NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Tiga hari setelah pemeriksaan pertama yang penuh teka-teki, Aurora kembali menapakkan kakinya di koridor rumah sakit pusat New York. Kali ini, ia melangkah sendirian tanpa ada sosok tegap yang menggandeng tangannya.

Alexander sebenarnya bersikeras ingin ikut menemani sejak awal. Namun, pagi itu sebuah agenda krusial mendadak tidak bisa ditinggalkan; rapat penting bersama dewan direksi dan keluarga besar Kingsley.

Layar ponsel Aurora menyala, menampilkan sebaris pesan singkat yang masuk tepat sebelum ia turun dari taksi.

Alexander:

"Aku antar setelah rapat selesai."

Aurora yang baru saja melangkah memasuki lobi rumah sakit langsung menghela napas pendek. Jemarinya bergerak cepat mengetik balasan di atas layar.

Aurora:

"Nggak usah, Alex. Cuma pemeriksaan biasa, kok."

Balasan dari pria itu langsung masuk dalam hitungan detik.

Alexander:

"Aurora."

Aurora tersenyum kecil melihat kedisplinan pria itu yang selalu memanggil nama lengkapnya jika sedang tidak ingin dibantah. Sebelum ia sempat membalas, pesan berikutnya kembali masuk.

Alexander:

"Kalau selesai langsung kabarin aku."

Aurora:

"Iya."

Aurora memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel. Meski ia mengiyakan, di dalam hatinya sendiri, ia tidak yakin akan sanggup mengatakan apa pun kepada Alexander nanti.

---

Rumah sakit pagi itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Atau mungkin, itu hanya perasaan Aurora saja yang sedang diselimuti kegelisahan.

Aurora duduk sendirian di deretan kursi ruang tunggu VIP. Jari-jarinya bertautan, bergerak gelisah tanpa sadar dengan tatapan yang kosong. Pikirannya mendadak liar, dipenuhi oleh berbagai kemungkinan buruk yang sejak beberapa hari lalu mulai mengganggu tidurnya.

Sampai akhirnya, sebuah suara memecah keheningan koridor.

"Nona Aurora Quinn."

Aurora tersentak bangkit dari duduknya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya, lalu melangkah perlahan mengikuti perawat menuju ruang dokter.

---

Begitu melewati ambang pintu, insting Aurora langsung menangkap ada perubahan atmosfer yang ganjil. Dokter spesialis wanita paruh baya yang menanganinya tempo hari kini duduk tegak di balik meja kerja. Ekspresinya terlihat jauh lebih serius, dengan sorot mata yang menyiratkan beban yang teramat berat.

Deg.

Perasaan tidak nyaman yang sempat reda kini kembali muncul dan mencengkeram dada Aurora.

"Silakan duduk, Nona Quinn," ujar dokter tersebut dengan nada suara yang sengaja dilembutkan.

Aurora mengangguk kaku, mendudukkan diri di kursi tepat di hadapan sang dokter. Telapak tangannya mendadak mendingin dan mulai berkeringat.

Dokter itu membuka beberapa lembar berkas rekam medis yang baru saja dicetak dari laboratorium. Ia membaca lembar demi lembar hasil pemeriksaan itu dalam keheningan yang terasa panjang. Terlalu panjang dan menyiksa bagi Aurora yang sejak tadi menahan napas.

Melihat kebungkamannya, Aurora mulai gelisah dan tidak sanggup lagi membendung rasa penasarannya. "Dokter..."

Dokter itu mengangkat kepalanya perlahan dari kertas medis. "Ya?"

"Apakah... ada sesuatu?" tanya Aurora lirih.

Dokter tidak langsung menjawab. Ia sempat menjeda selama beberapa detik, dan justru reaksi itulah yang membuat rasa takut di dalam diri Aurora melesat berkali-kali lipat.

Akhirnya, dokter itu menarik napas panjang secara perlahan. "Kami menemukan beberapa hal dari hasil analisis laboratorium yang perlu diperhatikan lebih lanjut, Nona Quinn."

Deg.

Aurora refleks menggenggam erat jemarinya sendiri di bawah meja. "Maksud Dokter... bagaimana?"

Dokter itu kembali mengalihkan pandangannya pada sebaris angka dan grafik di laporan pemeriksaan. "Ada beberapa indikator hasil yang tidak sesuai dengan apa yang biasanya kami harapkan untuk kondisi fisik pasien seusia Anda."

Jantung Aurora berdegup kian kencang secara konstan. "Tidak sesuai bagaimana, Dok? Tolong jelaskan."

Dokter paruh baya itu tampak memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati, seolah-olah sedang menyusun benteng pertahanan agar pasien mudanya tidak terkejut. "Saya belum ingin memberikan kesimpulan pasti atau diagnosis mutlak sekarang."

"Lalu?" kejar Aurora, suaranya mulai terdengar mendesak.

