NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Misi Menjadi Istri Jahat

Transmigrasi: Misi Menjadi Istri Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Wanita
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Digital

Menjadi editor sebatang kara itu membosankan, tapi dirampok sampai pingsan dan pindah ke dunia novel? Itu diluar nalar!

Lin Xia Yi bertransmigrasi menjadi Lin Xia Mei, wanita yang akan tewas karena cinta buta suaminya, Wei Zhu Chen. Untuk bertahan hidup, ia harus menurunkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen dari 99% ke 20%.

Bersama sistem berwujud kucing imut bersayap bernama Bao, Lin Xia Yi akan memulai misi demi kembali ke dunianya serta membawa pulang hadiah yang menggiurkan.

Hadiah menggiurkan menanti, tapi nyawa taruhannya. Siapkan camilan favoritmu dan temanilah Lin Xia Yi sampai akhir!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

010~ Wei Zhu Chen Murka

Wei Zhu Chen keluar dari kamar mandi, ia melihat ke arah Lin Xia Mei yang masih terduduk lemas di tempat tidur. Dua pasang mata kembali bertemu. Wei Zhu Chen berjalan ke arah Lin Xia Mei.

"Aku tidak mengerti. Sebenarnya dimana letak kesalahanku padamu, Xia Mei?"

Lin Xia Mei langsung memalingkan wajah, tidak mungkin baginya memberi tahu kebenarannya.

Kesal karena pertanyaannya tidak mendapat respon, Wei Zhu Chen kembali menarik dagu Lin Xia Mei.

"Katakan. Apa kesalahanku padamu sampai-sampai kau menghindariku sejauh ini?"

Lin Xia Mei tidak menjawab, pikirannya mengulang ingatan novel yang ia baca. Tokoh utama wanita pada akhirnya meninggal tragis di rumah besar ini. Suaminya yang sangat mencintainya lama-lama dibutakan oleh cinta itu sendiri. Cemburunya selalu berlebihan, curiga yang tak kunjung usai, tokoh utama wanita lama-lama merasa tersiksa dalam belenggu asmara, ia tidak lagi melihat adanya cinta, melainkan obsesi. Pada akhirnya ia meregang nyawa di tangan suaminya sendiri, tokoh utama pria yang sudah buta memilih menghabisi istrinya agar ia tidak bisa lagi membantah dan tidak akan lagi dilihat oleh pria lain selain dirinya.

"Jawab, Lin Xia Mei!" bentak Wei Zhu Chen.

Lin Xia Mei tersadar, ia langsung menepis tangan Wei Zhu Chen dengan keras dan kasar.

"Aku sudah muak denganmu, Wei Zhu Chen!" jawab Lin Xia Mei dengan nada tinggi, matanya melotot dan deru napas yang menimbulkan suara.

Raut wajah Wei Zhu Chen melunak, ia menatap tangannya sendiri.

"Apa yang ku lakukan?" ucapnya lirih.

Lin Xia Mei berdiri, matanya menatap tajam Wei Zhu Chen.

"Puas?" tanya Lin Xia Mei.

"Lin Xia Mei, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud kasar padamu." ucap Wei Zhu Chen penuh penyesalan.

"Sekarang baru tahu menyesal? Dasar pecundang." Lin Xia Mei mengumpat dengan ekspresi wajah yang mendukung.

"Minggir!"

Lin Xia Mei berjalan dan menghilang dibalik pintu kamar mandi. Wei Zhu Chen tersenyum kecut, baru saja semalam ia mendengar istrinya memuji dirinya, pagi ini yang keluar dari mulut istrinya justru ucapan kasar.

"Lin Xia Mei, kau tahu aku tidak tahan pada wanita yang kasar. Kenapa kau justru menjadi wanita yang seperti itu?" gumamnya pelan.

"Permisi Tuan, Nyonya." tedengar suara Bibi Yu Si dari luar kamar.

"Sarapan sudah siap." lanjutnya.

"Ya. Kami segera turun." sahut Wei Zhu Chen.

Wei Zhu Chen membuka lemari pakaian, ia menatap sendu deretan pakaian yang tergantung rapi.

