NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26 Gemuruh terpendam.

Saka melemparkan ponselnya ke atas permukaan meja kerja dengan gerakan kasar. Bunyi benturan keras benda pipih itu seolah menjadi penyalur atas rasa frustrasi yang telah menumpuk di dadanya selama beberapa waktu terakhir.

Ini sudah memasuki hari ketiga semenjak D sama sekali tidak bisa dihubungi. Semua saluran komunikasi terputus, meninggalkan ketidakpastian yang membuat Saka terus berada dalam kondisi waspada dan penuh kecurigaan.

Pintu ruang kerja Saka terbuka pelan, memunculkan sosok Adrian yang melangkah masuk dengan raut wajah yang luar biasa tegang. Asisten sekaligus tangan kanan Saka itu baru saja pulang dari misi rahasia untuk mengecek langsung tempat persembunyian D yang terletak di pinggiran kota yang sunyi.

Melihat kedatangan Adrian, Saka langsung menegakkan posisi duduknya. “Bagaimana? Apa kau bertemu dengannya?”

Adrian menggelengkan kepala dengan perlahan, mengembuskan napas berat sebelum menyampaikan laporan pahitnya. “D tidak ada di sana, Tuan. Rumah kecil yang menjadi tempat persembunyiannya kini dalam keadaan berantakan. Beberapa perabotan hancur, dokumen-dokumen penting raib, dan ada bekas hantaman keras pada pintu kayu utama. Tempat itu seolah-olah baru saja digerebek secara paksa oleh sekelompok orang.”

Saka mengurut pelipis kepalanya yang mendadak terasa pening dan berdenyut sakit. Kabar ini laksana hantaman sekunder setelah rentetan masalah domestik yang dihadapinya beberapa hari terakhir.

Di dalam hatinya, Saka mati-matian berharap dan berdoa agar D tidak tertangkap oleh pihak musuh. Jika D sampai membuka mulut, banyak rahasia besar yang terancam akan bocor ke permukaan.

Ketika waktu berputar mendekati siang hari, atmosfer tegang di koridor utama kantor Tanubrata Group mendadak bergeser. Prisha tiba di gedung perusahaan dengan dagu terangkat, memperlihatkan aura khas seorang Putri Kaelen. Di kedua tangannya, ia menjinjing sebuah rantang stainless steel susun tiga, menepati janji manis yang sempat ia ucapkan di meja makan tadi pagi.

Di ujung lorong dekat meja resepsionis, Angel kebetulan sedang berjalan membawa berkas berkas. Namun, begitu sepasang matanya menangkap siluet Prisha yang melangkah mendekat, tubuh Angel seketika menegang.

Tanpa membuang waktu, Angel langsung memutar tubuhnya dan bersembunyi di balik bilik pembatas ruangan, menahan napas dalam-dalam sampai gadis yang dianggapnya seperti malaikat maut itu benar-benar masuk ke dalam lift khusus eksekutif.

Cling.

Pintu lift terbuka di lantai paling atas. Prisha berjalan santai menuju ruang kerja Saka. Begitu tiba di depan pintu kayu ganda yang megah, ia tidak mengetuk melainkan langsung mendorongnya pelan karena pintunya memang tidak dikunci dari dalam.

“Kak Saka,” panggil Prisha dengan nada suara yang sengaja dibuat ceria dan sedikit manja.

Adrian yang saat itu masih berada di dalam ruangan tengah berdiskusi serius dengan Saka, langsung menghentikan kalimatnya. Menyadari kehadiran sang nona besar yang tidak boleh diganggu, Adrian segera membungkuk hormat dan pamit pergi demi memberikan privasi. “Saya permisi dulu, Tuan Muda, Nona Prisha.”

Setelah Adrian keluar dan pintu tertutup rapat, Prisha melangkah mendekati meja sofa santai yang terletak di sisi ruangan. Ia mulai membuka kancing pengait rantangnya satu per satu, menyusun wadah-wadah makanan itu ke atas meja dengan gerakan yang teratur, memamerkan beberapa menu makan siang yang masih hangat.

“Aku membawa makan siang seperti janjiku tadi pagi,” ucap Prisha sembari menyodorkan sepasang sendok ke arah Saka yang kini berjalan mendekat dan duduk di sofa seberangnya.

Prisha menunjuk ke arah salah satu wadah yang berisi bulatan-bulatan berwarna cokelat keemasan. “Perkedel ini ... aku sendiri yang membuatnya. Kepala koki mansion membantu memandu resepnya untukku. Cobalah, Kak. Enak gak?”

Saka menatap perkedel kentang di hadapannya dengan pandangan datar, namun ia tetap meraih sendoknya. Ia memotong sedikit perkedel itu lalu memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya secara perlahan. “Lumayan,” jawab Saka singkat tanpa ekspresi berlebihan.

Jawaban yang terkesan minimalis dan dingin itu sama sekali tidak membuat Prisha berkecil hati. Sebaliknya, senyuman manis justru semakin merekah di wajah. “Aku akan membuatnya lagi nanti jika Kak Saka memang suka.”

Saka meneguk air putihnya sekilas sebelum menatap Prisha dengan sorot mata menyelidik yang tajam. “Kau sengaja datang ke sini hanya untuk mengantarkan ini? Kuliahmu sudah selesai?”

“Sudah selesai sejak jam sebelas tadi,” sahut Prisha sembari menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Saka yang mulai menyantap makanan lainnya. “Wahana bertahan hidup di kampus hari ini sangat membosankan. Dosennya menjelaskan materi dengan nada suara seperti sedang menyanyikan lagu pengantar tidur. Makanya, begitu kelas usai, aku langsung bergegas ke sini karena aku tahu ada pria sibuk yang harus kuingatkan untuk makan.”

