NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Es Krim Vanila dan Mode Siaga Satu

Langkah kaki Rama terasa berat dan kaku saat ia berjalan menyusuri koridor kembali menuju kelas. Kertas stiker berlogo kobra yang diremasnya kini bersembunyi aman di dalam saku celananya, tapi efek terornya menyebar ke seluruh aliran darah layaknya racun sungguhan. Setiap kali berpapasan dengan murid laki-laki, tatapan Rama berubah menjadi alat scanner. Ia memindai wajah mereka satu per satu.

Apakah cowok culun dari kelas sebelah ini mata-mata Tora? Apakah kakak kelas yang sering nongkrong di kantin itu anggota Kobra Besi yang menyamar? Atau jangan-jangan, salah satu tukang kebun sekolah yang disuap untuk membongkar lokernya?

"Ram! Woy, elah, dipanggil dari tadi malah bengong jalan terus kayak zombi," tegur Dika yang tiba-tiba menepuk pundaknya saat Rama baru saja melangkah masuk ke kelas XII IPA 1.

Rama tersentak pelan, buru-buru menguasai diri. "Apaan sih? Gue lagi fokus mikirin rumus kimia."

Dika mencibir. "Fokus mikirin rumus apa mikirin naskah drama bareng yayang Nayla? Muka lo tegang amat. Udah mau bel pulang nih, lo jadi kan minjemin gue catatan sejarah yang kemarin?"

"Ambil aja di tas gue," jawab Rama singkat, langsung duduk di bangkunya dan membuang pandangan ke luar jendela.

Sepanjang sisa jam pelajaran terakhir, Rama sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya terus memutar skenario terburuk. Tora adalah pengecut licik yang lebih suka menyerang dari titik buta. Kalau loker Rama bisa dibobol dengan mudah, berarti si penyusup punya akses bebas di SMA Taruna Citra. Rama mengertakkan gigi. Tempat yang selama ini menjadi suaka paling aman untuk menyembunyikan identitas gandanya kini telah ternoda.

Teng! Teng! Teng!

Begitu bel tanda berakhirnya sekolah berbunyi, Rama tidak melakukan rutinitas merapikan bukunya dengan presisi seperti biasa. Ia meraup semua alat tulisnya, memasukkannya ke dalam tas secara asal, dan langsung berdiri.

"Gue duluan," pamitnya pada Dika yang masih melongo melihat kecepatan tangan si anak teladan.

Dengan langkah setengah berlari, Rama membelah lautan siswa yang berhamburan menuju gerbang. Matanya terus bergerak liar, memantau keadaan. Sesampainya di area parkiran yang mulai padat, napasnya sedikit tertahan saat melihat siluet gadis berjilbab ungu sedang berdiri bersandar santai di samping motor sport hitamnya.

Nayla sedang sibuk memainkan ponsel, tapi begitu mendengar langkah tergesa Rama, ia mendongak.

"Lama banget sih lo, Bos. Katanya mau traktir es krim. Keburu meleleh nih niat gue," gerutu Nayla, memasukkan ponselnya ke dalam saku rok.

Namun, omelan itu terhenti saat Nayla melihat raut wajah Rama. Cowok itu memucat, rahangnya mengatup rapat, dan matanya memancarkan aura waspada tingkat tinggi yang biasanya hanya Nayla lihat saat mereka berada di jalanan gelap malam itu.

Rama tidak menjawab omelan Nayla. Ia langsung meraih lengan sweter gadis itu, menariknya sedikit mendekat ke arah motor. "Naik. Sekarang."

"Santai dong, ngegas amat. Lo kebelet atau gimana?" protes Nayla kebingungan, namun ia tetap menurut dan meraih helm bogo hitam yang disodorkan Rama.

Sepanjang perjalanan meninggalkan area Wana Asri menuju pusat perbelanjaan Yogyakerto, Rama mengemudikan motornya dengan gaya yang sangat berbeda. Ia tidak melaju dengan kecepatan ekstrem, tapi manuvernya tajam. Matanya terus-menerus melirik ke kaca spion, memastikan tidak ada motor ber-cc besar atau mobil mencurigakan yang membuntuti mereka. Setiap kali ada motor berwarna merah yang mendekat, otot punggung Rama langsung menegang.

