“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
“Ran, di sini! Rania!” teriak Tasya. Ia berdiri dari kursinya dan melambaikan tangan tinggi-tinggi ke arah pintu masuk kafe, mengabaikan beberapa pasang mata pengunjung lain yang sempat menoleh terganggu.
“Aduh, Sya! Nggak usah teriak-teriak begitu, bisa kan? Rania juga pasti lihat lambaian tanganmu yang heboh itu. Kupingku sampai berdengung mendengarnya,” sahut Jonathan yang duduk di hadapan Tasya, spontan menutup sebelah telinganya dengan wajah masam.
“Ish! Lagian ngapain sih kamu ikut-ikutan urusan perempuan?! Datang nggak diundang, merusak pemandangan saja! Bukannya kamu harusnya jam segini ada di rumah sakit sibuk mengurus pasien, hah?!" ketus Tasya sembari melirik tajam ke arah Jonathan.
Jonathan mendengus, lalu membetulkan letak kacamatanya dengan santai.
“Masa aku harus di rumah sakit terus? Memangnya aku tidak punya kehidupan? Dokter juga manusia, Sya. Ada jadwal sifnya kali. Kebetulan hari ini aku dapat sif dua,” ucap Jonathan dengan berbohong.
Padahal, kenyataannya sama sekali tidak begitu. Begitu Rania memberi tahu lewat pesan singkat bahwa ia akan bertemu Tasya pagi ini untuk membahas masalah hukum, Jonathan langsung kelabakan. Ia segera bertukar sif dengan sejawatnya demi bisa masuk sif sore. Alasan utamanya jelas untuk memantau kondisi fisik Rania pasca-insiden pendarahan kecil kemarin, sekaligus ia juga ingin bertemu Tasya. Sahabat lama mereka itu memang luar biasa sibuk dan sangat sulit ditemui sejak sukses menjadi pengacara.
“Halah, alasan! Bilang saja kamu sengaja mau menguping pembicaraan sensitif kami, kan? Dasar dokter kepo!” cerocos Tasya, masih tidak mau kalah.
“Heh, sembarangan! Aku ini dokter pribadinya Rania sekarang. Jadi, ke mana pun pasienku pergi membawa beban berat, aku wajib mendampingi secara medis. Paham?” balas Jonathan sengaja membusungkan dadanya, menolak mengalah dari ketukan lidah Tasya yang setajam pisau itu.
”Sudah, sudah. Kalian ini dari zaman kuliah sampai sekarang kalau ketemu kenapa selalu bertengkar konyol begini, sih?” potong Rania yang tiba-tiba sudah berdiri di samping meja mereka. Ia tersenyum kecil, lalu menarik kursi untuk duduk di sebelah Tasya.
Melihat kedatangan Rania, Tasya langsung mengubah raut wajahnya menjadi hangat dan menggenggam tangan sahabatnya itu.
“Ran, kamu pucat banget. Benar kata Jonathan, kamu harus banyak istirahat.”
Rania hanya menggeleng pelan, lalu mengeluarkan map berlogo firma hukum yang sempat ia bawa dari rumah dan meletakkannya di atas meja.
“Aku nggak apa-apa, Sya. Yang penting sekarang kita fokus ke masalah ini. Aku mau kamu urus surat perceraianku dengan mas Harsa secepat mungkin.”
Uhuk!
Jonathan yang sedang meminum es kopinya seketika tersedak hebat hingga terbatuk-batuk. Ia menatap Rania dengan mata membelalak tidak percaya.
“T–tunggu sebentar, Ran. Kamu serius? Mau cerai? Mengurus surat perceraian?”
“Kamu pikir dari tadi aku bercanda, Jo?” sahut Tasya ketus, menyikut lengan Jonathan agar diam.
“Nggak, maksudku...” Jonathan menatap Rania dengan pandangan rumit dan cemas. “Awalnya aku pikir hubungan kalian kemarin di rumah sakit hanya salah paham belaka, Ran. Masalah rumah tangga biasa yang bisa dibicarakan baik-baik. Tapi, nyatanya kamu sampai meminta bantuan Tasya untuk mengurus sampai jalur hukum?”
Rania mengangguk tenang, matanya menatap lurus pada map di depan mereka.
“Keputusanku sudah bulat, Jo. Kemarin malam dan tadi subuh sudah menjadi pembuktian terakhir bagiku. Aku sudah tidak tahan lagi hidup dalam kepalsuan rumah tangga yang perlahan-lahan justru membunuhku.”
