NovelToon NovelToon
Immortal Legacy

Immortal Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.

Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Aturan Akademi Jiannan

Lembah Pedang Patah bermandikan cahaya merah redup. Saat Bulan Darah akhirnya mencapai titik puncaknya (zenit) di langit malam, puluhan ribu manusia yang berkumpul di depan gerbang raksasa Akademi Jiannan seketika terdiam. Suara dengungan obrolan, ratapan ketakutan, dan tawa sombong para jenius klan lenyap, digantikan oleh antisipasi yang mencekik.

TENGGG! TENGGG! TENGGG!

Suara lonceng kuno bergema dari dalam lembah, getarannya menyapu dataran, membuat darah di dalam tubuh setiap orang berdesir kencang.

Tiba-tiba, lautan awan pelindung di atas gerbang terbelah. Sebuah pedang terbang raksasa berukir aksara emas melesat turun dari langit. Di atas pedang itu, berdirilah seorang pria paruh baya berjubah perak, tangannya ditautkan di belakang punggung.

Begitu ia muncul, tekanan spiritual yang dahsyat jatuh ke bumi bak gunung tak kasatmata. Ribuan pengungsi fana langsung muntah darah dan pingsan. Kultivator tahap Pengumpulan Qi, termasuk Bao Tuo dan Lin Xiaoyu, berlutut dengan lutut menghantam tanah berbatu secara paksa, gemetar tak sanggup mendongakkan kepala.

Itu adalah aura dari seorang master ranah Golden Core (Inti Emas). Di mata semut-semut fana ini, pria itu adalah dewa yang hidup.

Di tengah lautan manusia yang berlutut, Zeng Niu adalah satu dari sedikit sosok yang masih berdiri. Kedua kakinya amblas sejauh dua inci ke dalam tanah berbatu. Tulang Penempatan Tubuh Tahap 4-nya berderit protes, namun tulang punggungnya tetap lurus. Tatapannya menatap lurus ke arah pria di atas pedang itu, dingin dan penuh perhitungan.

Pria berjubah perak itu menyapu pandangannya yang merendahkan ke bawah. Suaranya diperkuat oleh Qi, bergema di benak setiap orang.

"Aku adalah Tetua Bai dari Paviliun Penegak Hukum," suaranya menggelegar. "Kalian berdiri di depan Akademi Jiannan, benteng terakhir pilar peradaban di benua utara Era Keruntuhan Surga. Sebelum gerbang berdarah ini dibuka, dengarkan baik-baik hukum rimba yang menanti kalian di dalam!"

Tetua Bai mengangkat tangannya, menunjuk ke arah puncak gunung terdalam di lembah yang tertutup awan petir.

"Di puncak sana, Tempat Kepala Akademi kita, sosok di ranah Nascent Soul, serta lima Tetua Agung di puncak Golden Core! Mereka adalah dewa yang menopang langit, mengawasi ancaman Bencana tingkat Raja dan menjaga sekte kita dari kehancuran. Kalian tidak berhak, dan mungkin seumur hidup tidak akan pernah melihat wajah mereka!"

"Di bawah mereka," lanjut Tetua Bai, "Akademi ini dibagi menjadi Empat Paviliun Utama, masing-masing dipimpin oleh master Foundation Establishment dan Golden Core. Paviliun Pedang untuk para penakluk garis depan, Paviliun Alkimia untuk peracik pil dewa, Paviliun Formasi Array bagi penguasa hukum ruang, dan paviliunku... Paviliun Penegak Hukum, bayangan pembunuh yang mengeksekusi pengkhianat akademi."

Bao Tuo menelan ludah, menempelkan dahinya ke tanah. Mendengar kata 'pembunuh', ia tahu bahwa penegak hukum di sini bukanlah suci, melainkan algojo berdarah dingin.

"Namun, jangan bermimpi terlalu tinggi, sampah-sampah kecil!" Tetua Bai mendengus, tersenyum sinis. "Masuk ke sini tidak menjadikan kalian naga. Bagi yang lulus hari ini, kalian hanya akan menjadi Murid Luar. Berada di dasar rantai makanan, fasilitas minim, dan jatah kultivasi setipis rambut. Tujuh puluh persen dari Murid Luar tidak akan pernah naik tingkat, dan akan mati sebagai pijakan batu bagi yang kuat!"

"Hanya yang bisa membuktikan keganasannya yang akan diangkat menjadi Murid Dalam, mendapatkan teknik sejati. Di atas mereka adalah Murid Inti yang berlatih di Aula Pedang pusat elit dengan fasilitas terbaik dan persaingan ekstrem. Dan di puncak hierarki murid, adalah Murid Pewaris... hanya ada tiga orang saat ini, dan kata-kata mereka setara dengan hukum!"

Zeng Niu mendengarkan tanpa mengubah ekspresi. Baginya, akademi ini hanyalah Hutan Kematian yang diberi pagar dan aturan. Semuanya tetap sama: yang lemah menjadi makanan yang kuat.

"Lalu, bagaimana cara kalian bertahan hidup?" Tetua Bai merentangkan tangannya, matanya memancarkan fanatisme yang kejam. "Di dalam sana, koin emas kerajaan kalian adalah kotoran babi! Semuanya diukur dengan Poin Kontribusi. Ingin pil? Poin. Ingin senjata? Poin. Ingin masuk ke perpustakaan teknik? Poin. Kalian bisa mendapatkan poin dengan menyelesaikan misi maut, membunuh Yao Aberasi, atau memenangkan Turnamen Berdarah!"

