NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Cemburu

BAB 11 — Rasa Cemburu

Malam itu, seperti janji yang dibuat sejak pagi, Alena datang ke apartemen Adrian. Tapi bedanya, kali ini tidak ada senyum, tidak ada sapaan manis, dan tidak ada pelukan hangat.

Alena masuk dengan wajah datar, langkah kaku, dan tatapan yang sama sekali tidak mau menatap mata pria di depannya. Dia meletakkan tasnya sembarangan di sofa, lalu duduk di ujung yang paling jauh, memeluk lututnya sendiri dengan posesif.

Adrian yang baru saja menuangkan dua gelas wine, menghentikan gerakannya. Dia menatap punggung gadis itu yang terlihat kaku dan dingin. Dia tahu penyebabnya. Dia tahu Alena pasti masih kepikiran soal Sophia tadi siang.

"Minumlah," ucap Adrian pelan, meletakkan gelas di meja kopi, tidak terlalu dekat dengan Alena.

Alena tidak menjawab. Dia tidak menyentuh gelas itu. Dia hanya menatap lantai dengan pandangan kosong.

Suasana jadi hening, tapi bukan hening yang damai. Ini adalah hening yang penuh tekanan, penuh amarah yang tertahan, dan penuh kesedihan.

"Alena," panggil Adrian lembut, mencoba mendekat. "Aku tahu kau marah. Tapi tolong dengar penjelasanku dulu."

"Apa yang perlu didengar?" sahut Alena tiba-tiba, suaranya dingin dan datar. Dia masih tidak menoleh. "Bahwa Bapak punya mantan tunangan yang cantik, kaya, dan sempurna? Bahwa kalian cocok sekali? Bahwa kalian masih sangat akrab sampai berpelukan di depan umum? Itu semua sudah jelas kok, Pak. Tidak perlu dijelaskan lagi."

Panggilan 'Pak' itu menusuk telinga Adrian. Sangat menusuk. Itu adalah jarak yang sengaja dibuat Alena untuk menjauhkannya.

"Itu masa lalu, Len. Masa lalu!" balas Adrian mulai kehilangan kesabaran, suaranya meninggi sedikit. "Sophia sudah menjadi bagian dari sejarah hidupku. Sekarang tidak ada apa-apa di antara kami. Dia cuma datang berkunjung sebentar, itu saja."

"Berkunjung sampai bisa memeluk seenaknya? Sampai bisa bicara seenaknya seolah dia masih punya hak?" Alena akhirnya menoleh, matanya memancarkan luka dan amarah. "Dia cantik, Adrian. Dia setara dengan Bapak. Aku cuma mahasiswi yang kebetulan ada di jalan hidup Bapak. Wajar kalau kalian terlihat begitu... pas."

Kalimat terakhir itu keluar dengan nada getir yang menyakitkan.

Adrian menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri yang sebenarnya juga sudah di ujung tanduk. Dia maju selangkah lagi, ingin menyentuh bahu gadis itu, tapi Alena refleks mundur menghindar.

Gerakan itu membuat Adrian terpaku. Dan entah kenapa, rasa marah di dada Adrian justru berubah arah. Bukan marah karena Alena membantah, tapi marah karena... dia tidak suka melihat gadisnya menjauh.

 

Keesokan harinya di kampus, suasana semakin memanas.

Alena berusaha bersikap seprofesional mungkin, tapi caranya berbeda. Dia berusaha terlihat bahagia, berusaha terlihat sibuk, dan yang paling parah... dia berusaha mendekatkan diri dengan orang lain.

Saat jam istirahat, di kantin kampus yang ramai, Adrian yang sedang duduk bersama rekan dosen lain, matanya tak sengaja menangkap pemandangan yang membuat darahnya langsung mendidih.

Di meja tak jauh dari sana, Alena tertawa lebar. Tawa yang ceria, tawa yang seharusnya hanya dia yang bisa dengar.

Dan siapa yang membuatnya tertawa?

Seorang pria. Mahasiswa tahun kedua yang dikenal cukup populer dan tampan. Pria itu duduk sangat dekat dengan Alena, bahkan tangannya dengan santai menyenggol bahu Alena saat mengucapkan sesuatu yang lucu. Alena malah memukul pelan lengan pria itu dengan manja, matanya berbinar-binar.

Rahang Adrian mengeras seketika. Otot-otot di rahangnya bergerak-gerak menahan amarah yang meledak-ledak.

