Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.
Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.
Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.
Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.
Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.
Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Ruang istirahat privat milik Dewan Elite Athena sore itu sunyi, hanya diisi dengungan lembut pendingin ruangan dan detak jam dinding yang berdetak lambat. Aromanya bersih, dengan sedikit jejak kopi dan kayu manis dari mesin kopi otomatis di sudut ruangan. Meja-meja panjang dari marmer hitam berkilau, tersusun rapi, dengan vas kristal kecil di tengahnya berisi bunga segar yang diganti setiap dua hari sekali. Tempat itu didesain bukan hanya untuk kenyamanan, tapi juga menonjolkan status penghuninya. Eksklusif, terpilih, dan tidak tersentuh oleh siswa biasa.
Kaiden menatap sekeliling dengan malas, lalu melemparkan pertanyaan yang menggantung di udara.
"Ke mana anak itu?" Tanyanya, sembari meregangkan otot punggungnya. Yang dia maksud jelas, Calvin, yang biasanya pada jam ini betah duduk di pojokan ruangan sambil tenggelam dalam dunia game virtual favoritnya.
Leon tak langsung menjawab. Ia masih terpaku pada layar laptopnya yang menampilkan sesuatu yang menarik: profil siswi Athena, lengkap dengan foto dan data pribadi. Tangannya tidak berhenti mengetik, tetapi nada suaranya tetap tenang saat menjawab, "Aku rasa dia sedang menenangkan diri."
Kaiden menoleh, mengangkat sebelah alisnya. Ketertarikan mulai tumbuh di wajahnya yang biasanya datar.
Leon, menyadari tatapan itu, akhirnya menutup layar laptop dan melirik Kaiden sekilas. "Anak itu dengar kabar bahwa Tuan Tarrant akan menikah lagi."
Kaiden memiringkan kepala. Tidak terkejut, tapi juga tidak sepenuhnya paham. "Bukankah itu hal yang wajar? Seingatku, Geofano Tarrant memang sudah lama menduda."
Leon menyandarkan tubuh ke kursi, nada bicaranya berubah menjadi lebih tajam. "Ya, tapi yang menjadi masalah... calon ibu tirinya hanya terpaut tiga tahun dari kita."
Kaiden terdiam sejenak, lalu tertawa kecil penuh sinis. "Jadi babi tua yang memakan daging angsa." Ucapan itu lebih terdengar seperti satire daripada sekadar komentar.
"Tepat," Leon mengangguk. Matanya menggelap mengingat satu kejadian tertentu. "Dan kita sudah melihat wanita itu, di klub malam milikmu. Perempuan dengan mata penuh ambisi. Penuh perhitungan."
Kaiden mendecih sambil menggeleng pelan. "Artis baru yang yang di bawa Bian dan mencoba menggoda Calvin itu, kan? Lucu. Setelah gagal memikat anaknya, dia malah memutar haluan dan menargetkan ayahnya. Pintar. Licik. Menjijikan."
Suasana sunyi sejenak. Tapi hanya sampai pintu terbuka.
Calvin akhirnya kembali.
Langkahnya santai, tak menunjukkan tanda-tanda kemarahan atau kekecewaan seperti sebelum ia meninggalkan ruangan tadi. Tapi bukan itu yang membuat Leon dan Kaiden menoleh bersamaan. Seorang gadis mengikuti di belakangnya, membawa map tebal yang didekap di dada. Ia terlihat gugup, tapi berusaha tenang.
Calvin tidak memberi perhatian sedikit pun pada gadis itu. Mereka hanya kebetulan bertemu di depan pintu. Tanpa banyak basa-basi, dia langsung berjalan melewati gadis itu dan menjatuhkan diri di kursi sebelah Kaiden.
Sementara itu, Grace Natalie Margaretha. Sang gadis pembawa mapbmendekat ke arah Leon. Senyum sopan menghiasi wajahnya yang dipulas ringan. Ia berdiri dengan postur sempurna, menyodorkan map bersegel rapi ke arah lelaki itu.
"Ini yang diminta oleh Ketua OSIS untuk aku serahkan padamu."
Leon menerima map itu tanpa banyak ekspresi, lalu membukanya perlahan. Isinya. Proposal penyelenggaraan pesta ulang tahun Athena yang akan digelar minggu depan. Ia membaca sekilas, matanya menyusuri halaman-halaman dengan cepat.
"Kami hanya butuh persetujuan dari para Dewan untuk eksekusi tahap akhir," lanjut Grace, suaranya ringan dan formal.
Leon hanya mengangguk pelan.
"Baik. Aku akan membicarakannya dengan yang lain nanti."
