NovelToon NovelToon
The Royal Family

The Royal Family

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Viana18

Di tengah kota mewah Seoul berdiri sebuah komplek elite bernama Royal Family Residence tempat tinggal empat keluarga sultan paling berpengaruh di Asia. Rumah mereka berdampingan, bisnis mereka mendunia, dan anak-anak mereka terkenal di sekolah elit Aexdrem High School serta Universitas Aexdrem.
Walaupun terlihat sempurna dari luar, isi rumah mereka justru penuh keributan, lawakan receh, drama keluarga, dan perang mulut tiap hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Di balik tiang penyangga yang tidak jauh dari situ, Haechan berdiri kaku mematung. Dia sebenarnya sudah selesai dari kamar mandi cukup lama, dia sudah mencuci muka dan merapikan penampilannya, tapi saat dia hendak kembali menghampiri meja mereka, suara percakapan Mark dan Nana membuat langkah kakinya terhenti. Awalnya dia cuma mau mengamati sebentar saja, berniat memastikan apa yang mereka bicarakan. Tapi semakin lama dia mendengar, semakin dalam rasa kaget dan sakit hati yang dia rasakan.

Haechan tidak menyangka sama sekali, tidak pernah menyangka sedikit pun... kalau Mark bisa sejahat itu. Mark yang selama ini dia kenal, Mark yang selalu dia puja, Mark yang selalu dia anggap cowok keren dan hebat... ternyata bisa bicara seburuk itu tentang adik kandungnya sendiri. Menjelekkan Jeno, memanasi Nana, mencari-cari kesalahan Jeno, berusaha bikin Nana benci atau ragu sama kekasihnya. Padahal Jeno itu sangat menyayangi abangnya, Jeno itu selalu bangga punya abang sehebat Mark, Jeno itu polos dan tulus banget sama Mark. Tapi apa balasan Mark? Dia malah menusuk dari belakang, dia malah menghancurkan nama baik adiknya diam-diam di depan orang yang paling Jeno cintai.

Hati Haechan perih sekali. Dia merasa kecewa, sedih, sekaligus jijik melihat sisi lain Mark yang baru dia ketahui hari ini. "Ternyata... ternyata sejahat ini ya hatinya Kak Mark... Padahal Jeno selalu banggain dia, selalu nurut sama dia, selalu hormat sama dia. Tapi Kak Mark... dia malah berusaha ngerusak kebahagiaan adiknya sendiri demi keinginan dia sendiri. Demi Nana. Sampai segitunya ya rasa cintanya? Sampai rela nyakitin saudara kandung sendiri?" batin Haechan dengan mata berkaca-kaca, rasa kagumnya sedikit demi sedikit berubah menjadi rasa sedih yang mendalam.

Namun di sisi lain, rasa cintanya itu masih ada. Meski dia tau sifat buruk Mark, meski dia tau betapa jahatnya ucapan Mark barusan, hatinya tetap tidak bisa berubah. Dia tetap mencintai Mark, dia tetap mau berjuang, dia tetap berharap suatu saat nanti Mark bakal berubah dan melihat keberadaannya. Haechan menghela napas panjang, menahan segala rasa kaget dan kecewa di dalam hatinya, lalu memaksakan senyum manisnya kembali terbit di bibirnya. Dia pun melangkah keluar dari persembunyiannya, berjalan santai menghampiri meja mereka lagi seolah-olah dia baru saja datang dari kamar mandi.

"Ehh... Kak Mark, Nana... aku balik lagi nih! Maaf ya lama dikit, tadi antre lho di dalam," seru Haechan ceria, suaranya terdengar riang banget meski hatinya sedang hancur dan kacau balau. Dia duduk kembali di kursinya di sebelah Mark, lalu menatap keduanya bergantian. "Kalian ngobrolin apaan sih dari tadi? Serius banget mukanya?"

Mark menoleh ke arah Haechan dengan wajah datar dan dingin seperti biasa, rasa tidak sukanya pada cewek itu kembali muncul begitu saja. Dia tidak senang sama sekali melihat Haechan kembali datang dan mengganggu momennya. "Nggak ngomongin apa-apa kok, cuma bahas pelajaran doang." jawab Mark ketus, matanya langsung beralih lagi ke arah lain, tidak mau menatap Haechan sedikit pun.

Haechan cuma tersenyum tipis menanggapi ketusannya itu, hatinya makin perih tapi dia tetap bertahan. "Ah Kak Mark ini...apa gak bisa manis dikit aja?," ucap Haechan lembut tapi tegas, meski Mark selalu bersikap kasar.

Nana yang melihat itu semua cuma bisa diam dan menghela napas pelan. Dia kasihan banget sama Haechan, cewek itu begitu tulus, begitu sabar, begitu gigih, tapi cowok yang dia cintai malah seolah tidak punya hati. Nana menatap Haechan dengan pandangan penuh pengertian dan dukungan, dia tahu betapa beratnya perjuangan cewek itu.

Belum sempat obrolan mereka berlanjut, terlihat sosok Jeno berjalan santai kembali mendekati meja mereka dengan napas sedikit terengah tapi wajahnya bersinar cerah dan puas. Dia sudah selesai menaruh semua peralatan dan bola basket di lapangan olahraga, semuanya sudah rapi dan siap dipakai latihan nanti.

