NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Ibu susu
Popularitas:382.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Dengan wajah tegas itu, kedatangan Danish juga membuat penanggung jawab Cctv terkejut setengah mati. Setelah Danish meminta untuk di tunjukan rekaman yang berada di IGD, petugas tadi langsung mengoperasikan laptopnya, sehingga Danish dapat dengan jelas melihat semua yang terjadi setiap sudut ruang.

"Itu kan Madha? Apa? Dia datang bersama Hana?" Danish sampai memperjelas rekaman Cctv tadi.

Asisten Jim ikut membuka suara. "Tuan... Sepertinya Pak Madha memang memiliki dua adik. Dan mungkin saja, wanita yang mirip Mbak Hana, dia juga masih saudaranya. Bukanya tadi Pak Madha bilang jika wanita tadi adiknya nomor 2. Jadi, bisa jadi Mbak Hana adik bungsunya."

Danish manggung-manggut. Ucapan Asistennya itu sangat masuk di akal. "Jim, saya akan kesana. Kamu urus administrasi keluarga Hana semuanya!"

Asisten muda itu mengangguk. "Baik, Pak Danish!"

Setelah itu, Danish langsung saja menuju lantai 8, ruangan yang tadi sempat Madha beri tahu. Dan ternyata, selama ini dirinya mempekerjakan adik temanya sendiri. Tapi, kenapa Hana tidak pernah cerita tentang keluarganya?

Danish berdiam di dakam lift dengan seribu pertanyaan yang sulit sekali ia urai.

Ting!

Dan begitu pintu lift terbuka, bersamaan itu Hana juga tengah menunggu sejak tadi dan berniat untuk masuk. Namun, tiba-tiba saja ia tersentak.

Deg!

"Pak Danish? Anda juga ada disini, mau apa?" celetuk Hana sambil memicingkan mata.

Daniah sudah keluar. Ia menelan ludah kasar, mencoba mencari alasan yang lebih masuk akal agar kedatanganya tidak membuat Ibu susu putrinya itu curiga.

"Saya? Ya biasa lah, saya kan pemilik rumah sakit ini, jadi... Ya, sebelum ke kantor, saya memang keliling dulu setiap paginya," dalih Danish.

Hana menatap penuh malas. "Oh, gabut gitu ya 'pak?"

"Gabut? Apa itu gabut?" Danish memicingkan mata begitu menusuk.

Hana sampai tercengang. "Pak Danish nggak tahu gabut? Oh astaga... Saya lupa," ditepuk lah dahinya. "Bapak 'kan sudah tua, jadi nggak ngerti bahasa gaul anak Gen Z!"

Danish menahan napas berat, benar-benar paginya hancur gara-gara Ibu susu itu. "Hana... Berani kamu mengatakan saya tua!" geregetnya.

Hana hanya mengendikan bahu acuh. Lalu berniat masuk ke dalam lift begitu saja. "Daaa... Pak Danish!" tanpa wajah dosa, Hana melambaikan tangan kecil lalu dengan cepat menekan tombol merah.

Danish mencoba menetralkan napasnya. Ia tarik napas dalam-dalam, sambil berbisik, "Sabar Danish... Tenangkan hatimu. Untuk sementara kamu harus mengalah terlebih dulu. Dan mumpung wanita gila itu keluar, aku harus cepat masuk ke dalam."

*

*

Sementara di dalam ruangan rawat Bu Laksmi, Sanas yang sedang berjaga sendiri, kini di kejutkan dengan kedatangan seorang pria tampan berpenampilan formal dengan sikap dinginya.

"Permisi... Apa benar ini ruangan orang tuanya Madha?" ucap Danish dengan suara rendah.

Sanas agak menyipit. Raut wajahnya sangat asing dengan orang didepanya itu. "Benar! Maaf, Anda siapa ya?"

"Oh, saya rekan kerjanya Madha! Tadi kebetulan pas di ruang IGD bertemu dia disana. Ini, benar ibunya Madha yang sakit?" tanya kembali Danish yang agak mengernyit. Sebab, selama ini yang ia tahu, orang tua Madha bukanlah Bu Laksmi.

