Setelah berhasil melarikan diri dari siksaan Om dan Tantenya, Bella Claudia remaja (13 tahun) tidak sengaja bertemu dengan sosok Andrew Permana (25 tahun) saat wanita itu ingin mengakhiri hidupnya di usia muda. namun Andrew menghalangi dan menolong Bella pada saat itu, pertemuan di antara mereka tersebut membuat Bella jatuh cinta kepada Andrew saat pandang pertama. hingga beranjak dewasa, tepatnya saat usia Bella menginjak 23 tahun. perasaan itu tumbuh semakin besar untuk pria yang selama 10 tahun dia panggil dengan sebutan paman Andrew tersebut, di saat wanita itu ingin melupakan perasaannya kepada Andrew tiba-tiba sebuah insiden panas di antara mereka terjadi dan membuat mereka terpaksa menikah. semenjak menikah sikap Andrew berubah dingin dan galak kepada Bella, namun wanita itu tidak menyerah dia akan membuat pria itu berbalik mengejarnya dan mencintainya pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indrie Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Hilangnya kalung berlian
Jam sudah menunjukan pukul 3 sore, terdengar suara deru mobil memasuki bagasi rumah.
Clara yang tengah menonton televisi di ruang tengah, ia terlihat begitu antusias dan senang karena mamahnya telah pulang dari acara arisan meskipun agak telat satu jam dari perkiraannya.
"Sebentar lagi penderitaan Lo akan segera di mulai!" Batin Clara girang.
Tiara selaku ibu dari Clara segera berjalan memasuki rumah setelah memarkirkan mobilnya di bagasi. terlihat ia yang tengah menjinjing sesuatu di sebelah tangannya.
"Sayang mamah pulang, mamah bawa cake kesukaan kamu loh !" Seru Tiara saat memasuki rumah dengan menjinjing sebuah dus kotal berisikan cake kesukaan Clara.
Clara yang mendengar sang mamah membawa cake kesukaannya, segera berjalan menghampiri dengan senyum cerah di wajah gadis itu.
"Wahhh... Mamah paling terbaik deh pokoknya."
"Pasti dong, apasih yang gak buat anak kesayangan mamah." Jawab Tiara yang membelai rambut sang anak pelan dan memberikan cake yang sedang dia pegang.
"Makasih mah." Ucap Clara yang mengambil alih totebag tersebut.
"sama-sama sayang, iya sudah kalo gitu mamah masuk ke kamar dulu a mau mandi ." Jawab Tiara.
"Iya mah." Ucap Clara begitu senang, karena sebentar lagi mamahnya itu akan segera menyadari jika salah satu perhiasan miliknya telah hilang di dalam kotak perhiasan.
Sementara di dekat ruang tamu terlihat Bella tengah menatap agak iri ke arah Clara yang begitu di sayang oleh kedua orang tuanya terutama oleh sang mamah.
"Beruntung banget jadi clara, gak kaya aku." Batin Bella sedih, karena sejak kecil ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
selama ini Bella hanya tahu jika ibunya langsung pergi meninggalkan dia dan sang ayah setelah melahirkan dirinya, artinya sejak awal ibunya itu tidak mengharapkan kehadirannya ke dunia. sehingga sampai saat ini Ia tidak mau mengetahui apapun yang berhubungan dengan ibu kandungnya itu.
*****
Saat ini Tiara telah berada di dalam kamarnya, ia langsung berjalan ke arah meja rias dan mulai melepas satu persatu perhiasan emas yang telah dia gunakan. Setelah selesai melepas semua perhiasan yang ia gunakan, Tiara Segera membawa perhiasan tersebut untuk di simpan di dalam kotak perhiasan yang berada di dalam lemarinya.
Tiara perlahan mulai membuka lebar lemari miliknya, ia segera mengambil kotak perhiasan yang berada di rak paling bawah. dengan segera ia membuka kotak perhiasan tersebut dan mulai memasukan perhiasan yang sempat ia pakai ke dalam sana. namun saat ia akan menutup kotak perhiasan itu kembali, tiba-tiba saja kedua bola mata Tiara membulat sempurna karena ia tidak menemukan kalung berlian seharga 500 juta miliki nya di dalam sana.
