Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YANG TERSISA
Tiga hari setelah kembali, Arka belum membalas satu pun pesan dari Nadia.
Bukan karena dia tidak ingin. Tapi karena setiap kali dia membuka aplikasi chat, jarinya berhenti di atas keyboard, dan dia tidak tahu bagaimana menjelaskan—pada orang yang hidup di dunia yang sama dengannya, tapi tidak mengingat dunia yang lama—bahwa dia baru saja kehilangan seseorang yang, bagi dunia ini, tidak pernah ada.
Bagaimana berduka untuk orang yang tidak pernah hilang menurut siapa pun, kecuali dirimu sendiri?
Pada hari keempat, Nadia datang ke apartemennya tanpa pemberitahuan.
"Arka." Suara Nadia dari balik pintu, diikuti ketukan—tiga kali, dengan jeda yang sama seperti biasanya, sesuatu yang Arka baru sadari adalah salah satu hal kecil yang dia hapal tanpa berusaha. "Aku tau kamu di dalam. Motor kamu ada di luar."
Arka membuka pintu. Nadia berdiri di sana, rambutnya basah sedikit oleh gerimis, memegang payung yang belum sempat dia tutup, menetes-netes ke lantai.
"Kamu kelihatan kayak orang yang baru bangun dari koma," kata Nadia, menatap wajah Arka dari atas ke bawah—mata yang cekung, rambut yang tidak disisir, baju yang sama dengan tiga hari lalu.
"Aku... lagi mikirin banyak hal," kata Arka, suaranya serak. Dia melangkah mundur, membiarkan Nadia masuk.
Nadia menutup payungnya, meletakkannya di dekat pintu—di tempat yang sama setiap kali dia berkunjung, kebiasaan kecil yang sudah jadi bagian dari ritme mereka berdua—lalu duduk di sofa, menatap Arka yang masih berdiri di tengah ruangan seperti orang yang lupa cara duduk di rumahnya sendiri.
"Arka, aku nggak datang buat marah," kata Nadia, suaranya lebih lembut dari yang Arka kira. "Aku cuma... aku khawatir. Pesan terakhirmu itu—'aku sayang kamu'—terus setelah itu kamu hilang total. Nggak ada kabar. Aku telepon kantor kamu, mereka bilang kamu nggak masuk tiga hari."
Arka duduk di kursi di seberangnya, menatap lantai. "Maaf."
"Aku nggak butuh kamu minta maaf terus, Arka." Nadia menyandarkan tubuhnya, menghela napas panjang. "Aku butuh kamu... ada. Beneran ada. Aku tahu tanggal 14 Maret itu berat. Aku tahu soal ibu kamu—well, sebagian, karena kamu nggak pernah cerita banyak. Tapi setiap tahun, kamu kayak menghilang ke dunia kamu sendiri, dan aku cuma bisa nunggu di luar, nggak tahu kapan kamu bakal balik."
Kata-kata itu menghantam sesuatu di dalam dada Arka—bukan karena salah, tapi karena terlalu benar, dan terlalu mirip dengan apa yang baru dia alami secara harfiah: menghilang ke dunia lain, dan kembali sebagai orang yang membawa beban yang tidak bisa dia bagikan.
"Nad," kata Arka, pelan, "kalau aku bilang sesuatu yang... aneh. Beneran aneh. Kamu bakal percaya aku, nggak?"
Nadia mengangkat alis, tapi nada suaranya tetap sabar. "Coba aja."
Arka menatap mata Nadia—mata yang dia kenal, mata yang selalu memberinya rasa aman meski dia tidak pernah benar-benar membiarkan dirinya merasa aman di sana—dan untuk sesaat, dia hampir mengatakannya. Hampir menceritakan semuanya: tentang kembali ke masa lalu, tentang ibunya, tentang Damar.
Tapi kemudian dia memikirkan satu hal yang membuat lidahnya membeku.
Apa yang akan terjadi kalau aku menyebut nama Damar ke orang yang tidak pernah mengenalnya? Apa Nadia akan menganggapku gila? Atau—lebih buruk—apa ada kemungkinan, semakin banyak aku membicarakannya, semakin cepat dunia ini "memastikan" bahwa Damar memang tidak pernah ada, menghapus jejak-jejak terakhir yang mungkin masih tersisa di luar ingatanku sendiri?
Dia tidak tahu aturan dari kekuatan ini. Dan ketidaktahuan itu membuatnya takut untuk bicara.