"Dulu, setiap pagi kau yang memilihkan setelan pakaian untukku, Lin Xia Mei."

Dulu saat baru menikah, Lin Xia Mei adalah tipe orang yang lembut dan pengertian. Ia selalu menyiapkan pakaian Wei Zhu Chen tanpa disuruh, meskipun usahanya saat itu masih merangkak namun Lin Xia Mei tidak pernah mengeluh sekalipun Wei Zhu Chen pulang membawa kabar tidak enak mengenai keuangan usahanya. Saat itu Wei Ji Xiang masih berusia 3 tahun, ditinggal pergi sang Ibu membuat Wei Ji Xiang kerap merasa sedih, namun anak itu kembali menjadi periang setelah bersama Ibu sambungnya yaitu Lin Xia Mei.

Sekarang, jangankan menyiapkan baju untuknya, bahkan berkata lembut pun tidak lagi keluar dari mulut Lin Xia Mei. Setiap pagi suara cemoohan dan bentakan kasar Lin Xia Mei menghiasi suasana rumah.

Di kamar mandi, Lin Xia Mei melamun sambil berendam di bathup.

Perasaannya sedang campur aduk saat ini. Benih rasa kasihan mulai tumbuh, tetapi ia tidak mau selamanya terjebak di dunia novel ini.

"Bao, apakah tingkat rasa sukanya berkurang pagi ini?" tanya Lin Xia Mei.

Bip.

Bao menampilkan layar transparan.

"Tidak turun, inang. Masih 86% meskipun kau sudah membentaknya barusan. Justru Bao mendeteksi adanya pertumbuhan rasa kasihan dan sayang darimu, inang."

"A-Apa?!"

"Inang, kau harus bisa mengontrol perasaanmu sendiri. Jangan sampai kau mencintai tokoh utama pria dan melalaikan misi. Jika tidak, kau akan tewas disini bersama raga tokoh utama wanita. Jiwamu tidak akan bisa kembali ke raga aslimu, inang."

Lin Xia Mei memejamkan mata, pusing memikirkan masalah ini.

"Bao, kau pergilah dulu. Aku mau mandi."

"Baik inang, jangan lupa misimu." ucap Bao sebelum akhirnya menghilang.

"Misi.. Misi... Misi.. Pusing sekali." keluhnya.

Lin Xia Mei menenggelamkan sebagian wajahnya.

Lin Xia Mei membuka matanya dengan cepat.

"Tidak boleh menyerah! saldo berekor panjang sudah didepan mata!" ucapnya penuh semangat.

"Lin Xia Mei, semangat lah menjadi antagonis! Huahahahhahaha."

Lin Xia Mei menyudahi mandinya, ia kembali bersemangat dan keluar dari kamar mandi dengan wajah sumringah membayangkan saldo m-banking miliknya menampilkan deretan angka yang banyak.

Senyumnya berubah drastis saat menyadari Wei Zhu Chen sedang duduk di meja rias Lin Xia Mei sambil memperhatikan Lin Xia Mei yang terlihat gembira.

"Jelas-jelas baru saja wajahmu itu terlihat bahagia, dalam satu detik langsung berubah datar." batin Wei Zhu Chen.

"Kenapa kau masih disini?" tanya Lin Xia Mei ketus.

"Memangnya kenapa?" Wei Zhu Chen bertanya balik.

Lin Xia Mei menggertakkan gigi, jelas-jelas dirinya hanya mengenakan handuk dan belum mengenakan pakaian.

"Apa kau mau mengintipku?!" bentak Lin Xia Mei.

"Aku suamimu, apa yang belum pernah ku lihat di tubuhmu?"

Wajah Lin Xia Mei memerah karena malu.

"Lancang! Menjijikkan! Mesum!!!!!!!"

Wei Zhu Chen hanya mengendikkan bahu dan memasang wajah tidak bersalah.

"Dasar brengsek!" umpatnya lagi.