"Kemana kalung berlian milik ku? Aku yakin sekali sebelum pergi masih melihatnya di dalam kotak perhiasan." Ucap Tiara terihat bingung dan cemas.
Bagaimana tidak cemas, Kalung berlian tersebut baru dua bulan yang lalu dia dapatkan dari uang hasil arisan yang dia ikuti setiap minggunya. Jika kalung itu hilang Tiara bisa mati berdiri, karena ia mendapatkannya dengan susah payah hingga harus ikut arisan terlebih dahulu agar bisa memiliki kalung berlian tersebut.
"Tenang Tiara jangan panik, mulai cari perlahan Kalung mu itu mungkin terselip di antara perhiasan kamu yang lain." Ucap Tiara mencoba menenangkan dirinya sendiri dan mulai mencari secara teliti di dalam kotak perhiasaan miliknya.
*****
Sementara di tempat lain telihat 2 orang pria yang mulai memasuki kamar hotel yang memilki 2 ranjang di dalamnya. Mereka berdua terlihat begitu lelah, karena sesampainya di surabaya mereka tidak langsung pergi ke hotel melainkan langsung ke pabrik agar urusan cepat selesai dalam waktu 2 hari.
"Ahhhh.... lelahnya." Ucap Fatir yang baru saja mendorong masuk 2 buah koper ke dalam kamar hotel, kini terlihat ia yang sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa. merenggangkan otot-otot yang berada di tubuhnya yang terasa pegal.
Sementara pria jangkung bernama Andrew itu tengah menatap sekeliling kamar, kini tatapan matanya langsung tertuju ke arah kaca besar yang menampilkan pemandangan laut yang terlihat begitu indah dari dalam kamar hotel.
Perlahan langkah lebar Andrew mulai berjalan ke arah kaca besar tersebut dan mulai mengesernya.
Husssshhhhh.... Angin laut langsung menerpa wajah tampan pria tersebut, rambut yang terlihat acak-acakan menambah daya tarik pria itu.
Kini Andrew merasa rasa lelahnya sedikit hilang setelah melihat pemandangan indah yang ada di hadapanya saat ini.
"Pinter juga Lo cari hotel." Ucap Andrew tanpa menatap ke arah Fatir.
Fatir yang merasa dirinya sedang di puji oleh Andrew segera berdiri dari posisi tidurnya dan mulai duduk di atas sofa.
"Iya dong, siapa dulu gitu loh Fatir!" Ucap Fatir kegirangan.
Andrew hanya terkekeh pelan karena sahabatnya itu tipe orang yang suka di puji, karena selama ini ia tipe orang yang jarang sekali memuji seseorang.
*****
Sementara di tempat lain, kini terlihat Tiara yang masih terus mencari kalung berliannya itu di dalam kamar. Hampir 2 jam dia mencari-cari, sampai kamar miliknya sudah sangat berantakan dan seperti kapal pecah saat ini.
"Hiks.... hiks.... hiks.... kemana kalung berlian ku seharga 500 juta itu." Lirih Tiara sambil terisak di bawah lantai.
Ia sudah sangat lelah mencari kalung miliknya itu yang entah kemana perginya. Hingga niatnya untuk segera mandi kini lenyap sudah, karena kalung miliknya itu begitu sangat penting dan sangat berharga ketimbang acara mandinya.
Sementara di luar, tepatnya di ruang tengah terlihat Clara yang sedang asyik menonton televisi sambil menikmati cake favoritenya.
"Kok mamah belum keluar kamar juga ini 2 jam loh?!." Heran Clara sesekali menatap ke arah pintu kamar kedua orang tuanya yang memang dekat dengan ruang televisi.