Tasya menghela napas panjang, menatap Rania dengan tatapan iba sekaligus mendukung sebagai seorang sahabat. Ia membuka map tersebut dan memeriksa beberapa berkas awal.
“Ran, sebagai pengacaramu, aku bisa saja mendaftarkan gugatan ini besok pagi. Tapi sebagai sahabatmu, aku mau bertanya sekali lagi untuk terakhir kalinya. Apakah kamu sudah benar-benar mempertimbangkan keputusan ini matang-matang? Kamu yakin tidak akan menyesal?”
Jonathan ikut memajukan tubuhnya, menimpali dengan nada serius.
“Tasya benar, Ran. Tolong pertimbangkan lagi matang-matang dampaknya secara mental untukmu saat ini. Kamu sedang dalam kondisi yang butuh ketenangan untuk memulai terapi sebelum kemoterapi dengan Bagas. Proses perceraian itu akan sangat melelahkan dan menguras emosimu.”
Rania menatap kedua sahabat terbaiknya bergantian, lalu tersenyum. Sebuah senyuman yang kali ini nampak begitu lega.
“Justru karena aku ingin sembuh dan bertahan hidup, aku harus melepaskan sumber racunnya sekarang. Bertahan di rumah itu hanya akan membuat penyakitku semakin parah karena batasan sabarku sudah habis tergerogoti. Aku sudah sangat siap menerima segala konsekuensinya,” ucap Rania dengan mutlak yang tidak lagi bisa diganggu gugat.
Tasya dan Jonathan saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya Tasya mengangguk mantap.
“Baiklah, kalau itu maumu. Mari kita mulai prosesnya dan buat suamimu itu menyesal seumur hidup karena sudah mencampakkanmu,” ucap Tasya.
“Oh iya, Sya. Ada satu hal lagi yang sangat penting. Aku mau semua fasilitas yang selama ini Mas Harsa nikmati, aset, rumah mewah yang kami tempati, mobil, dan semua investasi atas namaku, kembali padaku tanpa terkecuali. Aku mau ambil semuanya,” ucap Rania sembari memajukan tubuhnya dengan sorot mata yang mendadak mendingin.
Tasya seketika bengong, menatap Rania dengan mulut sedikit terbuka. Apalagi Jonathan, dokter itu sampai meletakkan sendok garpunya dengan pelan, benar-benar syok.
“Tunggu, Ran, kamu benar-benar mau membuat suamimu miskin mendadak?” tanya Jonathan ragu.
“Calon mantan suami, Jo! Tolong diralat,” koreksi Rania dengan nada teramat lempeng, seolah sedang membicarakan cuaca.
Tasya menelan ludah, lalu berdeham. “Ran, secara hukum itu sangat bisa karena semua aset itu memang murni atas namamu. Tapi, kamu serius mau sekeras ini?”
“Aku serius, Sya. Aku mau Mas Harsa, ibu mertuaku, dan juga Wulan merasakan apa yang selama ini aku rasakan. Seenggaknya, mereka nanti hanya kehilangan harta dan fasilitas mewah. Bukan kehilangan harga diri,” balas Rania, tersenyum sinis.
Jonathan mengernyitkan dahi, mencoba mengingat sesuatu. “Bukannya Harsa sudah diangkat jadi manajer utama di perusahaan keluargamu? Kalau aset ditarik, dia masih punya gaji besar dari sana.”
“Soal jabatan itu, aku bisa mengurusnya dengan sangat mudah. Bahkan, aku bisa membuatnya dipecat dalam semalam jika aku mau. Hanya saja, untuk sekarang, aku akan membiarkan Wulan dan ibu mertuaku bersenang-senang dulu. Biarkan mereka berpikir kalau semua kemewahan yang mas Harsa dapatkan adalah hasil jerih payahnya sendiri. Tepat saat mereka merasa berada di atas angin, aku akan langsung menjatuhkan mereka ke dasar jurang.”
Tasya dan Jonathan kompak menelan ludah berbarengan. Mereka saling berpandangan dengan bulu kuduk yang mendadak meremang, melihat sosok Rania yang kini seolah berubah total, bukan lagi seperti Rania yang lemah lembut dan penurut yang mereka kenal selama ini.
Wanita itu telah menjelma menjadi singa yang siap mencabik mangsanya.
Harsa kalo Masih mau sama Rania sok aku dukung selama mau berubah yak! anggap aja perjuanganmu itu ganti 1 tahun kebelakang💪
selama no making love, dungu sedikit it's okay 👌😄
sebentar sebentar saja kamu menikmati fasilitas kemewahan itu
iya iya siap siap sebelum didepak
dari rumah mewah ituu