Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjual
"500 juta dolar!"
Rayga mengangkat tangannya dan berucap santai, tetapi berhasil membuat langkah kaki Regan berhenti di tempat.
Nominal yang dia sebutkan seolah tidak ada artinya dan tidak akan membuat kekayaannya menyusut, sehingga ketika dia menyebutkan nominalnya, tidak ada terlihat rasa keberatan dari gurat wajah seorang Rayga.
"What the fuck!" geram Regan terpancing emosi.
Regan menoleh ke belakang, tepatnya ke arah sumber suara.
Di sana Rayga menaikkan sebelah alisnya menatap pada Regan yang marah padanya.
Wajah Regan merah padam, tangannya mengepal erat.
Bahkan gemeretak gigi berdecit membentuk rahang yang menyembul.
Dia merasa dipermalukan oleh Rayga di depan banyak rekannya.
"Apa maksud Anda Tuan Rayga? Beginikah jiwa seorang pebisnis?" Tatapannya tajam, seolah ingin menerkam Rayga saat itu juga.
"Apakah ada yang salah dengan penawaran saya?" tanya Rayga menyipitkan matanya.
"Permainan Anda terlalu kasar dan licik!" teriak Regan marah.
Rayga tertawa keras, bahkan suaranya sampai menggema di dalam ruangan itu.
Suasana jadi hening.
Mana ada yang berani angkat bicara apalagi ikut campur, karena yang tengah adu argumen sengit saat ini adalah duo singa pembisnis terkemuka.
Sama-sama punya pengaruh besar di kawasan Eropa.
"Anda jangan seperti anak kecil Tuan Regan! Bukankah tadi pembawa acaranya belum memutuskan harga final saat Anda maju ke depan, lalu kenapa Anda marah saat saya memberikan harga sesuai kemampuan saya?" Rayga menyeringai, dia membalas apa yang tadi dilakukan Regan padanya.
Sejak awal masuk ruangan lelang, Regan selalu berusaha mematahkan semangat Rayga dan menginjak harga dirinya.
Kini kondisi seolah telah terbalik.
Regan dan Rayga saling tatap dengan sorot mata tajam, sedangkan Aurellia menegakkan wajahnya yang sedari tadi terus menunduk.
Dia ingin mengintip siapa pria yang telah membelinya dengan harga fantastis.
"Apakah itu orang yang tadi? " Aurellia mengucek matanya beberapa kali, mencoba untuk meyakinkan kalau penglihatannya tidak salah.
Entah kenapa, Aurellia seolah sangat yakin pria itu bisa membantunya untuk keluar dari takdir buruk yang baru saja dia terima.
Makanya saat diseret masuk ke dalam rumah bordil yang kini telah melelangnya, Aurellia memohon pertolongan pada Rayga yang sebetulnya tidak dia kenal.
"Terima kasih, Tuan, Akhirnya Anda datang," lirih Aurellia.
Air mata Aurellia jatuh berderai.
Walau dia tidak tahu bagaimana nasibnya ke depan di tangan Rayga.
Namun, ada keyakinan di hatinya, kalau dia bersama Rayga pasti tidak akan menjalani kehidupan pahit seperti dengan orang lain.
"Selesaikan pembayarannya!" titah Rayga pada Xander, sedangkan Regan langsung pergi meninggalkan ruangan lelang.
"Baik, Bos. Dilaksanakan sesuai perintah," jawab Xander, setelah itu Xander berlalu pergi menemui Mami Dora sebagai pemilik rumah bordil yang melelang Aurellia.
Sedangkan Rayga mengayunkan kakinya melangkah dengan gagah.
Tatapannya yang misterius, wajahnya yang cool dan postur tubuh begitu profesional membuat dia terlihat begitu sempurna.
Apalagi langkah kakinya yang kokoh, memberi suatu getaran spesial bagi kaum hawa yang melihatnya.
"Ikut saya." Rayga menarik tangan Aurellia, sedangkan Aurellia langsung mengikutinya tanpa ada penolakan sama sekali.
Rayga membawa Aurellia ke arah parkir eksklusif.
Di sana terparkir sebuah mobil sangat mencolok dengan warna hitam metalik yang begitu mewah.
"Masuk," titah Rayga setelah membukakan pintu mobil untuk Aurellia.
