NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Percakapan yang Membuka Luka Lama

"Anjani..."

Suara lembut itu membuatnya langsung menoleh.

Di belakangnya, Bu Rahayu sudah berdiri dengan wajah penuh kebingungan dan sedikit kekhawatiran.

"Ibu? Jani kira Ibu masih tidur..."

Bu Rahayu melangkah lebih dekat, matanya langsung menangkap perubahan di wajah putrinya.

"Siapa yang datang tadi? Ibu dengar kamu sebut nama Alden?"

Anjani ragu sejenak, lalu mengangguk pelan.

"Iya, Bu... tadi dia datang."

"Anaknya Pak Armanto?" tanya Bu Rahayu cepat.

"Iya."

"Dari Jakarta? Atau dari luar negeri? Dia langsung ke sini?" pertanyaan itu keluar bertubi-tubi, jelas menunjukkan keterkejutan yang belum sempat diproses.

Anjani memejamkan mata sesaat. Baru sekarang ia menyadari satu hal kecil yang terlewat. Hal yang sebenarnya sederhana, tapi justru membuat pikirannya semakin terasa tidak utuh.

"Jani nggak sempat tanya itu, Bu," jawabnya pelan. "Jani nggak tahu dia datang langsung dari Jakarta atau dari luar negeri."

Bu Rahayu menghela napas, lalu langsung menatap Anjani lebih tajam.

"Terus kenapa nggak disuruh masuk? Ada tamu datang jauh-jauh, malah dibiarkan duduk di teras?"

Nada itu terdengar kesal, bukan karena marah besar, tapi karena heran yang bercampur dengan rasa tidak wajar.

Anjani terdiam sebentar, menatap ibunya dengan sendu.

"Dia datang cuma untuk minta maaf..."

"Terus?" tanya Bu Rahayu cepat.

"Udah... habis itu dia langsung pamit. Nggak akan datang lagi dan nggak akan ganggu Jani lagi, katanya."

"Cuma bilang itu aja?" ulang ibunya, memastikan.

Anjani mengangguk pelan.

"Bukankah itu aneh, Bu?"

Bu Rahayu menggeleng pelan.

Ia melangkah masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa ruang tamu.

"Tidak aneh," ucapnya tegas.

Anjani mengikuti dari belakang. Ia menutup pintu utama, lalu berjalan mendekat dan duduk di sofa kecil yang berhadapan dengan ibunya.

Namun dalam hati, Anjani tidak sepenuhnya setuju.

Baginya, yang aneh bukan kedatangan Alden.

Kalau hanya datang untuk meminta maaf setelah bertahun-tahun, mungkin itu masih bisa ia pahami.

Yang mengganggunya justru cara Alden melakukannya.

Cara pria itu berbicara.

Cara ia memilih kata-katanya.

Cara ia mengucapkan setiap kalimat seperti seseorang yang sedang menutup sebuah bab terakhir dalam hidupnya.

Bukan seperti orang yang datang untuk memperbaiki hubungan.

Bukan seperti orang yang berharap mendapatkan kesempatan baru.

Melainkan seperti seseorang yang hanya ingin memastikan tidak ada lagi yang tertinggal sebelum pergi.

Dan semakin ia mengingatnya, semakin tidak nyaman perasaan itu.

Sesaat, hanya ada keheningan di antara mereka.

Bu Rahayu menarik napas pelan sebelum menatap putrinya yang masih terlihat termenung.

"Kalian yang dulu tiba-tiba bermusuhan," katanya akhirnya.

Tatapannya mengarah lurus kepada putrinya.

"Waktu dia mau berangkat ke luar negeri, Ibu sudah menyuruh kamu menemuinya supaya bisa pamitan baik-baik, tapi kamu menolak."

Ia berhenti sejenak, lalu menghela napas.

"Begitu juga waktu Ibu tanya ke orang tuanya... katanya Alden juga tidak mau ketemu kamu."

Anjani terdiam.

"Sekarang setelah bertahun-tahun kalian nggak saling bertemu, lalu akhirnya dipertemukan lagi..."

Bu Rahayu menatap Anjani sesaat.

"...meskipun cuma sebentar."

Ia menghela napas pelan.

"Dulu kalian dekat dari kecil. Setelah itu, waktu SMA malah sering bertengkar setiap kali ketemu..." Bu Rahayu menggeleng pelan. "Banyak hal yang nggak pernah benar-benar selesai di antara kalian."

"Jadi kalau dia datang hanya untuk pamit sebelum pergi lagi, menurut Ibu itu bukan sesuatu yang aneh."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Sekarang, setelah bertahun-tahun, dia datang untuk meminta maaf dan menyelesaikan apa yang dulu nggak sempat diselesaikan."

"Kalau setelah itu dia memilih pergi, ya wajar saja."

Anjani mengerutkan dahi.

"Wajar gimana?"

Bu Rahayu menatapnya lebih dalam.

"Nggak semua orang datang kembali untuk tinggal, Jani. Kadang ada yang datang hanya untuk menutup sesuatu yang selama ini belum selesai."

Anjani terdiam.

