NovelToon NovelToon
Sang Antagonis Cantik

Sang Antagonis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Ketos
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sunflower_Rose

Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.

Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Malam makin larut dan menyisakan keheningan yang terasa berat di sepanjang koridor rumah sakit. Di dalam kamar VVIP itu, Gwen masih duduk diam di tepi ranjang tempat Bianca berbaring. Ia sebenarnya enggan sekali untuk beranjak pergi, namun Bianca terus mendesaknya agar mau pulang dan beristirahat.

"Kak, pulang aja. Kakak butuh istirahat, liat tuh mukanya udah kacau banget," ucap Bianca lembut, matanya menatap lebam yang ada di rahang Gwen dengan ekspresi bersalah yang sengaja dibuat sedemikian rupa.

"Gue nggak tenang ninggalin lo sendiri di sini, Bi," bantah Gwen.

"Aku nggak sendiri, kan ada Sunny yang mau datang nemenin," Bianca meyakinkan. "Kalau Kakak nggak pulang, Om Maxwell sama Tante Eleanor pasti curiga. Kakak nggak mau kan mereka tahu soal ini?"

Gwen terdiam mendengar ucapan itu. Kalimat Bianca begitu masuk akal dan langsung menyentuh logikanya. Ayahnya, Maxwell Anderson, memiliki jaringan informasi yang luas dan ketat. Jika salah satu putranya menghilang semalaman tanpa alasan yang jelas, Maxwell pasti akan menyelidiki sampai ke akar-akarnya. Lebih jauh lagi, jika ayahnya sampai tahu mengenai keberadaan dan kondisi Bianca saat ini, rencananya untuk melindungi gadis itu bisa hancur seketika.

"Oke, gue balik," Gwen akhirnya mengalah dan bangkit berdiri. "Tapi Sunny beneran dateng, kan?"

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka perlahan. Sunny muncul dengan wajah yang terlihat sembab dan napas yang masih terengah-engah sambil membawa tas kecil berisi pakaian ganti untuk Bianca.

"Bi! Ya ampun!" Sunny langsung bergegas menghampiri ranjang dan memeluk sahabatnya itu, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Gwen di sana.

Gwen mengembuskan napas panjang dengan perasaan lega. "Gue titip Bianca ya, Sun. Jagain dia. Kalau ada apa-apa, langsung telepon gue, jangan ke Kiyo."

Sunny hanya mengangguk cepat tanpa berniat menoleh ke arah Gwen. Pemuda itu pun akhirnya melangkah keluar ruangan dengan perasaan berat, seolah sebagian hatinya masih tertinggal di tempat itu.

Suasana saat makan malam di kediaman besar keluarga Anderson terasa begitu kaku dan sunyi. Maxwell duduk di ujung meja dengan wibawa yang mengintimidasi siapa saja yang berada di dekatnya, sementara Eleanor sibuk memastikan segala hidangan tersaji dengan sempurna sesuai standar keluarga mereka.

Gwen dan Kiyo duduk saling berhadapan. Keduanya sama-sama diam dan tidak bersuara sedikit pun. Tidak ada adu mulut, tidak ada juga sindiran menyakitkan, yang terdengar hanyalah bunyi denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Bekas luka di wajah mereka sudah tertutup sedikit dengan bantuan riasan, namun rasa permusuhan yang menguar di antara keduanya tetap terasa jelas dan tidak bisa disembunyikan.

"Tumben kalian berdua akur, nggak ada suara?" celetuk Joy sambil mengunyah steak-nya dengan santai dan nikmat. "Biasanya kan kayak tom and jerry."

Gwen hanya melirik sekilas ke arah adik perempuannya itu tanpa ada ketertarikan sama sekali. Kiyo pun bersikap serupa, ia lebih memilih fokus memotong daging di piringnya seolah-olah irisan daging itu adalah kepala seseorang yang sangat ia benci.

"Mungkin mereka lagi capek," sahut Eleanor dengan nada lembut. "Kalian hari ini ke mana aja?"

"Latihan basket, Ma. Capek banget makanya males ngomong," jawab Gwen berbohong dengan nada bicara yang datar.

"Gue juga banyak tugas kelompok tadi di cafe sama Vincent," tambah Kiyo, suaranya terdengar biasa saja namun tanpa ada rasa hangat sama sekali.

Maxwell menatap kedua putranya itu dengan pandangan tajam yang seolah bisa menembus pikiran dan perasaan mereka. "Pastikan kalian tidak bikin masalah di luar. Papa tidak suka mendengar laporan yang tidak menyenangkan."

"Iya, Pa," jawab mereka berdua secara bersamaan.

Begitu makan selesai, Kiyo langsung berdiri dari kursinya. "Pa, Ma, Kiyo ke kamar duluan. Tugasnya belum selesai."

"Gwen juga mau istirahat, Ma. Capek banget badannya," pamit Gwen sambil mengikuti langkah adiknya.

Sesampainya di lantai atas dan sebelum masuk ke kamar masing-masing, mereka sempat bertatapan mata sesaat. Tatapan yang penuh rasa benci serta peringatan keras satu sama lain. Kiyo masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan cukup keras namun tertahan, sementara Gwen mengepalkan tangannya kuat-kuat sebab tinggal di rumah mewah besar itu tiba-tiba saja terasa sempit dan menyesakkan layaknya sebuah penjara.

