Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gao Rui Pendekar Naga Bintang
Ini adalah cerita tentang Gao Rui. Seorang bocah ajaib berusia tiga belas tahun yang namanya mengguncang seluruh Kekaisaran Zhou belum lama ini.
Beberapa bulan telah berlalu sejak hari itu. Hari ketika ia berdiri di tengah Arena Seribu Pedang dan mengalahkan semua lawannya. Lawan-lawan yang secara umur bahkan lebih tua darinya. Namun pada akhirnya mereka semua jatuh dan satu nama naik ke puncak. Gao Rui resmi dikenal dengan julukan Pendekar Naga Bintang.
Sejak saat itu namanya menyebar seperti badai. Dari kota ke kota, dari sekte ke sekte, dari para pendekar muda hingga para tetua tua, semua membicarakan satu hal yang sama. Seorang anak berusia tiga belas tahun yang menaklukkan generasinya.
Bahkan lebih dari itu, ia dianggap sebagai murid sekte paling berbakat dalam sejarah Kekaisaran Zhou. Sebuah pencapaian yang terlalu berat bahkan untuk dipikul oleh seorang jenius sekalipun.
Namun Gao Rui tetaplah Gao Rui. Saat ini… ia duduk di teras rumahnya di dalam kawasan sektenya. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun dengan halaman luas dan tenang. Halaman di depannya tertata rapi. Pepohonan berdiri tegak, daun-daunnya bergerak perlahan tertiup angin sore. Cahaya matahari menembus sela-sela dedaunan menciptakan bayangan yang berayun lembut di tanah.
Gao Rui menatap semua itu tanpa fokus. Matanya kosong. Pikirannya jauh.
“…Haaah…”
Ia menguap panjang. Entah karena mengantuk… atau karena bosan.
Kehidupan setelah menjadi “yang terkuat” ternyata tidak seperti yang ia bayangkan. Tidak ada lagi tantangan. Tidak ada lagi lawan seusianya yang membuat darahnya bergejolak. Yang ada hanya pujian dan itu membosankan.
Namun pikirannya tiba-tiba berhenti pada satu kenangan. Pertemuan terakhirnya dengan Yan Luo. Pendekar terkuat di Kekaisaran Zhou beberapa bulan yang lalu…
Di ruangan itu, pria tua itu berlutut di hadapannya dan memanggilnya guru. Alis Gao Rui sedikit berkerut.
“…”
Ia masih bisa mengingat dengan jelas ekspresi wajah Yan Luo saat itu. Serius, tenang, dan sepenuhnya tulus. Tidak ada sedikit pun keraguan di sana. Itulah yang membuatnya paling bingung.
“…Bagaimana bisa…?”
Gao Rui bergumam pelan. Usianya baru tiga belas tahun. Sementara Yan Luo sudah hidup jauh lebih lama darinya. Pengalaman, kekuatan, reputasi, semuanya jauh melampaui dirinya.
Namun pria itu tetap bersikeras memanggilnya guru. Memberikan penghormatan seolah itu adalah sesuatu yang wajar.
Bukan hanya itu dari percakapan singkat mereka saat itu, Gao Rui mendengar sesuatu yang tidak bisa ia lupakan.
“Guru Zhi Shen…”
Nama itu, Zhi Shen. Jantung Gao Rui berdetak sedikit lebih cepat. Nama itu bukan pertama kalinya ia dengar.
Dahulu gurunya sendiri, Boqin Changing pernah mengatakan hal yang sama. Bahwa dirinya mirip dengan seseorang. Seseorang yang ia kenal. Seseorang bernama Zhi Shen.
“…”
Gao Rui mengepalkan tangannya perlahan. Dua orang. Dua pendekar kuat. Dua sosok yang berdiri di puncak dunia persilatan. Keduanya menyebut dirinya dengan nama yang sama.
“Siapa sebenarnya Zhi Shen itu…?”
Suara hatinya terdengar pelan. Namun tidak ada jawaban. Hanya angin sore yang berhembus dan dedaunan yang terus bergoyang.
Jantungnya berdegup lebih kencang. Rasa penasaran itu tidak hilang. Justru semakin dalam. Seolah ada sesuatu yang tersembunyi dalam dirinya sendiri. Sesuatu yang bahkan ia tidak ketahui.
Tepat saat pikirannya tenggelam lebih jauh…
“Rui’er..”
Suara lembut tiba-tiba terdengar.
Gao Rui menoleh. Seseorang berjalan mendekat dari arah gerbang halaman. Seorang wanita dewasa. Wajahnya cantik dan tenang dengan aura kedewasaan yang kuat. Langkahnya anggun namun mantap.
Itu adalah Lan Suya. Pemimpin Kelompok Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan sedang berkembang di Kekaisaran Zhou. Ia adalah salah satu orang yang sangat dekat dengan Gao Rui.
