NovelToon NovelToon
Hng Sih Kian Li

Hng Sih Kian Li

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.

Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.


oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUMAH BARU, HARAPAN BARU

Hari Senin.

Eng Sok bangun pukul setengah enam, seperti biasa. Meditasi sebentar. Sarapan — nasi, telur dadar, tumis kangkung. Ah Ti sudah siap dengan Tng Sa. Hari ini upacara dan festival. Kalo upacara hari jadi negara, semua pake Tng Sa. Sekolah yang berani upacara ga pakai Tng Sa didenda sejumlah uang. Bayarnya pakai koin kuno. Tiap tahun ada aja sekolah internasional yang kena, tahun lalu bule pemilik sampai marah dan demo. Langsung dideportasi dan sekolah ditutup, padahal muridnya sangat banyak.

Khusus hari ini, siswa pria dan wanita diizinkan pakai Wig hitam atau dark brown. Supaya makin nampak klasik. Kalo gak pakai Wig tidak masalah.

Ah Ti mau pakai Wig. Dia mau dikuncie ekor kuda kayak Eng Sok. Eng Sok menata rambut adiknya… tidak lupa tusuk konde harimau kecil.

Ah Ti hari itu tampak tampan. Di depan Eng Sok, dia mengenalkan Ah Nio yang sering jalan bersamanya. 

Eng Sok cuma berbisik,”Jangan macam-macam. Kamu berdua masih kecil. Nanti kalau waktunya boleh”. Ah Ti memerah pipinya. Ia mengangguk. Dan jalan berdua Ah Nio untuk sekolah.

---

Eng Sok syuting.

Syuting dimulai tepat jam sembilan.

Eng Sok berganti kostum — Tng Sa warna biru tua, rambut disanggul rapi. Toian Hok puas. Adegan pagi: dialog dengan Ah Chio di kebun teh buatan — latar green screen, tapi pohon teh asli dari studio pinjam.

Jam istirahat — Eng Sok duduk di kursi lipat. Membuka HP. Buka peta. Tiga lokasi rumah yang sudah ia tandai.

"Ah Chio," panggilnya.

Ah Chio menoleh dari kursi rias. Wajahnya masih setengah rias — blush on di pipi kiri, belum rata.

"Ko, tahu soal lahan di daerah Bun Hoe?"

Ah Chio mengerjap. "Sana... sejuk. Tapi tanahnya sengketa, Ko. Dulu keluarga gua hampir beli. Urusannya lama."

Eng Sok mencatat. Menyilang satu lokasi.

"Kalo Seng Hong?"

"Oke, Ko. Teman gua tinggal di sana. Aman."

Eng Sok mengangguk. Menandai.

Toian Hok lewat. "Sioh Bu, cari kontrakan baru? Tauke lu reseh ya? Gua dengar dia nikah lagi."

Eng Sok tidak menjawab. Hanya tersenyum tipis.

Beberapa figuran ikut nimbrung. Mereka ngira Eng Sok pindah kontrakan lagi — karena taukenya memang agak reseh setelah menikah lagi. Biasa, sesama Figuran saling berbagi info. Mereka lupa kalo Eng Sok jadi pemain utama sekarang. Karena gaya hidup dia gak berubah. Kayak figuran miskin bawa bekal sendiri.

"Kalo Ho Seng?" tanya Eng Sok  ke seorang figuran.

"Lahan bagus, akses jalan sempit," kata yang lain.

Eng Sok mendengarkan. Mencatat.

---

Istirahat kedua — Eng Sok bikin video kelima untuk kelas online.

Video kelima dari seri "grooming ala pria bangsawan jadul" — kali ini dilakukan di lokasi syuting, dengan kostum masih melekat.

Ia membuka kipas. Srek.

"Gaes, hari ini kita bahas merapikan penampilan sebelum syuting."

Ia membersihkan wajah dengan tisu basah — natural, tanpa sabun. Lalu bedak padat, tipis. Pensil alis — hanya untuk menegaskan, bukan mengubah bentuk.

Kamera HP diarahkan ke tangannya — gemetar sedikit, tapi tidak terlalu kentara.

Beberapa artis figuran di belakang — melongo. Mereka coba mengikuti tutorial Eng Sok dengan peralatan seadanya.

"Eh, beneran... bisa juga," bisik salah satu figuran.

Ah Chio mendekat, masuk ke frame tanpa rencana. Matanya melihat ke layar HP Eng Sok — lalu ke wajahnya.

"Ko, kalo perawatan wanita gimana?"

Eng Sok terdiam, ia hanya bersyukur mukanya tetap hangat walaupun lututnya menggetarkan galon air di sebelahnya. Air galon beriak-riak karena nempel ke sepatu Eng Sok.

