NovelToon NovelToon
JALANGKUNG JATUH CINTA

JALANGKUNG JATUH CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cintapertama / Mata Batin
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
​Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misteri Loker 13

Penemuan dokumen hibah dan liontin perak di Lab Biologi seharusnya menjadi titik terang. Namun, di SMA Wijaya Kusuma, setiap jawaban biasanya datang bersama sepaket pertanyaan baru yang lebih rumit. Satria dan Arini kini tahu bahwa Arini memiliki hubungan darah dengan Meneer Van De Berg, namun ada satu kepingan puzzle yang hilang: bagaimana mungkin pihak kontraktor bisa mendapatkan surat tugas resmi dari yayasan jika lahan itu secara hukum tidak bisa dialihfungsikan?

​"Pasti ada pengkhianat di dalam, Sat," ujar Arini saat mereka berdiri di depan deretan loker siswa pada Senin pagi. Suasana sekolah tampak tegang; beberapa pria berpakaian safari terlihat mondar-mandir di kantor tata usaha.

​Satria tidak menjawab. Matanya tertuju pada barisan loker di lorong kelas XII yang remang-remang. Lorong ini dikenal sebagai "jalur maut" bagi petugas kebersihan, bukan karena ada hantu yang suka mencekik, melainkan karena loker-loker di sini sering terbuka dan tertutup sendiri dengan irama yang mirip kode morse.

​"Rin, lo lihat loker itu?" Satria menunjuk ke arah loker bernomor 13.

​Loker itu berbeda dari yang lain. Warnanya bukan lagi abu-abu metalik, melainkan hitam legam seperti bekas terbakar, dengan gembok tua yang karatan. Yang aneh, meskipun loker itu berada di lorong kelas XII, tidak ada satu pun siswa yang terdaftar sebagai pemiliknya.

​"Loker 13 itu harusnya sudah dilas mati sejak kejadian tahun '98, Sat," bisik Arini. "Katanya, itu dulu milik siswa yang hilang saat kerusuhan. Tapi kenapa sekarang gemboknya kelihatan... segar?"

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari dalam loker 13. DUAG! DUAG! DUAG!

​Seolah ada sesuatu yang mencoba keluar dari dalam ruang sempit itu. Para siswa yang lewat langsung mempercepat langkah, pura-pura tidak dengar. Namun Satria melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Ucok, si tuyul administrasi, sedang jongkok di atas loker itu dengan wajah pucat—sebuah pencapaian luar biasa untuk makhluk yang aslinya memang sudah tidak berwarna.

​“Sat! Jangan dibuka! Ada bau amis di dalem sana! Bukan bau amis ikan, tapi bau amis konspirasi!” teriak Ucok sambil menutup hidungnya yang pesek.

​Meneer Van De Berg muncul di samping Satria. Wajahnya yang biasanya kaku kini tampak sangat gelisah. “Anak muda... di dalam loker itu tersimpan korespondensi gelap. Saya merasakannya. Ada energi dari masa lalu yang terikat dengan orang-orang yang sekarang mencoba menghancurkan sekolah ini.”

​Satria menarik napas dalam. "Gue harus buka ini, Rin. Feeling gue bilang, kunci buat ngalahin kontraktor itu ada di sini."

​"Tapi gemboknya karatan gitu, Sat. Kita butuh alat," Arini bersiap mencari bantuan, tapi Satria justru mengeluarkan liontin perak milik Maria Van De Berg yang mereka temukan kemarin.

​Ajaibnya, bagian belakang liontin itu memiliki tonjolan kecil yang pas sekali dengan lubang kunci gembok tua tersebut. Begitu Satria memasukkannya dan memutar...

​KREEEKKK...

​Pintu loker terbuka perlahan. Udara dingin yang bau kertas lembap dan minyak mesin langsung menyeruak keluar. Di dalamnya tidak ada mayat, tidak ada hantu yang melompat keluar. Hanya ada satu buah buku agenda tebal berkulit hitam dan sebuah peta lama gedung sekolah.

Satria mengambil buku agenda itu. Di sampul dalamnya tertulis sebuah nama yang membuat jantung Arini seakan berhenti berdetak: Suryo Adiningrat.

​"Itu... itu nama kakekku, Sat," bisik Arini, suaranya gemetar. "Kakek dari pihak ayah."

​Mereka membawa buku itu ke perpustakaan, mencari pojok paling tersembunyi di balik rak ensiklopedia yang berdebu. Satria membuka halaman-halaman agenda tersebut. Isinya adalah catatan harian dari tahun 1990-an.

​Ternyata, kakek Arini dulu adalah salah satu pengurus yayasan. Namun, catatan itu menunjukkan sisi gelap. Suryo terlilit hutang judi yang sangat besar dan mencoba menjaminkan sertifikat lahan sekolah kepada pihak ketiga. Namun, karena lahan itu adalah tanah hibah Van De Berg yang dilindungi "sumpah darah" (secara ghaib) dan dokumen hukum (secara nyata), ia tidak bisa menjualnya secara sah.