Kini Clara begitu penasaran, takut-takut mamah nya itu belum menyadari jika kalung berlian milik mamahnya itu telah hilang dari kotak perhiasan, karena Clara sudah sangat tidak sabar melihat Bella akan di hajar habis-habisan oleh kedua orang tuanya karena di kira telah mencuri kalung tersebut.
"Semoga saja mamah sudah menyadari jika kalung berlian nya itu telah hilang dari tolak perhiasaan, kan gak seru kalo ketahuannya besok!" Batin Clara tidak bersemangat.
Di saat Clara sedang terjebak dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba saja suara berat pria paruh baya menyadarkan lamunan Clara.
"Clara mamah mu kemana?" Tanya Rudi yang bertanya kepada sang anak.
"Ada di dalam kamar pah." Jawab Clara melirik sekilas ke arah sang papah lalu kembali fokus menonton televisi yang ada di hadapanya saat ini.
Rudi terlihat mengelengkan kepalanya pelan, karna sikap anaknya Clara sangat persis dengan istrinya Tiara. Kalo kata pepatah sih buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.
Kini Rudi segera berjalan ke arah kamar miliknya, karena jika terlalu lama berhadapan dengan sang anak yang ada dia bisa tambah pusing kepala. apalagi anaknya itu sering meminta di belikan barang-barang mahal padahal usianya baru 13 tahun.
ASTAGA! APA YANG TERJADI DENGAN KAMAR INI UDAH KAYA KAPAL PECAH! pekik Rudi setelah melihat keadaan kamarnya saat pertama kali membuka pintu.
Tiara yang tengah duduk di lantai segera berdiri dan langsung menghampiri sang suami yang terlihat mulai berjalan memasuki kamar.
MAS, SEPERTINYA ADA PENCURI DI RUMAH KITA!, KALUNG BERLIAN 500 JUTA KU HILANG! ucap Tiara begitu kalut.
HAH APA KAMU BILANG ? KALUNG BERLIAN MU HILANG!, ucap Rudi berteriak kaget.
"Iya benar kalung berlian ku hilang dan sepertinya telah di curi seseorang hiks hiks hiks." Ucap Tiara dengan terisak.
"Coba di cari dulu yang benar dan teliti, jangan main bilang hilang di curi orang." Ucap Rudi berusaha menenangkan sang istri.
"Sudah mas, sudah aku cari sampai 2 jam di dalam kamar ini namun tidak ketemu juga. Sampai aku obrak abrik kamar kita tetap kalung itu tidak ada." Jelas Tiara.
"Kalo kalung itu memang di curi, lalu siapa pencurinya?," tanya Rudi dengan ekspresi wajah yang bingung.
PLAK!! Tiara yang kesal dengan sikap bodoh dan polos suaminya itu, segera memukul punggung sang suami sangat keras sehingga menimbulkan suara rintihan.
"Awwwww... sakit sayang! kamu kasar banget sama suami sendiri." Rintih Rudi kesakitan dengan menatap sang istri kesal.
"Habisnya kamu bodoh banget sih! malah nanya siapa yang telah mencuri kalung ku. Yah udah pasti yang telah mencuri kalung ku itu antara bi Sri dan si Bella pastinya. hanya dua orang itu saja yang tinggal bersama kita, kalo bukan mereka berdua lalu siapa lagi?, tidak mungkin orang luar." Ucap Tiara menjelaskan.
"Iya benar sayang apa kata mu pelakunya pasti di antara mereka berdua, kalo gitu ayo kita segera keluar dari kamar dan mulai menanyai mereka berdua sekarang juga." Ucap Rudi.
"Iya mas, ayo kita segera keluar, aku sudah tidak sabar untuk menghajar orang yang telah mencuri kalung berlian ku." Ucap Tiara dengan ekpresi wajah yang penuh amarah.
Kini Tiara dan Rudi mulai berjalan keluar kamar, mereka sudah siap untuk menanyai dua orang yang mereka curigai salah satunya telah mencuri kalung berlian milik Tiara.
******