Sanas menatap Ibunya sambil menaikan sedikit selimut. "Benar. Ibu kami baru mendapat musibah jatuh dari kamar mandi."

Danish manggut-manggut. "Saya turut prihatin dengan keadaan beliau," katanya sambil menatap wajah Bu Laksmi yang masih terlelap lemas akibat obat yang baru saja di minum.

****

Sementara di ruang administrasi, kini Hana tersentak kala mendengar penuturan dua staff tentang biaya perawatan Bu Laksmi yang sudah di lunasi oleh seseorang.

"Maaf, Mbak... Kalau saya boleh tahu, siapa ya yang sudah melunasi?" Hana penasaran tentang siapa orang itu.

Staff tadi menangkupkan kedua tanganya di dada. "Maaf, Mbak... Tapi pihaknya meminta kami untuk merahasiakan. Saya hanya mengikuti prosedur saja!"

Hana mencoba mengangguk paham. Lalu kembali menatap Staff tadi. "Ya sudah, terimakasih ya mbak sebelumnya. Saya permisi...."

Hana membalikan badan berjalan gamang dengan langkah pelannya. Ia masih memikirkan, siapa orang yang telah melunasi semua administrasi ibunya. Padahal, sang Kakak baru saja pulang untuk mengambil data-data Ibunya terlebih dulu.

Dan kini, Hana memutuskan untuk duduk sejenak di taman rumah sakit. Selain memikirkan siapa orang itu, Hana juga bimbang mengambil keputusan yang menyangkut kelangsungan hidup baby Keira. Dirinya sudah terlalu nyaman dengan bayi 5 bulan itu. Namun, kesehatan ibunya juga lebih penting. "Semoga saja, Bu Ana dan Pak Danish dapat menerimanya. Aku nggak mungkin biarin ibu sendirian di rumah."

Mungkin setelah ini, Hana akan menemui Bu Ana untuk meminta ijin.

Waktu sudah menunjukan pukul 10.30 siang. Tak terasa, matahari sudah merambah hingga menusuk kulit janda cantik itu. Cukup puas menenangkan diri dan berpikir matang, Hana kembali lagi menuju lantai 8 ruangan Ibunya.

Akan tetapi, baru saja ia masuk, dari arah lobi ada yang memanggilnya.

"Hana... Tunggu!"

Hana menoleh. Anas~Kakak iparnya beranjak kearahnya sambil membawa dua paperbag tanggung.

"Mas Anas mau ke dalem juga? Jika iya biar saya bawakan saja," Hana mencoba bersikap biasa, membuang jauh-jauh kenanganya dulu.

Anas menolak, "Iya, tapi nggak usah! Ini biar saya saja yang bawa. Ya udah, ayo kita sekalian masuk."

Hana mengangguk ragu. Ia segera melanjutkan langkahnya, berjalan lebih dulu dan tak ingin satu sisi dengan Kakak iparnya.

Sementara Anas sendiri, senyum pria itu mengembang. Bukan senyum liar. Namun, senyum yang begitu tulus. Entah hati kecilnya sedang berbisik seperti apa, yang jelas, mendapati Hana telah sendiri, hal itu membuat Anas menjadi tenang.

Ceklek!

Sanas reflek menoleh. Ia melihat Hana masuk dan di susul oleh suaminya. Tak ada guratan cemburu atau luka dalam matanya. Sanas sudah mempercayakan sepenuh hatinya pada sosok pria tampan berkemeja biru itu.

"Mas... Kiki sama Putri nggak rewel 'kan?" tanya Sanas memegang lengan suaminya.

Anas menggeleng lemah. Melepaskan tangan Sanas, lalu meletakan dua paperbag tadi. "Nggak kok! Tadi aku sudah kasih pengertian sama mereka."

Sanas dapat bernapas dengan lega. Tapi, ia reflek menoleh kala tangan Bu Laksmi menyentuh lenganya. "San... Kamu pulang nggak papa. Kasian cucu Ibu di rumah! Dia pasti nyariin kamu," ucapnya lemah.

Sanas memegang tangan itu. "Ibu tenang aja, ya... Nanti Sanas pulang sebentar, karena Putri yang dikit rewel kalau mau tidur. Nanti biar Mas Anas yang gantiin jaga," katanya sambil menoleh pada sang suami.

