NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Isi USB

Bab 33

Pagi itu, mereka bertiga duduk mengelilingi meja kayu di ruang tamu. Sebuah laptop tua pemberian Ipda Rini terbuka di atas meja. USB flash drive dari Ari sudah tertancap di port-nya. Dewi menggerakkan kursor, membuka folder demi folder. Jari-jarinya sedikit gemetar. Bambang duduk di sampingnya, menatap layar dengan mata tidak berkedip. Ucok berdiri di belakang, bersandar di dinding, tangannya bersedekap di dada.

Folder pertama berjudul “Dokumen Internal”. Dewi mengkliknya. Puluhan file dalam format PDF terbuka. Semuanya adalah dokumen resmi PT. Nusantara Gelap. Laporan tahunan. Notulensi rapat. Surat-surat perjanjian. Kontrak kerja. Semua berbahasa Indonesia dan Inggris.

“Ini dokumen asli,” bisik Dewi. “Dia mengambilnya dari kantor pusat.”

“Dia bisa masuk penjara karena ini,” kata Ucok.

“Tapi ini bukti yang kita butuhkan.”

Dewi membuka satu per satu. Matanya membaca cepat. Di halaman ketiga sebuah laporan, dia menemukan sesuatu. Tangannya berhenti. “Lihat ini.”

Bambang mendekatkan wajahnya ke layar. Di sana tertulis: “Proyek Biomaterial Fase IV – Lokasi Uji Coba: Pabrik Karet Kalimantan Tengah.” Ada tabel dengan kolom-kolom berisi angka. Jumlah subjek uji. Jumlah subjek berhasil. Jumlah subjek gagal. Subjek uji. Manusia.

“Mereka menyebut karyawan sebagai subjek uji,” kata Bambang dengan suara bergetar.

“Kita semua,” kata Ucok. “Kita semua adalah subjek uji.”

Dewi menggulir ke bawah. Ada daftar nama. Dua belas nama. Dua belas nama yang sama dengan coretan di dinding kantin. Agus, Rudi, Sumanto, dan sembilan nama lainnya. Semua terdaftar sebagai “subjek gagal – eliminasi.”

“Ini daftar teman kita,” bisik Bambang. “Mereka tidak mati. Mereka dieliminasi. Seperti sampah.”

Ucok mengepalkan tangannya. “Di mana nama Dul? Di mana Joni? Di mana Herman?”

Dewi mencari. Di halaman berikutnya, ada daftar lain. “Subjek dalam proses – batch tujuh.” Nama Dul ada di sana. Juga Joni. Juga Herman. Juga Ucok. Juga Bambang.

“Kita semua dalam daftar,” kata Dewi. “Kita semua akan dieliminasi. Cuma masalah waktu.”

Bambang merasakan dadanya sesak. Jika mereka tidak kabur, jika mereka tidak membakar kolam itu, mungkin sekarang nama mereka sudah dipindahkan ke kolom “subjek gagal – eliminasi.”

Folder kedua berjudul “Foto dan Video.” Dewi membukanya. Ada puluhan foto. Foto pabrik dari berbagai sudut. Foto pekerja yang wajahnya disensor. Foto kolam. Foto makhluk. Foto Pak Toni dengan pria-pria berpakaian jas di ruangan mewah. Foto-foto itu lebih jelas dari apa pun yang sempat Dewi ambil dengan ponselnya.

“Ini bukti yang tidak bisa dibantah,” kata Dewi. “Dengan ini, polisi tidak bisa tutup mata.”

“Tapi Pak Toni masih buron,” kata Bambang.

“Setidaknya mereka tahu wajahnya. Mereka tahu siapa yang harus dicari.”

Folder ketiga berjudul “Korespondensi.” Dewi membukanya. Ratusan email antara Pak Toni dan seseorang yang hanya disebut “K.” Bahasa Indonesia. Juga Inggris. Isinya tentang pengiriman “bahan baku” ke luar negeri. Tentang permintaan “produk jadi” dari buyer di Eropa dan Amerika.

“Mereka mengekspor makhluk-makhluk itu?” tanya Ucok.

“Sepertinya begitu. Atau setidaknya mereka mengekspor sampel. Untuk penelitian. Atau untuk... aku tidak tahu.”