“Bibi Ya,” panggil Gao Rui ringan.
Lan Suya tersenyum hangat. Tangannya terangkat sedikit melambai santai. Di tangan satunya ia membawa sesuatu. Sebuah kotak bekal makan.
“Dari tadi melamun saja,” katanya sambil mendekat. “Seorang jenius besar seperti dirimu… ternyata bisa terlihat seperti orang kehilangan arah juga ya.”
Nada suaranya menggoda.
Gao Rui tersenyum tipis.
“Sedikit bosan saja.”
Lan Suya berhenti di depannya. Ia menatap Gao Rui beberapa detik. Tatapannya lembut namun dalam. Seolah bisa melihat lebih dari yang terlihat di permukaan.
“Bosan?” ulangnya pelan.
Lalu ia menghela napas kecil.
“Kalau orang lain mendengar itu, mereka mungkin akan pingsan.”
Ia lalu mengangkat kotak di tangannya.
“Ini. Aku membawa makanan untukmu.”
Gao Rui sedikit terkejut.
“Untukku?”
Lan Suya mengangguk.
“Anggap saja hadiah kecil dariku untuk pendekar nomor satu generasi muda di kekaisaran ini.”
Ia meletakkan kotak itu di meja kecil di teras. Dengan gerakan halus, ia membukanya. Aroma harum langsung menyebar.
Makanan di dalamnya terlihat sederhana namun jelas dibuat dengan sangat hati-hati. Gao Rui menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum kecil.
“Jika begitu ayo kita makan....”
“Aku sudah makan. Kau saja....” Lan Suya menolak.
“Terima kasih, Bibi Ya.”
Lan Suya duduk di sampingnya.
“Jangan hanya terima kasih. Makan.”
Gao Rui tidak menolak. Ia mengambil sumpit di dapur, kembali, dan mulai makan perlahan.
Beberapa saat suasana menjadi tenang. Hanya suara angin dan sesekali suara kecil dari peralatan makan. Namun Lan Suya tiba-tiba berbicara lagi.
“Rui’er”
Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.
“Beberapa bulan ini banyak orang mulai bergerak.”
Gao Rui berhenti sejenak.
“Bergerak?”
Lan Suya mengangguk pelan.
“Namamu terlalu terang sekarang.”
Tatapannya mengarah ke halaman. Namun jelas pikirannya jauh lebih dalam dari itu.
“Orang-orang yang mengagumimu semakin banyak. Namun begitu juga dengan orang-orang yang takut padamu.”
Gao Rui terdiam. Ia sudah menduga hal itu. Namun mendengarnya langsung tetap terasa berbeda.
Lan Suya melanjutkan.
“Kelompok Harta Langit menerima banyak informasi akhir-akhir ini.”
Ia menoleh. Menatap Gao Rui tepat di mata.
“Beberapa kekuatan mulai membicarakan tentangmu.”
“Ada yang ingin mendekatimu.”
“Ada yang ingin memanfaatkanmu.”
“Dan ada juga yang ingin menyingkirkanmu.”
Angin berhembus lebih kuat sesaat. Daun-daun berdesir. Gao Rui perlahan menurunkan sumpitnya. Ekspresinya tidak berubah. Namun matanya sedikit lebih dalam.
“Begitu ya…”
Ia bergumam pelan. Tidak panik. Tidak takut. Hanya menerima.
Lan Suya memperhatikannya. Beberapa detik… lalu tersenyum tipis.
“Reaksimu memang seperti yang kuduga.”
Ia berdiri perlahan.
“Bagaimanapun juga kau bukan bocah biasa.”
Ia melangkah beberapa langkah lalu berhenti. Tanpa menoleh ia berkata,
“Dan satu lagi...”
Gao Rui mengangkat sedikit pandangannya.
“Senior Yan Luo…”
Jantung Gao Rui berdetak.
“Dia meninggalkan pesan kepada beberapa kelompok aliran putih netral untuk ikut menjagamu....”
Gao Rui sedikit mengernyit.
“Ia...?”
Lan Suya mengangguk pelan.
“Benar.”
Lan Suya terdiam beberapa saat setelah kata-katanya sendiri mengudara di antara mereka. Angin sore berhembus pelan membawa ketenangan yang aneh, namun juga menyisakan ketegangan tipis yang sulit dijelaskan.
Gao Rui menatap meja di depannya. Pikirannya kembali berputar mengingat nama itu lagi. Yan Luo dan juga Zhi Shen. Namun kali ini ia tidak bertanya apa-apa lagi. Ia hanya menghela napas pelan.
Waktu berlalu tanpa terasa. Matahari mulai condong ke barat bayangan pepohonan semakin panjang dan suasana halaman menjadi lebih hangat sekaligus sendu.
