan sepenuh hati bahwa ikatan mereka adalah abadi.