Dia berani-beraninya menyentuhnya? Dia berani membuatnya tertawa seperti itu?

Rasa posesif dan ego pria itu hancur lebur. Dia tidak peduli lagi dia adalah Dr. Vale yang tenang dan bijaksana. Saat ini dia hanyalah seorang pria yang melihat wanitanya akrab dengan laki-laki lain.

Tanpa mempedulikan rekan kerjanya, Adrian berdiri tegak. Tatapannya tajam membara.

 

Bel masuk berbunyi. Mahasiswa berhamburan masuk ke kelas masing-masing.

Alena berjalan menyusuri koridor, masih tersenyum kecil mengingat obrolan seru barusan. Dia memang sengaja melakukan itu. Dia ingin Adrian melihat. Dia ingin Adrian tahu rasanya dicemburui, rasanya dikhianati perhatian.

Tapi baru saja dia berbelok menuju lorong kelas, sebuah tangan kuat tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya kasar!

"Ahh!" Alena terkejut, belum sempat dia berteriak, tubuhnya sudah diseret masuk ke dalam sebuah ruangan kosong yang gelap dan berdebu. Ruang penyimpanan barang.

Pintu ditutup keras dan dikunci dari dalam.

Klik.

Sebelum Alena sempat sadar, tubuhnya sudah didorong hingga menempel rapat ke pintu kayu yang dingin itu. Dua tangan kokoh menjepit kepalanya, membuatnya tidak bisa bergerak kemana-mana.

Di depannya, hanya ada wajah Adrian yang gelap dan menakutkan. Matanya menyala-nyala penuh amarah. Napasnya memburu kencang.

"Berani sekali kau ya..." desis Adrian pelan, suaranya rendah dan bergetar menahan emosi. "Berani sekali kau main mata dengan pria lain di depanku."

"Saya tidak main mata!" bantah Alena memberanikan diri, meski jantungnya berdegup kencang ketakutan sekaligus... bersemangat. "Itu teman saya! Beda sama Bapak yang bebas dipeluk mantan tunangan sendiri!"

"DIAM!" bentak Adrian, tapi suaranya tertahan agar tidak terdengar keluar.

Dan tanpa peringatan, tanpa memberi kesempatan Alena untuk bicara lagi...

Adrian menundukkan wajahnya dan menyambar bibir Alena dengan kasar.

Ciuman marah.

Bukan ciuman lembut, bukan ciuman manis. Ini ciuman yang penuh tuntutan, penuh rasa cemburu, dan penuh rasa marah yang meledak.

"Mmmghh!!" Alena meronta pelan di awal, tangannya mendorong dada pria itu, tapi Adrian tidak membiarkannya pergi. Dia memegang kedua pergelangan tangan Alena dan menahannya kuat-kuat di atas kepala gadis itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencengkeram pinggang ramping itu dengan posesif.

Ciuman mereka bergulat. Lidah mereka bertarung, memperebutkan dominasi, memuntahkan semua rasa kesal, semua rasa rindu, dan semua rasa cemburu yang tertumpuk.

"Ahh..." desis Alena tak sadar saat Adrian mulai mengecupnya turun ke rahang, lalu ke leher dengan gigitan-gigitan kecil yang menyakitkan namun nikmat.

"Siapa dia? Siapa pria brengsek itu tadi?!" desis Adrian di leher gadis itu, suaranya serak dan panas.

"T-te-teman..." rintih Alena, kepalanya terlempar ke belakang memberi akses lebih luas.

"Jangan pernah biarkan dia menyentuhmu lagi! Jangan pernah biarkan dia membuatmu tertawa seperti itu!" Adrian mendongak, menatap mata Alena dalam gelap. Napas mereka memburu bercampur menjadi satu.

Wajah mereka sangat dekat, bisa merasakan panasnya napas masing-masing.

Adrian melepaskan tangan Alena, tapi segera menggantinya dengan mencengkeram dagu gadis itu agar tetap menatap dirinya. Dengan suara berat dan tegas yang penuh otoritas, dia berbisik tepat di bibir gadis itu.

"Aku tidak suka pria lain menyentuhmu..."

Jari-jarinya mengusap bibir Alena yang kini memerah dan bengkak karena ciumannya tadi.

"...kau milikku. Tubuhmu, hatimu, senyummu, semuanya milikku. Hanya aku yang berhak menyentuhmu. Hanya aku yang berhak melihatmu bahagia. Mengerti?!"

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!