Kebersamaan mereka akhirnya sampai di ujungnya. Lan Suya berdiri perlahan. Gerakannya tetap anggun seperti biasa.
“Sepertinya aku harus kembali,” katanya ringan. “Masih banyak urusan yang harus kuurus.”
Gao Rui mengangguk pelan. Ia ikut berdiri.
“Terima kasih sudah datang, Bibi Ya.”
Lan Suya tersenyum. Namun kali ini senyum itu sedikit lebih lembut dari sebelumnya. Ia berbalik hendak melangkah pergi.
“Bibi Ya,”
Gao Rui tiba-tiba memanggil. Langkah Lan Suya berhenti.
“Ada apa?” ia menoleh sedikit.
Gao Rui tampak ragu sejenak. Tangannya bergerak kecil di samping tubuhnya. Lalu ia berkata dengan nada yang agak pelan,
“Ke depannya tidak usah repot-repot mengirimkan makanan lagi untukku.”
Lan Suya mengangkat alisnya sedikit.
“Aku tidak ingin merepotkanmu,” lanjut Gao Rui jujur. “Kau sudah cukup sibuk dengan urusanmu. Hal seperti ini, aku bisa mengurus sendiri.”
Beberapa detik hening. Lalu alis Lan Suya sedikit berkerut. Ekspresinya berubah.
“…Oh?” suaranya terdengar pelan.
Namun entah kenapa… udara di sekitarnya tiba-tiba terasa berbeda.
Ia berbalik sepenuhnya sekarang. Menatap Gao Rui dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah.
“Jadi…” katanya perlahan. “Kau tidak menyukai makananku?”
Gao Rui langsung membeku.
“Eh?”
Nada suara Lan Suya berubah sedikit lebih tinggi.
“Atau menurutmu makanan dari restoranku tidak enak?”
“B-bukan begitu....”
Gao Rui refleks mengangkat kedua tangannya. Wajahnya langsung panik.
Namun Lan Suya tidak memberinya kesempatan. Ia menyilangkan tangan di depan dada. Tatapannya tajam seolah benar-benar marah.
“Gao Rui,” ucapnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak memanggilnya Rui’er.
“Itu bukan hanya makanan biasa.”
Gao Rui menelan ludah.
“…Bibi Ya?”
Lan Suya melangkah mendekat satu langkah.
“Kau pikir… semua usaha yang kujalankan ini hanya milikku sendiri?”
Gao Rui terdiam.
Lan Suya menunjuk ringan ke arah dirinya sendiri… lalu ke arah Gao Rui.
“Kelompok dagang Harta Langit, restoran, semua usaha yang kurintis…” katanya tegas. “Kini ada namamu di dalamnya.”
Gao Rui benar-benar terdiam sekarang.
“Eh…?”
Lan Suya mendengus pelan.
“Kau adalah pemiliknya juga. Bukan hanya aku.”
Kalimat itu jatuh begitu saja namun beratnya terasa jelas. Gao Rui merasa seperti disambar petir.
“I-ya…”
Wajahnya yang biasanya tenang kini benar-benar terlihat kebingungan, bahkan sedikit takut. Baginya perempuan yang marah sangat menyeramkan.
“Jadi…” lanjut Lan Suya dengan nada dingin yang dibuat-buat. “Kau menolak makanan dari usahamu sendiri?”
“Tidak!” jawab Gao Rui cepat. Terlalu cepat.
Lan Suya terdiam sejenak lalu menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak.
Beberapa detik berlalu, lalu sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia sebenarnya hanya berpura-pura marah. Namun Gao Rui jelas tidak menyadari itu.
“Kalau begitu…” katanya santai kembali. “Besok aku akan mengirimkan makanan lagi.”
Gao Rui membeku sesaat.
“…Baik.”
Jawabannya pelan namun pasrah. Ia tidak berani menolak lagi.
Lan Suya tersenyum tipis. Kali ini senyum itu benar-benar tulus. Ia berbalik dan mulai berjalan keluar.
“Jangan lupa makan tepat waktu,” katanya tanpa menoleh.
“Dan…” ia berhenti sejenak.
“Jangan terlalu banyak melamun. Dunia ini tidak akan diam hanya karena kau bosan.”
Gao Rui tersenyum kecil.
“Iya, Bibi Ya.”
Lan Suya akhirnya benar-benar pergi. Sosoknya perlahan menghilang meninggalkan halaman yang kembali sunyi.
Angin sore kembali berhembus. Daun-daun bergoyang pelan. Gao Rui berdiri diam beberapa saat lalu menghela napas panjang.
“…Menyeramkan…” gumamnya pelan.
Namun setelah itu senyum tipis muncul di wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak beberapa waktu rasa bosan itu sedikit berkurang.