NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Getaran Kayu Cendana

Setelah kepergian Herman dan SUV hitamnya, suasana di depan gerbang Pesantren Al-Huda kembali sunyi. Namun, bagi Faris, kesunyian itu terasa berbeda. Tangannya masih menggenggam tasbih kayu cendana di dalam saku kokonya. Tasbih itu terasa hangat, bahkan cenderung panas.

"Mas Faris, itu tadi siapa? Kok kayaknya dendam banget sama sampeyan?" tanya Jono sambil menyandarkan sapu lidinya ke tembok.

Faris tidak langsung menjawab. Ia menatap telapak tangannya yang memerah karena memegang tasbih tadi. "Orang masa lalu, Jon. Masa lalu yang nggak mau dikubur."

"Tapi beneran lho Mas, pas sampeyan pegang tasbih tadi, itu si Herman mukanya pucat kayak lihat hantu. Padahal sampeyan cuma diam aja," celetuk anak buah Jono yang lain.

Faris hanya mengangguk kecil. Ia menyuruh teman-temannya kembali ke asrama untuk istirahat. Namun, langkah Faris tidak menuju asrama, melainkan kembali ke kediaman Kyai Ahmad. Ia butuh penjelasan lebih lanjut soal "Warisan Panglima Perang" ini.

Di teras rumahnya, Kyai Ahmad ternyata masih menunggu sambil menyeruput kopi hitam. Seolah beliau sudah tahu kalau Faris akan kembali dengan segudang pertanyaan.

"Sudah pergi tamu tak diundangnya, Le?" tanya Kyai Ahmad tanpa menoleh.

"Sampun, Mbah. Tapi... ada yang aneh. Kenapa tasbih ini jadi panas pas saya berhadapan sama Herman tadi? Dan kenapa Herman kayak ketakutan, padahal saya nggak ngapa-ngapain?" Faris duduk bersila di depan Kyai dengan penuh rasa ingin tahu.

Kyai Ahmad meletakkan cangkir kopinya. Beliau menatap Faris dalam-dalam. "Itu namanya Wibawa Karomah, Faris. Tasbih itu bukan cuma kayu, tapi saksi bisu dzikir ayahmu selama puluhan tahun menjaga tanah ini. Ayahmu bukan panglima yang menang pakai otot, tapi pakai batin."

Faris terdiam. Selama ini dia bangga dengan julukan "Panglima Terminal" karena kekuatan pukulannya. Ternyata, dia belum ada apa-apanya dibanding sosok ayahnya yang tenang namun mematikan bagi lawan-lawannya.

"Herman itu bukan musuh terberatmu, Faris. Dia cuma kaki tangan dari seseorang yang lebih besar. Seseorang yang sejak dulu ingin menguasai pesantren ini karena ada 'sesuatu' yang tertanam di bawah tanah Al-Huda," lanjut Kyai Ahmad dengan nada serius.

Tiba-tiba, suara teriakan histeris terdengar dari arah gedung santriwati. "Tolong! Kebakaran! Kebakaran!"

Faris langsung berdiri tegak. Di kejauhan, terlihat kobaran api mulai merambat di bagian gudang belakang pesantren. Bukan kebakaran biasa, karena api itu berwarna biru keunguan dan merambat sangat cepat.

"Ini bukan api biasa, Mbah!" teriak Faris.

"Gunakan tasbihmu, Faris! Lari ke sana, niatkan untuk melindungi! Jangan biarkan amarahmu meledak, tetap tenang!" perintah Kyai Ahmad dengan tegas.

Faris berlari sekencang kilat. Sarung yang ia pakai tidak menghalangi kecepatannya. Saat sampai di depan api yang berkobar, Faris mengeluarkan tasbihnya. Ia tidak tahu harus melakukan apa, maka ia hanya mengikuti instingnya: ia mengepalkan tasbih itu dan menghantamkan tinjunya ke arah angin di depan api sambil berteriak.

"ALLAHU AKBAR!"

Seketika, sebuah gelombang angin dingin terpancar dari kepalan tangan Faris. Api biru itu seperti tertekan oleh kekuatan raib dan padam seketika, menyisakan asap tipis yang berbau wangi cendana.

Faris terengah-engah. Ia menatap tasbihnya yang kini bersinar redup. Di balik kegelapan pohon bambu di belakang gudang, ia melihat sekelebat bayangan hitam yang langsung menghilang.

"Siapa pun kamu, kamu salah cari lawan," gumam Faris dengan suara rendah yang menggetarkan udara sekitar. Sang Panglima telah benar-benar bangkit, bukan lagi sebagai preman, tapi sebagai Sang Penjaga.

Asap sisa api biru itu masih berbau wangi cendana saat Faris berdiri mematung di depan gudang. Namun, matanya yang setajam elang tidak lepas dari bayangan hitam yang melesat di balik rimbunnya hutan bambu belakang pesantren. Tanpa pikir panjang, Faris langsung melompat melewati pagar pembatas.

"Mas Faris! Tunggu Mas! Jangan main selonong dewe!" teriak Jono yang baru saja sampai di lokasi dengan nafas terengah-engah.