Berbeda dengan suasana di kediaman Anderson, keadaan di rumah sakit jauh lebih hangat dan nyaman. Sunny sedang mengupas jeruk untuk Bianca sembari sesekali menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti menetes.

"Bi... lo tuh gila ya? Kenapa sih sampe senekat itu?" Sunny bertanya dengan suara yang serak. "Gue hampir pingsan pas dapet kabar lo di RS."

Bianca tersenyum tipis, dan kali ini senyumnya terasa sedikit lebih tulus karena ia memang benar-benar menyayangi Sunny sebagai sahabat. "Maaf ya, Sun. Gue cuma lagi ngerasa... mentok aja."

Sunny menatap wajah Bianca lekat-lekat. Ia sebenarnya memiliki kecurigaan yang besar. Ia tahu Bianca sering menjadi sasaran perundungan Rebecca dan kelompoknya di sekolah. Dalam benaknya, Bianca pasti menyimpan trauma masa lalu yang sangat berat hingga nekat menyakiti dirinya sendiri dan memotong rambutnya dengan cara yang begitu kasar.

"Bi, kalau lo ada masalah sama cewek-cewek itu... atau lo ngerasa tertekan, lo ngomong sama gue," Sunny menggenggam tangan Bianca dengan lembut. "Gue emang nggak sekaya anak-anak Anderson, tapi gue bakal selalu ada di pihak lo."

Sunny sebenarnya ingin bertanya lebih jauh dan mendetail, namun ia mengurungkan niatnya. Ia khawatir jika terus bertanya, Bianca akan kembali teringat kejadian pahit yang sempat membuatnya hancur sebelumnya. Akhirnya, Sunny memilih bercerita hal-hal konyol mulai dari guru kimia yang memakai wig miring sampai gosip ringan yang beredar di lingkungan sekolah.

"Terus ya, si Vincent tuh lucu banget tadi pas..." Sunny terus bercerita dengan riang, berusaha keras membuat suasana jadi lebih hidup dan ceria.

Bianca mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil. Di balik tawanya itu, terselip rasa sedih yang mendalam di hatinya. Sunny adalah sosok yang sangat baik. Dia mengerti keadaannya tanpa perlu banyak bertanya dan dia berteman tulus dengan sosok "Bianca yang miskin dan lemah".

Sun, makasih ya... batin Bianca dalam hati. Gue harap, suatu saat nanti pas lo tau siapa gue sebenernya, dan apa yang gue lakuin ke keluarga Anderson... lo nggak bakal benci sama gue.

Bianca sadar betul bahwa persahabatannya dengan Sunny adalah satu-satunya hal yang nyata di tengah segala kepalsuan yang ia bangun selama ini. Ia benar-benar tulus menyayangi gadis di depannya ini. Meski begitu, rasa dendamnya sudah tumbuh terlalu besar dan mengakar kuat. Ia tidak bisa berhenti sekarang, sekalipun itu berarti suatu hari nanti ia harus melukai perasaan orang-orang baik yang ada di sekitarnya.

"Bi? Kok bengong?" tanya Sunny sambil menyodorkan potongan buah jeruk ke depan wajahnya.

"Nggak apa-apa, Sun. Makasih ya udah nemenin gue," jawab Bianca sambil menerima dan mengunyah jeruk itu perlahan.

1
Nian Sari
suka banget sama persahabatan mereka😍
Nian Sari
sangat mengganaskan sekali
Nian Sari
suka banget🎊
Nian Sari
lah dah lanjut ternyata😱
Tab Adrian
nexttt lahhh... aku kasian sma semuanyaaa
Tab Adrian
dag dig duggg antara apa nihhhh🔥🔥
Tab Adrian
biii.. bales dendam itu sakitt lohhh.. 🥺😐
Tab Adrian
kerasaa bgt centill nya si tuan putri Anderson ituu
Tab Adrian
nyesekk.. semuanya nyesekk.. jiejie ini kalok bikin cerita gk pernah gagal.. selalu bisa bikin pembacaannya masuk ke dalam ceritaaa😍😍😍
Tab Adrian
banyak bgt ya, peluang Bianca buat hancurin keluarga itu
Tab Adrian
jdi semuanya nyakittttt😭
Tab Adrian
😍sakit bgt jdi Bianca banyak beban yg dy tanggung.. pdhl dy cuma pengen bebas hidup kyk remaja biasa pada umumnya tanpa memikirkan dendam dendam dn dendam.. tp aku juga pendendam sihh😅
Tab Adrian
hati hati bi..
Tab Adrian
tuan muda Anderson yg malang ututuru~
Tab Adrian
klok kiyo tau kebenarannya akankah dy terus berjuang demi cintanya atau malah milih untuk berperang
paijo londo
kurang ajar si Jo itu membuat trauma dan dendam banget ayo bec ancurin si Jon tor itu
Reva Reva nia wirlyana putri
wihhh udh lanjut
Reva Reva nia wirlyana putri
bagus kaliii
Reva Reva nia wirlyana putri
kasian biancaaa
Reva Reva nia wirlyana putri
joy tukeran tempet tok atau enggak kan cjm yg jadi pemeran joy, joy nya jdi cwo aja biar pasangan nya sama aku🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!