Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Lima Menit
"Aku ingin bicara." Rendra berdiri di depan pintu ruang rapat sambil menggenggam berkas di tangannya lebih erat.
"Saya tidak ingin." Kirana memasukkan buku catatannya ke dalam map tanpa menoleh ke arah pria itu.
"Aku hanya butuh lima menit." Rendra berusaha menahan nada suaranya agar tetap tenang.
"Saya tidak punya lima menit." Kirana berdiri dari kursinya lalu merapikan berkas yang akan dibawanya keluar.
Suasana di dalam ruang rapat berubah canggung. Tegar memilih memeriksa dokumen di depannya, sementara Gavin pura-pura sibuk dengan ponselnya meskipun layar yang dibuka sejak tadi tidak berubah sama sekali. Di antara semua orang yang berada di sana, hanya Aiden yang tetap memperhatikan percakapan itu tanpa berusaha menyembunyikannya.
"Aku tidak akan mengganggumu lama." Rendra melangkah setengah langkah mendekat.
"Masalahnya bukan soal waktu." Kirana mengangkat pandangannya untuk pertama kali sejak percakapan itu dimulai.
"Lalu apa?" Rendra menatapnya penuh harap.
"Saya tidak tertarik mendengar kebohongan baru." Kirana memeluk map di dadanya sebelum berjalan melewati pria tersebut.
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang diperlihatkan ekspresi Kirana. Rendra berdiri diam beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. Selama ini ia selalu mengira istrinya akan tetap berada di tempat yang sama, menunggu apa pun yang ia lakukan. Kini untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa kesabarannya memiliki batas.
.
"Kalau saya jadi dia, saya sudah pindah negara." Gavin menyandarkan tubuh ke kursi setelah pintu ruang rapat tertutup.
"Kamu selalu berlebihan." Tegar menutup map di depannya.
"Saya realistis." Gavin mengangkat bahunya santai.
"Kamu tidak tahu arti realistis." Aiden berdiri dari kursinya sambil mengambil beberapa dokumen.
"Saya tahu." Gavin ikut berdiri. "Realistis itu menerima kenyataan kalau Bos sedang kesal."
"Aku tidak kesal." Aiden berjalan menuju pintu.
"Nah, itu tandanya Bos sangat kesal." Gavin mengangguk yakin.
Tegar akhirnya tertawa kecil. Sejak mengenal dua sahabat itu bertahun-tahun lalu, pola mereka hampir tidak pernah berubah. Gavin akan terus berbicara sampai membuat orang lain ingin melempar sesuatu, sementara Aiden akan berpura-pura tidak terganggu meskipun kenyataannya sebaliknya.
.
"Kirana." Dita menghentikan langkah sahabatnya begitu mereka tiba di pantry.
"Ada apa?" Kirana meletakkan map di atas meja.
"Kamu baik-baik saja?" Dita menuangkan air panas ke dalam gelas kertas.
"Sampai kapan semua orang akan menanyakan itu?" Kirana membuka botol air minumnya.
"Sampai wajahmu berhenti terlihat seperti orang yang ingin membakar dunia." Dita menyerahkan gelas itu kepadanya.
Kirana menghela napas pelan.
"Aku baik-baik saja." Kirana menerima gelas tersebut.
"Kamu berbohong." Dita langsung menyela.
"Aku tidak berbohong."
"Kamu hanya tidak jujur." Dita bersandar ke meja.
Perbedaan keduanya memang tipis, namun Dita mengenal Kirana terlalu lama untuk tertipu oleh jawaban standar yang selalu digunakan sahabatnya ketika sedang terluka.
"Aku tidak ingin membahas dia." Kirana memandang cairan hangat di dalam gelasnya.
"Kalau begitu kita bahas orang lain." Dita tersenyum tipis.
"Siapa?"
"CEO yang dari tadi memperhatikanmu."
"Dita." Kirana langsung menatapnya datar.
"Apa?" Dita mengangkat kedua tangannya.
"Tidak lucu."
"Menurutku lucu."
Kirana memilih meminum airnya daripada melanjutkan percakapan itu. Sayangnya, Dita bukan tipe orang yang mudah menyerah jika sudah menemukan topik yang menarik.
"Dia khawatir." Dita menyilangkan kedua tangannya.
"Dia atasan." Kirana mengoreksi.
"Dia khawatir."
"Dia hanya memastikan pekerjaan berjalan normal."
"Kalau begitu kenapa dia melihat ke pantry tiga kali dalam dua menit?" Dita menunjuk ke arah dinding kaca.
Kirana refleks menoleh dan benar saja. Aiden sedang berdiri di dekat ruangannya sambil berbicara dengan Gavin. Mungkin itu kebetulan, atau mungkin tidak.
.
"Bos." Gavin mengikuti arah pandangan Aiden menuju pantry.
"Hm?" Aiden tetap berdiri di tempatnya.
"Kalau terus melihat ke sana, kaca itu bisa malu." Gavin memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Aku sedang berpikir."
"Kenapa selalu ke arah yang sama?" Gavin menyeringai.
Aiden tidak menjawab dan itu justru membuat Gavin semakin yakin.
"Kamu tahu?" Gavin menatap sahabatnya penuh rasa ingin tahu.
"Tahu apa?" Aiden akhirnya menoleh.