Jono tidak sendirian. Di belakangnya, Brewok dan tiga mantan anggota geng motor lainnya ikut berlari. Mereka masih memakai sarung, tapi tangan mereka sudah memegang apa saja yang bisa dijadikan senjata: ada yang bawa bambu runcing, ada yang bawa gayung sisa wudhu, bahkan Brewok cuma bawa sandal jepitnya sendiri.

"He, Jon! Mas Faris kemana?" tanya Brewok sambil mengatur nafasnya yang senin-kamis.

"Ke hutan bambu! Ayo susul, jangan sampai Bos kita dikeroyok setan!" jawab Jono mantap. Mereka pun nekat masuk ke kegelapan hutan bambu yang terkenal angker oleh warga Gedangan itu.

Sementara itu, jauh di dalam hutan, Faris terus mengejar bayangan tersebut. Langkah kakinya sangat ringan, seolah-olah tanah yang ia injak memberikan dorongan ekstra. Setiap kali bayangan itu mencoba menghilang, tasbih di saku Faris berdenyut hangat, memberi petunjuk arah.

"Berhenti kamu!" bentak Faris. Suaranya menggelegar, membuat burung-burung malam beterbangan ketakutan.

Bayangan itu akhirnya berhenti di sebuah area terbuka yang dikelilingi pohon pring petuk. Sosok itu berbalik. Ternyata seorang pria bertopeng kuno dengan jubah hitam yang compang-camping. Di tangannya, ia memegang sebuah botol kecil yang masih mengeluarkan sisa asap biru.

"Faris Arjuna... Panglima Terminal yang sekarang jadi pelayan Kyai," ucap sosok itu dengan suara parau yang berlapis-lapis, seperti suara banyak orang. "Kamu pikir tasbih itu cukup untuk melindungi tempat ini?"

"Siapa yang menyuruhmu? Herman?" tanya Faris dingin. Ia memasang kuda-kuda tempur, namun tubuhnya terasa lebih stabil, tidak goyah sedikit pun.

"Herman hanyalah debu. Kami menginginkan apa yang tertanam di bawah pondasi masjidmu!" Sosok bertopeng itu langsung melesat maju, telapak tangannya mengeluarkan asap hitam yang berbau busuk bangkai.

Faris dengan sigap menangkis. Benturan tangan mereka menciptakan suara ledakan kecil yang membuat pohon bambu di sekitar mereka melengkung. Faris merasakan tekanan yang luar biasa besar, tapi anehnya, setiap kali asap hitam itu hendak menyentuh kulitnya, cahaya redup dari tasbihnya membentuk perisai transparan.

"Kurang ajar!" teriak sosok bertopeng itu saat serangannya mental terus.

Tiba-tiba, terdengar suara gaduh dari semak-semak. "SERBUUUU! DEMI SANTRIWATI! DEMI TEMPE HANGAT!"

Jono, Brewok, dan kawan-kawannya muncul dengan gaya yang sangat acak-acakan. Jono langsung melempar sapu lidinya ke arah si topeng, sementara Brewok melempar sandal jepitnya dengan kekuatan penuh.

"Woi, Setan! Jangan ganggu Bos kami!" teriak Brewok. Sandal jepitnya melayang indah dan... PLAK! Tepat mengenai topeng kayu sosok misterius itu.

Suasana tegang mendadak jadi canggung. Sosok bertopeng itu diam mematung, seolah-olah tidak percaya kalau harga dirinya sebagai penyihir hitam baru saja dijatuhkan oleh sebuah sandal jepit Swallow yang sudah tipis sebelah.

"Kalian... manusia-manusia tidak berguna!" amuk sosok itu karena merasa dihina. Ia hendak mengeluarkan jurus yang lebih besar, tapi Faris tidak memberi kesempatan kedua.

Faris melompat tinggi, kepalan tangannya yang menggenggam tasbih bersinar terang. "Ini buat pesantrenku!"

BUUMM! Faris menghantam tanah tepat di depan kaki sosok bertopeng. Getaran hebat membuat tanah retak dan memancarkan gelombang cahaya putih yang menghalau semua kabut hitam. Sosok itu terpental jauh ke dalam kegelapan dan menghilang sambil mengeluarkan teriakan kesakitan.

Hutan kembali tenang. Faris berdiri tegak, meski baju kokonya kini penuh noda tanah. Jono dan Brewok mendekat dengan wajah bangga, meski kaki mereka gemetaran hebat.

"Mas... kita menang ya?" tanya Brewok pelan sambil mencari-cari sandal jepitnya yang hilang di semak-semak.

Faris menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis—senyum yang jarang ia perlihatkan. "Ya, untuk malam ini kita menang. Tapi ingat, lain kali kalau mau bantu, cari senjata yang lebih bermartabat daripada sandal jepit, Brewok."

"Lho, tapi manjur kan Mas? Buktinya dia langsung kena mental!" sahut Brewok bangga, diikuti tawa renyah kawan-kawannya. Di tengah hutan yang gelap itu, Sang Panglima dan pasukannya berjalan pulang, membawa kemenangan kecil yang akan menjadi legenda baru di warung kopi pesantren

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!