Nayla yang duduk di belakangnya bisa merasakan ketegangan itu dengan sangat jelas. Biasanya Rama akan membalas setiap ledekannya saat di atas motor, tapi kali ini cowok itu diam seribu bahasa, fokus sepenuhnya pada jalanan.

Mereka tiba di Creamy Clouds, sebuah kedai es krim mahal di pusat kota yang selalu ramai oleh anak-anak muda. Rama sengaja memilih tempat yang terang benderang, ramai pengunjung, dan memiliki CCTV di setiap sudutnya. Ia menarik kursi di pojok ruangan yang posisinya menghadap langsung ke arah pintu masuk, sebuah posisi strategis yang memungkinkannya memantau siapa saja yang datang dan pergi.

"Dua sundae cokelat porsi besar, ekstra kacang almond," pesan Nayla pada pelayan, lalu beralih menatap Rama yang masih belum melepaskan jaket kulitnya. "Lo mau nambah pesanan apa? Mumpung lo yang bayar."

"Kopi hitam. Esnya dikit," jawab Rama datar tanpa melihat buku menu.

Begitu pelayan pergi, Nayla melipat kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke depan, dan menatap Rama dengan tatapan mengintimidasi andalannya.

"Oke, Babu. Waktunya laporan. Lo kenapa dari tadi kayak orang kesetanan? Mata lo jelalatan ke sana-sini kayak buronan yang lagi diincar intel. Ada masalah apa lagi di dunia gelap lo itu?" tembak Nayla tepat sasaran.

Rama menghela napas panjang. Ia menatap Nayla, mempertimbangkan apakah ia harus memberitahu gadis ini atau menyimpannya sendiri. Tapi mengingat sifat Nayla yang keras kepala dan fakta bahwa keselamatan gadis ini sedang dipertaruhkan, Rama akhirnya mengalah.

Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan gumpalan kertas stiker yang sudah lecek, dan meletakkannya di atas meja.

Nayla mengerutkan kening, mengambil kertas itu, dan meratakannya. Matanya memicing melihat logo ular kobra merah yang tercetak di sana, lalu membaliknya dan membaca tulisan tangan yang digoreskan dengan spidol.

"Kobra Besi? Geng musuh bebuyutan lo itu?" tebak Nayla, seketika paham. "Mereka ngirim ini ke lo? Kapan?"

"Tadi siang. Di dalam loker sekolah gue," jawab Rama pelan, suaranya terdengar sangat berat. "Loker gue dikunci rapat pakai gembok kombinasi, Nay. Nggak ada yang tahu kodenya selain gue. Tapi stiker ini bisa masuk dan ditaruh tepat di atas tumpukan buku gue."

Mata bulat Nayla sedikit melebar. "Maksud lo... ada anak buah musuh lo yang nyusup ke SMA Taruna Citra?"

"Itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal," Rama mencondongkan tubuhnya, menatap Nayla dengan sorot mata penuh permohonan yang jarang sekali ia tunjukkan. "Identitas gue di sekolah udah bocor. Mereka tahu siapa gue, mereka tahu di mana gue belajar, dan yang paling gue takutin... mereka pasti udah mantau siapa aja orang yang sering interaksi sama gue akhir-akhir ini."

Rama menjeda kalimatnya, menelan ludah dengan susah payah. "Mereka tahu soal elo, Nay."

Keheningan melanda meja mereka. Suara tawa pengunjung lain dan alunan musik pop dari speaker kedai terasa menguap begitu saja. Rama bersiap melihat reaksi panik, ketakutan, atau mungkin kemarahan dari Nayla. Ia sudah menyiapkan diri kalau gadis ini akhirnya menyerah dan meminta untuk menjauh darinya demi keselamatan nyawanya sendiri.

Namun, Nayla adalah anomali terbesar dalam hidup Rama.

Alih-alih menangis ketakutan seperti saat diganggu preman semalam, Nayla justru bersandar santai di kursinya. Gadis itu menatap stiker kobra tersebut, lalu memutar-mutarnya di jari dengan raut wajah berpikir.

"Wah... ini sih persis kayak plot drama yang baru aja kita bahas di perpustakaan tadi. Gila, timing-nya pas banget buat riset pendalaman karakter," gumam Nayla santai, bahkan bibirnya melengkungkan senyum tipis yang penuh intrik.