Anas menatap Hana sekilas. Lalu pandanganya jatuh pada sang mertua. "Iya, Bu... Nanti kalau Sanas pulang, biar Anas yang gantiin jaga!"

Hana menelan ludah, sebab tenggorokanya terasa kering. Sebisa mungkin ia bersikap normal, namun tatapan Anas tidak sewajarnya tatapan seorang Kakak untuk adiknya.

"Oh ya Mbak... Tadi 'kan aku ke ruang administrasi, tapi... Kata petugas tadi, semua biaya perawatan Ibu sudah lunas. Dan... Mereka menyembunyikan identitasnya," Hana menatap Kakaknya lalu berpindah pada sang Ibu. "Nggak mungkin Mas Madha 'kan Bu?"

"Masmu baru pergi buat ambil baju ganti Ibu dan data-data, Han? Lalu siapa yang sudah melunasi?" suara Bu Laksmi bergetar penuh haru.

Hana memejamkan mata dalam-dalam, mencoba memikirkan, namun tak menemukan jawaban yang pas.

1
Yati Jenal
bukanya udah di cerai talak 3 ko msh plng ke Hana
Mahrani96 B
org tua si jahat ini ngapain fitnah org asal asalan aja mana nampar lagi. aku kalo jadi Hana ku jambak ku tampar perlu ku pukuli
kriwil
terlalu tolol si hana🤣
Isabela Devi
hahahahahaha persembunyian ya di bocorkan oleh ibu sendiri🤭
nunik rahyuni
🤣🤣🤣🤣g cs sm bu ana....luk pulang sj ke kota 🤣🤣
terima sj luk buat cadangan
mimief
ya elah... siapa lagi tuh
capek amet jadi hanna🤣🫣
pelajaran buat kalian,jgn suka PHP perasaan anak orang
kalau dia baperan..dan jadinya obses mampoos lah kalian
mimief
sebenarnya si kalau drcawal Hana nya teges
ga ngasih angin surga sama Ardan
ini ga bakalan terjadi
pelajaran ya gaess,Ama perasaan jgn pernah maen maen
karena kita ga tau sedalam apa perasaan orang.
kl ga mau...dr awal bilang aja ga mau
kalau iy, tanggung jawab sampe akhir
aku si mang dr awal ga suka sama plin plannya Hana
padahal di awal dia udah tau sakitnya gimana di sakitin perasaan dia
@Resh@
si lukman suka jua rupanya sma si hana wkwkwkw😄
Ig:@septi.sari21: siapa yang nggak suka kak, setiap hari ketemu, suka becanda terus🤣
total 1 replies
Sri Darwati
🤣🤣🤣,,
I Love you,
🤣🤣🤣🤣 nasip nasip loh Lukman 🙏🥰
Ig:@septi.sari21: potek hatinya kak💔🤣
total 1 replies
Sarinah Quinn
ternyata masih ada drama lagi 😔 kapan bahagia nya Danish dan Hana🤔🤔
mama
noooh kan mbulet lgi,ada lgi benalu yg bakal ngrecokin Denish dan hana..satu belum selesai si ardan muncul lgi lain🤣
Virjin Oetpah
sangt bagus..UPnya jgn lama-lama yah💚
Ig:@septi.sari21: baik kak, mksih bintangnya❤
total 1 replies
lia juliati
duh apalagi Hana masalahmu
Ig:@septi.sari21: tenang, ada abang Danish🤣
total 1 replies
Ati Suryati
terlalu baik dan yang terlalu menuntut sempurna tanpa tau keadaan yang menyebabkan terjadinya perubahan
Nesya
udah tua bukan nya bertobat malah berulah
nunik rahyuni
penyakit bawaan orok kyanya bpk nya hana ji...saking kronis nya sama darah daging sendiri j tega
Sun Rise
jangan sampai rencana jahat si hartono terakabulkan yq thor bikin dia sengsara seumur hidup
Arin
Jangan mudah terpengaruh dengan muka modus Bapakmu yang telah menyakiti ibu dan keluarga mu, Hana.
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!