"Untuk memfasilitasi kehausan kalian, akademi memiliki tempat-tempat suci sekaligus kutukan. Ada Gunung Pedang, tempat ribuan pedang kuno menanti tuan baru bagi mereka yang mencari pencerahan. Ada Menara Ujian, di mana semakin tinggi lantai yang kalian taklukkan, semakin langka hadiah teknik dan senjatanya. Dan setiap lima tahun, Alam Rahasia Akademi akan dibuka, surga penuh sumber daya yang direbut di atas tumpukan mayat rekan kalian sendiri!"

Suara Tetua Bai tiba-tiba merendah, menjadi bisikan mematikan yang menusuk telinga setiap peserta.

"Tapi ingat aturan kami... Senioritas adalah Mutlak. Junior wajib menunduk pada senior. Jangan menangis jika sumber daya kalian dirampas oleh Faksi Murid yang lebih kuat. Faksi-faksi itu adalah pedang politik, dan menentang mereka berarti menentang kematian."

"Jika kalian memiliki dendam yang tak tertahankan," Tetua Bai menyeringai lebar, menampakkan gigi putihnya. "Jangan menusuk dari belakang. Naiklah ke Arena Hidup-Mati. Di sana, pembunuhan adalah legal. Namun, jika kalian melanggar aturan akademi dan berbuat curang di luar arena... kalian akan dilempar ke Lembah Hukuman, menjadi makanan eksperimen monster buas yang kami kembangkan... maksudku, monster yang kami tahan."

Kalimat terakhir Tetua Bai berlalu dengan sangat cepat, namun pendengaran Zeng Niu yang tajam menangkapnya. Eksperimen monster? Akademi suci ini diam-diam meneliti dan mungkin mengembangbiakkan Bencana itu sendiri di balik gerbangnya. Dunia kultivasi yang lurus rupanya sama busuknya dengan lumpur hitam di luar.

"Sekarang, pidato penyambutan selesai!" Tetua Bai mengayunkan lengan bajunya.

BUM! BUM! BUM!

Ratusan pilar batu giok setinggi sepuluh tombak mencuat dari tanah di depan gerbang raksasa. Pilar-pilar itu memancarkan cahaya putih yang murni namun mengintimidasi.

"Tahap Pertama: Pilar Qi!" teriak Tetua Bai dari atas langit. "Hantamkan kekuatan spiritual terkuat kalian ke pilar ini! Pilar ini akan mengukur batas kekuatan, kepadatan Qi, dan fondasi Dao kalian! Jika pilar tidak menyala hingga garis batas ketiga... kalian gagal, dan akan dibuang kembali ke Kota Debu!"

Peserta ujian mulai berdiri dengan lutut gemetar. Kepanikan dan tekad yang menyala-nyala bercampur di udara.

Di samping Zeng Niu, Bao Tuo bangkit sambil mengusap lumpur dari lututnya. "S-Saudara Niu... tesnya mengukur Qi! Bagaimana denganmu? Kau sama sekali belum menyerap setitik Qi pun! Pilar itu pasti tidak akan bereaksi terhadap kekuatan fisik!"

Lin Xiaoyu, yang juga baru berdiri, menatap Zeng Niu dengan cemas. Gadis penipu itu tahu, jika Zeng Niu gagal di sini, perlindungannya akan hilang. Ia tidak ingin kembali menjadi gelandangan Kota Debu. "Tuan Pembunuh, kau bisa menyalurkan sedikit darah monster ke tanganku, lalu aku akan membuatkan ilusi pendaran cahaya di pilarmu..." tawarnya berbisik.

Zeng Niu tidak menjawab mereka. Matanya menatap tajam ke arah deretan pilar giok yang berdiri kokoh. Tetua Bai bilang pilar itu mengukur kekuatan spiritual, namun Zeng Niu tahu satu hal tentang batu formasi: mereka memiliki batas ketahanan fisik.

"Aku tidak butuh ilusi," ucap Zeng Niu pelan, suaranya sedingin bilah pedang. Ia memutar lehernya, membunyikan ruas-ruas tulang Penempatan Tubuh Tahap 4 miliknya. "Jika pilar itu tidak bisa membaca kekuatan fana-ku... maka aku hanya perlu menghancurkan pilar itu."

1
saniscara patriawuha.
cepat ambil pedang yang kabur dari mang zhao xuan,,,
.
absen Thor
Sang_Imajinasi: siap lanjutkan
total 1 replies
eka suci
si gendut SDN gadis ilusi di ajak ngga🤔
eka suci
paling brutal woy🤭
Xiao Bar
lnjut
Xiao Bar
ada kaitan nya kah ini? pedang Zhao xuan
Xiao Bar
ngeri 💪
eka suci
ini perpaduan Shen yu yg merangkak dari nol juga Zhao xuan yg di yg di hinggapi jiwa licik dan arogan 👍
eka suci
Lei Ling kau itu nasibnya ngga lebih baik dari kakek gu yg dulu bersemayam di Zhao xuan😄
saniscara patriawuha.
lanjutttt keunnnnn....
i
jangan kendor
i
gas niu
k
gasss
k
lanjut thor😍
p
lanjut thor👍
1
lanjut kan thor👍
eka suci
MC mu semuanya di luar nurul😄 lanjutkan 💪
p: kwkwk
total 1 replies
eka suci
pedang nya masuk cincin kah🤔
saniscara patriawuha.
gasssds keunnnnn...
eka suci
pedang yg angkuh 😄 takut Zhao xuan tapi nyari pewaris 😥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!