Saka tidak membalas lagi. Ia melanjutkan makannya dalam keheningan yang panjang. Setelah makan bersama selesai, Prisha dengan telaten membereskan seluruh bekas wadah makanan dan mengelap permukaan meja kaca hingga bersih kembali.

Namun, setelah semuanya rapi, gadis itu sepertinya sama sekali tidak memiliki niat untuk beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ia memilih duduk di sofa sudut, membuka ponselnya untuk membaca jurnal kuliah atau sekadar berselancar di media sosial.

Saka sendiri tidak mengusirnya. Ia membiarkan Prisha tetap berada di sana, asalkan gadis itu tidak berisik, tidak membuat keributan, atau mengganggu fokus kerjanya di meja utama.

Waktu terus bergulir tanpa terasa hingga kegelapan malam mulai menyelimuti kaca-kaca besar gedung Tanubrata Group. Jarum jam telah menunjukkan pukul tujuh malam ketika Saka akhirnya merapikan berkas terakhirnya dan bangkit berdiri. Ia melirik ke arah Prisha yang ternyata sempat ketiduran di sofa dengan posisi menyamping.

“Prisha, bangun. Ayo pulang,” ajak Saka sembari mengetuk pinggiran sofa.

Prisha mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya ruangan, lalu mengangguk patuh sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

Melihat Prisha sudah keluar dari ruangan bersama dengan Saka, Bora yang sejak siang tadi menunggu dengan setia di ruang tunggu langsung berdiri tegap dan berjalan mengikuti langkah mereka berdua dari arah belakang.

Perjalanan pulang di dalam mobil diliputi oleh keheningan yang kaku, hanya ditemani oleh suara desis AC dan lagu instrumental klasik dari radio dan cerita Prisha tentang kampusnya yang menyebalkan.

Sesampainya di mansion Tanubrata, Saka menyerahkan kunci mobilnya kepada pelayan lobi. Namun, begitu melangkah masuk melewati pintu utama, langkah kaki Saka dan Prisha seketika melambat saat mendengar suara tawa riang dan obrolan akrab yang menggema dari arah ruang tamu utama.

Ternyata di dalam rumah saat ini sedang ada tamu istimewa. Sepupu Saka yang bernama Nares, tampak sedang duduk bersama dengan istrinya, Jaila, di atas sofa. Mereka berdua tengah ditemani oleh Nyonya Ratih yang malam itu terlihat menyambut mereka dengan gembira sembari menyuguhkan teh dan camilan.

Saka agak terkejut melihat kehadiran sepupunya yang jarang berkunjung tanpa pemberitahuan itu. Namun, sebagai tuan rumah yang baik, ia segera berjalan mendekat dan mengambil tempat duduk di salah satu sofa kosong untuk menyapa sepupunya. “Nares. Kapan kau tiba?”

“Baru sekitar setengah jam yang lalu, Saka,” jawab Nares dengan senyuman lebar yang ramah sembari menjabat tangan Saka.

Prisha yang berdiri di belakang Saka merasa bahwa ini adalah urusan keluarga internal Tanubrata. Ia tidak ingin mengganggu momen berkumpul mereka dan berniat untuk langsung melangkah pergi naik ke lantai atas menuju kamarnya. Namun, baru saja ia memutar tubuh, suara Ratih yang seketika memanggil namanya dengan tegas.

“Prisha, kemarilah. Jangan langsung ke atas,” panggil Ratih sembari melambaikan tangan kirinya, memberi isyarat agar gadis itu mendekat.

Prisha menghentikan langkahnya, menoleh sekilas ke arah Bora yang memberikan anggukan penyemangat kecil, lalu berjalan mendekati area sofa. Ia mengambil tempat duduk tepat di samping Ratih, memasang senyuman terbaiknya.

“Jaila, ini Prisha. Calon tunangan Saka,” kenal Ratih dengan nada bangga yang sengaja ditekankan, menatap langsung ke arah istri Nares. “Doakan saja ya, semoga Saka bisa segera membuka hatinya sepenuhnya untuk gadis cantik ini agar hubungan mereka bisa cepat diresmikan.”

Mendengar perkenalan yang begitu blak-blakan dari Ratih, Prisha mempertahankan senyum manisnya, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan untuk memberikan salam hormat. “Halo, Kakak. Senang bertemu denganmu.”

Jaila membalas senyuman Prisha dengan binar mata yang hangat dan tulus. “Astaga, cantik sekali. Senang bertemu denganmu juga, Prisha.”

Saat Jaila membetulkan posisi duduknya, pandangan mata Prisha tanpa sengaja menurun dan menoleh ke arah perut Jaila yang tampak membuncit di balik gaun longgar yang dikenakannya. Wanita itu ternyata sedang hamil.

Melihat perut buncit itu, Prisha seketika merasakan kilatan pemahaman yang melintas di benaknya. Ia melirik sekilas ke arah Ratih yang menatap perut Jaila dengan pandangan yang sarat akan rasa iri sekaligus dambaan yang mendalam.

Sekarang, Prisha sama sekali tidak heran mengapa sikap Ratih tampak semakin menggebu-gebu dan agresif dalam menuntut pernikahan serta keturunan dari Saka akhir-akhir ini. Pasalnya, Nares—sepupu yang usianya sebaya dengan Saka—saja sudah akan segera memiliki anak dan memberikan cucu bagi garis keturunan keluarga besar mereka, sementara Saka masih terjebak dalam bayang-bayang masa lalu bersama wanita yang divonis mandul.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!