Bukannya langsung pergi, Grace justru berdiri lebih lama dari seharusnya. Tangannya menyelipkan rambut ke belakang telinga dengan gerakan yang terkesan alami tapi jelas disengaja. "Ngomong-ngomong... apa kau akan hadir di pesta teh lusa nanti? Aku dengar Tante Liliana yang menjadi tuan rumah." Suaranya kini lebih lembut, nyaris menggoda.
Namun Leon tetap tak memalingkan pandangan dari dokumen di tangannya.
"Itu acara para wanita. Untuk apa aku ikut?" katanya datar. Lalu tanpa basa-basi, ia menambahkan, "Kalau tidak ada hal penting lain, kau boleh pergi."
"Pffftt..." suara tawa Calvin meledak begitu saja dari tempatnya. Ia tidak bisa menahan diri melihat bagaimana Leon secara terang-terangan menolak dan mengusir gadis itu. Bahkan Kaiden pun tersenyum tipis di balik cangkir kopinya.
Wajah Grace memucat sesaat. Rasa malu dan kesal menari-nari di balik matanya, meski bibirnya tetap mempertahankan senyum.
"Baiklah..." ucapnya sebelum akhirnya berbalik hendak pergi.
Tapi sebelum kakinya benar-benar melangkah, matanya menangkap layar laptop Leon yang belum sepenuhnya tertutup.
Satu nama terpampang jelas di sana.
ALMA ROMILLY. M.
Matanya menyipit. Siapa gadis ini? Kenapa Leon melihat profilnya? Apa hubungan mereka?
Sebuah kilasan kecurigaan menyelinap dalam benaknya. Hatinya mulai dipenuhi dengan rasa tak nyaman. Bukan karena penolakan barusan, melainkan karena satu hal yang lebih mengusik: mungkinkah Leon tertarik pada gadis ini?
Grace menelan ludah. Sekilas tatapannya menyiratkan tekad.
Ia harus menyelidiki lebih jauh.
🥀🥀🥀
Di sisi lain, Alma melangkah menyusuri lorong koridor menuju kafetaria yang berada di sisi timur gedung utama. Jemarinya masih menggenggam buku yang tadi sempat ia baca di ruang kelas. Sebuah pesan dari Sherin masuk ke ponselnya beberapa menit lalu, menyuruhnya menyusul ke kafetaria, tempat yang hanya bisa diakses oleh pemegang kartu identitas khusus kelas Arcturus dan Polaris.
Alma merogoh saku seragamnya, mengeluarkan kartu pipih berwarna putih gading, lalu menggesekkannya pada panel sensor di sisi kanan pintu. Suara 'klik' lembut terdengar, dan pintu bergeser otomatis, memperlihatkan ruangan luas dengan interior elegan seperti lounge hotel berbintang. Meja-meja marmer, lampu gantung kristal, serta aroma kopi premium menyambutnya.
Waktu istirahat tinggal dua puluh menit lagi, namun kafetaria masih ramai. Para siswa bercengkerama dengan tawa tinggi, seolah seluruh dunia hanya milik mereka. Alma memindai ruangan dan segera menemukan Sherin yang melambai dari meja pojok dekat jendela.
Namun, langkahnya terhenti ketika seseorang menabraknya dengan kasar dari samping.
Brak!
Tubuh Alma oleng dan jatuh tersungkur ke lantai, buku di tangannya terlepas, dan punggung tangannya yang putih bersih tergores lantai marmer yang dingin. Suara gumam kaget terdengar dari sekitar, dan seketika perhatian tertuju padanya.
"Kau tidak punya mata, ya?" suara tajam itu menggema.
Alma mendongak perlahan. Di hadapannya berdiri Freya, lengkap dengan gelas minuman di tangan yang isinya kini menodai seragam Alma.
Alma mengerjapkan mata. Minuman dingin meresap ke kain bajunya, menimbulkan rasa lengket dan dingin yang menjalar ke kulit. Namun lebih menyakitkan adalah tatapan congkak Freya, seolah Alma adalah sampah jalanan yang pantas diinjak.
"Aku…" Alma menarik napas, mencoba menahan diri, "…maaf, aku tidak sengaja."
"Tidak sengaja?" Freya menyeringai miring. Ia melangkah lebih dekat, lalu dengan gerakan dramatis, menuangkan sisa minuman di dalam cup ke atas kepala Alma. Cairan manis itu mengalir dari rambut hingga ke leher Alma, membasahi sebagian kerah bajunya.
Suara gumaman dan tawa rendah mulai terdengar di sekeliling mereka.
