Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Tumbuh di Tengah Kehangatan Keluarga
Waktu berlalu begitu cepat, seperti air sungai yang terus mengalir tanpa pernah berhenti. Dalam sekejap mata, tiga tahun telah berlalu sejak Rey terlahir kembali ke dunia ini. Tubuh mungilnya kini sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang lincah, dengan rambut hitam legam dan sepasang mata cokelat bening yang selalu memandang sekeliling dengan rasa ingin tahu yang tak pernah habis.
Bagi orang lain, Rey hanyalah anak desa biasa yang tumbuh sedikit lebih tenang dibandingkan teman-teman sebayanya. Ia tidak banyak menangis, tidak suka membuat keributan, dan lebih sering duduk diam mengamati lingkungan sekitar. Namun hanya Rey sendiri yang tahu alasannya—di balik wajah polos seorang anak berusia tiga tahun, tersembunyi kesadaran dan pemikiran milik pria berusia dua puluh sembilan tahun dari dunia lain.
Pagi itu, matahari baru saja mengintip dari balik punggung bukit di sebelah timur Desa Lembah Angin. Sinarnya yang keemasan menyelinap masuk lewat celah dinding gubuk kayu milik keluarga itu, menghangatkan ruangan yang masih sejuk terkena embun malam.
Rey sudah terbangun sejak tadi. Ia duduk bersila di atas tikar jerami sambil memainkan sebilah ranting kayu pendek, tapi pikirannya melayang jauh.
“Sudah tiga tahun berlalu, dan aku masih belum sepenuhnya memahami kekuatan apa yang mengalir di dalam tubuh ini,” batinnya sambil menutup mata sebentar, mencoba merasakan aliran energi halus yang selalu ada di sana.
Sejak usia satu tahun, Rey mulai menyadari sesuatu yang aneh. Setiap kali ia berkonsentrasi, ia bisa merasakan lima aliran energi yang berbeda bergerak melintasi pembuluh nadinya—ada yang terasa hangat dan menyengat seperti nyala api, ada yang dingin dan mengalir lembut seperti air, ada yang berat dan kokoh seperti tanah, ada yang ringan dan cepat seperti hembusan angin, serta ada yang tajam dan berdenyut seperti kilatan petir.
Kelima energi itu selalu ada, menyatu dengan detak jantungnya, namun ia belum berani mencoba mengendalikannya secara terang-terangan. Ingatannya masih sangat jelas dengan aturan dunia ini yang pernah ia baca dan pelajari dari permainan masa lalunya—sihir bukanlah hal yang bisa sembarangan diperlihatkan, apalagi jika jenisnya begitu langka. Jika diketahui orang, bisa jadi ia justru menjadi incaran berbagai pihak yang menginginkan kekuatannya.
“Rey, Nak, sudah bangun rupanya?”
Suara lembut membuyarkan lamunannya. Ia membuka mata dan menoleh, melihat Elara masuk membawa nampan berisi bubur hangat dan roti gandum sederhana. Senyum ibunya itu selalu terasa seperti obat penenang bagi hatinya.
“Pagi, Ibu,” jawab Rey dengan suara yang masih sedikit lantang khas anak kecil, namun terdengar sopan dan tenang.
Elara meletakkan nampan itu di atas meja rendah, lalu berjongkok dan menyentuh dahi anaknya dengan punggung tangan. “Kau terlihat melamun lagi. Ada apa? Apakah tubuhmu terasa kurang enak badan?”
Rey menggeleng cepat sambil tersenyum. “Tidak, Ibu. Aku hanya memikirkan, kapan Ayah pulang dari hutan?”
Mendengar itu, Elara tertawa kecil dan mengelus kepalanya. “Segera saja. Ayahmu tadi pagi buta sudah berangkat membawa busur dan panah. Katanya ingin mencoba menangkap rusa liar atau setidaknya beberapa ekor kelinci agar kita punya lauk lebih banyak hari ini.”
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, suara langkah kaki berat terdengar mendekati pintu, diikuti dengan suara orang yang bernapas terengah-engah namun riang.
“Aku pulang!”
Pintu terbuka lebar, dan tampak sosok Gareth berdiri di ambang pintu. Tubuhnya berkeringat, baju kulit binatannya kotor oleh tanah dan daun kering, namun senyum lebar terukir di wajahnya. Di punggungnya tergantung dua ekor kelinci yang sudah mati, dan di tangannya ia membawa seikat besar jamur liar yang tumbuh subur di bawah pohon tua.