"Coba kamu pikir. Bertahun-tahun kalian sama-sama menjaga jarak. Nggak ada yang mau lebih dulu bicara, nggak ada yang mau mengalah."

Bu Rahayu berhenti sejenak.

"Lalu sekarang dia datang dan meminta maaf. Menurut Ibu, itu bukan hal kecil."

"Tapi rasanya tetap aneh, Bu..."

"Karena kamu nggak pernah menyangka dia akan melakukannya."

Anjani tidak menjawab.

"Bisa jadi selama ini dia juga membawa beban yang sama seperti yang kamu bawa. Bedanya, dia memilih menyelesaikannya."

Bu Rahayu mengembuskan napas pelan.

"Dan setelah itu, mungkin dia merasa tidak ada lagi alasan untuk tinggal."

Suasana kembali hening.

Anjani menunduk, tangannya meremas ujung bajunya pelan.

"Jani," suara Bu Rahayu terdengar lebih lembut, "kadang pertemuan tidak selalu berarti memulai sesuatu. Kadang pertemuan juga bisa berarti mengakhiri sesuatu dengan baik."

Anjani menelan ludah.

Entah kenapa, kata-kata itu justru membuat dadanya terasa semakin sesak.

Karena untuk pertama kalinya malam itu, kata selesai tidak lagi terdengar sederhana.

Kata itu terdengar seperti sebuah pintu yang tertutup tepat ketika ia baru menyadari bahwa pintu itu sebenarnya masih ingin ia buka.

"Justru kamu yang aneh, Jani," lanjut Bu Rahayu pelan, tapi tegas. "Kalian itu sudah sama-sama dewasa. Harusnya tidak lagi memelihara gengsi seperti anak kecil."

Anjani masih menunduk, tapi ibunya belum berhenti.

"Coba Ibu tanya, dari dulu sampai sekarang... siapa yang sebenarnya tidak mau membuka jalan duluan?"

Bu Rahayu menatapnya.

"Kamu diam, dia juga diam. Kamu menolak ketemu, dia juga tidak memaksa."

Ia menghela napas kecil.

"Dan sekarang, setelah bertahun-tahun, dia sudah datang jauh-jauh hanya untuk meminta maaf. Tapi kamu masih bingung, masih curiga, masih mempertanyakan kenapa dia datang lalu pergi."

Anjani menggigit bibirnya pelan.

"Bukan begitu, Bu..." suaranya lirih.

Bu Rahayu menggeleng.

"Kalau bukan begitu, lalu apa?"

Ia menatap putrinya dengan sabar.

"Orang yang masih membawa sesuatu di hatinya memang biasanya akan mencari cara untuk menyelesaikannya."

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.

"Dan menurut Ibu, orang yang benar-benar tidak peduli tidak akan datang sejauh itu hanya untuk satu kali bicara."

Anjani terdiam.

Kalimat itu membuat dadanya terasa sedikit sesak.

"Maksud Ibu apa?" tanyanya lirih.

Bu Rahayu menatapnya beberapa saat.

"Maksud Ibu, mungkin permintaan maaf itu penting untuk dia. Jauh lebih penting daripada yang kamu kira."

Anjani masih mendengarkan namun belum sepenuhnya mencerna dengan baik kalimat ibunya.

"Kalau tidak penting, dia bisa saja membiarkan semuanya tetap seperti dulu. Toh kalian sudah bertahun-tahun hidup tanpa saling berhubungan."

Anjani terdiam.

Kalimat itu terasa menempel lebih lama daripada yang ingin ia akui.

Bu Rahayu menghela napas pelan.

"Mungkin ada hal-hal yang selama ini belum benar-benar selesai di antara kalian."

"Tapi kalian berdua sama-sama keras kepala. Sama-sama memilih diam terlalu lama."

Anjani menunduk.

"Dan sekarang, waktu akhirnya dia datang untuk bicara, kamu malah sibuk memikirkan kenapa dia pergi."

Anjani tidak langsung menjawab.

Bu Rahayu menatap putrinya lebih lembut.

"Coba kamu ingat lagi. Waktu dia datang tadi, bagaimana sikapmu ke dia?"

"Jani biasa aja, Bu."

"Menurut kamu biasa. Belum tentu menurut orang lain."

Anjani mengerutkan dahi.

Bu Rahayu melanjutkan dengan tenang.

"Kamu memang nggak marah. Tapi kamu juga nggak terlihat benar-benar membuka diri. Dari tadi Ibu lihat, kamu masih seperti menjaga jarak."

Anjani terdiam.

Ia ingin membantah, tetapi kata-kata itu membuatnya kembali mengingat pertemuan mereka beberapa menit yang lalu.

Cara ia menjawab.

Cara ia menahan diri untuk tidak terlalu banyak bertanya.

Cara ia terus bersikap hati-hati di hadapan Alden.

"Tapi Jani nggak bermaksud begitu, Bu..."

"Ibu tahu."

Bu Rahayu mengangguk pelan.

"Tapi tidak semua yang tidak kita maksud, tidak terasa oleh orang lain."