"Ini akibatnya kalau berani menabrak orang sembarangan. Apa kau pikir kau bisa seenaknya di tempat ini?" Freya menjatuhkan cup kosong ke lantai, tepat di depan wajah Alma. "Anggap ini peringatan dari orang yang lebih tinggi darimu."
Lalu ia membalikkan badan, melenggang pergi dengan langkah angkuh. Rambut pirangnya berkibar, sementara tatapan para siswa lain masih tertuju pada Alma. Bukan dengan empati, tapi dengan minat hiburan yang memuakkan.
Tidak ada satu pun yang mendekat. Tidak ada yang menawarkan bantuan. Hanya Sherin yang berlari menghampiri dengan wajah panik.
"Alma! Ya Tuhan, kau tidak apa-apa?" Sherin menjatuhkan tasnya ke lantai, berlutut di samping sahabatnya, dan mengeluarkan sapu tangan kecil dari sakunya. Ia mulai mengelap cairan dari rambut Alma dengan tangan gemetar.
Alma menggeleng pelan, menahan rasa malu dan dingin yang menusuk hingga tulang. "Aku tidak apa-apa," ucapnya lembut, lalu mengambil sapu tangan itu dan melanjutkan mengelap sendiri. "Hanya sedikit basah, itu saja. Bisa dibersihkan nanti."
Namun nada tenang itu tak cukup untuk menenangkan Sherin.
"Itu bukan 'sedikit', Alma Dan semua orang melihat. Kenapa mereka tidak…," Sherin terhenti, menahan kemarahan. "Aku lihat sendiri. Dia yang menabrakmu duluan. Lalu malah menyalahkanmu. Ini gila!"
Alma tidak menjawab. Ia menunduk, menatap bekas cup yang masih tergeletak di lantai. Tangannya yang gemetar menggenggam sapu tangan erat-erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Perlahan, ia bangkit berdiri, tubuhnya masih sedikit goyah, namun wajahnya menyimpan ekspresi yang tidak dimiliki gadis itu sebelumnya.
Tatapan matanya berubah. Tidak lagi penuh kebingungan atau rasa bersalah. Ada sesuatu yang dingin dan kelam di balik bola mata hitamnya. Bukan karena cairan yang membasahi tubuhnya, tapi karena sesuatu yang jauh lebih pahit. Ingatan masa lalunya.
"Dia sedang mencari mangsa," gumam Sherin pelan, berdiri di sampingnya. "Dan aku rasa, hari ini... kau yang jadi pilihannya."
Alma memutar wajahnya, menatap Sherin. Senyum tipis menghiasi bibirnya, senyum yang tidak menjangkau matanya.
"Mungkin," katanya pelan.
Lalu ia membalik badan, melangkah melewati cup kosong yang tergeletak di lantai.
🥀🥀🥀
Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Langit Athena International Senior High School mulai meredup, namun cahaya matahari masih menggantung hangat di sela-sela pepohonan rimbun. Jam pelajaran telah usai. Para siswa dari kasta elit satu per satu keluar dari gedung utama, berjalan anggun menuju mobil-mobil mewah mereka yang berjajar seperti pajangan pameran otomotif kelas atas.
Namun tidak semua beranjak pulang. Masih ada beberapa siswa yang bertahan di lingkungan sekolah, karena kegiatan ekstrakurikuler. Salah satunya adalah Alma.
Ia berjalan perlahan menuju gedung kesenian di sisi timur, tempat di mana lantai tiga diperuntukkan bagi jurusan musik klasik. Di tangannya terdapat tas jinjing kecil berisi partitur dan botol minum. Seragam sekolahnya telah berganti menjadi seragam bersih, lengkap dengan pita biru muda yang terikat rapi di kerahnya. Untung saja ia selalu menyimpan cadangan seragam di loker pribadi.
Langkah Alma berhenti sejenak di lorong panjang yang sepi. Hanya suara sepatu hak rendah miliknya yang terdengar menggema, bersamaan dengan denting lembut dari balik salah satu pintu kayu putih: suara piano.
La Campanella.
Alma mengenali nada-nada itu hanya dalam beberapa detik. Sebuah komposisi klasik karya Franz Liszt yang membutuhkan kelincahan tinggi dan ketepatan teknik. Tuts-tuts tinggi dimainkan dengan gemilang, meski tak sempurna. Ada kesan seseorang sedang belajar, namun cukup berbakat.
Begitu Alma mendorong pintu ruangan piano, alunan itu langsung berhenti. Pandangannya tertumbuk pada grand piano putih mengilap di tengah ruangan. Di hadapannya, duduklah seorang pria dengan rambut hitam yang jatuh menutupi alis. Ia menoleh dan tersenyum kecil, seperti sudah menunggu.
