NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Hari-hari berlalu dengan cepat. Hubungan Aurora dan Alexander mengalir begitu saja, semakin dekat, semakin nyaman, dan kian hari terasa semakin sulit untuk dipisahkan.

Pagi itu, Aurora sedang sibuk bekerja paruh waktu di sebuah kafe ketika ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Alexander.

Alexander:

"Lihat keluar jendela."

Aurora mengernyitkan dahi. Keluar jendela? Dengan rasa penasaran, ia menoleh ke arah kaca besar kafe. Detik itu juga, gerakannya langsung membeku.

Di seberang jalan, Alexander berdiri tegak sambil memegang dua gelas kopi di tangannya. Pria itu menatap ke arahnya sembari menyunggingkan senyum khas—senyuman menawan yang selalu sukses membuat pertahanan jantung Aurora berantakan.

Aurora buru-buru melepas celemek kerjanya dan melangkah keluar dari kafe untuk menghampiri pria itu. "Kamu ngapain di sini?" tanya Aurora setengah berbisik, matanya melirik waspada ke sekeliling.

Alexander mengulas senyum ramah lalu menyerahkan salah satu gelas kopi ke tangan Aurora. "Menjemput pacarku, tentu saja."

Aurora tertawa kecil, menggelengkan kepalanya heran. "Memangnya kuliahmu sudah selesai?"

"Masih satu jam lagi," jawab Alexander santai.

Mereka kemudian berjalan beriringan dengan santai menyusuri trotoar kota New York. Di bawah hangatnya sinar matahari pagi, mereka terlihat persis seperti pasangan kekasih biasa pada umumnya. Bukan seorang pewaris tahta dari keluarga konglomerat papan atas dan seorang gadis sederhana yang serba kekurangan. Bukan anak miliarder dan mahasiswi pekerja paruh waktu yang harus memeras keringat. Di sepanjang jalan itu, mereka hanya dua orang manusia biasa yang sedang jatuh cinta.

"Aurora," panggil Alexander memecah keheningan di antara mereka.

"Hm?" Aurora menyahut sambil menyesap kopinya.

Alexander menoleh, lalu berkata dengan nada kasual, "Kalau nanti kita punya rumah sendiri..."

Uhuk! Uhuk!

Aurora langsung tersedak kopinya seketika. Dadanya naik turun menahan batuk yang mendadak menyerang.

Alexander terkekeh geli melihat kepanikan kekasihnya, lalu menepuk-nepuk pelan punggung Aurora. "Kenapa, sih? Kok kaget begitu?"

"Kamu tuh, ya! Mulai lagi, deh," omel Aurora setelah napasnya kembali normal. Pipinya sudah merona merah.

Sikap Alexander terlihat begitu santai, namun pancaran dari sepasang matanya tidak bisa berbohong. Pria itu sungguh-sungguh. "Memangnya salah? Aku cuma penasaran."

Aurora memutar bola matanya jengah, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang mulai bertalu-talu. "Memangnya kamu mau rumah yang seperti apa?"

Alexander diam berpikir sejenak. Seulas senyum hangat terbit di wajah tampannya saat ia menatap netra Aurora dalam-dalam. "Rumah yang ada kamu di dalamnya."

Deg.

Aurora refleks mengepalkan tangannya. Rasanya ia ingin sekali melemparkan gelas kopi di genggamannya ini tepat ke wajah tampan pria itu saking salah tingkahnya.

"Kamu tahu nggak, sih?" cetus Aurora dengan ketus yang dibuat-buat.

"Apa?" tanya Alexander polos.

"Kamu itu bahaya banget buat kesehatan jantungku," gerutu Aurora yang langsung disambut oleh tawa puas Alexander.

---

Mereka akhirnya tiba di area kampus dan memilih untuk duduk di taman, tepat di bawah pohon rindang yang biasa mereka kunjungi. Tempat itu telah resmi menjadi tempat favorit Aurora untuk melepas penat.

"Kamu mau punya berapa anak nanti?" tanya Alexander tiba-tiba tanpa beban sama sekali.

Gubrak.

Aurora hampir saja tergelincir jatuh dari bangku taman akibat pertanyaan super random itu. "ALEXANDER!" pekik Aurora dengan wajah yang sudah merah padam sampai ke telinga.

"Apa? Aku kan cuma bertanya," sahut Alexander dengan wajah tanpa dosa, padahal di dalam hati ia sangat puas mengerjai gadis itu.

