NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Aku Sedang Mengandung

Tanpa sadar, Aluna mengulurkan tangan dan menyentuh perutnya sendiri. Hati kecilnya tiba-tiba terasa dingin. Ia membatin, "Anakku, seharusnya kamu tidak perlu hadir di rahimku. Suatu hari nanti, kamu pasti akan... meninggalkanku."

"Apa yang sedang kamu pikirkan?"

Melihat Aluna menyentuh perutnya dengan pandangan kosong dan tenggelam dalam pikirannya sendiri, pupil mata Gavin mendadak menyempit.

Gavin sangat mengenal sikap Aluna. Sejak hari pertama mereka terjebak dalam hubungan ini, Aluna selalu mencari celah untuk pergi meninggalkannya. Pria itu juga tidak lupa betapa nekatnya Aluna saat berusaha menyingkirkan janin di kandungannya beberapa waktu lalu.

Rasa kesal kembali menyelimuti benak Gavin. Ia langsung mencengkeram pergelangan tangan Aluna, lalu melontarkan ancaman dengan suara dingin, "Ingat ucapanku kemarin. Kamu dan anak itu tidak akan pernah bisa meninggalkanku seumur hidup kalian."

"Jika kamu menuruti perintahku, fokus pada kehamilanmu, dan tahu batas tokomu di sini, aku akan tetap mengizinkanmu bekerja. Jika tidak... kamu tahu sendiri bagaimana sifatku. Jangan pernah mencoba menguji kesabaranku."

Sorot mata Gavin yang tajam dan sedingin es tidak lagi menyisakan kehangatan yang sempat ia tunjukkan tadi. Nada bicaranya yang menusuk membuat Aluna merasa seolah terlempar ke dalam gua es. Seluruh tubuhnya terasa kaku hingga ke tulang.

Pada akhirnya, ia tetap tidak bisa lepas dari dominasi pria ini.

Aluna memejamkan matanya dengan pasrah, lalu membukanya kembali sembari menyahut lirih, "Aku mengerti."

Melihat sikap Aluna, Gavin perlahan melonggarkan cengkeramannya. Namun, begitu melihat pergelangan tangan gadis itu memerah akibat tarikannya yang terlalu kuat, gurat rasa bersalah kembali muncul di wajah Gavin.

"Aluna, selama kamu tidak pergi meninggalkanku, aku akan menuruti apa pun permintaanmu."

Mendengar ucapan manis tersebut, Aluna mencibir dalam hati. Namun, di permukaan ia tetap memasang wajah patuh dan berkata,

"Beri aku waktu."

"Baiklah." tatapan terkejut sekaligus lega melintas di netra Gavin.

"Sudah hampir masuk jam kerja, aku masuk dulu."

"Iya. Nanti sore aku jemput tepat waktu. Jangan pergi ke mana-mana, tunggu aku."

Setelah memberikan instruksi singkat, Gavin terus memandangi punggung Aluna dengan tatapan berat hingga gadis itu benar-benar melangkah masuk ke dalam gedung pusat seni. Setelah itu, ia baru melajukan mobilnya pergi.

Begitu Aluna memasuki lobi utama, Adrian yang rupanya sudah menunggu di dekat resepsionis segera bergegas menghampirinya. Dengan nada bicara yang hati-hati, Adrian bertanya, "Aluna, apakah pria di luar tadi itu... suamimu?"

Aluna menatap Adrian dengan wajah datar tanpa ekspresi. Ia memilih untuk tidak memberikan jawaban langsung atas pertanyaan itu. Setelah terdiam beberapa saat, Aluna berucap dengan tenang, "Tolong, jangan kirimi aku pesan lagi setelah ini."

Setelah melontarkan kalimat tegas tersebut, Aluna langsung berbalik untuk pergi.

Ekspresi terkejut seketika memenuhi mata Adrian. Ia buru-buru melangkah cepat dan menghadang jalan Aluna. "Aluna, tolong dengarkan aku dulu. Aku ingin bicara baik-baik denganmu."

"Kita bicarakan lain kali saja," jawab Aluna acuh tak acuh, lalu langsung melenggang masuk ke dalam ruang kelasnya.

