Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Terakhir
Arka tidak tidur malam itu.
Dia duduk di kursi goyangnya, menatap foto pudar itu—anak laki-laki kecil di depan pohon mangga, tulisan yang bukan milik siapa pun yang dia kenal, empat kata yang terus berputar di kepalanya seperti jarum jam yang tidak bisa berhenti.
Jangan berhenti di sini.
Menjelang subuh, dia membuat keputusan.
Bukan keputusan yang dia ambil dengan mudah—dia sudah tujuh puluh tahun lebih menjalani hidup ini, sudah terlalu banyak kehilangan dan menemukan, sudah terlalu paham tentang harga dari setiap perubahan. Tapi ini berbeda dari perjalanan-perjalanan sebelumnya. Dia tidak ingin mengubah apa pun. Dia tidak ingin "memperbaiki" apa pun.
Dia hanya ingin menemukan Sera.
Pagi itu, sebelum Nadia bangun, Arka duduk di meja dapur, menulis surat—surat yang berbeda dari semua surat yang pernah dia tulis sebelumnya.
"Nadia,
Kalau kamu baca ini, artinya aku sudah pergi—tapi bukan dengan cara yang kamu takutkan. Aku baik-baik saja. Atau setidaknya, aku berharap demikian.
Ada seseorang yang pernah menyelamatkan hidupku—dengan cara yang tidak pernah aku ceritakan sepenuhnya, bahkan kepadamu. Seseorang yang memberiku peringatan ketika aku paling membutuhkannya, yang mengajari aku tentang harga dari setiap pilihan, yang melakukan semua itu meski dia sendiri sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan.
Namanya Sera. Dan aku percaya dia masih ada, di suatu tempat, sendirian—di dunia yang sudah tidak punya siapa pun lagi untuknya.
Aku tidak bisa membiarkan itu.
Aku tahu ini mungkin terdengar gila. Aku tahu kamu mungkin akan marah, atau takut, atau keduanya. Tapi kamu juga tahu—kamu selalu tahu—bahwa ada bagian dari aku yang tidak pernah bisa berhenti, selama masih ada seseorang yang membutuhkan untuk diingat.
Aku akan kembali. Aku tidak tahu kapan, atau bagaimana. Tapi aku akan kembali.
Karena kamu—kamu, Kirana, Damar kecil, rumah ini, pohon mangga di halaman—adalah alasan terkuat yang pernah aku punya untuk selalu kembali.
Aku mencintaimu. Dulu, sekarang, dan di dunia mana pun aku berada.
Arka."
Dia melipat surat itu, meletakkannya di atas meja dengan batu kecil sebagai pemberat—batu yang dulu dipungut Kirana dari pantai, waktu dia masih kecil, dan diberikan ke Arka dengan berkata, "Ini buat Papa, biar Papa nggak gampang terbawa angin."
Lalu Arka berjalan ke kamar, berdiri di ambang pintu, menatap Nadia yang masih tidur—wajahnya tenang, rambutnya putih tersebar di bantal, napasnya teratur.
Dia berdiri di sana lama. Sangat lama.
Memikirkan semua momen yang mereka bagikan—dari dua anak kecil di halaman, bertukar salam untuk pertama kalinya, sampai tujuh puluh tahun lebih kehidupan yang dibangun bersama, satu hari demi satu hari.
"Aku akan kembali," bisiknya, cukup pelan untuk tidak membangunkan Nadia, tapi cukup keras untuk dirinya sendiri bisa mendengarnya. "Aku janji."
Lalu dia berjalan ke halaman, berdiri di bawah pohon mangga yang tua, dan melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya dengan cara ini—bukan menunggu kesedihan yang cukup dalam untuk memicunya, bukan menunggu tangisan yang pecah karena tidak bisa ditahan.
Tapi dengan sadar, dengan tenang, dia memejamkan matanya, dan memilih.
Untuk pertama kalinya dalam semua perjalanannya, dia tidak membiarkan emosi yang mengendalikan kekuatan itu. Dia yang mengendalikannya—pelan, seperti membuka pintu yang sudah lama dia ketahui ada di sana, hanya belum pernah dia coba buka dari arah ini.
Dan ternyata, kekuatan itu merespons.
Dunia mulai bergetar—bukan seperti dulu, bukan dengan kepanikan dan kehilangan kendali, tapi lebih seperti ombak yang naik perlahan, membawanya ke permukaan daripada menenggelamkannya.
Cahaya putih datang—lembut, tidak membutakan.
Dan Arka membiarkannya.
Ketika cahaya itu memudar, Arka membuka matanya.
Dia berdiri di tempat yang tidak dia kenali—sebuah taman kecil, dengan bangku-bangku tua dan pohon-pohon yang daunnya gugur, seperti musim gugur yang tidak pernah berakhir. Langitnya abu-abu—bukan gelap, tapi abu-abu yang lembut, seperti senja yang tidak pernah sampai ke malam, tidak pernah kembali ke siang.
