NovelToon NovelToon
Duda Pemuas Hasrat

Duda Pemuas Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Duda / Playboy / Cerai
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Arlan Pramudya adalah seorang arsitek sukses yang hidupnya terukur seperti penggaris siku. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh. Sejak kehilangan istrinya tiga tahun lalu, Arlan mengunci diri dalam rutinitas kerja yang kaku dan peran sebagai ayah tunggal yang terlalu protektif bagi putrinya, Mika (6 tahun). Rumah mereka megah, namun terasa dingin dan sunyi—sebuah monumen kesedihan yang tak kunjung usai.

Masalah muncul ketika Mika, yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya, menolak semua guru privat yang didatangkan Arlan. Hingga akhirnya, muncul Ghea Anindita, mahasiswi pendidikan yang datang dengan tawa renyah, sepatu kets kotor, dan metode belajar yang jauh dari kata "formal".

Awalnya, Arlan skeptis. Ghea terlalu berisik dan sering melanggar batas-batas "profesional" yang ia tetapkan. Namun, Ghea adalah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Mika. Perlahan, kehadiran Ghea tidak hanya mengisi kekosongan di meja belajar Mika

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menahan Kehangatan Rumah

Sebelum Ghea dapat melangkah lebih jauh ke halaman rumah yang basah karena hujan yang baru saja reda, sebuah tarikan lembut namun kuat pada pergelangan tangannya membuatnya berhenti seketika.

Arlan tidak mampu menahan dirinya lagi. Ia tidak peduli pada misteri yang disimpan oleh Ghea, tidak peduli pada dinginnya malam, dan tidak peduli pada jarak profesional yang baru saja coba wanita tersebut buat antara mereka. Yang ia ketahui dengan pasti, ia tidak ingin kehilangan Ghea lagi setelah malam di Kamar  itu.

Dengan satu tarikan perlahan, Arlan menarik tubuh Ghea kembali ke dalam kehangatan rumah. Ghea terkejut, blazer yang dikenakannya terlepas dan jatuh ke lantai marmer saat punggungnya didorong lembut namun kuat hingga bersandar pada pintu kayu yang tertutup.

Sebelum Ghea sempat mengeluarkan protes, Arlan mengamankan tubuhnya dengan kedua lengan. Napas hangat Arlan yang cepat menyentuh wajah Ghea, sejenak sebelum pria itu menundukkan kepala dan memberikan ciuman dalam di bibir Ghea.

Ciuman itu penuh sifat kepemilikan, menuntut, dan penuh dengan kerinduan yang selama ini Arlan simpan dalam diam. Ghea membelalakkan matanya sejenak karenanya, tetapi kehangatan bibir Arlan dan aroma maskulin yang sudah sangat familiar segera membuatnya luluh. Desahan napas lembut keluar dari bibir Ghea saat ia perlahan menutup mata, membiarkan jemari lentiknya merangkak naik dan mencengkeram bahu Arlan, sepenuhnya menyerahkan dirinya pada ciuman intim yang seolah membuat waktu berhenti di sekeliling mereka.

Dalam pelukan yang erat, Arlan perlahan melepas ciuman mereka. Napasnya terdengar berat dan bergejolak di leher Ghea, memberikan rasa getaran yang membuat seluruh tubuh wanita itu merinding. Arlan tidak ingin melepaskannya lagi. Semangat yang tertahan dan kerinduan yang membara selama berbulan-bulan kini meminta sebuah pelepasan yang nyata.

Tanpa mengendurkan pelukannya di pinggang Ghea, Arlan menatap dalam-dalam sepasang mata indah yang kini terlihat penuh dengan kepasrahan itu.

"Malam ini... jangan pergi," bisik Arlan dengan suara serak penuh harap.

Ghea tidak memberikan jawaban dengan kata-kata. Sentuhan hangat jemari Arlan yang menyusuri tubuhnya dan tatapan menginginkan pria tersebut sudah cukup untuk membuat seluruh logikanya runtuh sejak sore tadi. Kewibawaan profesionalnya kini sepenuhnya meleleh, meninggalkan naluri wanita yang menginginkan pelukan pria yang dicintainya.

Melihat kepasrahan di mata Ghea, Arlan menyomot satu tangan ke balik lutut Ghea dan mengangkat tubuhnya ke dalam gendongannya. Ghea refleks melingkarkan kedua lengannya di leher Arlan, menyembunyikan wajahnya yang merona merah di dada bidang pria itu.

