NovelToon NovelToon
Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.

"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter: 10

"Baik, semuanya."

"Buka buku cetak halaman 42."

"Kita akan membahas tentang Polinomial atau Suku Banyak,"

suara Pak Kevin menggema, tenang dan menghanyutkan.

Di bangkunya, Viola sama sekali tidak fokus pada buku tebal di hadapannya.

Pandangannya lurus terkunci pada punggung tegap Kevin yang sedang menuliskan rumus-rumus rumit di papan tulis putih.

Gerakan tangan Kevin begitu tegas, tulisan tangannya rapi, dan cara dia menjelaskan materi yang biasanya dianggap monster oleh anak IPA mendadak terdengar sangat sederhana dan mudah dipahami.

"Gak, ini gak masuk akal."

"Driver ojol yang bawa NMAX mesin jet waktu itu... kok bisa sepinter ini? Tapi mukanya persis banget!"

batin Viola frustrasi, menggigit ujung pulpennya.

Aura karisma 'Husbandu' milik Kevin benar-benar membuat seisi kelas, terutama siswi perempuan, menatap tanpa berkedip.

Setiap kali Kevin berbalik dan melempar senyum kecil untuk memastikan apakah murid-muridnya paham, terdengar gumaman kagum yang tertahan.

"Ada pertanyaan sampai di sini?"

tanya Kevin ramah, mengedarkan pandangan.

Seorang siswa laki-laki berbadan bongsor di pojok belakang bernama jargon, yang terkenal sebagai biang kerok kelas, mengangkat tangan dengan malas.

Dia tampaknya tidak suka melihat perhatian seluruh siswi di kelas tersedot total oleh guru honorer baru ini.

"Pak Kevin. Rumus turunan yang di papan tulis itu kayaknya salah deh."

"Guru yang lama gak pernah ngajarin cara instan begitu."

"Jangan-jangan Bapak asal tebak ya?"

tantang si murid dengan nada meremehkan. Suasana kelas mendadak tegang.

Viola menahan napas, ikut mengamati reaksi Kevin.

Kevin tidak marah.

Dia justru tersenyum tipis, meletakkan spidolnya, dan menatap murid tersebut dengan pandangan Otak Ensiklopedia Dewa.

"Pertanyaan bagus. Siapa namamu?"

"Rian, Pak."

"Oke, Rian."

"Cara yang saya tulis di papan adalah metode Horner-Knuth yang digabungkan dengan teorema sisa tingkat lanjut."

"Biasanya baru diajarkan di tingkat universitas semester tiga,"

jawab Kevin tenang sembari berjalan mendekati meja Rian.

"Kamu mau tahu kenapa cara ini dipakai?"

"Karena jika kamu pakai cara manual yang ada di buku, kamu butuh waktu lima belas menit dan dua halaman penuh untuk menyelesaikan satu soal."

"Tapi dengan cara saya, cukup tiga baris, selesai dalam tiga puluh detik."

Kevin mengambil kapur, lalu di meja kosong di samping Rian, dia menuliskan pembuktian rumus tersebut dengan kecepatan kilat.

Penjelasannya begitu logis, tajam, dan tidak terbantahkan.

Rian yang tadinya mau menyontek langsung melongo, mati kutu tidak bisa menjawab.

Seisi kelas langsung bertepuk tangan kagum. Di sudut lain, Viola makin merinding. Fix, orang ini jenius.

Ding!

[Kewibawaan Guru Meningkat! Rian berhasil ditundukkan. Reputasi di Kelas XI-IPA 1: 95/100.]

Bel istirahat akhirnya berbunyi nyaring.

Murid-murid mulai berhamburan keluar kelas, namun beberapa siswi masih mengerumuni meja Kevin untuk sekadar bertanya hal-hal tidak penting seperti,

"Pak, nomor HP-nya berapa buat konsultasi tugas?"

yang dijawab Kevin dengan senyuman diplomatis.

Viola sengaja memperlambat gerakannya merapikan buku.