​"Lihat ini, Rin," Satria menunjuk sebuah skema yang digambar di halaman tengah. "Kakek lo nggak bisa jual tanahnya, jadi dia buat rencana jangka panjang. Dia bikin 'Yayasan Bayangan'. Surat tugas yang dibawa kontraktor kemarin itu berasal dari yayasan ini. Mereka sengaja nunggu puluhan tahun sampai orang-orang yang tahu sejarah asli sekolah ini meninggal atau lupa."

​"Jadi... keluargaku sendiri yang mau menghancurkan tempat ini?" Arini menutup mulutnya, air mata mulai menggenang.

​Satria menggenggam tangan Arini. "Bukan keluarga lo, Rin. Cuma satu orang di masa lalu yang khilaf. Dan sekarang, orang-orang kontraktor itu—yang dipimpin oleh anak buah lama kakek lo—mau menagih 'janji' itu."

Saat mereka asyik membaca, bayangan di perpustakaan tiba-tiba memanjang secara tidak wajar. Rak buku di sekitar mereka mulai bergetar. Dari arah lorong, Intel Ghaib muncul kembali, namun kali ini ia tidak sendirian. Ia membawa "pasukan" bayangan yang keluar dari loker 13 yang tadi dibiarkan terbuka.

​“KEMBALIKAN... AGENDA... ITU...” suara mereka menggema, membuat kaca-kaca jendela perpustakaan retak.

​Meneer Van De Berg segera menghunus pedangnya. “BERANI KAU MENYENTUH DARAH DAGINGKU DAN PENYELAMATNYA?!”

​Pertarungan pecah di antara rak-rak buku. Buku-buku beterbangan seperti burung yang panik. Satria tahu ia tidak bisa menang melawan pasukan bayangan ini hanya dengan linggis atau sabun colek. Ia butuh sesuatu yang lebih kuat.

​"Rin! Pakai liontin itu! Pancarkan energinya!" teriak Satria.

​Arini memegang liontin Maria Van De Berg erat-erat. Ia memejamkan mata, membayangkan kehangatan sejarah sekolah ini, tawa siswa-siswi selama puluhan tahun, dan harapan yang tersimpan di gedung tua ini. Liontin itu mulai bersinar terang, mengeluarkan cahaya putih keperakan yang murni.

​Cahaya itu menghantam pasukan bayangan. Mereka menjerit kesakitan, terbakar oleh energi murni dari sang pemilik sah lahan ini. Intel Ghaib itu mencoba bertahan, namun kekuatan dari garis keturunan Van De Berg terlalu besar untuknya.

​“INI... BELUM... SELESAI...” sang Intel menghilang bersama kabut hitam yang kembali tersedot masuk ke dalam loker 13.

Suasana perpustakaan kembali tenang, meski kini berantakan seperti habis diterjang puting beliung. Satria membuka halaman terakhir dari agenda Suryo Adiningrat. Di sana tertempel sebuah kunci kecil yang sangat modern, kontras dengan buku tuanya.

​"Jika kau menemukan ini, berarti kau adalah keturunanku yang masih memiliki nurani. Kunci ini adalah akses ke brankas digital di bank pusat, di mana aku menyimpan rekaman pengakuan asli dan pembatalan seluruh kontrak palsu yang pernah kubuat. Maafkan aku, Maria."

​Satria dan Arini saling berpandangan. Rahasia loker 13 bukan sekadar tempat hantu bersembunyi. Itu adalah "kotak hitam" dari sebuah kejahatan masa lalu yang menunggu untuk diungkap.

​"Kita punya segalanya sekarang, Rin," kata Satria. "Dokumen hibah, agenda pengakuan, dan kunci brankas digital. Kontraktor itu nggak punya kesempatan lagi."

​Arini mengusap air matanya dan berdiri tegak. "Besok pagi, kita nggak akan lari lagi. Kita akan temui Pak Broto dan orang-orang kontraktor itu di ruang rapat. Sebagai pemilik sah, aku yang akan mengusir mereka."

​Satria tersenyum bangga. "Dan gue bakal berdiri di samping lo, lengkap dengan pasukan ghaib sekolah yang sudah siap demo masak kalau mereka macem-macem."

​Malam itu, SMA Wijaya Kusuma terasa lebih tenang. Loker 13 akhirnya tertutup rapat, bukan karena dilas, tapi karena rahasianya sudah terselesaikan. Di koridor, Meneer Van De Berg tampak berjaga dengan tenang, sementara di dahan pohon kamboja, Mbak Suryani sibuk berdandan dengan lipstik pemberian Arini, bersiap menyambut hari kemenangan besok.

​Satria berjalan pulang bersama Arini di bawah sinar rembulan. Ia sadar, menjadi pahlawan tidak selalu soal kekuatan super. Kadang, itu hanya soal keberanian untuk membuka loker masa lalu yang paling gelap demi masa depan yang lebih terang.

​"Sat," panggil Arini saat mereka sampai di depan pagar.

​"Ya?"

​"Makasih ya. Untuk semuanya. Termasuk untuk tidak peluk pocong lagi hari ini."

​Satria tertawa lepas. "Janji, Rin. Cukup sekali seumur hidup!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!