“Ayah!” seru Rey, segera berdiri dan berlari kecil menghampiri.
Gareth membungkuk dan mengangkat tubuh mungil putranya itu ke dalam gendongannya. “Wah, Rey sudah menunggu ya? Maaf membuatmu lama. Hari ini hutan cukup ramah, jadi hasil buruannya lumayan banyak.”
Ia meletakkan Rey kembali ke lantai, lalu menurunkan barang bawaannya. “Lihat ini, Rey. Jamur ini sangat lezat jika dimasak dengan kuah daging. Dan kelinci ini akan menjadi lauk yang mengenyangkan untuk tiga hari ke depan.”
Rey menatap semua barang itu dengan kagum, namun matanya lebih tertuju pada tangan ayahnya. Meskipun penuh kapalan dan luka-luka bekas pekerjaan keras, tangan itu selalu terasa hangat dan melindungi.
“Ayah, apakah berburu di dalam hutan itu berbahaya?” tanya Rey dengan nada penasaran yang tulus.
Gareth duduk di bangku kayu sambil menyeka keringat di dahinya, lalu menjawab dengan sabar, “Bisa dibilang begitu, Nak. Semakin jauh masuk ke dalam, semakin banyak bahayanya. Ada serigala, babi hutan yang galak, dan kadang-kadang kita juga harus waspada terhadap gerombolan lendir atau serangga beracun. Tapi selama kita mengenal jalannya, tetap waspada, dan tidak bertindak sembarangan, kita akan aman-aman saja.”
“Lendir… makhluk itu lemah kan? Di permainan dulu, mereka hanya memberi sedikit poin pengalaman,” gumam Rey dalam hati, lalu mengangkat wajah kembali dan bertanya lagi, “Kalau punya kekuatan sihir, apakah akan lebih mudah melawan mereka?”
Pertanyaan itu membuat Gareth dan Elara saling berpandangan sesaat, lalu tersenyum pahit.
“Memang benar, sihir sangat berguna,” jawab Gareth perlahan. “Orang yang diberkahi sihir bisa memanaskan air hanya dengan mengangkat tangan, menerangi jalan gelap dengan cahaya, bahkan melawan binatang buas dengan lebih aman. Tapi sayangnya, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Kebanyakan penduduk desa seperti kita hanya mengandalkan tenaga, keberanian, dan keterampilan tangan untuk bertahan hidup.”
Elara menyela dengan nada menenangkan, “Tapi tidak apa-apa, Rey. Bukan berarti kita yang tidak punya sihir menjadi orang lemah. Ayahmu bisa menjelajahi hutan yang berbahaya tanpa menggunakan satu tetes pun sihir, bukan? Kerja keras dan kehati-hatian juga merupakan kekuatan yang luar biasa.”
Rey hanya mengangguk paham, namun di dalam hatinya ia tersenyum kecil.
“Kalau saja mereka tahu, aku justru memiliki kelima elemen sekaligus—sesuatu yang bahkan penyihir terkuat di legenda pun tidak miliki. Tapi belum saatnya aku mengatakannya. Aku harus sabar dan belajar mengendalikannya sampai benar-benar aman.”
Setelah sarapan selesai, hari itu Rey mengikuti ayahnya ke ladang yang terletak di pinggir desa. Di sana, Gareth sibuk mencabut rumput liar dan memeriksa tanaman gandum serta jagung yang baru mulai tumbuh. Rey tidak duduk diam saja; ia membantu membawa air dalam kendi kecil, mengumpulkan rumput kering, dan mengamati setiap gerakan ayahnya dengan cermat.
“Rey, lihatlah tanah ini,” kata Gareth sambil menyodokkan ujung cangkulnya ke permukaan tanah yang gembur. “Tanah adalah induk kehidupan. Ia memberi kita tempat berpijak, tempat tumbuhnya makanan, dan tempat kembali kita nanti. Orang yang menghormati alam akan selalu diberi rezeki yang cukup.”
Mendengar kalimat itu, tiba-tiba ada sesuatu yang berdenyut lembut di dalam tubuh Rey. Tanpa sadar, ia memusatkan perhatiannya pada tanah di bawah kakinya. Ia membayangkan energi di dalam dirinya mengalir keluar dan menyatu dengan butiran-butiran tanah itu.