"WOI! AKU BALIK LAGI NIH!" seru Jeno riang sambil melambaikan tangan dari jauh. Dia berjalan cepat mendekat, lalu langsung berdiri di samping kursi Nana, tangannya refleks menyentuh bahu kekasihnya itu dengan lembut. "Udah beres semua Bang! Udah aku taruh rapi di tempatnya masing-masing, udah aku cek juga kondisinya aman semua"

Mark hanya melirik sekilas dan mengangguk singkat, "Hm, bagus kalau gitu. tinggal nanti latihan."

Jeno tidak peduli dengan sikap dingin abangnya itu, dia malah langsung menatap Nana dengan senyum paling manis. "Sayang... udah selesai makannya? Nah pas banget tuh, denger nggak? Itu bel masuk udah bunyi lho."

Benar saja, tepat setelah ucapan Jeno selesai, bel tanda masuk kelas pun berbunyi nyaring menggema ke seluruh penjuru sekolah, membuat seluruh siswa bergegas meninggalkan kantin dan kembali ke kelas masing-masing.

"Ayo Sayang, aku antar kamu sampai kelas ya. Biar aman, biar nggak ada yang ganggu di jalan," ucap Jeno lembut, dia langsung meraih tas milik Nana untuk dibawakan sendiri, lalu menggenggam tangan cewek itu erat. Jeno menoleh sebentar ke arah Mark dan Haechan. "Kita duluan ya Bang, Haechan."

Nana pun berdiri, mengangguk sopan ke arah Mark dan Haechan. "Kami duluan ya. Sampai ketemu lagi nanti.chan mau bareng gak? "

"gk na kmu duluan aaja,, ak masih mau nemenin mark."

"oke chan ak duluan ya,, bye bye"

"bye bye na"

Jeno pun berjalan beriringan dengan Nana, menuntun kekasihnya itu berjalan hati-hati melewati kerumunan siswa. Sesampainya di depan pintu kelas Nana, Jeno berhenti sejenak, menatap cewek itu dalam-dalam dengan tatapan sayang dan bangga.

"Udah sampai nih... belajar yang rajin ya. Nanti kalau ada apa-apa atau butuh apa-apa, panggil aku aja , aku pasti langsung datang. Aku mau langsung ke lapangan sekarang sama Bang Mark, mau persiapan latihan. Nanti setelah selesai aku jemput kamu, Sayang?" ucap Jeno lembut, suaranya rendah agar hanya terdengar oleh Nana.

Nana tersenyum manis, mengangguk pelan sambil melepaskan genggaman tangannya perlahan. "siap nono. Kamu juga semangat ya latihannya, jangan sampai cedera atau capek berlebihan ya. Nanti aku liatin deh dari pinggir lapangan kalau jamkos. Hati-hati ya, sampai nanti."

Jeno tersenyum lebar, lalu mengelus kepala Nana sebentar sebelum akhirnya berbalik badan dengan semangat berjalan kembali ke arah kantin, hendak menjemput abangnya untuk berangkat ke lapangan olahraga.

Di dekat gerbang koridor, Haechan yang sudah berdiri sejak tadi juga bersiap untuk berjalan menuju kelasnya. Dia menoleh ke arah Mark yang masih berdiri diam menatap kepergian adik dan Nana itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Haechan menghela napas panjang, lalu memberanikan diri untuk berpamitan.

"Kak Mark... aku duluan ya mau ke kelas. . Semangat latihan basketnya, aku doain biar menang pertandingannya nanti," ucap Haechan pelan, berusaha selembut mungkin, berharap setidaknya Mark bakal menjawab dengan baik.

Tapi Mark tetaplah Mark. Wajahnya tetap dingin, tatapannya tetap kosong, dan jawabannya tetap ketus, kasar, dan tidak ada perasaan sama sekali. Dia bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Haechan, dia hanya melangkah pergi sambil menjawab dengan nada malas dan tidak peduli.

"Iya, iya. Cepetan pergi sana, ngalangin jalan aja kamu. Ribet banget sih cuma pamit doang. Udah sana pergi, ganggu banget di sini," jawab Mark ketus, lalu berjalan lewat begitu saja melewati sisi Haechan seolah cewek itu cuma tiang listrik yang tidak ada gunanya.

Haechan diam terpaku sejenak di tempatnya, hatinya kembali ditusuk rasa sakit yang sama seperti biasanya. Dia menatap punggung Mark yang menjauh berjalan menyusul Jeno ke arah lapangan, matanya kembali berkaca-kaca menahan air mata yang mau jatuh.

"Gak apa-apa... gak apa-apa Haechan," batinnya sambil mengusap pelan dadanya yang sesak. "Biarpun Kak Mark jahat, biarpun Kak Mark kasar, biarpun Kak Mark punya sisi buruk kayak tadi... aku tetep sayang sama dia. Aku tetep bakal nunggu. Aku tetep bakal berjuang. Suatu saat nanti... aku yakin banget, usaha aku bakal terbayar lunas. Suatu saat nanti, Kak Mark bakal nengok ke belakang dan sadar... kalau orang yang paling tulus, orang yang paling sayang, orang yang paling sabar ngadepin dia itu cuma aku. Aku bakal nunggu sampai saat itu datang, walaupun harus sakit hati ribuan kali lagi kayak gini."

Dengan senyum yang dipaksakan kembali terbit, Haechan pun membalikkan badannya berjalan perlahan menuju kelasnya, membawa rasa cinta yang besar namun berat di dalam dada, sementara di sisi lain, Mark berjalan dengan rencananya yang belum selesai, yakin bahwa usahanya merebut Nana belum berakhir dan akan terus dilakukan diam-diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!