Dengan langkah yang kuat dan pasti, Arlan membawa Ghea melewati koridor gelap, menjauh dari tangga menuju kamar utama di atas agar tidak mengganggu tidur lelap Mika. Ia mendorong pintu kamar tamu yang terletak di sudut tenang lantai satu dengan kakinya, lalu menutupnya kembali, mengunci dunia luar di balik dinding kayu tebal itu.

Di ruang tamu yang hanya diterangi cahaya lampu taman yang masuk melalui jendela, Arlan dengan lembut membaringkan Ghea di atas kasur yang besar. Sebelum Ghea sempat merapikan rambutnya yang acak-acakan, Arlan telah merayap naik, menahan tubuh Ghea di bawah tubuhnya yang kokoh dan hangat.

"Mas..." bisik Ghea pelan, terhambat oleh ciuman-cimuannya yang sudah mulai menjalar di sepanjang garis rahang hingga lehernya.

"Biarkan seperti ini, Ghea. Hanya malam ini... lupakan semuanya," bisik Arlan di telinga Ghea, sebelum kembali mencium bibirnya dengan penuh gairah yang memanas di tengah malam yang dingin.

Dalam kegelapan ruang tamu, Arlan perlahan-lahan bergerak menjauh dari Ghea. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah cantik di depannya saat jarinya dengan hati-hati membuka kancing kemeja putihnya yang sudah kusut satu per satu.

Dengan satu gerakan lembut, ia menanggalkan kemeja itu dan membiarkannya jatuh ke lantai marmer.

Sekarang, bagian atas tubuh Arlan terlihat jelas dalam cahaya redup. Cahayanya mempertegas bentuk tubuh atletisnya yang menakjubkan—dada yang kekar, otot perut yang rata, serta bahu lebar yang menunjukkan kekuatan luar biasa. Kulitnya yang pucat terlihat sedikit berkilau oleh keringat tipis yang mulai muncul akibat semangat yang semakin meningkat.

Ghea menahan napas sejenak, melirik setiap lekuk tubuh maskulin di hadapannya dengan kekaguman dan detakan jantung yang semakin cepat.

Arlan mendekat lagi, seperti predator siap untuk menguasai. Dia merangkul tubuh ramping Ghea dalam pelukan hangat—sebuah pelukan yang sangat posesif, kuat, dan menguasai, seperti seekor singa menandai teritorinya. Lengan kekarnya melingkari pinggang Ghea tanpa ruang, sementara dadanya yang tegap menempel sempurna pada Ghea, menyebarkan kehangatan kulit dan detak jantungnya yang berdebar cepat.

"Kamu tak bisa lari dariku, Ghea," bisik Arlan dengan suara serak, getaran suaranya mengalir ke leher Ghea, membakar sisa-sisa perlawanannya dalam gelombang hasrat yang tak tertahan.

Di bawah kekuatan tubuh Arlan yang kuat, Ghea merasakan seolah semua indera di tubuhnya menjadi lebih peka. Setiap inci kulitnya yang bersentuhan langsung dengan kulit Arlan yang hangat seakan disetrum oleh aliran listrik yang lembut namun sangat kuat.

Jari-jari Arlan yang besar dan sedikit kasar secara perlahan merayap dari pinggangnya yang ramping, menyusuri sisi rusuknya, hingga berhenti di lehernya. Sentuhan ini tidak lagi penuh keraguan seperti sebelumnya; ada rasa kepemilikan yang jelas di setiap gerakannya. Ghea merasakan semangat yang membara dari telapak tangan Arlan yang hangat, seolah pria itu menyampaikan semua perasaan frustrasi, kerinduan, dan cinta yang membara saat mereka terpisah.

Napas Ghea semakin cepat, bersaing dengan napas Arlan yang terasa hangat di kulit lehernya.

Setiap kali bibir Arlan mendarat dan memberikan ciuman-ciuman yang mendesak di sepanjang rahangnya, Ghea merasakan sensasi geli yang sangat kuat hingga jari-jarinya melipat di balik seprai. Tubuhnya bergerak secara otomatis, mendekat ke pelukan Arlan yang penuh kepemilikan, mencari rasa hangat lebih dalam dari dada yang lembut namun kuat tersebut.

Di tengah kesunyian kamar itu, hanya terdengar suara halus dari seprai katun dan desahan lembut yang kadang keluar dari bibir Ghea. Sensasi sentuhan Arlan malam ini benar-benar mengambil alih dirinya—membakar semua keraguan, menghilangkan bayangan licik dari Shinta, dan meninggalkan kenyataan bahwa dalam pelukan singa yang dominan ini, Ghea telah sepenuhnya memberikan hatinya.

1
Soleh Mekanik
/Smile/
Heriyansah: Masih lanjut kok kak ceritanya, di tunggu ya. Semoga ga kecewa 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!