"Kita bertemu lagi, Nona Morrison," ucap Leon. Nada suaranya ringan namun sarat godaan.
Alma menghela napas pelan, namun bibirnya tersenyum. Sudah bisa ditebak. Setelah insiden pembelian buku itu, Leon pasti menyelidikinya. Dia adalah Leon Esmith Radcliffe. Putra dari keluarga militer dan politikus yang menguasai lebih dari setengah media nasional. Informasi adalah mainannya.
"Aku tidak tahu kalau kau anggota klub musik," ujar Alma, tanpa menjawab sapaannya. Dia menutup pintu perlahan, lalu berjalan masuk. Nada bicaranya terdengar santai namun tidak ceroboh. Ada kewaspadaan yang tetap terjaga.
Leon mengangkat bahu, senyumnya masih bertahan. “Hanya iseng. Lagipula kelas belum mulai—masih setengah jam lagi.”
Alma mengangguk. Dia berdiri di samping piano. Tidak terburu-buru untuk duduk.
"Tapi aku penasaran," Leon memiringkan kepalanya sedikit. "Bukankah seharusnya putri terhormat dari keluarga Morrison punya guru les privat? Kenapa repot-repot ikut ekstrakurikuler sekolah?"
Alma menatapnya sebentar, lalu berkata pelan, "Haruskah aku menjawab?"
Meskipun ia memang memiliki guru privat. Laurent Deveraux, musisi kawakan asal Prancis. Alma tidak berniat menyombongkannya. Ia belajar piano bukan untuk pujian. Tapi untuk dirinya sendiri.
Leon terkekeh. "Tidak masalah. Aku hanya penasaran saja." Kemudian ia menepuk tempat kosong di sebelahnya. "Kemarilah."
Alma ragu sejenak, namun kemudian melangkah dan duduk. Kursi piano panjang itu tidak terlalu lebar. Lengan mereka bersentuhan.
"Aku bisa minta satu lagu?"tanyanya.
Alma menoleh. "Lagu apa yang kau inginkan?"
"Little Prince. Karya gurumu, Laurent."
Alma tertawa kecil. Lelaki ini benar-benar melakukan riset. Ia tidak hanya tahu nama belakang Alma, tapi juga gurunya.
Dengan senyuman samar, Alma menyesuaikan posisi duduknya dan meletakkan jari-jarinya di atas tuts. Ia menutup matanya sejenak, lalu mulai memainkan lagu yang diminta. Nada-nada yang mengalir tenang namun kuat, mengisi ruangan dengan suasana melankolis bercahaya.
Leon tidak berkata apa pun. Tatapannya fokus pada wajah Alma. Jemarinya yang lentik menari, menciptakan irama yang menyihir. Cahaya matahari dari jendela kaca memantulkan kilau lembut pada rambut hitam Alma, membuatnya tampak seperti lukisan hidup.
Lagu berakhir dalam jeda senyap yang hangat.
Senyum tulus terbentuk di wajah Leon. "Kau benar-benar... menakjubkan."
Alma hanya mengangkat bahu, walau pipinya tampak sedikit bersemu. Ia tidak terbiasa dipuji seperti itu.
Leon kemudian mencondongkan tubuh sedikit. "Aku dengar seseorang mengganggumu tadi siang... mengatakan derajatnya lebih tinggi darimu?"
Alma terkekeh. "Bahkan itu sudah sampai ke telingamu? Tidak heran. Kau bagian dari Dewan Sekolah."
Leon ikut tertawa. "Kau seharusnya bilang saja, 'Aku putri keluarga Morrison. Kau pikir kau siapa?'"
"Tidak akan pernah," kata Alma, tegas.
"Karena kau menutupi identitasmu?"
Alma menatap lurus ke arah tuts piano. “Aku hanya... tidak ingin menjadi pusat perhatian.”
Di balik layar hitam dan panel-panel teknologi, di ruang kontrol lantai empat gedung utama, Kaiden menyaksikan semua itu. Wajahnya terpantul di layar monitor, bersama potret kebersamaan Alma dan Leon yang baru saja terekam dari kamera CCTV ruang musik.
Senyum sinis tersungging di wajah tampannya.
Ia tak menyangka... Alma mengenal Leon. Dan mereka begitu akrab.
Dada Kaiden terasa sesak. Bukan karena cemburu. Atau mungkin... justru karena itu.
"Menarik," gumamnya. Tapi sorot matanya tak lagi tenang. Ada sesuatu yang perlahan terbangun di dalam hatinya, kekacauan yang tak bisa dia definisikan.
atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?