"Karena saya ingin memastikan akurasi datanya terlebih dahulu melalui evaluasi yang lebih komprehensif," jawab dokter itu dengan nada suara yang diatur serendah mungkin untuk menjaga ketenangan ruangan.

Dada Aurora mulai terasa sesak, seolah pasokan udara di ruangan bernuansa putih itu mendadak menipis. "Apakah kondisi saya... seserius itu, Dok?"

Dokter itu terdiam cukup lama, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Aurora yang mulai berkaca-kaca. Kemudian, ia menjawab pelan dengan senyum tipis yang sarat akan empati, "Saya harap tidak."

Deg.

Kalimat itu seharusnya berfungsi sebagai penenang. Namun entah kenapa, bagi Aurora, jawaban itu justru terdengar seperti sebuah konfirmasi bahwa ada hal buruk yang sedang mengintai tubuhnya.

Dokter lalu menyerahkan beberapa lembar formulir pemeriksaan tambahan berskala besar ke hadapan Aurora. "Saya ingin Anda kembali lagi minggu depan untuk menjalani tes menyeluruh ini."

Aurora menerima lembaran itu dengan tangan yang sedikit bergetar. "Apakah saya harus khawatir, Dok?"

Dokter itu tersenyum tipis, namun kali ini Aurora bisa melihat dengan jelas bahwa senyuman itu sama sekali tidak mencapai matanya. "Untuk saat ini, tolong jangan memikirkan hal-hal yang belum pasti terjadi. Istirahatlah yang cukup."

Tapi Aurora tahu. Ada sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh dokter tersebut darinya. Sesuatu yang begitu besar, hingga membuat seorang dokter spesialis senior bersikap sangat berhati-hati sejak awal konsultasi dimulai.

---

Setelah seluruh sesi konsultasi selesai, Aurora melangkah keluar dari ruangan dokter dengan tubuh lemas. Langkah kakinya terasa teramat berat, seolah setiap pijakan menuntut energi yang besar dari tubuhnya.

Baru beberapa meter ia menjauh dari pintu ruang praktik, ponsel di dalam mantelnya bergetar hebat.

Alexander Calling...

Aurora menghentikan langkahnya di tengah koridor rumah sakit yang ramai. Ia menatap layar ponsel itu beberapa saat dengan perasaan bimbang, sebelum akhirnya menggeser layar dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

"Halo, Alex?"

"Gimana hasilnya?" suara berat Alexander langsung terdengar dari seberang telepon, memecah lamunan Aurora. Nada suaranya menyiratkan rasa cemas yang kentara, meski pria itu sedang berada di tengah lingkungan keluarganya.

Aurora memejamkan matanya rapat-rapat dalam satu kedipan cepat. Bayangan ekspresi serius dokter beberapa menit lalu langsung terlintas di kepalanya. Keheningan yang panjang, tatapan iba, dan cara dokter menghindari jawaban lugasnya seolah berputar-putar di benaknya.

Namun, demi melihat ketulusan dan ketakutan Alexander yang tidak ingin ia tambah beban pikirannya, Aurora menarik napas pendek secara diam-diam. Ia memaksakan seulas senyum palsu di bibirnya meskipun tidak ada yang melihat.

"Nggak ada apa-apa, Alex. Semuanya baik," bohong Aurora dengan nada suara yang diatur sedatar mungkin agar tidak terdengar bergetar.

Suasana di seberang telepon mendadak hening selama satu detik, sebelum akhirnya Alexander mengembuskan napas lega yang panjang dan tertawa kecil. "Baguslah kalau begitu. Aku sempat tidak fokus rapat karena memikirkanmu. Pulanglah, istirahat di apartemen."

"Iya, Alex," jawab Aurora lirih sebelum mematikan sambungan telepon.

Begitu panggilan terputus, Aurora menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan air mata yang mendesak ingin tumpah. Karena untuk pertama kalinya sepanjang hubungan mereka, ia berbohong begitu besar pada pria yang paling dicintainya. Dan ia tidak pernah menduga bahwa kebohongan kecil hari ini akan menjadi awal dari jarak tak kasatmata yang perlahan-lahan tumbuh di antara mereka berdua.

---

Sementara itu, di dalam ruang praktik yang sunyi.

Dokter spesialis itu kembali membuka lembar laporan laboratorium milik Aurora Quinn yang sempat ia tutup tadi. Tatapannya berhenti lama pada satu baris analisis laporan seluler di bagian bawah kertas.

Dokter itu menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu menghela napas panjang yang teramat berat. Gurat kecemasan tercetak jelas di wajahnya yang menua.

Sebab di atas meja itu, tertera sebuah kemungkinan medis yang mengerikan—sebuah kenyataan pahit yang belum berani ia sampaikan langsung kepada gadis muda sekeras kepala Aurora. Kemungkinan fatal yang jika terbukti benar, akan mengubah dan meruntuhkan seluruh masa depan yang tengah dibangun oleh Aurora Quinn.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!