NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Jejak yang Terkunci dalam Kotak Kayu

​Ingatan yang menyesakkan itu perlahan memudar, membiarkan kesadaran Alden kembali sepenuhnya ke kamar masa kecilnya.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang kembali berpacu hebat.

Kotak kayu tua di pangkuannya terasa sangat berat, bukan karena bobot fisiknya, melainkan karena beban kenangan yang tersimpan di dalamnya.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, bukan hanya karena rasa sakit fisik di tubuhnya, melainkan karena campuran duka, rindu, dan tekad yang mulai membara, Alden mulai mengeluarkan isi kotak itu satu per satu.

​Benda-benda di dalamnya adalah artefak masa lalu. Ada buku catatan usang, medali kemenangan olahraga, hingga foto-foto kusam. Ia menarik keluar beberapa surat yang terlipat rapi. Itu bukan surat cinta, melainkan surat peringatan dari sekolah; bukti kenakalan yang ia lakukan saat remaja. Alden ingat betapa ia mati-matian berusaha mencegah surat itu sampai ke tangan ayahnya. Ia sering mengendap-endap ke kotak pos atau menyuap teman agar surat itu hilang.

​Alden terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala. Sulit dipercaya bahwa anak keras kepala dalam kenangan itu adalah dirinya sendiri. Anak yang merasa paling benar, yang selalu lari dari masalah, dan yang menyimpan terlalu banyak gengsi untuk mengakui kesalahan. Kini, setelah melewati begitu banyak badai kehidupan, ia sadar betapa banyak keputusan bodoh yang ia buat. Betapa besar kesabaran orang-orang yang tetap bertahan di sisinya meski berkali-kali ia kecewakan.

​Pandangan Alden kemudian berhenti pada tiga lembar foto. Foto pertama berukuran 4R: saat acara camping sekolah. Di sana, ia berdiri dengan wajah tengil khas remaja, sementara di sebelahnya berdiri seorang gadis yang tersenyum lebar hingga matanya menyipit indah. Senyum itu begitu terang, seolah tidak ada beban hidup sedikit pun.

​Alden terdiam. Pandangannya menggelap, menatap wajah di sampingnya yang begitu akrab namun terasa sangat jauh. Wajah itu... wajah yang tidak mungkin ia lupakan meski waktu berganti ribuan kali, Anjani Lestari.

​Foto kedua adalah foto kelulusan. Alden tampak gagah dan percaya diri. Namun perhatiannya tidak tertuju pada dirinya sendiri. Jemarinya menyusuri permukaan foto yang mulai memudar. Ia mencari wajah Anjani di barisan belakang. Gadis itu berdiri cukup jauh darinya. Sekilas tampak normal, namun Alden melihat apa yang tidak akan disadari orang lain yakni wajah Anjani tegang, senyumnya tipis dan dipaksakan. Matanya tidak memancarkan keceriaan yang biasa ia kenal.

​Alden tahu persis alasannya.

Foto itu diambil tidak lama setelah apa yang ia lakukan terhadap Anjani. Setelah kata-kata kasar yang seharusnya tidak pernah keluar dari mulutnya, dan setelah luka yang ia tinggalkan begitu saja tanpa pernah berani meminta maaf. Jarak beberapa meter dalam foto itu adalah simbol dari jurang kekecewaan yang ia ciptakan sendiri.

​Alden mengusap pelan sudut foto tersebut. Dadanya sesak. Bahkan setelah sembilan tahun, ekspresi Anjani dalam foto itu masih mampu membuatnya merasa seperti orang paling jahat di dunia. Seharusnya ia tidak merusak kebahagiaan Anjani hari itu. Tapi justru ia yang menghancurkannya.

​Lalu foto ketiga, sebuah foto candid yang ia ambil diam-diam. Anjani sedang tertawa kecil bersama teman-temannya di bawah cahaya sore, rambutnya tertiup angin. Alden ingat saat itu ia berpura-pura sedang hunting fotografi hanya untuk bisa membidik wajah Anjani tanpa sepengetahuannya.

Foto itu yang paling lama ia simpan.

​Jari telunjuk Alden bergetar halus menyentuh kertas kusam tersebut. Rindu yang selama ini ia kubur di balik kesombongan masa mudanya pecah begitu saja.

Sesak.

Sampai ia harus menelan ludah berkali-kali hanya untuk menjaga napasnya tetap teratur.

Ingatan pun bermunculan bak potongan film lama, Anjani yang cerewet menasihatinya agar tidak membolos, hingga tatapan tajam Anjani saat memarahinya karena berkelahi.

 "Alden, kamu itu nggak pernah mikir, ya? Semua orang dibuat khawatir gara-gara ulah kamu!"

​Suara itu masih terngiang jelas, seolah baru diucapkan kemarin.

Ia ingat tatapan kecewa Anjani setiap kali ia membuat ayahnya sedih.

Dulu, ia membalas tatapan itu dengan sinis, padahal di dalam hatinya, tatapan itulah yang paling sulit ia abaikan.

Namun yang paling menyakitkan adalah sorot mata Anjani yang terluka setiap kali ia membentaknya.

Reaksi Anjani selalu sama yakninkaget, kecewa, lalu diam. Tapi anehnya, gadis itu selalu datang lagi. Tetap peduli, tetap muncul di hidupnya, seolah rasa sakit yang ia terima tidak cukup kuat untuk membuat Anjani pergi.

​"Anjani..." bisik Alden lirih. Suaranya pecah dan bergetar hebat.

"Di mana kamu sekarang? Bagaimana kabarmu?"

​Hanya keheningan kamar yang membalasnya. Dingin dan sunyi.

Setelah hari kelulusan itu, kehadiran Anjani perlahan hilang. Alden sadar, bukan Anjani yang pergi, dialah yang memilih menjauh.

Ia melarikan diri ke Australia, mengira jarak akan menghapus rasa bersalah. Ia mengubur masa lalu, sementara Anjani tetap tinggal, menjaga jarak sepenuhnya, menutup pintu pertemuan, dan tak lagi membuka ruang bagi siapapun.

​Itu kan yang dulu ia inginkan? Menyingkirkan "si penguntit" yang menurutnya mengganggu.

Tapi sekarang, ia tahu itu hanyalah topeng dari rasa takut. Ia takut ditolak, takut tidak dianggap, sehingga ia menjadi orang yang paling dulu mendorong Anjani pergi.

Pengecut.

Ironisnya, satu-satunya bukti bahwa ia sebenarnya tidak pernah ingin kehilangan gadis itu adalah foto candid yang kini ia pegang erat-erat.

bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!