NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Rahasia

BAB 13 — Pertemuan Rahasia

Siapa sangka bahwa sebuah larangan justru menjadi pemicu terbesar dari sebuah keinginan.

Semakin dilarang, semakin ingin dilakukan. Semakin ditahan, semakin meledak keluar.

Sejak malam di mana Adrian dengan wajah serius berkata "Jangan jatuh cinta padaku", alih-alih membuat mereka sadar dan menjauh, hubungan mereka justru berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya, jauh lebih panas, dan jauh lebih sulit untuk dilepaskan.

Seolah tembok tinggi yang dibangun Adrian demi melindungi keduanya malah menjadi tantangan tersendiri yang membuat mereka berdua semakin nekat.

Mereka menjadi ahli dalam bersandiwara. Mereka menjadi dua orang aktor terbaik di kampus ini.

Di depan mata dunia, di lorong kampus yang ramai, di dalam kelas yang penuh siswa, di kantin yang bising... mereka adalah dua orang asing.

Adrian tetap menjadi Dr. Adrian Vale yang dingin, tegas, serius, dan tak tersentuh. Suaranya berat, tatapannya tajam, tidak ada senyum sedikitpun.

Alena tetap menjadi mahasiswi yang patuh, sopan, pendiam, dan selalu menjaga jarak aman. Dia tidak pernah berani menatap terlalu lama, tidak pernah berani menyapa lebih dari yang diperlukan.

Tatapan mereka dingin. Percakapan mereka formal dan kaku. Tidak ada sentuhan, tidak ada kedipan mata, tidak ada kode rahasia.

Tapi... tunggu sampai tidak ada yang melihat.

Saat pintu tertutup, saat sudut koridor sepi, saat tirai perpustakaan tertutup rapat, atau saat pintu apartemen terkunci mati... topeng itu langsung jatuh hancur berkeping-keping. Dan yang tersisa hanyalah dua orang manusia yang saling mendambakan dengan dahaga yang tak terpuaskan.

 

📚 Di Sudut Gelap Perpustakaan

"Page 147, paragraph 3. Explain the theory to me clearly."

[Halaman 147, paragraf 3. Jelaskan teorinya padaku dengan jelas.]

Suara Adrian terdengar datar, dingin, dan sangat profesional. Dia duduk bersandar santai di kursi, kakinya disilangkan, wajahnya serius menatap buku di hadapannya. Mereka berada di sudut paling belakang perpustakaan, di antara rak-rak buku tinggi yang membuat mereka tersembunyi dari pandangan orang lain.

Tapi di bawah meja kayu tua itu... situasinya sangat berbeda.

Kaki panjang Adrian melingkar mengunci kaki Alena, tidak membiarkan gadis itu bergerak kemana-mana. Tangannya yang besar dan hangat—yang seolah-olah sedang menunjuk grafik di buku—ternyata diam-diam merayap naik menyusuri betis halus Alena, bergerak perlahan menaiki paha gadis itu di balik rok seragamnya.

"I... I think it's about..."

[Saya... saya rasa itu tentang...]

Alena gagap di tengah kalimat. Napasnya tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak menatap wajah datar pria itu yang seolah tidak terjadi apa-apa, sementara sentuhan di pahanya semakin berani, jari-jarinya bermain nakal, meremas kulit putih mulus itu dengan posesif.

"Kenapa berhenti? Lanjutkan penjelasanmu, Miss Alena." bisik Adrian pelan, tapi matanya tajam menatap lurus ke bibir gadis itu yang tergigit. Tangannya bergerak naik lebih tinggi lagi, menyelinap masuk di antara celah paha, membuat Alena menggeliat kecil di kursi.

"Ahh... mmm..." desis Alena pelan, memejamkan mata sebentar. Kepalanya terasa pusing campur aduk antara rasa takut ketahuan dan sensasi nikmat yang menjalar cepat ke seluruh tubuh. "It's... it's about variable calculation... Sir..."

[Ini... ini tentang perhitungan variabel... Pak...]

"Good girl." Adrian tersenyum miring, senyum licik dan penuh kemenangan. Lalu dengan santai dia menarik tangannya kembali dan menepuk-nepuk lutut Alena pelan. "You may sit down. That's enough for today."

["Anda boleh duduk. Cukup sekian untuk hari ini."]

Alena menghela napas panjang, dadanya naik turun mencoba menetralkan detak jantung yang mau copot. Permainan berbahaya seperti itu menjadi bumbu harian mereka yang membuat darah terasa mendidih.

 

🏠 Di Balik Pintu Tertutup

Namun, puncak dari segalanya tetaplah di apartemen milik Adrian.