Tempat ini—tempat "di antara." Tempat yang bukan dunia mana pun secara spesifik, tapi yang entah bagaimana, terasa seperti persimpangan dari semua dunia yang pernah ada.
Dan di sebuah bangku tua di sudut taman, duduk seorang wanita—rambut sebahu yang sudah banyak memutih, jaket abu-abu yang sudah usang, menatap ke sesuatu yang tidak bisa Arka lihat, dengan ekspresi orang yang sudah lama terbiasa dengan kesendirian.
Jantung Arka berdebar.
Sera.
Bukan Sera muda yang dia kenal di kafe Kopi Senja, puluhan tahun lalu. Bukan Sera versi baru yang dia temui di pasar buku. Ini Sera yang asli—Sera yang sudah tua, yang wajahnya menyimpan jejak dari tujuh belas perjalanan dan semua tahun yang mengikutinya, yang bahunya sedikit membungkuk seperti seseorang yang sudah terlalu lama menanggung beban yang tidak terlihat.
Arka berjalan pelan ke arahnya, melewati daun-daun gugur yang tidak bersuara saat diinjak.
Sera tidak menoleh—mungkin terbiasa dengan dunia ini yang sepi, mungkin tidak menduga ada yang bisa datang ke tempat ini.
"Sera," kata Arka.
Wanita itu membeku. Perlahan, sangat perlahan, dia menoleh—dan ekspresi di wajahnya saat dia melihat Arka adalah sesuatu yang tidak bisa Arka gambarkan dengan kata-kata. Bukan kejutan. Bukan kegembiraan. Tapi sesuatu yang lebih dalam—seperti orang yang sudah lama berhenti berharap, dan tiba-tiba menemukan bahwa berharap masih mungkin.
"Arka?" suaranya serak, seperti suara yang sudah lama tidak digunakan.
"Iya," kata Arka, duduk di sampingnya di bangku tua itu. "Aku di sini."
Sera menatapnya lama—menatap wajah tua Arka, rambut putihnya, tangan yang sudah keriput—dan untuk pertama kalinya dalam apa yang mungkin sudah sangat lama bagi Sera, air matanya mengalir.
"Kamu tua," katanya akhirnya, suaranya antara tertawa dan menangis.
"Iya," kata Arka, tersenyum. "Kamu juga."
Sera tertawa—tawa singkat, serak, tapi tulus. Tawa yang terdengar seperti sesuatu yang sudah sangat lama tidak keluar.
"Bagaimana kamu bisa—" dia berhenti, mencoba mencari kata-kata. "Bagaimana kamu tahu di mana aku?"
"Aku nggak tau," kata Arka jujur. "Aku cuma... aku cuma memilih untuk mencarimu. Dan ternyata itu cukup."
Sera menatapnya—menatap dengan cara yang mengingatkan Arka pada pertemuan pertama mereka di kafe, puluhan tahun lalu, tapi dengan sesuatu yang berbeda sekarang. Dulu, Sera menatapnya dengan kelelahan yang berdamai dengan dirinya sendiri. Sekarang, ada sesuatu yang retak di sana—sesuatu yang sudah lama tertutup rapi, tapi sekarang, dengan kehadiran Arka, mulai terbuka lagi.
"Arka," katanya pelan, "kamu seharusnya nggak ke sini. Kamu punya—kamu punya Nadia, dan anak kamu, dan cucu kamu. Kamu punya hidup yang—"
"Aku tahu," kata Arka, memotong lembut. "Dan aku akan kembali ke sana. Tapi aku nggak akan kembali tanpa memastikan kamu baik-baik saja dulu."
Sera menatapnya, bibirnya bergetar. "Nggak ada yang pernah—nggak ada yang pernah datang ke sini buat aku."
"Aku tahu," kata Arka lagi, suaranya lembut. "Maaf aku terlambat."
Dua kata itu—maaf aku terlambat—membuka sesuatu dalam diri Sera yang sudah lama terkunci. Dia menundukkan kepala, bahunya berguncang, dan untuk pertama kalinya dalam semua perjalanan panjang yang sudah dia lalui sendirian, dia menangis—bukan tangis yang ditahan, tapi tangis yang dilepaskan, tangis yang sudah sangat lama menunggu ada seseorang yang cukup peduli untuk datang.
Arka membiarkannya. Dia duduk di sampingnya, di bangku tua di taman yang ada di antara semua dunia, di bawah langit abu-abu yang tidak pernah berubah—dan membiarkan Sera menangis sepuasnya, seperlunya, selama yang dia butuhkan.
Karena terkadang, hal paling penting yang bisa kamu lakukan untuk seseorang bukan mengubah dunianya, bukan memperbaiki apa yang rusak, bukan menyelamatkan mereka dari kehilangan.
Terkadang, yang paling penting hanyalah: datang. Dan tinggal, meski hanya untuk sementara.