Rahang Rama seakan jatuh ke meja. "Nayla! Lo sadar nggak sih ini bukan novel fiksi yang sering lo baca?! Ini dunia nyata! Orang-orang ini bahaya, mereka bawa senjata tajam, mereka bisa aja nyelakain lo pas lo lagi jalan sendirian ke halte!"

"Ya gue tahu ini bahaya, Rama," sahut Nayla cepat, kali ini menatap cowok itu dengan serius. "Terus lo ngarepin gue bereaksi kayak gimana? Nangis bombay minta pulang? Ketakutan terus pindah sekolah lagi? Nggak akan."

Pelayan datang membawa pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi, Nayla menyendok es krim cokelatnya dan memakannya dengan nikmat, seolah ancaman pembunuhan dari geng motor adalah hal yang biasa ia hadapi setiap hari saat sarapan.

"Denger ya," lanjut Nayla sambil menunjuk Rama menggunakan sendoknya. "Kalau mereka emang udah tahu identitas lo di sekolah, panik dan ketakutan itu cuma bakal bikin lo gampang diserang. Kita harus cari tahu siapa mata-mata itu sebelum dia bertindak lebih jauh."

"Kita? Nggak ada kata 'kita' di sini," potong Rama tajam. "Lo tetap di luar urusan ini. Mulai besok, lo berangkat dan pulang bareng gue. Kalau gue lagi ada ekskul, lo tunggu di perpustakaan, jangan ke mana-mana sendirian. Lo juga nggak usah ikut campur nyari tahu siapa pelakunya. Biar Galang dan anak-anak The Ghost yang nyisir area sekitar sekolah."

Nayla mendecih pelan. "Posesif banget sih, Bos. Emangnya lo siapa gue berani ngatur-ngatur jadwal hidup gue?"

Meski terdengar seperti protes, ada rona merah tipis yang menyapu pipi gadis itu. Rama yang menyadari ucapannya terdengar terlalu protektif langsung salah tingkah, buru-buru meminum kopi hitamnya untuk menutupi kecanggungan, dan langsung meringis saat rasa pahit kopi tanpa gula itu menghantam lidahnya.

"Gue... gue cuma nggak mau lo kenapa-napa gara-gara kebodohan gue," gumam Rama, memalingkan wajahnya menatap jalanan di luar jendela kaca. "Dan gue ini bos lo, atau babu lo... terserah lo nyebutnya apa. Yang jelas, keamanan lo sekarang jadi tanggung jawab gue."

Nayla tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat tulus dan menghangatkan hati. Ia menggeser mangkuk sundae keduanya yang belum tersentuh ke hadapan Rama.

"Makan tuh es krim. Kopi lo kepahitan kan? Muka lo kayak orang nelan paku," ledek Nayla ringan, mencoba mencairkan suasana yang terlalu tegang. "Tenang aja, Ram. Selama lo masih berutang nyariin kelanjutan naskah drama kita, gue nggak bakal mati konyol kok di tangan preman cap kobra itu."

Rama menghela napas, akhirnya ikut mengambil sendok dan memakan es krim tersebut. Sensasi manis dan dingin perlahan meredakan amarah yang sedari tadi membakar kepalanya. Duduk berhadapan dengan Nayla di kedai es krim ini, mendengarkan celotehan tak masuk akalnya, entah bagaimana berhasil memberikannya kekuatan baru.

"Tapi janji satu hal sama gue, Nay," ucap Rama pelan setelah beberapa saat terdiam.

"Apa?"

"Kalau lo lihat ada orang mencurigakan di sekolah, entah itu murid, guru, atau siapa pun yang nanyain hal-hal aneh soal gue... lo langsung lari dan kasih tahu gue. Jangan pernah coba-coba jadi pahlawan kesiangan."

Nayla menatap keseriusan di mata Rama, lalu mengangguk pelan. "Janji."

Sore itu, di tengah ramainya pengunjung kedai Creamy Clouds, kesepakatan tanpa suara terjalin di antara mereka. Rama tahu, pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ia tidak lagi hanya bertarung demi harga diri geng motornya di atas aspal lintasan malam. Kini, ia bertarung untuk melindungi satu-satunya alasan yang membuatnya merasa benar-benar hidup. Dan demi gadis berjilbab ungu di depannya ini, Rama bersumpah akan menghancurkan siapa pun yang berani menyentuhnya, bahkan jika ia harus membakar seluruh reputasi anak emasnya menjadi abu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!