Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Setibanya di Rumah Sakit Citra Medika, Daniel melangkah lebar menyusuri koridor dengan rahang tegas yang dipenuhi konsentrasi. Pria itu langsung masuk ke dalam ruang kerja pribadinya, meletakkan tas, dan segera membuka map tebal berisi data medis pasien. Hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang dan menguras energi bagi sang dokter spesialis bedah jantung. Dua operasi besar dengan tingkat risiko tinggi sudah menunggunya pada jam delapan pagi ini. Daniel menarik napas dalam-dalam, menatap lembar demi lembar hasil rekam jantung, lalu bersiap menuju ruang sterilisasi.
Namun, atmosfer yang melelahkan itu sama sekali tidak berlaku bagi Shanum di kediaman mewah keluarga Lee.
Pagi menjelang siang itu, Shanum dan Nyonya Tania sedang berada di dalam ruangan khusus spa dan pijat yang terletak di bagian sayap kanan rumah. Harum aroma terapi esensial lavender menguar menenangkan, dipadukan dengan alunan musik instrumental yang lambat. Dua terapis profesional yang dipanggil Daniel tadi pagi tampak telaten memijat punggung dan bahu kedua wanita itu. Shanum memejamkan matanya, menikmati setiap pijatan yang perlahan mengurai rasa lelah dan ketegangan di otot-otot tubuhnya. Untuk pertama kalinya, Shanum benar-benar merasakan sensasi mewah menjadi seorang nyonya di rumah tersebut.
Sementara itu, di tempat terpisah, Tuan Lee juga sudah mulai larut dengan tumpukan dokumen dan kesibukan kedinasannya di kantor pusat perusahaannya.
Di tengah sesi pijat yang menenangkan, Nyonya Tania membuka suara tanpa mengubah posisinya yang sedang tertelungkup nyaman.
"Num... di persidangan gugatan hak asuh lusa nanti, kau tidak boleh takut atau gentar sedikit pun berhadapan dengan Klara, ya," ujar Nyonya Tania, suaranya terdengar berat namun penuh penekanan. "Tegakkan kepalamu di ruang sidang, karena sekarang statusmu adalah istri sah dari Daniel. Jangan biarkan wanita ular itu mengintimidasi dirimu. Beri Daniel semangat, ok!"
Mendengar wejangan penuh pembelaan dari ibu mertuanya, Shanum membuka matanya. Ada dorongan keberanian yang mendadak membakar dadanya. Ia tidak ingin lagi terlihat lemah, apalagi ini demi melindungi Baby Ziva dan membalas budi baik Daniel.
"Siap, Mah. Aku sudah menyiapkan diri dan juga mental yang kuat untuk menghadapi sidang lusa. Aku akan melakukan apa pun untuk membantu suamiku," jawab Shanum dengan nada suara yang mantap dan penuh keyakinan.
Mendengar ketegasan dari menantunya, Nyonya Tania mengulas senyum lebar. Rasa lega yang luar biasa seketika menyelimuti hatinya. Ia tahu, Daniel tidak salah memilih wanita untuk mendampingi hidupnya kali ini.
*
*
Di sudut kota metropolitan, atmosfer kontras justru menyelimuti sebuah ruangan kantor yang elegan. Klara duduk dengan anggun sembari menyilangkan kakinya, menatap Pengacara Jason yang sedang merapikan berkas gugatan mereka.
Wajah Klara tampak dihiasi senyum kelicikan yang teramat puas. Ia dan pengacaranya sudah merasa sangat siap untuk menghadapi persidangan lusa nanti. Keduanya bahkan teramat yakin bahwa hak asuh Baby Ziva akan dengan mudah jatuh kembali ke tangan mereka.
Bagi Klara, berita pernikahan mendadak antara Daniel dan Shanum justru merupakan sebuah anugerah yang tidak terduga. Ia menganggap pernikahan itu terburu-buru dan akan menjadi senjata paling mematikan untuk membongkar moralitas Daniel di hadapan majelis hakim.