Lin Xia Mei membuka lemari dengan kasar, ia mengambil pakaian dan kembali masuk ke dalam kamar mandi. Wei Zhu Chen tersenyum kecil, meskipun mulut Lin Xia Mei kasar tetapi melihat ekspresinya yang malu-malu tadi malah membuat Lin Xia Mei terlihat sangat lucu.

Bao muncul di hadapan Wei Zhu Chen namun Wei Zhu Chen tidak bisa melihatnya, ia menepuk jidat saat angka yang menunjukkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen kembali naik.

"Parah." ungkap Bao dengan ekspresi malas.

...****************...

Di meja sarapan..

Lin Xia Mei memperhatikan semua menu yang tertata diatas meja. Bao muncul di samping Lin Xia Mei.

"Inang, kabar buruk."

"Apa yang lebih buruk dari naiknya angka tingkat rasa suka Wei Zhu Chen, Bao?"

"Ini memang tentang hal itu, inang. Angkanya naik lagi setelah melihatmu malu-malu tadi."

Lin Xia Mei ternganga.

"Sialan, huhu. Naik lagi."

"Sekarang kembali 90% inang,"

Patah hati rasanya, susah payah berperan jadi antagonis malah angkanya menolak turun.

"Ibu, kita sudah bisa makan? Ji Xiang harus berangkat ke sekolah." tanya Wei Ji Xiang dengan hati-hati.

Lin Xia Mei tersenyum karena mendapat sasaran amarah pagi ini.

"Wei Ji Xiang, mulutmu tidak bisa diam ya? aku sedang menilai masakan Bibi Yu Si dan kamu mengganggunya!"

Wei Ji Xiang menunduk.

"Sayang, jangan terlalu kasar pada Wei Ji Xiang." tegur Wei Zhu Chen lembut.

"Apa peduliku? Dia mengganggu konsentrasiku. Dasar bocah tengik!"

Wei Ji Xiang meremas ujung celananya.

"Masih diam? Apa Ayahmu tidak mengajarimu tata krama? Kalau salah harus bilang apa?!"

"Wei Ji Xiang minta maaf, Ibu." ucap Wei Ji Xiang dengan suara bergetar.

"Kalau lain kali tidak tahu sopan santun seperti ini lagi, Ibu buang kamu."

'Brak!' Wei Zhu Chen menggebrak meja dengan keras.

"Lin Xia Mei! Kau sudah keterlaluan!"

Bukannya takut, Lin Xia Mei menatap Wei Zhu Chen dengan tatapan angkuh namun di dalam hatinya ia justru merasa senang.

"Bagus, Wei Zhu Chen. Kau harus marah sampai naik tensi, hihi." batin Lin Xia Mei.

Wei Ji Xiang sudah menitikkan air mata, Wei Zhu Chen murka.

"Kenapa kau tega melampiaskan amarahmu pada anak kita?!"

"Hoo, anak kita?" tanya Lin Xia Mei dengan nada mengejek.

"Dia adalah anakmu, Wei Zhu Chen. Bukan anakku."

1
SENJA
aaaah bawang 😌
SENJA
aaah pelit lu , itu udah sampe jadi public enemy poin ga nyampe 1000😌😤
SENJA
waaah panen poin lagi 🤣
SENJA
wakaka ga bisa mantau🤣
SENJA
wakaka sadis jawabannya🤣
SENJA
bapak lu ke rumah sakit
SENJA
susah juga ya, agak psikopat nih cowo😳😤
SENJA
bucin banget dia 😤
SENJA
heh! lu jangan bikin gw bete lu pelit 🤮🤮
SENJA
baik banget 🤭
SENJA
addduh 😑
SENJA
addduh jangan luluh 🤣 jahatin anak itu sarana nurunin rasa suka 🤣
SENJA
yaaaah lumayan lah
SENJA
yayaya. .sabar sama bodoh itu betissss banget🥺
SENJA
jadi tontonan kaya gitu cuma 20 poin ciiih
SENJA
provokator tapi pelit lu 😤
SENJA
lama2 kok kesel ama bao kok pelit banget poin ihhh gila kali
SENJA
yaelaaah cuma 1 persen 😤
SENJA
lu pasti bakal diomelin terus deh 😅
SENJA
pasti ngeselin deh 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!