Keringat dingin Aurellia keluar tanpa diundang, ia keluar dari pori-pori kulit Aurellia bukan atas dasar rasa takut, melainkan karena mobil yang hendak Aurellia masuki terlalu elit untuk seorang Aurellia yang bukan siapa-siapa, dan dia merasa tidak pantas untuk menjadi penumpang mobil mewah jenis Rolls-Royce tersebut.
Makanya keringat dingin mengucur tanpa diminta.
"Masuk," ulang Rayga.
"Ba-baik, Tuan," jawab Aurellia melangkah masuk ke dalam mobil mewah milik Rayga.
Aurellia pernah berselancar di situs brand Rolls-Royce, makanya dia begitu terpana dan merasa tidak pantas masuk ke dalam mobil milik Rayga, karena Aurellia tahu harga mobil tersebut yang sangat fantastis.
Harga mendekati 20 juta dolar, tentu nominal yang sangat luar biasa dan sulit untuk dibayangkan seseorang dengan kehidupan sosial di bawah
rata-rata.
"Kira-kira, pekerjaan orang ini apa, ya? Dia bisa membeli mobil sangat mahal, tadi dia juga membeli aku dari rumah bordil dengan harga jauh lebih mahal. Jangan-jangan, dia .." Aurellia menoleh pada Rayga yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, rasa ragu dan prasangka buruk mulai menyeruak dalam pikiran Aurellia.
"Jangan memandangku seperti itu!"
Rayga berkata tanpa menoleh pada Aurellia.
Nada suaranya yang datar dan penuh penekanan, jelas membuat bulu kuduk Aurellia berdiri.
"Maaf, Tuan," ucap Aurellia kembali menarik pandangannya lurus ke depan, menatap jalanan yang dilintasi oleh mobil mahal Rayga.
Hampir setengah jam perjalanan mereka tempuh dengan saling diam, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Rayga memasuki halaman sebuah rumah mewah dan elit.
Halaman luas dan beberapa pilar di depannya menjulang tinggi.
Rumah itu bagai istana yang megah di dunia fiksi.
Warna putih bercampur gold menambah kesan mewahnya.
Rayga turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil di samping Aurellia.
Sekarang tanpa Rayga bersuara, Aurellia sudah paham perintah dari pria itu.
Aurellia keluar dari mobil, lalu berjalan mengikuti langkah Rayga dari belakang.
"Selamat malam, Tuan Muda," sapa beberapa orang pelayan menyambut kedatangan Rayga.
"Bersihkan kamarku dan kamar di sebelahnya," titah Rayga tanpa menyebutkan nama orang yang dia beri perintah.
"Kamar itu selalu dibersihkan setiap hari, Tuan. Beberapa menit yang lalu kami baru saja menyelesaikan pekerjaan di sana," jawab salah satu di antara mereka.
"Okay." Rayga kembali melanjutkan langkahnya, begitu juga dengan Aurellia, dia juga kembali ikut berjalan mengikuti Rayga.
Telah lama Rayga tidak pulang ke rumah itu, sekarang dia kembali membawa seorang perempuan.
Padahal dia tidak pulang ke rumah mewah itu karena menyimpan benci dan dendam pada kaum perempuan yang dia anggap sebagai iblis.
"Itu kamarku." Tunjuk Rayga pada kamar yang berada di ujung sana.
Lalu beralih menunjuk kamar yang ada di depan mereka.
"Dan ini kamar yang akan kamu tempati. Bersihkan dirimu, aku tidak mau menemui sedikit pun noda di tubuhmu!"
Setelah berkata seperti itu, Rayga mengayunkan kakinya menuju kamar yang tadi dia tunjuk.
Sedangkan Aurellia menatap punggung pria itu dengan berbagai pertanyaan yang membuncah.
"Membersihkan tubuhku? Dia tidak mau menemui ada noda ditubuhku? Apa itu artinya ..." Aurellia mencerna setiap kata yang tadi diucapkan oleh Rayga.
Beberapa saat Aurellia terdiam di depan pintu kamar yang diperuntukkan Rayga untuk dia tempati.
"Apa dia akan berbuat sesuatu yang buruk padaku?" Pikiran Aurellia langsung membayangkan hal buruk yang akan terjadi padanya.
Jika seorang pria berbicara seperti itu, sudah pasti hal itu akan mengarah pada hubungan terlarang.
Begitu lah pikiran Aurellia saat ini.
"Ya Tuhan, dosa apa di masa lalu yang harus aku tebus hari ini dengan rasa yang begitu pahit." Air mata Aurellia menetes melewati pipinya, sayatan lara membentuk luka teramat perih di hatinya.