"Pernikahan kilat itu justru membuktikan bahwa dugaanku benar, Jason. Daniel pasti sudah bermain gila dengan wanita pengasuh itu sejak kami masih terikat pernikahan," ucap Klara dengan tawa sinis yang meremehkan. "Kita akan hancurkan nama baik wanita kampung itu di pengadilan nanti."
"Anda benar, Nyonya Klara. Hakim pasti akan mempertimbangkan kelayakan moral Tuan Daniel untuk mengasuh anak," sahut Jason penuh percaya diri.
Klara dan Jason tersenyum angkuh di atas rencana busuk mereka. Mereka merasa berada di atas angin, tanpa menyadari sedikit pun bahwa di balik ketenangan Daniel, seluruh bukti nyata, saksi autentik, dan rekam medis yang sah telah terkumpul rapi di bawah kendali Jacob, pengacara kondang kelas atas yang siap meruntuhkan seluruh argumen murahan mereka dalam satu kali ketukan palu sidang.
*
*
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun Dokter Daniel tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. Di dalam ruang tengah yang sunyi, Shanum duduk sembari terus melirik ke arah jam dinding. Untuk pertama kalinya sejak mereka terikat pernikahan kontrak, rasa cemas yang teramat sangat menyelimuti hati Shanum. Ia terus meremas jemarinya karena gelisah. Di sampingnya, Nyonya Tania juga tampak tidak tenang dan bolak-balik menatap pintu utama, mengkhawatirkan putra kesayangannya.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang berat. Pintu utama terbuka, dan sosok Daniel muncul. Namun, pemandangan itu seketika membuat Shanum dan Nyonya Tania tersentak kaget. Wajah Daniel terlihat sangat pucat, kantung matanya menghitam, dan langkahnya tampak sedikit goyah.
"Kamu kenapa, Daniel? Wajahmu pucat sekali, Nak?" tanya Nyonya Tania langsung menghampiri putranya dengan gurat kekhawatiran yang kentara.
Daniel memaksakan sebuah senyuman tipis, suaranya terdengar serak. "Aku tidak apa-apa, Mah. Hanya kelelahan saja setelah memimpin dua operasi besar berturut-turut tadi."
"Ya sudah, kalau begitu cepatlah kau beristirahat di kamarmu bersama Shanum! Jangan menunda-nunda lagi," perintah Nyonya Tania tegas.
Shanum yang sejak tadi berdiri mematung, langsung bergerak cepat mendekati Daniel. Dengan canggung namun penuh perhatian, ia meraih jas dokter yang tersampir lesu di lengan suaminya, lalu mengekor di belakang pria itu.
Saat mereka mulai melangkah menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai dua, Daniel menoleh sedikit ke arah Shanum dan berbisik pelan. "Sepertinya malam ini aku terpaksa tidur di kamar pengantin lagi. Maaf ya, Shanum... selama ada Mamah di rumah ini, kita tidak mungkin bisa tidur di ranjang yang terpisah."
Shanum mendongak, menatap wajah pucat Daniel dengan pandangan teduh. "Iya, Pak Dokter, tidak apa-apa. Saya sangat mengerti dengan situasinya. Anda tidak perlu merasa tidak enak."
"Syukurlah kalau begitu," ucap Daniel menghembuskan napasnya lega. Di dalam hatinya, ia merasa tenang karena Shanum tidak salah paham. Ia tidak ingin Shanum mengira dirinya sengaja mencari kesempatan untuk melanggar perjanjian hitam di atas kertas yang sudah mereka sepakati bersama.
Setibanya di dalam kamar, Shanum langsung bergerak cekatan. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat agar Daniel bisa menyegarkan badannya. Sementara Daniel menunggu, Shanum kembali ke area kamar untuk mencarikan setelan piyama tidur yang nyaman dari dalam lemari.
Selesai membersihkan dirinya dengan air hangat, Daniel langsung merebahkan tubuh jangkungnya di atas ranjang. Alih-alih merasa segar, tubuhnya mendadak menggigil hebat di balik pakaian tidurnya. Ia menarik selimut tebal hingga sebatas dada dengan bibir yang sedikit bergetar.