Bukan dia tidak tahu. Tapi...

Hey! Dia laki-laki!

Ia menghela napas.

"Peralatan mirip," katanya. Suaranya datar — seperti sedang menjelaskan resep ramuan. "Tapi estetika disesuaikan pada wanita dan tren dinasti."

Ah Chio mengangguk. Tersenyum.

Sioh Bu melayang di samping — tertawa-tawa.

"Gua paham, lu ga mau pegang-pegang cewek di tempat umum atau di video!"

Eng Sok menjerit — tertahan.

"Thiam, Lu! (Diem!)"

Sioh Bu tidak berhenti tertawa. Tapi tidak bersuara.

---

Syuting selesai jam setengah empat sore.

Eng Sok melepas kostum. Mandi. Berganti Kaos Naga Pusaka — tidak terlalu rapi, tidak terlalu santai.

Ah Me duduk di sampingnya — tidak mengajari, hanya mengawasi. Sesekali bertanya, "Paham?"

Ah Ti mengangguk. Tidak banyak bicara.

Ah Me tidak tahu kenapa — tapi ia merasa Ah Ti sudah bisa mandiri. Mungkin karena UTS. Mungkin karena dia sudah mulai dewasa. Mungkin karena — Eng Sok.

Eng Sok tiba-tiba masuk di luar, ada taksi online menunggu. “Ah Me, Ah Ti, ikut gua. Cepat!”, perintahnya. Ah Me mengecek kompor dan keran. Semua mati. Lalu naik ke mobil setelah mengunci pagar.

---

Lokasi pertama: Ho Seng

Perumahan tidak terlalu baru. Pepohonan rindang. Udara sejuk. Rumah yang ditawarkan — sederhana, satu lantai, halaman kecil. 

Eng Sok nanya, “Umpama jadi tinggal di sini gimana?”

Ah Ti suka. "Mau, Ko, adem. Tapi atapnya jadul ga ada Rooftop."

Ah Me juga. "Sejuk tapi Ah Me pingin ada Rooftop. Mau ada taman kecil di Rooftop."

Eng Sok berjalan mengelilingi rumah. Melihat atap.

Ngapain pula rooftop? Bikin taman kok di atap. Lama-lama kaya gak normal.

---

Lokasi kedua: Seng Hong 

Rumah dua lantai. Tiga, sih karena ada Rooftop. Tidak terlalu besar. Halaman depan cukup untuk dua motor. Halaman belakang — kecil, tapi ada pohon Plum.

Eng Sok naik ke lantai dua. Membuka pintu menuju area rooftop.

Kuat. Anti air.

Sabtu lalu, Eng Sok dan Ah Guan — lulusan Teknik Sipil yang sekarang jadi fotografer dan artis — sudah mengecek. Ah Guan sih lebih suka di sini dari pada di Ho Seng. Struktur sama kuat. Rooftop ada dan kuat. Waterproofing bagus. Walaupun luas agak lebih kecil. 

Ah Ti dan Ah Me menyusul. Mereka melihat pemandangan dari rooftop — genteng rumah tetangga, pohon-pohon di kejauhan, langit senja berwarna jingga.

"Ko," bisik Ah Ti. "Ini bagus."

Ah Me tidak bicara. Matanya berkaca-kaca.

---

Eng Sok tidak bertanya pendapat mereka. Ia WA seseorang.

Ia membuka tas — mengeluarkan map tebal. Tidak lama, seorang pria dengan blazer bersalaman dengan Ah Me, Ah Ti, dan Eng Sok. Notaris di Agensi dia yang tinggal dekat sini.

Perjanjian. Notaris. Materai.

Ah Me melongo.

"Kok... sudah...?"

Eng Sok tidak menjawab. Ia menandatangani halaman terakhir. Tangannya gemetar sedikit — tapi tegas.

"Atas nama Ah Me," katanya.

Ah Me kaget. "Loh, Ko —"

"Repot urus pajak," potong Eng Sok. "Dan lain-lain."

Ah Me tidak bisa berkata-kata hanya minta buat satu perjanjian lagi. Perjanjian Hak atas rumah.

Notaris yang sudah dipanggil — datang dengan laptop kecil, printer portabel. Perjanjian dicetak dua rangkap. Ah Me membacanya — pelan, saksama.

Ada satu klausul: Eng Sok tetap punya hak tinggal di rumah ini — setara dengan Ah Me dan Ah Ti. Semua tanda tangan.

Ah Me menangis. Tersedu-sedu.

"Ah Me —" Eng Sok tidak tahu harus berkata apa.

Ah Me memeluknya. "Kamu... kamu ini..."

Eng Sok tidak bergerak. Hanya menepuk punggung Ah Me — pelan.