Sepanjang hari ini, Adrian terus mencoba mendekat dan mencari kesempatan untuk mengobrol, namun Aluna selalu memberikan penolakan.

Pukul lima sore, jam kerja di pusat pelatihan seni akhirnya usai. Aluna keluar dari gedung tepat waktu.

Saat melangkah ke area luar dan tidak mendapati keberadaan mobil Maybach maupun sosok Gavin, Aluna seketika mengembuskan napas lega. "Syukurlah, dia tidak datang."

Namun, baru saja kalimat itu selesai diucapkan, ponsel di dalam tasnya berdering. Nama Gavin tertera di layar. Senyuman lega di wajah Aluna langsung surut. Setelah ragu selama beberapa detik, ia terpaksa menggeser tombol hijau.

"Halo?"

Suara berat Gavin terdengar dari seberang telepon, "Ada urusan mendesak yang harus kuselesaikan di kantor, jadi sore ini aku tidak bisa menjemputmu. Tapi tenang saja, aku sudah memerintahkan Sisi untuk menjemputmu ke sana. Langsung pulang dan makan malam yang banyak, ya? Tunggu aku kembali."

"Baik."

Aluna sebenarnya merasa sangat senang karena tahu Gavin tidak akan datang menjemputnya secara langsung. Tanpa berpikir panjang, ia segera menyetujui ucapan pria itu dengan nada suara yang dibuat seadanya.

Sesaat setelah panggilan telepon terputus, sebuah pesan teks masuk dari Sisi. Pelayan itu mengabarkan bahwa pergelangan kakinya tidak sengaja terkilir saat bekerja, sehingga ia tidak bisa datang menjemput. Sisi meminta Aluna untuk pulang sendiri menggunakan taksi.

"Hahaha, baguslah. Ini malah persis seperti keinginanku," Aluna spontan tertawa kecil setelah membaca pesan tersebut. Merasa terbebas dari pengawasan sesaat, ia memutuskan untuk berjalan kaki santai menikmati sore.

Sambil menyusuri trotoar jalan yang tertutup oleh pepohonan, Aluna menghirup udara sore yang segar. Suasana hatinya mendadak terasa jauh lebih ringan. Namun, ketenangan itu terusik ketika ia menyadari ada sebuah bayangan yang terus mengikuti langkah kakinya dari arah belakang. Jantung Aluna seketika berdegup kencang.

Apakah ada yang menguntitku?

Seketika, memorinya berputar pada berita-berita kriminal tentang kasus penguntitan yang berujung tragis. Rasa takut langsung menjalar ke dalam hatinya, membuat wajah Aluna langsung pucat seketika. Ia mempercepat langkah kakinya dengan panik. Namun, tepat saat ia melewati sebuah belokan gang yang agak sepi, sebuah tangan mendadak menarik tubuhnya masuk ke dalam gang tersebut.

Dalam kondisi panik, Aluna secara naluriah meronta brutal, mencakar, dan mencoba berteriak histeris...

"Aluna, ini aku!"

Namun sebuah suara yang sangat ia kenali memotong kepanikannya. Gerakan meronta Aluna perlahan terhenti. Ia mengernyitkan dahi dalam-dalam, menatap sosok pria yang kini menahan kedua pundaknya. "Adrian? Bagaimana bisa kamu ada di sini?"

"Aluna, aku masih mencintaimu. Selama bertahun-tahun ini, aku sama sekali tidak pernah bisa melupakanmu."

Kalimat lembut yang meluncur dari bibir Adrian seketika menarik paksa memori lama Aluna kembali ke masa-masa indah mereka. Dadanya bergemuruh, di penuhi gejolak emosi yang hebat. Jujur, Aluna juga tidak pernah benar-benar menghapus nama Adrian dari hatinya.

Namun, kenyataan hidupnya saat ini telah berubah total. Mengingat bagaimana ancaman nyata dan kepemilikan absolut dari seorang Gavin, Aluna tidak memiliki pilihan lain selain memotong harapan Adrian demi keselamatan pria itu sendiri.

Dengan tatapan sedih, Aluna berucap dengan pelan, "Aku... sudah mengandung anak pria lain."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!