Belum sempat ia berpikir lebih lanjut, di depannya terjadi perubahan kecil namun nyata. Beberapa tunas rumput yang terlihat layu dan kering tadi perlahan-lahan berdiri tegak kembali, daunnya yang kekuningan berubah menjadi hijau segar hanya dalam hitungan detik.
Rey terkejut dan segera menarik kembali kesadarannya. Denyutan energi itu menghilang, dan semuanya kembali seperti biasa seolah tidak pernah terjadi. Ia menoleh ke arah Gareth, namun ayahnya terlalu sibuk bekerja dan tidak menyadari kejadian singkat itu.
“Aku bisa melakukannya! Energi tanah merespons pikiranku dengan sangat cepat. Rasanya seperti hal yang paling alami di dunia ini,” batinnya dengan hati berdebar kencang karena gembira sekaligus takut ketahuan.
Sore harinya, ketika matahari mulai terbenam dan seluruh desa mulai meredam aktivitasnya, Rey berpura-pura ingin bermain ke pinggir sungai yang tidak jauh dari rumah. Ia membawa sebilah ranting dan berkata pada ibunya, “Ibu, aku mau main sebentar di tepi sungai, tidak akan jauh kok.”
“Baiklah, tapi jangan masuk ke air yang dalam dan segera pulang jika langit mulai gelap!” pesan Elara sambil melambaikan tangan.
“Siap, Ibu!”
Begitu sampai di tempat yang cukup tersembunyi dan tertutup semak belukar sehingga tidak terlihat dari jalan desa, Rey langsung duduk bersila di atas batu yang datar. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, memfokuskan seluruh kesadarannya ke dalam dirinya sendiri.
“Baiklah, mari kita mulai latihan yang sesungguhnya. Pelan-pelan saja, jangan sampai melukai diriku sendiri atau menarik perhatian makhluk lain.”
Ia mulai mencoba satu per satu. Pertama, elemen angin. Ia membayangkan aliran udara di sekelilingnya bergerak mengikuti perintahnya. Dalam sekejap, hembusan angin lembut tercipta di telapak tangannya, berputar perlahan dan membuat daun-daun kering beterbangan ringan.
Lalu ia mencoba elemen air. Ia menoleh ke arah sungai yang mengalir tenang, memusatkan pikiran pada tetesan air itu. Perlahan, beberapa butiran air terangkat ke atas permukaan dan melayang di udara membentuk bola kecil yang berkilau terkena sinar senja.
Setelah itu, ia mencoba elemen tanah dan api dengan hasil yang cukup memuaskan—meskipun apinya hanya sebesar ujung jari dan tanah yang digerakkannya hanya segenggam kecil saja. Saat ia ingin mencoba elemen petir, tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki mendekat dari balik semak.
“Rey? Kau ada di sini rupanya.”
Ia terkejut dan segera memadamkan semua energinya. Air yang melayang jatuh kembali ke sungai, angin mereda, dan cahaya samar api lenyap begitu saja. Ia menoleh dan melihat Gareth berdiri di sana sambil tersenyum ramah.
“Ayah… kenapa datang ke sini?” tanya Rey berusaha terlihat biasa saja meski jantungnya berdebar kencang.
“Aku hanya ingin memastikan kau aman. Hari mulai gelap, sebaiknya kita pulang,” jawab Gareth tanpa curiga sedikit pun. “Kau suka sekali duduk diam dan memandang air sungai, ya? Sama seperti orang bijak yang sedang merenung.”
Rey hanya tersenyum malu sambil mengangguk. “Iya, Ayah. Rasanya tenang saja melihat air mengalir.”
Mereka berjalan pulang beriringan, namun di dalam hati Rey, semangatnya semakin membara. Ia baru saja membuktikan bahwa kekuatannya nyata dan bisa dikendalikan. Selama ia menjaga rahasianya dengan baik dan berlatih perlahan, suatu hari nanti ia akan bisa menguasai kelima elemen itu sepenuhnya.
“Tunggu saja sampai saatnya tiba. Saat aku cukup kuat dan waktunya sudah tepat, aku akan menunjukkan kepada dunia ini bahwa di desa kecil ini, ada seseorang yang membawa takdir yang jauh lebih besar dari yang bisa dibayangkan siapa pun,” janjinya dalam hati sambil melangkah pulang menuju cahaya lampu gubuk yang mulai menyala di kejauhan.