Begitu kelas sudah benar-benar sepi dan hanya tersisa mereka berdua, Viola melangkah mantap mendekati meja guru.

Kevin yang sedang memasukkan bukunya ke dalam tas ransel melirik ke arah Viola.

"Ya, Viola? Ada materi yang belum kamu pahami?"

tanya Kevin dengan nada formal seorang guru.

Viola melipat kedua tangannya di dada, menatap Kevin dengan pandangan menyelidik yang tajam.

"Materi matematikanya saya paham, Pak."

"Yang saya gak paham itu... sejak kapan driver ojol Margonda yang kemarin nolongin saya alih profesi jadi guru honorer di sekolah ini?"

Kevin menghentikan gerakannya sesaat.

Dia menghela napas, lalu menegakkan tubuhnya, menatap langsung ke dalam mata indah Viola.

Senyum kasual khas 'Kevin si beban keluarga' yang santai tiba-tiba muncul, menggantikan ekspresi formalnya.

"Wah, ketahuan juga ya," bisik Kevin pelan,

sambil menengok ke luar pintu memastikan tidak ada orang lain yang lewat.

"Jadi beneran Bapak?!"

Viola membelalak, suaranya naik satu oktav karena syok mendapat konfirmasi langsung.

"Kok bisa?!"

"Bapak ini sebenarnya siapa sih? Intel? Agen rahasia? Atau jangan-jangan Bapak pakai—"

"Sssttt! Jangan kenceng-kenceng, Dek Viola—eh, maksud saya Viola,"

potong Kevin buru-buru, menaruh jari telunjuknya di bibir.

"Gini ya, menyamar jadi ojol atau jadi guru itu cuma bagian dari... tuntutan hidup."

"Anggap aja ini pekerjaan sampingan saya untuk riset materi. Kamu mau kan jaga rahasia ini?"

Viola menaikkan sebelah alisnya, melihat celah untuk memanfaatkan situasi.

Rasa takutnya seminggu lalu kini berubah menjadi rasa penasaran yang luar biasa pada sosok pemuda karismatik di depannya ini.

"Jaga rahasia? Bisa aja sih, Pak,"

ujar Viola dengan senyuman misterius yang manis namun berbahaya.

"Tapi ada syaratnya."

Kevin menelan ludah. "Syarat apa?"

"Mulai hari ini, setiap kali saya pulang sekolah atau butuh antar-jemput, Pak Kevin harus siap jadi driver pribadi saya."

"Pakai motor roket itu. Gimana?"

"Kalau gak mau, saya adukan ke Kepala Sekolah kalau guru barunya punya pekerjaan sampingan ilegal!"

ancam Viola manja, matanya berkedip jenaka.

Ding!

[Misi Sampingan Terbuka!]

[Misi: Menjadi Driver Pribadi Viola tanpa ketahuan oleh warga sekolah lainnya.]

[Hadiah Misi Sampingan: Peningkatan Hubungan dengan Viola (Rute Menuju Harem terbuka lebar) dan Informasi mengenai rahasia keluarga Wijaya di Depok.]

Kevin hanya bisa mengelus dadanya yang terasa sesak.

Sistem... lu bener-bener gak membiarkan hidup gue tenang ya! Baru juga jadi guru, sekarang malah merangkap jadi supir pribadi murid sendiri!

1
Tri Wahyuni
iya maaf kak ada kesalahan untuk penamaan karakternya, Skrang sudah di perbaiki,makasih udah ngasih tau ya kak👍
ラマSkuy
wait bukannya di bab sebelumnya nama ayahnya Viola itu Herman ya kok dibab ini jadi Wijaya 🤔🤔
ラマSkuy
awalan yang menarik untuk di baca Thor semangat terus berkarya 👍
Hentri Gunawan
lanjut Thor walupun beda dr yg kemarin
Tri Wahyuni: iya maaf ya soalnya kak soalnya kena revisi total
total 1 replies
Tri Wahyuni
jangan lupa kasih likenya ya kak
Hentri Gunawan
lanjut lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!