Kalimat itu membuat Anjani terdiam.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia mencoba melihat pertemuan tadi dari sudut pandang yang berbeda.

Dan entah kenapa, kemungkinan bahwa Alden pulang dengan pemahaman yang berbeda dari apa yang sebenarnya ia rasakan membuat dadanya semakin tidak nyaman.

Ia menunduk, mengingat kembali pertemuan mereka beberapa menit yang lalu.

Cara ia menatap Alden.

Cara ia menjawab setiap pertanyaan.

Cara ia menjaga jarak tanpa benar-benar menyadarinya.

Perlahan, keraguan kecil mulai muncul di dalam dirinya.

"Jadi... karena itu dia pergi?" tanyanya lirih.

Bu Rahayu mengangkat bahu kecil.

"Mungkin iya. Mungkin tidak. Tapi orang yang sudah mengumpulkan keberanian untuk datang sejauh itu biasanya juga cukup peka untuk tahu kapan dirinya tidak benar-benar diterima."

Anjani menelan ludah.

Dadanya terasa sedikit sesak.

Bukan karena marah, melainkan karena tiba-tiba semua yang terjadi malam itu tidak lagi terlihat sesederhana yang ia kira.

Seolah ada sesuatu yang seharusnya ia pahami... tapi sudah terlanjur lewat sebelum sempat ia tangkap sepenuhnya.

Pikirannya kembali pada pemandangan terakhir yang sempat ia lihat dari teras rumah.

Alden berjalan pergi tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Dan entah kenapa, ingatan itu terasa jauh lebih jelas dibandingkan percakapan mereka sendiri.

Terlalu cepat.

Terlalu rapi.

Seolah Alden sudah menyiapkan semuanya jauh sebelum ia datang.

"Bu..." suaranya mengecil. "Ibu tadi lihat keadaan Alden sekarang?"

Bu Rahayu tampak berpikir sejenak.

"Ibu nggak terlalu memperhatikan," jawabnya pelan. "Tapi memang berbeda sih dibanding terakhir kali Ibu lihat dia waktu SMA."

Anjani langsung mengangkat kepala.

"Kan, Bu?"

Bu Rahayu mengernyit kecil.

"Memangnya kenapa?"

Anjani terdiam sesaat.

"Dia pucat sekali, Bu."

Bu Rahayu tidak langsung menyela.

"Badannya juga jauh lebih kurus dari dulu. Terus waktu berdiri tadi..." Anjani berhenti sejenak. "Entahlah. Rasanya seperti orang yang sedang menahan sesuatu."

"Menahan apa?"

Anjani menggeleng pelan.

"Jani juga nggak tahu."

Ia menunduk.

Ingatannya kembali pada sosok Alden beberapa menit yang lalu.

Kini semakin banyak detail yang muncul satu per satu.

Wajah Alden yang terlihat sangat pucat saat terkena cahaya lampu teras.

Senyum tipis yang tampak lebih seperti usaha untuk terlihat baik-baik saja.

Mata yang terlihat lelah, jauh lebih lelah dibandingkan seseorang yang sekadar menempuh perjalanan jauh.

Dan saat berdiri dari kursinya...

Ya.

Sekarang ia benar-benar ingat.

Tubuh Alden sempat goyah sesaat.

Sangat singkat.

Tapi cukup jelas untuk tertangkap matanya.

Saat itu ia tidak terlalu memikirkannya.

Namun sekarang, detail kecil itu justru terasa semakin mengganggu.

"Mungkin sakit," ucapnya pelan.

Kalimat itu keluar begitu saja.

Bahkan sesaat setelah mengucapkannya, Anjani terlihat ragu dengan dugaannya sendiri.

"Jani nggak yakin..." tambahnya lirih.

Lebih seperti berbicara kepada dirinya sendiri.

Bu Rahayu menghela napas pendek.

"Mungkin dia baru sampai dari bandara lalu langsung ke sini. Perjalanan jauh juga bisa bikin orang kelihatan lelah, Jani."

"Tapi bukan cuma lelah..." sahut Anjani cepat.

Wajah Alden kembali terbayang.

Kulit pucat.

Napas yang beberapa kali terdengar berat.

Cara duduk yang tampak kaku.

Dan tatapan mata yang seperti menyimpan terlalu banyak hal.

Semua itu membuat firasat buruknya semakin kuat.

"Dia juga kelihatan susah bernapas tadi, Bu."

"Mungkin kecapekan."

"Dia sempat pegang perut dan dadanya..."

"Itu juga bisa karena kurang fit. Atau belum sempat makan."

Anjani mulai merasa kesal karena setiap ucapannya selalu punya penjelasan lain.

"Tapi dia memang kurusan, Bu."

Bu Rahayu menatap putrinya sekilas lalu tersenyum tipis.

"Memangnya semua orang yang lama tidak kamu jumpai harus bertambah gemuk?"

"Ibu malah bercanda..."

"Ibu tidak bercanda. Ibu cuma tidak mau kamu terlalu jauh berpikir."

Anjani memalingkan wajah pelan.

"Tapi firasat Jani tidak enak."

Bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!