“Ini sudah masuk perdagangan manusia,” kata Bambang. “Bahkan lebih dari itu. Perdagangan makhluk.”

Dewi menghela napas. “Kita harus segera berikan ini ke polisi. Tidak bisa ditunda-tunda lagi.”

“Polisi mana?” tanya Ucok. “Polisi lokal? Polda? Bareskrim? Kita tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.”

“AKBP Hermawan. Dia dari Polda. Dia tampaknya serius.”

“Atau dia hanya aktor yang lebih baik.”

“Kita tidak punya pilihan, Ucok. Kita harus percaya pada seseorang.”

Mereka bertiga terdiam. Suara jangkrik dari luar terdengar sayup-sayup. Angin malam berhembus, membawa bau daun sawit yang khas.

Bambang memecah keheningan. “Aku setuju dengan Dewi. Kita berikan ke Hermawan. Tapi tidak semua. Kita berikan salinannya. Simpan yang asli di tempat yang aman.”

“Di mana tempat yang aman?” tanya Dewi.

“Di sini. Di rumah ini. Kita kubur di belakang. Tidak akan ada yang tahu.”

Mereka bekerja cepat. Dewi menyalin semua isi USB ke laptop, lalu ke USB lain yang dibawanya dari Jakarta. USB asli mereka simpan di saku Dewi. USB salinan akan mereka berikan pada Hermawan.

Setelah itu, mereka keluar ke belakang rumah. Tanah di dekat pohon rambutan masih gembur. Bambang menggali dengan sekop yang ditemukan di dapur. Lubang tidak terlalu dalam. Cukup untuk menyimpan USB dan beberapa dokumen kertas yang mereka punya.

“Kubur di sini,” kata Bambang. “Tandai dengan batu. Jangan sampai lupa.”

Mereka menimbun lubang itu dengan tanah. Ucok meletakkan tiga batu di atasnya sebagai tanda.

“Semoga tidak ada yang menemukan,” kata Dewi.

“Doakan saja.”

Mereka kembali ke dalam rumah. Malam semakin larut. Bambang berbaring di lantai, memejamkan mata. Pikirannya masih sibuk dengan isi USB itu. Daftar nama. Subjek gagal. Batch tujuh. Kata-kata itu terngiang di kepalanya seperti mantra kutukan.

Dia membayangkan Dul. Joni. Herman. Apakah mereka tahu bahwa mereka hanya angka dalam laporan? Apakah mereka tahu bahwa hidup mereka hanya catatan di kolom “subjek dalam proses”?

Bambang membuka mata. Dia tidak bisa tidur. Dia duduk dan menatap gelap.

“Bambang,” panggil Dewi pelan.

“Iya.”

“Kamu tidak bisa tidur?”

“Tidak. Kamu juga?”

“Aku juga. Pikiranku tidak bisa berhenti.”

Mereka berdua duduk di ruang tamu yang gelap. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah dinding kayu.

“Dewi,” panggil Bambang.

“Iya.”

“Kamu takut?”

“Takut. Setiap hari. Setiap malam.”

“Tapi kamu tetap bertahan.”

“Karena aku sudah kehilangan terlalu banyak. Suamiku. Temanku. Rudi. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Aku tidak ingin kehilangan kalian.”

Bambang merasakan hangat di dadanya. “Kamu tidak akan kehilangan kami. Kita akan selamat. Kita akan pulang.”

“Kamu yakin?”

“Aku tidak yakin. Tapi aku berharap. Dan selama harapan itu masih ada, selama itu kita tidak akan kalah.”

Mereka berdua terdiam. Di luar, suara jangkrik mulai melemah. Tanda malam akan segera berganti pagi.

Bambang memejamkan mata. Perlahan, kegelapan menyelimutinya. Tidak ada mimpi. Tidak ada suara. Hanya kegelapan. Kegelapan yang damai.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Bambang tidur tanpa beban.

1
Mega Arum
luar biaaa...
Mega Arum
lanjuuut tra Thoor
Mega Arum
menegangkan.... tp msh penasaran siapa pak toni dan apa maksut dr perusahaan karet membuat hantu karet
Mega Arum
bagus sekali Thoor..
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!