"Aku mulai kasihan."
"Kepada siapa?"
"Kepada Bos."
"Kenapa?" Aiden mengernyit.
"Karena wanita yang Bos sukai ternyata lebih keras kepala daripada Bos." Gavin mengangguk mantap.
"Aku tidak menyukainya." Aiden berjalan menuju ruangannya.
"Ya." Gavin mengikuti dari belakang. "Dan saya adalah penari balet internasional."
.
.
.
Menjelang sore, suasana kantor mulai kembali normal. Pekerjaan yang menumpuk membuat sebagian besar orang kembali fokus pada tugas masing-masing. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama ketika seorang staf HR muncul di depan meja Kirana sambil membawa beberapa dokumen.
"Kirana." staf itu tersenyum canggung.
"Iya?" Kirana menghentikan ketikannya.
"Ada berkas yang perlu ditandatangani."
"Berkas apa?" Kirana menerima map tersebut.
"Mutasi."
Jemari Kirana berhenti bergerak, hanya sepersekian detik, namun cukup untuk membuat staf itu ikut gugup.
"Mutasi siapa?" tanya Kirana sambil membuka map tersebut.
"Rendra Atmajaya." staf itu menjawab hati-hati.
Kirana membaca halaman pertama lalu halaman kedua, lalu halaman ketiga, semakin banyak yang dibaca, semakin tenang wajahnya terlihat, namun orang yang mengenalnya dengan baik akan langsung menyadari bahwa ketenangan itu bukan pertanda baik.
"Kenapa saya menerima ini?" Kirana menutup map tersebut.
"Karena posisi yang dia lamar akan bekerja satu divisi dengan direksi." staf itu berdeham pelan.
"Saya bukan HR."
"Tapi Tuan Aiden meminta pendapatmu."
Kirana mengangkat pandangan.
.
"Bos sedang mencari masalah." Gavin menggeleng saat mendengar laporan itu beberapa menit kemudian.
"Aku hanya ingin mendengar pendapatnya." Aiden tetap fokus membaca laporan.
"Tidak ada orang waras yang meminta istri menilai mutasi suaminya sendiri."
"Karena itu aku meminta Kirana."
"Itu bukan jawaban." Gavin menarik kursi lalu duduk.
Aiden akhirnya meletakkan dokumen yang dibacanya.
"Kalau dia benar-benar ingin memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan, ini kesempatan untuk membuktikannya." Aiden menatap sahabatnya.
Gavin terdiam beberapa saat, lalu mengangguk pelan. Meski terkadang menyebalkan, keputusan Aiden jarang dibuat tanpa alasan.
.
.
"Tuan." Kirana berdiri di depan meja CEO sekitar satu jam kemudian sambil membawa map yang sama.
"Ada keputusan?" Aiden mengangkat kepalanya.
"Ada." Kirana meletakkan map tersebut di atas meja.
"Aku mendengarkan."
"Secara profesional, dia memenuhi syarat." Kirana berdiri tegak dengan ekspresi tenang.
Aiden tidak terkejut, sama sekali tidak karena ia memang sudah menduga jawaban itu.
"Dan secara pribadi?" tanya Aiden sambil menyatukan kedua tangannya di atas meja.
"Saya tidak ingin bertemu dia setiap hari." Kirana menjawab jujur.
"Itu masuk akal."
"Tapi itu bukan alasan untuk menolak mutasi." Kirana mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
Kalimat itu membuat Aiden terdiam beberapa saat. Di saat orang lain mungkin akan menggunakan kesempatan tersebut untuk membalas dendam, Kirana justru tetap berusaha objektif. Itulah yang membuatnya semakin sulit mengalihkan perhatian dari wanita itu.
"Kalau keputusan akhir ada di tangan Tuan, lakukan apa yang menurut Tuan benar." Kirana mengambil kembali map kosong di atas meja.
"Aku akan mempertimbangkannya." Aiden mengangguk pelan.
"Terima kasih." Kirana berbalik menuju pintu.
Namun langkahnya terhenti ketika ponsel di tangannya tiba-tiba berdering. Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya berubah.
"Aku tidak akan mengangkatnya." Kirana mematikan layar ponselnya.
"Aku tidak menyuruhmu mengangkat." Aiden memperhatikan perubahan kecil di wajah wanita itu.
"Saya hanya menjelaskan." Kirana memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Aku tahu."
Keheningan muncul selama beberapa detik, namun kali ini bukan keheningan yang nyaman karena tepat ketika Kirana hendak keluar dari ruangan, ponselnya kembali berdering dan kali ini bukan panggilan, melainkan pesan. Pesan yang membuat wajahnya perlahan kehilangan warna.
"Kenapa?" tanya Aiden sambil berdiri dari kursinya.
Kirana tidak langsung menjawab. Jemarinya justru menggenggam ponsel itu semakin erat sebelum akhirnya mengangkat layar ke arah Aiden.
"Tuan..." suara Kirana terdengar jauh lebih pelan dari biasanya.
Aiden segera membaca isi pesan tersebut dan dalam sekejap, wajahnya ikut berubah karena pesan yang dikirim Rendra hanya terdiri dari satu kalimat pendek:
Ayahmu pingsan. Sekarang berada di rumah sakit.