Di sana, tidak ada aturan, tidak ada topeng, tidak ada dosen dan murid. Hanya ada Adrian dan Alena. Dua manusia yang saling lapar akan sentuhan dan kehangatan.

Larangan untuk tidak mencinta justru membuat mereka melepaskan segalanya tanpa beban. Tanpa ekspektasi, tanpa janji masa depan, hanya ada "sekarang" dan "kita".

"Ahh... Adrian... lebih keras... lagi..." rintih Alena panjang, tubuhnya melengkung sempurna di atas kasur empuk itu. Cahaya lampu yang redup menerangi kulit putihnya yang memerah karena gairah.

Kamar itu menjadi saksi bisu betapa intensnya hasrat mereka. Adrian yang biasanya tenang dan terkontrol, di ranjang berubah menjadi pria yang liar, dominan, dan tak kenal lelah. Dia mencumbu Alena dengan cara yang membuat gadis itu lupa bagaimana caranya bernapas.

"Rasakan ini... rasakan betapa dalamnya aku masuk..." desah Adrian parau tepat di telinga gadis itu, napasnya panas dan memburu. Tangannya mencengkeram pinggang ramping Alena kuat-kuat, mendorong masuk dengan ritme yang mantap, dalam, dan menghancurkan.

"Ahh! Iya! Gitu Adrian, lebih dalam!"

"Ahhh kau sangat nikmat sayang? Hah?" desah Adrian

"yes... lebih dalam Adrian! Aku milikmu!" teriak Alena tak sanggup lagi menahan suaranya. Rasa nikmat itu luar biasa, memenuhi setiap sudut ruang di dalam dirinya, membuatnya melayang tinggi.

"Bener! Milikku!"

Mereka menghabiskan malam dengan cara yang paling liar dan memuaskan. Ciuman, sentuhan, desahan, dan bisikan-bisikan nakal memenuhi ruangan itu sepanjang malam.

Namun, ketika badai hasrat itu akhirnya mereda, ketika keduanya kelelahan dan terbaring lemah berpelukan di bawah selimut... di saat itulah sesuatu yang lebih berbahaya mulai tumbuh diam-diam.

 

❤️ Lebih Dari Sekadar Hasrat

Alena menyandarkan kepalanya di dada bidang Adrian, mendengar detak jantung pria itu yang berdetak teratur dan menenangkan. Tangan besar pria itu mengusap punggung dan rambutnya dengan lembut, gerakan yang penuh kasih sayang, jauh dari sikap galak dan dominannya tadi.

Di saat-saat sunyi seperti ini, Alena mulai merasakan perubahan besar di dalam hatinya.

Ini bukan lagi sekadar soal kepuasan fisik. Bukan lagi sekadar soal rasa penasaran atau pelarian dari kesepian.

Ada sesuatu yang jauh lebih dalam, jauh lebih hangat, dan jauh lebih menyakitkan.

Setiap kali Adrian menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa sayang yang besar dan rasa takut kehilangan—Alena bisa merasakan getaran aneh di ulu hatinya. Setiap kali Adrian bersikap posesif, setiap kali Adrian memastikan dia makan, setiap kali Adrian memeluknya erat seolah takut dia akan hilang... itu bukan gerakan nafsu belaka.

Itu adalah perhatian. Itu adalah rasa memiliki yang nyata.

"Kenapa lihatin aku terus?" tanya Adrian pelan suatu malam, matanya masih terpejam tapi senyum tipis terbit di bibirnya.

Alena tersenyum kecil, jari-jarinya bermain di atas dada bidang pria itu. "Gak kenapa-napa ... cuma merasa aman aja kalau di sini. Rasanya... tenang."

Adrian membuka matanya, menatap wajah gadis itu dalam kegelapan kamar. Dia tidak menjawab dengan kata-kata, tapi tangannya justru mengeratkan pelukan, menarik tubuh Alena agar semakin menempel padanya, seolah dia juga tidak ingin melepaskan.

Mereka tahu ini salah. Mereka tahu ini rahasia besar yang suatu saat bisa meledak dan menghancurkan karier serta nama baik mereka. Mereka tahu Adrian pernah berkata jangan jatuh cinta.

Tapi nyatanya...

Alena menyadari satu hal yang menyakitkan namun indah. Hubungan ini sudah melewati batas hasrat. Dia tidak hanya menginginkan tubuh Adrian. Dia menginginkan segalanya. Dia menginginkan pria itu seutuhnya.

Dan meski mulut pria itu terus berkata untuk tidak berharap lebih... perlahan tapi pasti, Alena bisa merasakan bahwa Adrian pun mulai terjebak dalam perasaan yang sama.

Cinta yang tumbuh di tengah larangan, justru menjadi cinta yang paling membara dan tak terkalahkan.

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!