NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Farez tidak membalas. Dia tidak mengeluarkan satu kata pun atau mencoba bertanya "ada apa". Dia hanya tetap berlutut di samping pintu mobil yang terbuka, memberikan jarak namun tetap ada sebagai pelindung.

Aku menutup wajahku rapat-rapat dengan kedua telapak tangan. Isak tangisku tidak lagi tertahan, ia meledak menjadi raungan kecil yang menyayat. Bahuku terguncang hebat, begitu parah hingga aku merasa seluruh tubuhku akan hancur saat itu juga. Di balik kegelapan telapak tanganku, memori itu menyerang tanpa ampun—lebih tajam dari jarum jahit mana pun.

Kepalaku terasa pening, penuh dengan rentetan kebohongan Ayah yang kini tersusun rapi seperti kepingan puzzle yang mengerikan.

Aku ingat setiap hari ulang tahunku yang hanya dirayakan bersama Ibu dan sebungkus kado yang dikirim lewat kurir. Aku ingat setiap lomba pidato atau pameran sekolah di mana kursiku untuk 'Ayah' selalu kosong. Selama belasan tahun, aku memeluk kebohongan bahwa Ayah sedang berjuang di luar kota demi kami.

Namun, butik ini... gaun-gaun ini... semuanya adalah bukti fisik bahwa Ayah tidak pernah pergi jauh. Dia ada di sini, di kota yang sama, namun di semesta yang berbeda. Dia tidak sedang rapat; dia sedang menemani Bagaskara tumbuh besar. Dia tidak sedang lelah bekerja; dia sedang merayakan kesuksesan butik ini bersama keluarga yang "sebenarnya".

Setiap tawa Ayah yang terekam di foto dalam gedung tadi terasa seperti tamparan yang berulang-ulang menghantam wajahku. Aku merasa sangat bodoh. Aku membenci diriku yang dulu begitu memuja laki-laki yang menjadikanku hanya sekadar "cadangan" di sela-sela hidup sempurnanya.

Rasa sakit itu menguap, memenuhi setiap sudut mobil pemberian Ibu ini. Aku menangis hingga dadaku perih, hingga suaraku habis.

Farez tetap diam. Dia tidak mencoba menyentuhku atau memintaku berhenti. Dia hanya membiarkan aku mengeluarkan semua racun yang telah mengendap selama lima tahun. Satu-satunya hal yang dia lakukan adalah tetap berdiri tegap di antara aku dan gedung butik itu, seolah tubuhnya adalah perisai yang memastikan tidak ada satu pun bayang-bayang 'Wira Pratama' yang boleh menyentuhku lagi saat aku sedang sehancur ini.

Setelah waktu yang terasa seperti selamanya, isak tangisku mulai mereda menjadi sedu-sedan yang melelahkan. Aku perlahan menurunkan telapak tanganku. Mataku panas, wajahku sembab, dan aku merasa sangat kosong.

Aku menoleh perlahan ke arah Farez. Dia masih di sana, menatapku dengan sorot mata yang begitu dalam, menyimpan kesedihan yang sama besarnya tanpa perlu dia ucapkan. Dia menghargai kehancuranku dengan sebuah kesunyian yang paling tulus.

"Antar aku pulang, Rez," bisikku lirih, suaraku nyaris hilang. "Tapi jangan ke butik Ibu. Aku belum sanggup melihat wajahnya dengan kondisi seperti ini."

Farez mengangguk kecil. Tanpa banyak bicara, dia berdiri, menutup pintu kemudi dengan pelan, dan berjalan memutar untuk mengambil alih setir.

Saat mobil mulai bergerak menjauh dari butik penuh dusta itu, aku menyandarkan kepala di jendela, menatap jalanan yang buram oleh sisa air mata. Sore itu, di bawah langit Jakarta yang mulai menggelap, aku menyadari bahwa benteng yang kubangun setinggi langit ternyata hanyalah istana pasir yang runtuh dalam sekejap di depan kebenaran yang pahit.

Mobil terus melaju tanpa tujuan pasti. Farez tidak memacu kecepatannya; dia membiarkan mobil merayap di antara kepungan lampu-lampu kota yang mulai menyala terang, kontras dengan kegelapan yang menyelimuti perasaanku.

Beberapa kali aku menangkap gerak-gerik Farez dari sudut mataku. Dia sesekali melirik ke arahku, memastikan aku masih bernapas di tengah kehampaan ini. Tangannya yang satu mencengkeram kemudi, sementara tangan lainnya sesekali bergerak gelisah di atas tuas transmisi—seolah ada dorongan kuat untuk meraih tanganku, namun ia menahannya.

Aku tahu ada ribuan kata yang tertahan di ujung lidahnya. Aku tahu dia ingin bertanya seberapa dalam luka yang baru saja kulihat. Aku tahu dia ingin mengutuk laki-laki yang kusebut Ayah itu bersamaku. Namun, Farez memilih untuk tetap bungkam. Dia menghargai keheningan ini seolah itu adalah satu-satunya obat yang tersisa untukku.

Keheningan ini tidak canggung. Anehnya, justru terasa sangat jujur.

Melalui diamnya, Farez sedang berbicara padaku. Dia sedang mengatakan bahwa dia ada di sini, bahwa dia tidak akan menuntut penjelasan apa pun, dan bahwa dia mengerti betapa hancurnya aku tanpa aku perlu mengucapkan satu patah kata pun. Kesunyian ini adalah caranya melindungiku—memberiku ruang untuk menata kembali kepingan diriku yang baru saja hancur berserakan di lantai butik Wira Pratama.

Cahaya lampu jalan yang masuk ke dalam kabin mobil menciptakan siluet di wajahnya yang tegas. Aku melihat rahangnya yang mengeras, tanda bahwa dia sebenarnya sedang menahan emosi yang juga besar. Melihatnya begitu tenang menjagaku, hatiku yang tadi beku perlahan merasakan sedikit hangat yang asing.

Aku memejamkan mata, membiarkan deru mesin mobil menjadi melodi latar belakang pikiranku yang mulai kelelahan. Lima tahun lalu aku membuangnya karena aku takut dia adalah replika dari Ayahku. Tapi sore ini, di tengah kota yang bising ini, Farez membuktikan hal sebaliknya. Dia tidak pergi saat aku hancur, dia tidak berbohong untuk menenangkanku, dia hanya... ada.

Setelah hampir satu jam kami hanya berkeliling tanpa arah, Farez akhirnya mengarahkan mobil ke sebuah taman kota yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk pusat bisnis. Dia mematikan mesin, namun tidak segera turun.

Dia menoleh ke arahku, tatapannya begitu intens namun penuh kelembutan. "Sudah merasa lebih baik?" tanyanya dengan suara rendah yang sangat hati-hati.

Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya mengangguk pelan, menatap lurus ke depan. Air mataku sudah kering, menyisakan rasa perih di pipi dan kehampaan yang luar biasa di dada.

"Aku tidak akan membawamu pulang sampai kamu merasa siap menghadapi Ibu," ucapnya lagi, seolah bisa membaca ketakutan terbesarku saat ini.

Aku menoleh menatapnya. Di dalam mobil yang sunyi ini, benteng yang tadi runtuh tidak lantas kubangun kembali. Untuk pertama kalinya, aku membiarkan Farez melihat Rana yang asli—Rana yang lelah, Rana yang hancur, dan Rana yang ternyata masih sangat membutuhkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!