---

Mereka pulang senja itu.

Ah Ti memegang sertifikat — belum sempat disimpan Ah Me — menatap nama di atasnya.

Atas nama Ah Me.

Ia menatap Eng Sok. Eng Sok tidak melihat. Matanya menerawang ke luar jendela taksi.

Ah Ti tidak bertanya.

Eng Sok pesan 2 mobil sambil nunggu perjanjian dicetak. Satu ke rumah lama. Satu ke Universitas. Sudah setengah 6. Dia memeriksa setelan jas sewaan dia. Kata internet sekarang biasa pake jas. Sekarang udah setengah 6 kurang.

Jam enam malam — ia sudah duduk tampan ke Universitas. Bukan kuliah. Tapi diskusi terbatas dengan fakultas sejarah dan historiografi. Mereka ingin mendengar "pengalamannya" sebagai anak muda yang melestarikan budaya sampai sangat akurat.

Eng Sok hanya bilang kalo belakangan minat dia bertambah. Dia terinspirasi film dan seiring browsing juga ke perpustakaan. Memanfaatkan AI untuk riset. Pokoknya yang masuk akal.

Para dosen bertanya tentang tata cara upacara kerajaan, tentang pakaian, tentang senjata. Eng Sok menjawab seperlunya — tidak terlalu detail, tidak terlalu sedikit. Dia mengaku itu dia liat dari ensiklopedia termasuk yang disusun Universitas Hong Liong ini.

Dosen itu mengangguk. Tidak bertanya lebih lanjut. Banyak anak muda yang akhirnya berminat melestarikan budaya lagi karena pertemuan itu.

---

Sementara Eng Sok di universitas, Ah Ti belajar di rumah.

Sampai di rumah, Eng Sok melanjutkan edit video. Jari-jarinya bergerak cepat di layar HP — memotong, menambahkan efek, menyesuaikan suara.

Up.

Video kelima "Grooming ala pria bangsawan jadul" tayang. Notifikasi langsung membanjiri HP. Tapi Eng Sok tidak membaca.

Ia makan. Sepiring nasi, tumis kangkung, ikan bakar.

Mandi. Sikat gigi.

Tidur.

Kayak gak ada dosa.

---

Ah Ti dan Ah Me tidak bisa tidur.

Mereka duduk di ruang tamu. Berpelukan. Sertifikat itu diletakkan di meja — tidak disembunyikan, tidak dipajang. Cuma ada.

"Ma," bisik Ah Ti. "Koko... kenapa?"

Ah Me mengusap rambut Ah Ti. "Koko sayang kita."

Ah Ti tidak menjawab. Tapi pelukannya erat.

---

Ah Ti ke kamar Eng Sok.

Pintu terbuka — tidak dikunci. Eng Sok tertelentang di kasur, mulut setengah terbuka, napas pelan.

Ah Ti duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di sisi kasur. Menatap wajah Eng Sok — yang tenang, tidak tegang, tidak cemberut.

Koko... tidur.

Ia tidak bangunkan. Hanya duduk di sampingnya.

---

Ah Me di kamarnya — memegang sertifikat itu. Membaca nama di atasnya berulang-ulang.

Air matanya masih basah.

Atas nama Ah Me.

Ia tidak pernah memiliki rumah. Dulu kontrakan, berpindah-pindah. Suami meninggal. Anak laki-laki pertama — Sioh Bu — bekerja keras, tapi tidak pernah cukup.

Sekarang — ada seorang pria asing dari masa lalu, yang tidak wajib berbuat apa pun — memberinya rumah.

Ah Me menekupkan wajah. Bahunya naik turun. Tidak bersuara.

Sioh Bu melayang di langit-langit.

Ia melihat Ah Me yang menangis. Ah Ti yang duduk di samping kasur Eng Sok.

Ia ingin berterima kasih.

Pangeran.

Ia mendekat. Eng Sok tidur — tidak sadarkan diri. Bahkan untuk mimpi, ia tidak mampu. Cuma tidur — karena besok ia harus kerja lagi. Karena harus mengumpulkan ongkos pindah.

Pindah rumah. Ke rumah Ah Me sendiri.

Bukan untuk dirinya. Untuk Ah Me. Ah Ti.

Sioh Bu menghela napas — tanpa udara.

"Terima kasih, Pangeran."

Eng Sok tidak mendengar. Tidak mungkin mendengar — karena dia sedang tidur pulas.

Tapi Sioh Bu tetap mengucapkannya.

---

BERSAMBUNG

---

Kontrak tiga bulan.

Rumah baru atas nama Ah Me.

Dan Eng Sok — tidur seperti tidak ada dosa.

💐🪷

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!