"Nggak," kata Arka akhirnya, suaranya kalah. "Bukan apa-apa. Aku cuma... capek aja, Nad. Tanggal 14 Maret emang selalu berat buat aku."
Nadia menatapnya lama—terlalu lama, seperti mencoba membaca sesuatu di balik wajah Arka yang dia tahu sedang menyembunyikan sesuatu, tapi tidak tahu apa.
"Oke," kata Nadia akhirnya, meski jelas tidak benar-benar 'oke'. "Kalau kamu butuh waktu, aku ngerti. Tapi Arka—" dia berhenti, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "—aku nggak bisa terus-terusan jadi orang yang nunggu di luar pintu. Aku pengen jadi orang yang kamu izinkan masuk. Kalau kamu nggak pernah izinin, lama-lama... aku nggak tau, aku takut aku bakal capek duluan."
Kalimat itu menggantung di udara—bukan ancaman, tapi sesuatu yang lebih menyakitkan: kejujuran.
Arka ingin menjawab. Ingin berkata bahwa dia akan berubah, bahwa dia akan membuka diri. Tapi di kepalanya, satu pertanyaan terus berputar, lebih kuat dari apa pun yang ingin dia katakan ke Nadia saat ini:
Jika aku kembali lagi—jika aku mengubah sesuatu yang lain—apakah Nadia juga bisa menghilang seperti Damar?
Pertanyaan itu membuatnya diam terlalu lama.
Nadia berdiri, mengambil payungnya. "Aku pulang dulu, ya. Istirahat, Arka. Aku... aku masih sayang kamu, kok. Tapi aku juga butuh kamu sayang balik—dengan cara yang aku bisa rasain."
Pintu tertutup pelan di belakangnya. Arka duduk sendirian di ruangan yang tiba-tiba terasa lebih besar dari sebelumnya, lebih kosong—seperti ruangan yang baru saja kehilangan sesuatu, meski semua barangnya masih di tempat yang sama.
Malam itu, Arka duduk di depan laptopnya, mencoba mencari jawaban—mengetik kata kunci aneh ke mesin pencari: "perjalanan waktu mengubah masa lalu," "seseorang menghilang dari ingatan," "paradoks waktu nyata."
Hasilnya hanya artikel-artikel fiksi, teori film, forum diskusi tentang film-film time travel yang dia sendiri pernah tonton. Tidak ada yang nyata. Tidak ada yang bisa membantu.
Sampai dia mengetik sesuatu yang lebih spesifik—lebih personal: "orang yang ingat sesuatu yang nggak pernah terjadi."
Salah satu hasil pencarian membawanya ke sebuah forum kecil, hampir mati, dengan thread terakhir diposting tiga tahun lalu. Judulnya sederhana:
"Apakah ada yang lain yang mengingat dunia yang berbeda?"
Isinya hanya beberapa paragraf, ditulis oleh seseorang dengan nama pengguna "S."—tanpa identitas lain.
"Aku tahu ini terdengar gila. Tapi kalau ada yang membaca ini dan merasakan hal yang sama—merasa seperti membawa ingatan dari dunia yang sudah tidak ada—tolong, kirim pesan. Kamu nggak sendirian. Tapi juga... hati-hati. Setiap kali kamu mencoba memperbaiki sesuatu, kamu cuma memindahkan lukanya ke orang lain. Aku belajar itu dengan cara yang paling menyakitkan."
Tidak ada balasan di thread itu. Tidak ada percakapan lebih lanjut. Hanya satu postingan, sendirian, seperti botol pesan yang dilempar ke laut yang sangat luas, tanpa pernah tahu apakah ada yang menemukannya.
Arka menatap postingan itu lama. Tangannya terasa dingin.
"S."
Dia tidak tahu siapa orang itu. Tapi untuk pertama kalinya sejak kembali dari masa lalu, dia merasakan sesuatu selain rasa bersalah dan kebingungan.
Dia merasa, untuk pertama kalinya, bahwa mungkin—mungkin—dia tidak benar-benar sendirian.
Di luar, hujan mulai turun lagi. Dan di dalam dadanya, sesuatu yang sudah lama dia kira mati—harapan, atau mungkin sesuatu yang lebih berbahaya: keinginan untuk mencoba lagi—mulai bergerak, pelan-pelan, seperti akar yang mencari jalan menembus tanah yang keras.