Aurora buru-buru menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Kenapa obrolanmu lompatnya jauh banget, sih? Nikah saja belum!"

Alexander tersenyum tipis. Ia meraih pergelangan tangan Aurora, lalu perlahan menurunkan tangan gadis itu dari wajahnya agar mereka bisa saling bertatapan. "Karena aku serius, Aurora. Aku memikirkan masa depan kita."

Aurora tertegun. Kali ini, ia tidak menemukan kilat jahil di mata Alexander. Tidak ada gurauan, tidak ada kalimat godaan yang sengaja dilemparkan untuk membuatnya tersipu. Pria di hadapannya ini sungguh-sungguh sedang menyusun bayangan masa depan bersamanya. Kesungguhan itu seketika membuat dada Aurora berdesir hangat.

---

Malam harinya, di dalam kamar apartemen yang sepi.

Aurora berbaring telentang menatap langit-langit kamar. Matanya enggan terpejam meski jam dinding sudah menunjukkan larut malam. Kata-kata Alexander sepanjang hari tadi terus berputar di kepalanya bagai melodi yang tak kunjung usai.

"Kalau nanti kita punya rumah..."

"Kalau nanti kita punya keluarga..."

"Kalau nanti..."

Aurora tersenyum manis, mendekap gulingnya erat-erat. Tanpa bisa ditahan lagi, imajinasinya mulai meliar, menyusun kepingan-kepingan mimpi indah. Membayangkan bagaimana rasanya hidup bersama Alexander di bawah satu atap, terbangun di pagi hari dengan wajah pria itu yang pertama kali dilihatnya, hingga menghabiskan makan malam sederhana berdua.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Aurora memberanikan diri untuk bermimpi—sebuah mimpi indah tentang pernikahan dan keluarga yang selama ini selalu ia hindari karena takut akan berakhir dengan kekecewaan.

Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah ganjalan kecil tetap bersarang di sana. Ada satu ketakutan besar yang belum berani ia suarakan, sebuah firasat buruk yang terus membisikkan satu hal: bahwa kebahagiaan seindah ini biasanya tidak akan pernah bertahan selamanya.

---

Sementara itu, di sisi lain kota New York yang dingin dan penuh kemewahan.

Sophia sedang duduk anggun di ruang kerja pribadi milik Victoria Kingsley. Beberapa bundel dokumen tebal sengaja diletakkan dalam posisi terbuka di atas meja kaca. Victoria membaca lembar demi lembar dokumen tersebut dengan gerakan perlahan namun pasti.

Isi dokumen itu memuat seluruh informasi investigasi mengenai keluarga Aurora. Tentang kondisi ekonomi mereka yang memprihatinkan, tentang tumpukan utang orang tua Aurora yang menumpuk di mana-mana, serta realitas kehidupan mereka yang teramat sangat kontras dengan kemegahan Dinasti Kingsley.

Victoria akhirnya meletakkan dokumen itu dengan ketukan pelan di atas meja. Tatapannya menajam. "Hubungan ini harus segera dihentikan," ujarnya dengan nada suara sedingin es.

Mendengar keputusan itu, seulas senyum licik langsung terkembang di sudut bibir Sophia. Itulah kalimat yang sejak tadi paling ingin ia dengar dari mulut sang nyonya besar.

Namun, senyuman Sophia mendadak surut saat Victoria kembali menyambung kalimatnya. "Tapi bukan sekarang."

Sophia mengernyitkan alis, merasa bingung. "Maksud Anda, Nyonya Kingsley?"

Victoria bangkit berdiri dari kursi kebesarannya, melangkah perlahan menuju jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Manhattan. "Kalau aku melarang Alexander sekarang, sifat keras kepalanya hanya akan membuat dia semakin mempertahankan gadis miskin itu."

Sophia terdiam, mencoba mencerna arah pemikiran wanita paruh baya yang penuh taktik di depannya ini.

Victoria menyunggingkan senyum tipis—senyuman dingin yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun meremang. "Biarkan saja dulu. Kita pasang perangkap secara perlahan. Cepat atau lambat... Aurora sendiri yang akan sadar diri dan memilih untuk menyerah."

Dan tanpa pernah Aurora sadari sedikit pun, masa depan indah yang baru saja ia rajut di dalam mimpinya malam ini... perlahan-lahan mulai berjalan menuju ambang kehancuran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!