Shanum yang baru saja meletakkan baju kotor Daniel di keranjang, menyadari ada yang tidak beres dengan suaminya. Instingnya bergerak. Dengan langkah hati-hati, Shanum naik ke atas tempat tidur dan mendekati posisinya Daniel. Tangan kanannya dengan lembut mendarat di atas dahi mulus sang dokter untuk mendeteksi suhu tubuhnya.
"Ya ampun, Pak! Anda demam tinggi," seru Shanum terkejut. Di dalam hatinya, ia sempat bergumam heran, 'Ternyata seorang dokter spesialis yang hebat dan kelihatan sekokoh beruang kutub seperti Mas Daniel bisa jatuh sakit juga.'
Daniel membuka matanya sedikit, menatap Shanum dengan pandangan sayu.
"Tolong ambilkan obat parasetamol di dalam kotak obat, Num. Biasanya aku selalu meminum obat itu kalau tubuhku mulai demam seperti ini."
Shanum langsung bergegas mencari kotak P3K di sudut ruangan. Beruntung, di atas meja kayu dekat ranjang tempat tidur sudah tersedia segelas air putih hangat beserta tekonya. Dengan telaten, Shanum membantu Daniel duduk bersandar sejenak, memberikan obat demam tersebut, dan memastikan suaminya meminumnya hingga tuntas.
Setelah obat masuk ke dalam tubuhnya, efek kantuk yang kuat mulai menyerang Daniel. Tidak butuh waktu lama, pria itu kembali berbaring dan langsung tertidur dengan sangat lelap.
Shanum sendiri kemudian membaringkan tubuhnya di sisi ranjang tempat tidur. Ia memilih posisi miring, menghadap langsung ke arah Daniel. Di bawah temaramnya lampu tidur yang kekuningan, Shanum menatap wajah suaminya itu dalam-dalam untuk waktu yang cukup lama. Ia mengamati setiap garis tegas wajah tampan Daniel yang kini terlihat begitu rapuh saat sakit. Ada rasa tidak percaya yang membuncah di hatinya bahwa ia kini telah berstatus sebagai istri dari seorang dokter terpandang.
Tiba-tiba, di tengah keheningan malam, Daniel melenguh pelan. Sepasang matanya terbuka sedikit, namun pandangannya tampak kosong dan tidak fokus. Sebelum Shanum sempat bereaksi, tangan kekar Daniel tiba-tiba bergerak cepat menarik tubuh ramping Shanum masuk ke dalam pelukannya, lalu mendekapnya dengan teramat erat.
"Jangan pergi... kumohon, tetaplah di sisiku," bisik Daniel dengan suara yang teramat lirih penuh kerapuhan, sebelum akhirnya kembali memejamkan kedua matanya erat-erat. Pria itu tampaknya sedang mengigau akibat pengaruh demam tinggi yang menyerang fisiknya.
Deg!
Shanum seketika membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Jarak mereka begitu rapat hingga ia bisa merasakan kehangatan napas Daniel yang memburu telah menyentuh keningnya. Shanum sama sekali tidak bisa bergerak sedikit pun.
Anehnya, kali ini tidak ada rasa panik atau keinginan untuk memberontak dan melarikan diri seperti pagi tadi. Shanum justru diam, membiarkan tubuhnya direngkuh dengan nyaman oleh pria yang sedang meracau dalam sakitnya itu. Sembari mendengarkan detak jantung Daniel yang berdegup stabil di dadanya, sebuah pertanyaan besar mendadak muncul dan bergema di dalam benaknya Shanum.
'Apakah diamnya aku malam ini hanya sekadar bentuk dari rasa balas budiku atas semua kebaikan Pak Dokter padaku... atau... atau sebenarnya aku sudah mulai menyukai Dokter Daniel?' batin Shanum tak percaya dengan gejolak perasaan baru yang mulai tumbuh liar di hatinya, di tengah keheningan malam yang sakral itu.
Bersambung...
shanum menahan perasaannya jangan sampai baper lagi seperti kemarin yah takutnya dokter Daniel mengatakan seperti itu hanya untuk meyakinkan hakim dan memenangkan persidangan d hak asuk ziva yah num
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali